Menu Close

ENERGY SHALAT |Hipotesa, Buktikan!

Segera setelah Shalat ditunaikan tepat pada waktunya, beban hidup dan langkah kaki akan terasa 50% lebih ringan, dan waktu akan 2 x lebih panjang. Hipotesa ini akan berbalik jika shalat ditunda; waktu akan terasa 2 kali lebih sempit dan beban meningkat 100%.



Porsi Energi yang kita raih setelah Shalat tersebut kemungkinan bertambah hingga 100% atau bahkan berlipat lipat jika kita menjiwai Shalat itu dengan penuh khusyuk dan kesungguhan. Sebaliknya, prosentasi Energi dari Shalat itu kemungkinan akan terus berkurang hingga 0% jika shalat itu dilakukan hanya untuk menggugurkan kewajiban.

Dalam kondisi 0 % ini,

Shalat kita tidak berpengaruh apa apa terhadap jiwa kita, kita tidak merasakan apa apa selepas shalat kita.

Hipotesa diatas sangat tergantung kepada tingkatan dan stabilitas iman sebuah pribadi.

Jika shalat kita khusyuk, maka energi yang dipancarkan itu tidak hanya 100% bahkan berlipat dan akan mampu meredam gelora Duniawi kita.

Tingkatan tersebut sangat dipengaruhi oleh stabilitas Iman dan keikhlasan di masing masing dada Manusia. Seorang Muslim yang bersungguh sungguh dan berusaha khusyuk dalam Shalatnya, dia akan merasakan ‘Energi’ yang menyejukan jiwanya dan menjadikan pancaran semangat dalam hidupnya.

Disana shalat akan mampu melepaskan jeratan rantai keserakahan dan mengembalikannya kedalam sebuah kesadaran bahwa jiwa ini pun akan mati dan saat inilah kita harus mempersiapkannya.

Shalat akan meringankan jiwa kita..

Beban berat kehidupan ini akan bertambah berat dengan kondisi tubuh yang kotor dengan dosa dosa, baik dosa kecil atau besar.

BEBAN HIDUP = BEBAN DOSA

Jangan salahkan siapapun, karena RABBmu tidak mungkin salah merencanakan.

Beban kehidupan yang menindih ini tentu ada alasannya, jangan berkata diri kita telah bersih dari dosa dosa. Manusia ini tidak akan pernah lepas dari dosa. Dosa itu akan semakin bertambah dari hari kehari jika tidak ada usaha untuk membersihkannya.

Jika tidak dibersihkan, kotoran dosa itu akan terus membebani jiwa kita.

Manusia ini tidak akan pernah lepas dari dosa.

Muslim yang baik itu bukan mereka yang tidak pernah melakukan dosa tapi mereka yang sering bertaubat setelah melakukan sebuah dosa. Kita hanya harus pandai dalam menutupi keropos keropos Iman dihati kita yang diakibatkan oleh dosa dengan kebaikan dan istighfar.

Beban hidup itu sendiri sebenarnya bukan beban.

Hanya perspective manusia yang kurang tepat dalam memahami ujian, karena sekecil apapun bencana yang menimpa kita tidak akan terjadi tanpa se-izin Allah (QS 64:11).

Rasulullah saw bersabda,

Bahwasannya sekecil apapun luka atau penderitaan yang di izinkan menimpa manusia, termasuk sakitnya jari saat tertusuk duri maka didalamnya terdapat pengampunan dosa dosa. Allah begitu menyayangi mansia melebihi apapun, karena ia Maha Penyayang.

Ujian itu dihadirkan untuk menguji agar kualitas keimanan seorang muslim itu benar benar teruji. Musibah itu ditimpakan untuk menegur agar jiwa jiwa itu senantiasa ingat kepada NYA, agar langkah itu tidak tersesat terlalu jauh dan menjauh dari rabb NYA.

Seorang yang beriman akan selalu ditimpa ujian dan musibah agar ia kembali ke akhirat kelak dengan kondisi bersih dari dosa dosa…

Rasulullah saw mengibaratkan seorang beriman itu laksana sebuah pohon yang akan terus dihembus angin Ujian. Jika akar akar tauhid kita kuat, kita tidak akan ikut terbang dengan berbagai hembusan tersebut.

