Menu Close

Amplop dari Langit

AMPLOP DARI LANGIT
Oleh: Nuruddin Al Indunissy

 Sore itu selepas Ashar, di rumah rehab Depok. Ada satu makmum yang masbuk, terlihat menyelesaikan shalatnya dengan sisa-sisa semangat hingga salam. Saya membalikan badan dan menatap satu persatu klient, atau lebih tepatnya pasien saya sore itu.

 Satu persatu saya gali dikedalaman mata mereka, dan kata demi kata yang terucap dari bibir mereka, masalah apa yang membuat mereka datang ke rumah ini. Sipemuda tanggung tadi tertunduk, seakan tulang-tulang lehernya tidak berfungsi lagi. Matanya nanar, menatap sayu ketika saya tanya tentang masalah pribadi yang ia hadapi?

 Dia terbata-bata menjelaskan belenggu difikirannya, dan saya lebih tertarik memahami bahasa rambutnya yang kusut ikal tidak disisir. Tubuhnya yang ramping menggambarkan ketidakseimbangan gizi ruhani dan jasmaninya, ada beban berat yang menindih bahunya. Sayang sekali saya –saat itu masih lajang– jadi tidak setiap pelik masalah rumah tangga bisa saya retas dengan solusi yang proportional, saya masih menganggap remeh semua masalah.

 “Kita akan bertemu sebuah masa dalam hidup kita, dimana seluruh harta kita, pendidikan kita, ilmu kita, popularitas kita, gelar kita, pengalaman bahkan usia kita tidak berguna dihadapan dengan sebuah masalah yang Allah bentangkan dihadapan kita dengan tiba-tiba. Disana kita sadar, bahwa kita adalah hamba. Hamba yabg butuh kepada Rabb-Nya”.

 Seperti biasa, kata-kata nasehat menyerbu kepalanya. Entah dia medengarnya atau tidak. Namun, yang jelas al Qur’an yang saya hantamkan belum berefect pada jasadnya sore itu. Pemuda itu masih diam, saya lupa entah jam berapa dia pulang esok harinya. Yang jelas dia tidak sedikitpun tertarik dengan ongkos yang saya tawarkan, “barangkali ia sedang sulit”.

 Di minggu ke 3, bulan berikutnya, diam-diam pemuda itu datang lagi dan kebetulan malam itu rapat perdana pembentukan RehabHati Foundations. Dia mengajukan dirinya untuk jadi sekertaris RehabHati, tapi tidak mudah bagi saya untuk memberi amanah sebesar ini kepada seseorang yang belum terlihat dedikasinya. Dan saat itu, saya angkat dia sebagai duta RehabHati untuk zone Sukabumi.

 Minggu ke 3 bulan berikutnya ia datang kembali, saya cukup terkesan dengan keberaniannya menerjang macetnya cibadak-parungkuda-lido yang menjadi penghijab bogor sukabumi. Dan saya sentuh pemuda ini dengan sebuah amanah, “Antum pegang camera ya?” dan ia senyum kegirangan. “Ya. Ustad!” katanya, semangat dan langsung mempelajari beberapa trik untuk ambil photo dengan DLSR.

 Bulan berikutnya, di RehabHati Pusdai Bandung saya cek photo hasil jepretannya sudah bagus. Luarbiasa, pemuda ini hadir juga pelatihan RHQH diluar kota meninggalkan anak istrinya. Di kota kembang ini tabir yang menyelimutinya Mulai terbuka, ia tidak segan lagi menerima tawaran “ongkos” dari saya. Dan dia memang bercerita tentang siapa dirinya.

 Belitan utang dan riba telah menjerat kakinya untuk berhenti dari dunia hitamnya, dan saya semakin melihat jiwa jihadinya untuk ikut diperhelatan sunnah ini. Ia berikrar dijalan sunnah, bersama team rehab hati demi meredam gemuruh dihatinya. Dan, jalan ini tidak mudah. 2, 3, 4 bulan kemudian hal-hal unik dari langit mulai menggodanya untuk kembali atau tetap tegar diatas sunnah.

 Saya dengar rumahnya mulai disita bank, keluarga dan saudaranya mulai goncang dan menyudutkannya. Namun macan kurus ini malah makin semangat menyerang syaitan yang mengepungnya bak singa-singa lapar yang tak akan pernah kenyang.

 Saya lihat celananya mulai naik diatas mata kaki, wajahnya mulai cerah, dan ia mulai berani meminpin ruqyah massal kecil-kecilan meskipun awalnya saya jerumuskan..

 Puncaknya ialah di hari paling istimewa dalam hidup saya, ia bersama rombongan menembus jarak ribuan kilometer untuk memperlihatkan kesungguhannya bersama rehab hati.

 Yang jelas, satu demi satu saya melihat ada perubahan dalam dirinya. Rambutnya mulai rapi di pertemuan ke 2 dulu, dan terlihat kecintaannya terhadap al Qur’an mulai menjalar dijiwanya.

 Dan, ia sudah layak menjadi wakil saya di Cirebon. Saya tugaskan macan kurus ini di RumahRehab Cirebon, qadarullah rumah wakaf dari hamba Allah dicirebon itu sudah lama menanti hamba Allah yang Amanah.

 1, 2 dan 3 bulan berikutnya belum ada kabar baik dari kota kecil yang panas ini. Namun beliau tetap istiqamah, minggu ke 3 tetap hadir di Rumah Rehab Depok. Masalah beliau makin memuncak, dan rumahnya benar-benar harus dikosongkan. Polisi, keluarga dan pihak bank benar-benar tidak kasihan lagi dengan kondisinya. Mereka tidak paham tentang intervensi Jin dalam kehidupan yang memang akan membuat manusia bangkrut dunia akhirat. Namun..

 Macan lapar ini tidak sendirian, balatentara Allah bersamanya. Apalagi kalau bukan karena keikhlasan dan rahmat Allah yang menopang kakinya tetap berdiri teguh. Perjalanan spiritualnya membelah pulau jawa dari Barat ke timur dan utara keselatan telah membuatnya berpengalaman dalam dunia ruqyah yang syar’ie, dan pohon itu kini berbuah lebat.

 Namanya mulai dikenal setelah merehab beberapa penyakit kronis dan sembuh atas izin Allah, puncaknya sore ini saya dengar ia dapat amplop dari langit. Ia dihadiahi sebuah sedan toyota DX oleh pasiennya yang sembuh (atas izin Allah) dari kelumpuhan setelah diruqyahnya.

 Subhanallah…
 Keistiqamahan yang membawa pasien rehab hati ini menjadi seorang terapist berkualitas. Padahal hingga saat ini, hamba Allah yang mendambakan diruqyah oleh saya ini belum sempat diruqyah.

 Mabruuk!
 Mabruk kang Ade, jalan masih panjang.
 Salam bahagia untuk istri dan Abil tercinta.

 NAI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.