Menu Close

Cinta Sejati ✿ܓ

Cinta sejati adalah cinta yang senantiasa bersahutan, beriak dalam ombak, berderu dalam gelisah lautan, diam dalam ketenangan ikan ikan, nikmat dalam kekecewaan dan tak mati dengan kematian. Itulah hakikat cinta tertinggi, Mahabbatullah! Ia tetap indah meski terbagi milyaran angka angka tak terbatas semesta.

Mahabattullah adalah tingkatan tertinggi CINTA seorang hamba, ia hanya bisa digapai dengan Ma’rifatullah (dengan mengenal Nya)

Tak ada tawar menawar dalam bahasa Cinta.
Jika kita ingin dicintai, maka kita harus mencintai agar cinta itu indah dan bersahutan.

Rasulullah saw bersabda; “Manakala Allah mencintai seseorang, Dia akan memanggil Jibril seraya berkata, ‘Aku mencintai si Fulan. Wahai Jibril cintai pula dia’. Jibril pun mencintai orang itu dan mengumumkannya kepada semua penduduk langit. Allah mencintai si Fulan, maka cintai pula dia oleh kalian semua,’ maka semua penduduk langit mencintai orang itu, dan kemudian dia memperoleh kesenangan-kesenangan dari penduduk bumi”. (HR Bukhari, dari Abu Hurairah ra)

Jika kita ingin tetap dicintai, maka kita tidak selayaknya membuat cemburu Dzat yang selamanya mencintai kita.

Ketahuilah, Allah Azza wajala pun Cemburu..

Aisyah Radiyallahu Anha mengisahkan bahwa Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi wassalam pernah berkhutbah dengan begitu menggebu gebu, matanya memerah laksana panglima perang sedang menyeru pasukannya. Saat itu terjadi gerhana matahari, setelah mengimami shalat bersama sahabat, beliau saw berdiri dalam mimbar dan berpesan panjang, diakhir khutbah itu Rasulullah menyeru:

“…Hai umat Muhammad, tidak seorang pun lebih cemburu daripada Allah, bila hambanya, lelaki maupun perempuan, berbuat zina. Hai umat Muhammad, demi Allah, seandainya kalian tahu apa yang kuketahui, tentu kalian banyak menangis dan sedikit tertawa. Ingatlah! Bukankah aku telah menyampaikan”. (Shahih Muslim No.1499)

“Cemburu” adalah diksi indah yang dipilih Rasulullah saw untuk melukiskan hebatnya sebuah ilustrasi rasa, kata indah yang berkali kali Rasulullah Shalallahu’ Alaihi Wassalam utarakan untuk mendeskripsikan sebuah suasana bahwasannya Dzat Maha Pencipta Allah Aza Wajala yang menggenggam Cinta, adalah Cemburu pada sebuah situasi atas hamba Nya.

Rasulullah saw bersabda;
“Sesungguhnya Allahpun cemburu dan orang yang beriman juga cemburu. Kecemburuan Allah, yaitu jika orang mukmin melakukan apa yang diharamkan”. (Bukhari, Muslim)

Rasulullah saw bersabda; “Tidak ada seorangpun yang lebih menyukai pujian daripada Allah maka oleh karena itulah Dia memuji Zat-Nya sendiri. Dan tidak seorangpun yang lebih cemburu daripada Allah maka karena itu Allah mengharamkan perbuatan keji” (Bukhari Muslim)

Bergetarkah hatimu wahai jiwa jiwa yang beriman.?

Cemburu adalah suasana bergejolak diam..
Ketika Allah Yang Maha Mulia Cemburu, atas kemurahan Nya cemburu itu tidak begitu saja berubah menjadi Murka yang diturunkan menjadi Azab dari langit ke Bumi..

Dia diam tak terhitung abad dengan ke-Maha-Sabaran-Nya menebarkan maaf yang sempurna kepada yang memintanya.. meski pembangkangan, kedurhakaan dan dosa tak henti mengundang Cemburu Nya.

Dia tetap diam dengan segala kemuliaanya.
Dalam sebuah riwayat (Hadits Qudsy) Allah Berfirman: “Sesungguhnya Rahmat-Ku mendahului Murka-Ku..”

✿ܓ sahabat.
……ღcemburu adalah refleksi.
Ia hadir dari biasan cahaya cinta, biasan cahaya itu akan berubah menjadi api dan membakar apa saja, termasuk cinta itu.

..ღLupakanlah bahasa halal dan haram jika engkau jemu mendengarnya..
Renungkanlah tentang RABBmu yang cemburu setiap hamba Nya melakukan apa yang telah diharamkan, tapi DIA tetap diam dengan kemuliaan Nya dan tetap memberikan cinta Nya.

Subhanallah..

“Salah satu refleksi cinta adalah keinginan untuk menjaga; memperhatikan dan memelihara sesuatu yang kita cintai. Membersihkan setiap debu debu cemburu yang berusaha mencemarinya. Menjaga dari setiap hal yang menyakitinya, hingga kita akan mengarahkan segala aktifitas kepada apa yang ia cintai, atas nama Cinta tersebut”.

That is true, Love is Actions.
Cinta tidak sekedar kata kata, ketika kita mencintai dengan sungguh sungguh seseorang dalam kehidupan kita maka secara automatis seluruh aktifitas berfikir dan tindakan kita akan mengarah kepadanya, untuknya, tanpa paksaan dengan penuh kerelaan.

Ketika seseorang hamba mencintai RABBnya, maka seluruh aktifitasnyapun akan menuju kepada Nya, atau mengarah kepada Dzat yang ia cintai. Melepas semua hal yang tidak disukai Nya, dan melakukan apa yang diminta Nya dengan penuh kerelaan dan tanpa paksaan.

Semoga, setidaknya kita bisa mencoba dan terus mencoba senantiasa mengarahkan cinta itu.
Kita tidak akan pernah bisa menjadi sempurna, tapi kita bisa terus mencobanya.

Ahukumfillah,
NURUDDIN AL INDUNISSY
Sunday, July 17, 2011 at 2:10am
RIYADH 2011

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.