Saat keresahan melanda seorang yang beriman, dia akan kembali menyerahkan kembali jiwa dan raganya, menghadapkan wajahnya dan membenamkannya dalam sujud, merendahkan diri dihadapan Allah dan meminta pertolongan Nya.

Hingga ketika adzan berkumandang,.

Jiwa yang tunduk beriman akan segera terpanggil untuk sejenak menemui Rabbnya.

Rasulullah saw bersabda;

“Perumpamaan shalat lima waktu seperti sebuah sungai yang airnya mengalir dan melimpah dekat pintu rumah seseorang yang tiap hari mandi di sungai itu lima kali”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Jika setiap hari, minimal kita membersihkan kotoran dalam jiwa kita – lima kali dalah sehari – dengan shalat.. INSHA ALLAH, diri kita akan terjaga; dan beban itu akan terkikis sampai ia hilang..

Jadi jangan menyalahkan siapapun saat hari demi hari bahu itu terasa semakin berat..

Adalah kita yang lalai…

Itu kelalaian kita semata, kita yang sering melalaikan pesan terakhir Rasulullah Sholallahu Alaihi wa Salam..

SHALAT ADALAH PESAN TERAKHIR RASULULLAH!

Mari sejenak luangkan waktu untuk kembali mengenang detik detik terakhir kepergian Rasulullah Sholallahu Alaihi wa Salam yang dikisahkan Habib Ali Al Jufri.

Aisyah menuturkan:

“Sebelum itu kami mendengar gerakan dibalik pintu, itulah Jibril yang meminta izin dari Rasulullah saw untuk masuk dan Rasulullah mengizinkannya. Kemudian aku mendengar Rasulullah berkata kepadanya; “Wahai Jibril! Allah Ta’ala, Allah Ta’ala!”

Kemudian Aku bertanya: “Apa yang terjadi wahai Rasulullah?”

Rasulullah saw menjawab:

“Itulah Jibril berkata bahwa Malaikat maut berada didepan pintu meminta izin…” Jibril berkata: “Malaikat maut itu tidak pernah meminta izin dari sesiapapun sebelum dan sesudahmu.. Allah menyampaikan Salam kepadamu,.. Allah telah merinduimu?”

Malaikat Ijrail berkata:

“Jika engkau menghendaki aku akan mencabut ruh mu untuk menemui Allah, jikalau tidak aku akan biarkan sesuai masa waktu yang engkau inginkan..” Dan Rasullullah saw memilih Allah ta’ala..

Kemudian malaikat mautpun masuk rumah Rasulullah, dia mengucapkan salam kepada Nabi dan berkata; “Wahai Rasulullah! Apakah engkau mengizinkanku?”

Baginda menjawab:

“Terserah kepadamu, berlembutlah saat mencabut nyawaku…”

“Ahhhh… Ahh.. berlembutlah kepadaku, wahai saudaraku malaikatul maut… “Ahhhh…! Kematian itu teramat menyakitkan!. Ya Allah! Ringankan kesulitan maut terhadapku.. ringankan kesulitan maut terhadap ummatku..”

Lalu Malaikat maut mencabut nyawa yang sangat mulia itu..

Keringat bercucuran dari dahi Rasulullah Sholallahu alaihi wassalam… laksana butiran permata yang berbau kasturi. Nabi mengusap peluh dari dahinya..

Seperti yang disabdakan Rasulullah: “Maut itu lebih sakit dari 70 tusukan pedang”.

Jika Rasulullah shalallahu alaihi wassalam merasa kesakitan dalam sakaratul mautnya, jika kekasih Allah yang dishalawati seluruh alam ini merasakan pedihnya sakaratul maut.. Apa yang akan terjadi dengan kita nanti wahai jiwa jiwa yang mendengar !

Tapi, lihatlah kecintaan beliau..

Dalam kesakitan sakaratul maut itu baginda berdoa:

“Ya Allah ringankanlah kesulitan maut untuku dan ummatku.. ummati! ummati…!”

Ringankanlah kesulitan maut untuku dan ummatku.. ummatku..

