Terlalu banyak diagnosa medis yang ilmiah justru mengaburkan bahkan menghilangkan sisi ilahiyyah yang seharusnya dijunjung tinggi umat Islam. Sama halnya ketika orang mementingkan ikhtiar daripada do’a, atau kesalahan mereka yang mendahulukan teknis dan logika daripada ruh dan spiritual ibadah. Sebagai muslim yang visioner atau hamba Allah yang ber-visi Akhirat, maka tentu saja “Shober & Shalat” adalah “first step” atau tahap awal yang harus dilakukan dalam menyikapi sebuah masalah. Begitupun dengan penyakit…

Jika dahulu saya hanya bisa terdiam ketika para ilmuwan tanggung menghakimi saya dengan celotehan “Apa-apa jin, semua penyakit jin..ini itu jin?” pagi ini, bersama secangkir coffe-jasmine ini sepertinya saya mulai mencoba untuk melakukan serangan balik dalam rangka merevolusi mental ummat melalui tulisan ini.

Tadi malam adalah puncaknya, ketika seorang ibu berdarah melayu dan suaminya berkonsultasi selepas teraphy massal di ruangan tersebut. Jam sudah menunjukan angka 1 lebih, namun ini masih “sore” untuk Singapore yang hangat. Ibu bercerita, panjang namun intinya dia kecewa dan marah atas kematian anaknya.

“Ibu kecewa kepada Allah?” saya pertegas.

“Tidak” saya kecewa atas semua masalah ini.

“Ibu, tidak ada satu musibah pun terjadi tanpa izin Allah. Meski semua musibah itu disebabkan kelalaian kita”

“Tapi kenape saya harus alami hal ini?” tanya ibu itu mulai menagis.

Saya berupaya menjelaskan bahwa bayinya itu sudah diakhirat, sudah dalam keadilan Allah. Dia masuk syurga, bahkan jika ia ridho atas kematian anaknya maka sang anak itu akan menunggunya di syurga. Namun ibu tetap geram, sudut mata dan kelopaknya menghitam tanda yang jelas bahwa ia menyimpan masalah dan tidak bisa tidur malam dengan nyenyak.

Sudah satu tahun ibu ini bersedih, sudah banyak psikiater bersamanya. Berbagai pengobatan medis ditempuh, namun ia tetap depresi hingga tidak ada aktifitas selain murung.

Saya mulai ambil strategi..
Untuk shocking teraphy bagi jiwanya dan merevolusinya.

“Ibu, kesedihan dan penderitaan ini jelas perbuatan syaitan! Dan ini akan sembuh dengan Al Qur’an atas izin Allah. Sekejap bu. Namun, saya ingin ibu kerjasama dengan saya untuk mengalahkan tipu daya mereka. Ini psychowar ibu. Ibu akan menang jika ibu bersedia menang. Ibu akan sembuh jika ibu mau sembuh dan ridho kepada Allah!” papar saya menatap tajam mata sang ibu yang mulai bergetar tubuhnya.

“Apa yang harus saya lakukan agar hati saya tentram?” tanya sang ibu.

“Ibu, puncak kesembuhan adalah ketika ibu ridho kepada Allah, sebagai rabb ibu. Ibu ridhi kepada syariat Islam sebagai agama ibu dan Rasul saw sebagai Rasul ibu. Makanya ada do’a terbaik dari sang Rasul agar hati ibu tenang; “Rhoditubillahi robba, wabil islami diina wabi muhammadinnabiya warasula”. Semua amalam sunnah itu adalah penentram hati jika ibu sudah tegapkan yang wajib dan perbaiki akidah serta tauhid ibu”. Jawab saya.

“Ibu ridho Allah ciptakan ibu sebagai manusia!?” tanya saya.

“Saya ridho” jawabnya.

“Wahai jiwa yang gelisah. Sehebat apapun badai musibah yang menderamu, namun engkau masih hidup maka semua itu berstatus “ujian” yang penyikapannya ada pada pilihanmu. Dan ketahuilah, jika engkau ridho atas ujian itu maka Allah ridho. Namun jika engkau marah dengan ujian dari Allah, maka Allah juga murka. Karena setiap manusia diberi ujian yang sama, sama bertanya dan dia akan berkata ujian saya paling berat!” ujar saya mencecar sang ibu. Entah dia paham atau tidak.

“Ibu, kesedihan ibu adalah gangguan syaitan namun pemicunya adalah nafsu/marah dalam qalbu ibu. Jika ibu bersedia memadamkan api itu dan mau melatih diri untuk ridho kepada Allah maka sayua Bantu ibu menuju kesembuhan ibu dengan al Qur’an. Jika tidak, saya persilahkan ibu pulang”. Cecar saya kemudian.

“Saya berjanji, akan cuba ridho. “Bantu saya” kata sang ibu sambil menahan getaran yang berkecamuk didadanya.

Saya bergeser duduk bersila dibelakangnya disamping suaminya, lalu saya bacakan Al Fatihah, pelan, al Hasyr 21 dan fokus ke jantungnya sambil menempel telapak tangan di punggung searah tepat qalbunya. Sang ibu mulai menunduk seperti ditindih beban yang berat. Hanya dua surat karena saya sudah lelah malam itu. Lalu saya hentikan dan saya tanya bagaimana kabarnya…

Ibu menjawab bahwa sesaknya hilang dan bergeser ke dada kanan atas juga kepala yang pusing. Artinya seluruh effect sihir itu sudah berpusat atau pindah ke kepala dan spontan saya letakan telapak tangan dikepalanya dan ibu itu menjerit keras seperti kuntilanak mau disembelih.

Jin dalam dirinya mengira saya akan menyembelihnya, terlihat sang ibu yang diraksukinya menekan kepalanya agar lehernya tenggelam dan tidak ada celah untuk saya sembelih. Padahal jin itu hanya geer atau barangkali traunma melihat syaitan lain disembelih dihadapannya tapi saya realisasikan ke-geerannya.

Jin dalam tubuh ibvu yang membuatnya sedih bertahun-tahun itu dieksekusi dan lolongannya memilukan. Dan sang ibu bangun, seakan terbangun dari tidur yang panjang. Seluruh keluhan di Qalbu dan jasadnya hilang seketika, subhanallah…

“Memang ada penyakit psikis atau stress karena faktor psikis semisal stress karena utang, gangguan syaraf dll namun ketahuilah bahwa jin pun bisa merusak sistem syaraf dan psikis manusia hingga manusia gelisah”.

Kenapa hal ini terjadi, karena hilangnya rasa syukur dihati manusia disebabkan benteng hati yang runtuh. Setelah manusia jauh dari Allah maka iblis dan pasukannya bisa dengan mudah menjebol dan memfitnahnya bahkan menjerumuskannya kedalam neraka.

Ingat pemicunya adalah api dalam diri sendiri.

“Saya dulu pernah punya pembantu dari indonesia” ujar ibu sambil menerawang masalalunya. “Saya tidak suka cara kerjanya yang tidak sesuai arahan saya, akhirnya saya gantikan dan dia marah. Selepas ia pulang suami saya masuk hospital berkali-kali dan bayi saya mati” ujar ibu lagi

“Orang mana?” tanya saya penasaran

“Cirebon” jawabnya singkat dan membuat mata saya terbuka bahwa gangguan psikis ibu selama ini adalah sihir impor dari cirebon.

“SALAH SATU KELEBIHAN TERAPHY AL QUR’AN DIBANDING TERAPHY LAIN ADALAH ADANYA EKSEKUSI KEPADA SUMBER PENYAKIT”

Salam Bahagia
Nuruddin Al Indunissy