Ramadans-First-Night

Bagi seorang peruqyah,
yang telah meleburkan jiwa raganya menyelami lautan tak berpantai dalam pertarungan tanpa ujung,
fitnah hanyalah cemilan ringan disore hari saat ia melepas lelah menjelang malam.

Peruqyah yang belum pernah diintimidasi atau dianiyaya syaitan,
baik mental atau jasadnya adalah belum syah jadi peruqyah.
Setiap terpaan fitnah itu akan mendidik dan mendisiplinkan aqidah dan iman seorang peruqyah…

Tentang niat, komitment dan konsistensi dalam memposisikan dirinsebagai musuh bagi syaitan dikalangan jin dan manusia.

Geram dan kesal terhadap celoteh mereka adalah tanda kecintaan yang nyata, namun kepala harus tetap jernih.
Biasakan diri dengan senyuman-senyuman kecil, cangkir demi cangkir kesabaran.
Jika sudah memuncak maka tertawakanlah orang-orang kecil itu! Agar mereka makin mengecil.

“Cara terbaik menyikapi saat kebaikan kita dihinakan adalah dengan menambah kebaikan-kebaikan yang lain.
Karena ketika kita peduli dengan penilaian orang lain artinya aqidah/niat kita masih rusak”.

Fitnah dari musuh itu tdk berarti apa-apa akhil kiraam.
Fitnah yang berat itu kelak, ketika seseorang yang engkau percaya itu kemudian diketahui dan bahkan terang-terangan menyimpan hasad dan menjatuhkanmu.
Ketika engkau meradakan dengan sadar bahwa syaitan menyengat dadamu…

Fitnah dari musuh itu hanyalah sesuatu yang memperjelas dan meyakinkan sebuah perbedaan yang kemudian kita melawannya dengan sungguh-sungguh.
Hanya duri-duri kecil, rintangan sederhana yang harusnya sirna dengan senyuman..

Sikapi dengan santai, seperti teh hangat menjelang fajar di ufuk timur.
Bergembiralah saat riak demi riak ombak menghiasai pantai dikehidupanmu dan persiapkanlah papan selancar untuk menghadapi badai yang sesungguhnya.

Ingat, fitnah ini akan terus berkembang.
Gelombang akan terus meninggi dan membuncah bergelombang menghempaskan mereka yang tidak memiliki komitment kepada sunnah.

Dan, alhamdulillah..
Kita telah mengerti apa yang Rasulullah sholallahu alaiyhi wa sallam sebut ‘al fitan’ yaitu fitnah yang bergelombang.
Masa demi masa yang semakin memburuk, berkecamuk dan tidak jelas lagi mana yang benar mana yang salah.

Bersabarlah hingga sebuah titik yang telah menjadi bagian dari sunnatullah,
dimana kita akan berkata sebagaimana sabdanya bahwa
“Engkau akan melihat kuburan temanmu dan berkata: alangkah baiknya aku menjadi dia”

Maka bergeraklah,
tegapkan leher kita dan terus melangkah dengan hati-hati karena yang ditakuti musuh bukan wacana namun pergerakan yang terorganisir.
Hadapkan wajah kepada Allah dan lepaskan semua hal yang akan membebani kita diakhirat kelak.

“Sabar adalah obat yang manjur, senjata yang tidak pernah tumpul dan pasukan yang tidak akan pernah mundur!”

 

Original Post By : Nuruddin Al Indunissy