Rasulullah terbaring, lidahnya tidak bisa bertutur lagi dan tidak terdengar lagi apa apa dari baginda.. Hal terakhir yang diucapkan Baginda adalah: “Allah. Allah. Shalat. Shalat..”

Itulah kata terakhir darinya.

Dari Rasulullah Shalallahu’ Alaihi Wassalam,

Sahabatku,

Telah sampaikah kisah ini kepadamu?

Sudahkah kita mengajarkan kepada diri kita, bahwasannya Shalat itu bukan sekedar kewajiban, tapi sebuah pengkondisian agar kita terjaga dan tetap bahagia…

Sudah saatnya kita bermuhasabah, bertanya kepada diri kita

Tentang sebuah kepastian maut yang pasti datang menemui kita, entah itu besok atau lusa atau hari yang tidak kita ketahui..

Sahabatku..

Jika kita mendengar kabar bahwa kekasih kita, istri kita, atau suami kita, atau ibunda kita atau ayahanda kita… meninggal… dan di nafas terakhirnya…beliau meninggalkan sebuah wasiat khusus untuk kita tentang satu kata yang teramat penting hingga diucapkan dengan nafas terengah engah di nafas terakhirnya…

Apakah kita akan mendengarnya, menjaganya dan selalu mengingatnya?

Tentu saja, bukan sekedar kata iya..

Disanalah bahasa “Cinta” akan menjawab dan membuktikannya.

Cinta akan membuktikan, cinta tidak sekedar bahasa tapi realisasi. Cinta yang akan meneguhkan dan menanamkan pesan tersebut dalam ingatan dijiwanya..

Jika kita Cinta kepada Rasulullah…

Dan menjadikannya sebagai panutan di hati, tentu kita akan sangat ingat terhadap pesannya, pesan terakhirnya..

Shalat..

Rasulullah Saw begitu mencintai ummatnya,

Annas bin Malik ra meriwayatkan, bahwa Rasulullah bersabda:

“Setiap Nabi mempunyai do’a yang digunakan untuk kebaikan umatnya. Sesungguhnya aku menyimpan do’aku sebagai syafaat bagi ummatku pada hari kiamat” (Bukhari 5830, Muslim 299)

Begitu cinta nya Rasulullah sholallahu alaihi wassalam kepada ummatnya, hingga dinafas terakhirnya, diantara kesakitannya beliau berdo’a untuk kita, umatnya..

“Ya Allah! ringankan kesulitan maut terhadapku dan ummatku.. Ummati…Ummati…”

Umatnya adalah kita.

Kita semua yang masih menaruh hormat kepada beliau..

Yang menjalankan dan mencintai sunnah sunnahnya Rasulullah sholallahu alaihi wassalam..

T_T

Masihkan hati kita akan tuli?

Hati manakah yang tidak bergetar?

Cukuplah kita mengetahui begitu besar makna dibalik pesan itu..

Hingga bibir mulia itu bergetar mengucapkannya terbata bata diantara sakaratul maut..

MENGHADIRKAN “RUH” DALAM SHALAT

Ikhwahfillah..

Shalat adalah sebuah hubungan ruh Manusia dengan RABBnya..

Dalam tafsir ibn katsir dibahasan pertama mengenai tafsir Al Fatihah, Ibn Katsir menukil sebuah hadits Qudsy yang meriwayatkan bahwa setiap “Ayat” dalam fatihah itu dibalasi oleh Allah azza wajala.

Kita sedang berkomunikasi dengan Allah Azza wajala..

Kita sedang menemui Allah saat shalat, hingga kita serius dalam melakukannya.

Hingga seorang salih ingin berlama lama bermesraan dengan RABBnya..

Aisyah Radiyallahu Anha menuturkan, “Jika Rasulullah saw. melaksanakan salat, beliau berdiri (lama sekali) sampai kedua kaki (telapak) beliau pecah-pecah. Aisyah ra. bertanya: Wahai Rasulullah, kenapa engkau berbuat seperti ini padahal dosamu yang terdahulu dan yang akan datang telah diampuni?”

Rasulullah saw menjawab dengan indah:

“Wahai Aisyah, apakah aku tidak ingin menjadi seorang hamba yang bersyukur”. (Shahih Muslim No.5046)

Subhanallah..

Bahasa sederhananya, Rasulullah saw berpesan:

“Apakah tidak sepantasnya jika kita menjadi hamba yang pandai berterimakasih dengan shalat?”

Inilah sebuah cerminan tingkatan LILLAHI TA’ALA yang sebenar benarnya, bahwasannya peletakan dasar niat semua aktivitas ibadah itu tidak hanya menggugurkan kewajiban atau menginginkan syurga atau takut neraka tapi karena bentuk ungkapan terimakasih kepada RABBnya atas anugerah dan KEMURAHANNYA yang tidak terhitung.

Inilah yang menjadikan ‘nilai’ kualitas pembeda ibadahnya orang alim dan awam.

Inilah hal yang menjadikan seorang muslim semakin berkualitas dimata Allah dari hari kehari,

Yang membuat hari harinya dipenuhi nikmat nikmat dalam ibadah..

Karena seluruh waktu yang ia lewatkan ia arahkan untuk ibadah..

Untuk mencari keridha’an Nya semata mata..

Hatinya basah dengan mengingat NYA,

Ia malu untuk berbuat dosa apalagi melakukan pembangkangan terhadap iradah Allah..

Ia tidak pernah mengeluh karena begitu tahu bahwa RABBnya tidak akan pernah merugikannya..

Inilah hal yang membuat seorang Muslim terus menunduk..

Dan meninggalkah hal hal yang tidak ia butuhkan untuk masa depannya diakhirat…

Apalagi hal yang membahayakan dirinya diakhirat.

Saudaraku dan saudariku dalam naungan indahnya al Islam.

Dengan perpspective inilah, kewajiban kewajiban itu akan terasa r i n g a n. . .

Dengan pemahaman inilah seorang shalih terus termotivasi untuk membasahi hatinya dengan dzikir, mengabaikan dunia dan menuju RABBnya..

Ia tidak melakukan dosa bukan takut neraka,

Itu semata karena ia merasa ‘malu’ atas semua pemberian Allah untuknya..

INILAH KUALITAS ‘PEMBEDA’ SEORANG MUSLIM..

Ia dimana aktifitas ibadah jasmaninya disertai ruh yang membuatnya mendekat kepada RABBnya..

Ia hanya mengharapkan pujian dari Allah..

Ia merasa ‘malu’ karena tidak akan pernah bisa bisa membalas pemberian dari Allah hingga ia terus berterimakasih dengan meningkatkan kualitas ibadahnya.

Subhanallah..

KHUSYUK DALAM SHALAT

Ust Arifin Ilham menuturkan bahwa kekhusyukan shalat seorang muslim itu buah dari kekuatan tauhidnya, kekuatan tauhid itu adalah buah dari mahabatuhu atau mencintaiNYA dan mencintai itu adalah buah dari ma’rifatuhu atau “MengenalNya”.. dan buah dari kekhuyukan shalat itu adalah kemuliaan Ahlak..

Subhanallah..

Inilah jawaban mengapa ada orang sholat masih maksiyat, itu karena belum khusyu sholatnya yang diakibatkan dari kelemahan Tauhidnya, lemah tauhid karena lemahnya pemahaman makrifatuhu dan mahabatuhu.

Maka benarlah bahwa Rasulullah adalah manusia yang paling Khusyuk Shalatnya, hingg Aisyah Radiyallahu Anha mengatakan bahwa “Ahlak Rasulullah itu Al Qur’an”, Ahlaknya mulia karena beliau khusyuk dalam shalatnya.

“Tanda diterimanya ‘amal seorang hamba di sisi Allah adalah ketika satu ketaatan menuntunnya pada ketaatan yang lebih baik lagi. Dan tanda ditolaknya ‘amal sang hamba adalah ketika ketaatannya di ikuti dengan kemaksiatan, tak tercegah dirinya dari kemaksiatan”. (Ibn Rajab Al Hanbaly)

Khusyuk itu bukan berarti kita tidak ingat apa apa ketika shalat, tapi ketika kita ingat sesuatu diluar Allah maka kita segera mengarahkannya lagi kedalam bacaan shalat. Bukan terus menelusuri lamunan itu..

BEBERAPA PESAN PENTING RASULULLAH SAW TENTANG SHALAT

Dari Ibnu Mas’ud Ra bahwa Rasulullah Saw bersabda:

“Perbuatan yang paling mulia ialah shalat pada awal waktunya.” Shahih Tirmidzi dan Hakim (HR Bukhari-Muslim)

Dari Abu Hurairah Ra bahwa Rasulullah Saw bersabda:

“Sholat yang paling berat bagi orang-orang munafik ialah sholat Isya’ dan Shubuh. Seandainya mereka tahu apa yang ada pada kedua sholat itu, mereka akan mendatanginya walaupun dengan merangkak.” Muttafaq Alaihi.

Dari Abu Hurairah Ra bahwa Rasulullah Saw bersabda:

“Demi Allah yang jiwaku ada di tangan-Nya, sesungguhnya ingin rasanya aku menyuruh mengumpulkan kayu bakar hingga terkumpul, kemudian aku perintahkan sholat dan diadzankan buatnya, kemudian aku perintahkan seseorang untuk mengimami orang-orang itu, lalu aku mendatangi orang-orang yang tidak menghadiri sholat berjama’ah itu dan aku bakar rumah mereka. Demi Allah yang jiwaku ada di tangan-Nya, seandainya salah seorang di antara mereka tahu bahwa ia akan mendapatkan tulang berdaging gemuk atau tulang paha yang baik niscaya ia akan hadir (berjamaah) dalam sholat Isya’ itu. (Muttafaq Alaihi, lafadz menurut Bukhari)

Imam Ibnu Hushoin Ra berkata:

Aku mempunyai penyakit bawasir, bila aku menanyakan kepada Nabi Saw tentang cara sholat. Beliau bersabda: “Sholatlah dengan berdiri, jika tidak mampu maka dengan duduk, dan jika tidak mampu maka dengan berbaring.” (Riwayat Bukhari).

Ummu Habibah Ummul Mu’minin Ra berkata:

Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Barangsiapa melakukan sholat dua belas rakaat dalam sehari semalam (Dalam suatu riwayat disebutkan yang dimaksud adalah Shalat sunat) niscaya ia dibangunkan sebuah rumah baginya di surga.” (HR Muslim)

Rasulullah saw bersabda;

“Dua rakaat fajar itu lebih baik daripada dunia dan seisinya” (HR Muslim)

Aisyah Ra menuturkan bahwa Rasulullah Saw tidak pernah memperhatikan sholat-sholat sunat melebihi perhatiannya terhadap dua rakaat fajar (shalat sunnah qabliyah shubuh).

Jika tingkatan salat Sunnah Fajar aja pahalanya lebih baik dari Dunia dan segala isinya, apalagi shalat fardu.. Dari kesadaran Inilah, kita harus memulai untuk tidak tertipu dengan Dunia ini. Saatnya kita bertafakur dan berfikir ulang tentang langkah langkah kita, jangan sampai kita terus dan terus berlari tapi kita terlupa tujuan kita sebenarnya.

SUKSES SETIAP HARI

Dari bahasan panjang dan melelahkan ini, mari kita simpulkan bersama bahwasannya jika setiap diri dari kita mengingat betapa dahsyatnya usaha dan makna dari pesan Rasulullah saw dalam perhatiannya terhadap satu kata ini, yaitu Shalat… maka cukuplah bagi kita untuk mengingatnya baik baik.

Hingga kita akan k o n s i s t e n melaksanakannya dan menjadikan hal tersebut sebagai target yang harus terselesaikan dalam 24 jam disetiap hari kita, hingga kita akan MERASA SUKSES setelah melaksanakannya. Untuk kemudian menjadi Energi yang terpancar dari dada kita untuk sanggup melanjutkan tantangan lainnya…

Hingga seorang Muslim akan merayakan kesuksesannya setiap hari, sukses menghindari rayuan iblis, sukses karena telah melaksanakan perintah Allah, sukses telah melaksanakan wasiat Rasulullah saw..

Subhanallah..

Maafkanlah diriku yang lemah ini telah menasihatimu saudaraku.

Dirikupun belum khusyuk dan konsisten.

Semoga hal inipun mengingatkan diriku sendiri dan sesiapa saja hati hati yang tersentuh,

Ini hanyalah sedikit dari pancaran dari cinta..

Sebagai sedikit usaha untuk menebarkan pesan Rasulullah shalallahu alaihi wassalam.

DIWAJIBKANNYA SHALAT DI MALAM ISRA

Ibnu Syihab berkata, “Ibnu Hazm memberitahukan kepadaku bahwa Ibnu Abbas dan Abu Habbah al-Anshari berkata bahwa Nabi Muhammad saw bersabda, ‘Jibril lalu membawaku naik sampai jelas bagiku Mustawa. Di sana, aku mendengar goresan pena-pena.’ Ibnu Hazm dan Anas bin Malik berkata bahwa Nabi Muhammad saw. bersabda, ‘Allah Azza wa Jalla lalu mewajibkan atas umatku lima puluh shalat (dalam sehari semalam). Aku lalu kembali dengan membawa kewajiban itu hingga kulewati Musa, kemudian ia (Musa) berkata kepadaku, ‘Apa yang diwajibkan Allah atas umatmu?’ Aku menjawab, ‘Dia mewajibkan lima puluh kali shalat (dalam sehari semalam).’ Musa berkata, ‘Kembalilah kepada Tuhanmu karena umatmu tidak kuat atas yang demikian itu.’ Allah lalu memberi dispensasi (keringanan) kepadaku (dalam satu riwayat: Maka aku kembali dan mengajukan usulan kepada Tuhanku), lalu Tuhan membebaskan separonya. ‘Aku lalu kembali kepada Musa dan aku katakan, ‘Tuhan telah membebaskan separonya.’ Musa berkata, ‘Kembalilah kepada Tuhanmu karena sesungguhnya umatmu tidak kuat atas yang demikian itu. ‘Aku kembali kepada Tuhanku lagi, lalu Dia membebaskan separonya lagi. Aku lalu kembali kepada Musa, kemudian ia berkata, ‘Kembalilah kepada Tuhanmu karena umatmu tidak kuat atas yang demikian itu.’ Aku kembali kepada Tuhan, kemudian Dia berfirman, ‘Shalat itu lima (waktu) dan lima itu (nilainya) sama dengan lima puluh (kali), tidak ada firman yang diganti di hadapan Ku.’ Aku lalu kembali kepada Musa, lalu ia berkata, ‘Kembalilah kepada Tuhanmu.’ Aku jawab, ‘(Sungguh) aku malu kepada Tuhanku.’ Jibril lalu pergi bersamaku sampai ke Sidratul Muntaha dan Sidratul Muntaha itu tertutup oleh warna-warna yang aku tidak mengetahui apakah itu sebenarnya? Aku lalu dimasukkan ke surga. Tiba-tiba di sana ada kail dari mutiara dan debunya adalah kasturi” (SHAHIH BUKHARI)

Subhanallah..

Semoga kita bisa senantiasa mengingat perjuangan Rasulullah Saw dalam menyederhanakan perintah Shalat ini hingga lima waktu.

Semoga tulisan ini menjadi Usaha,

Untuk mengingatkan diriku sendiri dan siapa saja yang membacanya. Semoga kita semua berada dalam lindungan dan Naungan Rahmat & Ridho Allah Azza Wajala. Amiin

Semoga Allah mengampuni kita semua..,

Sungguh diri ini takut jika catatan ini malah menambah beban dosa untukku..

Semoga di ramadhan yang agung ini, Allah menganugerahkan cahaya Nya kepada kita semua agar kita diberi keistiqamahan dalam menjalankannya.

Allahumma shalli ‘alaa Muhammad wa ‘alaa azwaajihi wa zurriyyatihi kamaa shallaita ‘alaa aali Ibrahim wa baarik ‘alaa Muhammad wa ‘alaa azwaajihi wa zurriyyatihi kamaa baarakta ‘alaa aali Ibrahim. Innaka hamiidum majiid.

Ahukumfillah,

NURUDDIN AL INDUNISSY – RIYADH 2011

http://www.facebook.com/Nuruddin.Al.Indunissy.OfficialPage

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *