Menu Close

Hari Yang Terlupa, Mahsyar!






“Apabila langit terbelah, dan apabila bintang-bintang jatuh berserakan, dan apabila lautan dijadikan meluap, dan apabila kuburan-kuburan dibongkar, maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakan dan yang dilalaikannya. Hai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah?” (Qs Al Infhitarr 1-6 )

“Allah Ta’ala melipat langit-langit pada hari kiamat, kemudian menggenggam langit-langit itu dengan tangan kanan-Nya, lalu berfirman: Akulah Raja! Manakah orang-orang penguasa yang suka menindas? Manakah orang-orang yang sombong? Kemudian Dia melipat bumi dengan tangan kiri-Nya, lalu berfirman: Akulah Raja! Manakah orang-orang penguasa yang suka menindas? Manakah orang-orang yang sombong?” (Shahih Muslim No.4995, Riwayat dari Abdullah bin Umar Ra)

Selepas hiruk pikuk itu mereda dihari itu, Malaikat Israfil meniupkan sangkakala yang kedua untuk membangkitkan seluruh manusia dari alam kuburnya. Suara itu menggema menggetarkan Alam Mahsyar..

“Dan ditiuplah sangkakala, maka tiba-tiba mereka ke luar dengan segera dari kuburnya (menuju) kepada Tuhan mereka”. (QS Yasiin Ayat 51)

Hari itu bumi riuh terguncang. Hari itu manusia tersadar bahwa mereka berada ditempat yang telah dijanjikan. Hari kiamat.

Hari itu Manusia yang beriman dan tidak beriman, seluruhnya memasuki alam lain yang menggetarkan. Ruh-ruh Manusia terbangun dari tidur panjangnya. Mereka dikejutkan dari kuburnya, mereka dikumpulkan oleh satu seruan. Disana wajah bumi telah berubah, tidak lagi indah seperti dulu.

Pintu pintu kesempatan telah tertutup.
Disana tak ada lagi rencana, disanalah akhir dari semua harapan.

“Mereka berkata: ‘Aduh celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat tidur kami (kubur)?’. Inilah yang dijanjikan (Tuhan) Yang Maha Pemurah dan benarlah Rasul-rasul Nya”. (Qs Yasin 52)

Mereka pun keluar dari kubur laksana pucuk pucuk lemah dan telanjang, mereka dikumpulkan tanpa sehelai pakaian. Benar mereka adalah telanjang, namun tak ada seorang pun yang sadar dan peduli akan hal itu, hari itu teramat dahsyat hingga semua lupa kepada diri mereka sendiri.

Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Kamu akan dibangkitkan pada hari kiamat tanpa sandal, telanjang bulat dan tidak dikhitan”. Aisyah bertanya; “Ya Rasulullah, laki-laki dan perempuan saling melihat (aurat) yang lain?” Nabi Sholallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab;
“Pada saat itu segala urusan sangat dahsyat sehingga orang tidak memperhatikan (mengindahkan) hal itu.” (Mutafaq’alaih)

Hari itu teramat dahsyat.
Mereka dikumpulkan di tengah-tengah padang luas memerah. Di sana tidak ada lagi gunung menjulang dengan selimut awan putih atau gemericik suasana shubuh saat mereka terbiasa enggan terbangun. Mereka mendapati wajah bumi benar benar berubah, di sana tak ada lagi pepohonan yang setia melindungi dari sengatan matahari. Di sana tak ada burung burung kecil yang sering membuat pa tani kesal dipematang sawah menguning. Di sana senja telah berakhir, warnanya merah membakar wajah wajah ketakutan. Semua gentar menyaksikan hari yang dulu sering mereka lupakan. Hari itu benar benar tiba.

“Pada hari kiamat, manusia dikumpulkan di tengah padang berwarna putih agak kemerahan seperti roti panggang di mana tidak ada bangunan tempat tinggal bagi seorang pun”. (Sahih Muslim No. 4998, Riwayat Sahal bin Saad Ra)

Di sana mereka dikumpulkan, dalam satu lembah penderitaan, tangis keluh tiada henti. Di sana mulut tidak lagi berkata kata seperti biasa, mereka membisu tanpa sepatah kata, mereka tidak tahu hendak mengadu kepada siapa. 

Disana berbagai nikmat nikmat yang selama ini mereka inkari telah dihilangkan. Tinggallah lapar dan dahaga yang tak berujung, disana tidak ada lagi harapan bahwa malam akan datang dan sedikit menukar rasa lapar dengan kantuk lalu lelap hingga pagi. Bahkan pagipun tak kunjung tiba.

Inilah mahsyar yang benar. Disanalah wajah wajah penuh kekafiran menemui kebenaran yang selama ini mereka ragukan, orang orang kafir berdiri dengan keadaan terbalik, Allah menjadikan kepala mereka sebagai kaki dan diperjalan terseret seret.

Sahabat bertanya; “Wahai Rasulullah! bagaimana seorang kafir dikumpulkan dalam keadaan berjalan di atas wajahnya pada hari kiamat?” Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab: “Bukankah Tuhan Yang membuatnya berjalan di atas kedua kakinya di dunia juga berkuasa untuk membuatnya berjalan di atas wajahnya pada hari kiamat?”. (Sahih Muslim No.5020 | Riwayat Anas bin Malik ra)

Disanalah seluruh manusia-manusia yang dulu kafir dan membangkang itu tunduk, beriman dan bersaksi, namun semua sudah terlambat. Pintu taubat telah ditutup dan dunia telah berakhir.

Disanalah semua manusia menjadi beriman!

Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
“Tidak akan terjadi hari kiamat, sebelum matahari terbit dari barat. Apabila matahari telah terbit dari barat maka seluruh manusia akan beriman” (Sahih Bukhari No. 1557, Muslim No. 226)

Inilah alam mahsyar yang dijanjikan.
Sebuah hari yang telah lepas dari hitungan hari.
Disana matahari tidak beredar lagi, d an semua menanti.
Kapankah ini akan berakhir?

Shadakta ya Rasulallah.
Mereka berada di sana selama 50.000 tahun.
Sebuah jangka masa yang tidak lagi diukur dengan peredaran bulan atau matahari. Sungguh mudah saja bagiNya, waktu yang teramat panjang itu adalah tempo yang sebentar bagi Allah.

“Bagaimana keadaan kalian, jika Allah mengumpulkan kalian di suatu tempat seperti berkumpulnya anak-anak panah di dalam wadahnya selama 50.000 tahun dan Dia tidak menaruh kepedulian terhadap kalian?” (HR Al Hakim dan At Thabrani)

Aduhai..
Berdiri berhimpit-himpitan. 
Demikianlah penghuni mahsyar berhimpit padat sehingga tidak ada ruang untuk bernafas, menahan dahaga yang membakar tenggorokan dan rasa lapar yang tidak dapat dibayangkan lagi. 

Disana Allah yang Maha Perkasa benar benar menunjukan kekuasaan Nya. Allah Ta’ala mendiamkan penghuni mahsyar yang Ia kehendaki dalam jangka puluhan ribu tahun, dihimpit penderitaan penderitaan yang tiada tara. 

Abu Hurairah Radiyallahu Anhu meriwayatkan, bahwa Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

“Ada tiga orang yang nanti pada hari kiamat tidak akan diajak bicara oleh Allah dan mereka mendapat siksa yang pedih, yaitu: Orang yang mempunyai kelebihan air di gurun sahara tapi tidak mau memberikannya kepada musafir, orang yang membuat perjanjian dengan orang lain untuk menjual barang dagangan sesudah Asar; ia bersumpah demi Allah bahwa telah membeli barang itu dengan harga sekian dan orang lain tersebut mempercayainya padahal sebenarnya tidak begitu, Orang yang berbaiat kepada peminpin untuk kepentingan dunia. Jika sang peminpin memberikan keuntungan duniawi kepadanya, ia penuhi janjinya, jika tidak maka ia tidak penuhi janjinya” (Sahih Muslim 157, Bukhari 2186, At Tirmidzi Abu Daud, Ibn majah dan Imam Ahmad)

Didalam hadits lainnya, yang diriwayatkan Abu Hurairah r.a. Rasulullah bersabda: “Ada tiga macam orang yang tidak akan diajak bicara oleh Allah pada hari kiamat dan tidak pula menganggap mereka sebagai orang bersih (dari dosa), juga tidak hendak melihat mereka itu dan bahkan mereka akan memperolehi siksa yang pedih sekali, yaitu orang tua yang berzina, raja (pemimpin negara) yang suka membohong dan orang miskin yang sombong.” (Riwayat Muslim, Riyadhussalihin).

Setelah Manusia didiamkan selama ribuan tahun tersebut, kemudian satu suara menyeru penghuni mahsyar. Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan seluruh penghuni mahsyar supaya berpaling kearah Neraka. Ini arahan pertama dari Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada ahli mahsyar setelah mereka dibiarkan selama 50.000 tahun, tidak dipedulikan oleh Allah adalah azab buat mereka.

Dengan satu arahan itu tidak seorang pun dari penghuni mahsyar dapat menolak dan berpaling dari neraka kecuali mereka yang mendapat rahmat Allah. 

“Pada hari itu manusia mengikuti (menuju kepada suara) penyeru dengan tidak berbelok-belok; dan merendahlah semua suara kepada Tuhan Yang Maha Pemurah, maka kamu tidak mendengar kecuali bisikan saja”. (QS Thaha 108)

Dihari Mahsyar itu tibalah saatnya Allah membuktikan peringatan peringatannya tentang bahaya hari akhirat bagi mereka yang mendustakannya.

Ini adalah peringatan kepada manusia manusia yang lalai dan dzalim. Peringatan kepada penguasa penguasa dan manusia manusia dzalim, mereka akan berdiri di Alam mahsyar dalam kegelapan yang gelap gulita.

Ibnu Ummar Ra meriwayatkan, Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: 
“Sesungguhnya kezaliman kezaliman itu akan mendatangkan kegelapan kegelapan pada hari kiamat” (Bukhari 2267, Muslim 4676)

Hari Mahsyar bukanlah hari pembalasan yang sebenarnya. Mahsyar hanyalah satu hari hitungan akhirat, disana hanya sementara untuk menunggu perhitungan amal. Namun penghuni mahsyar telah menderita dan tidak tahan lagi berada lebih lama disana.

Disana penghuni Mahsyar merayu untuk disegerakan Hukuman karena tak tahan lagi.

“Dan (alangkah ngerinya), jika sekiranya kamu melihat ketika orang-orang yang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Tuhannya, (mereka berkata): “Ya Tuhan kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami (ke dunia), kami akan mengerjakan amal saleh, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang yakin…”  (Qs As Sajdah 12)

Namun sayang, penyesalan yang menyesakan dada penghuni mahsyar itu telah terlambat. Dunia sudah berakhir. Disanalah keabadian dimulai. Disana tidak akan ada kematian lagi.!

Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
“Pada hari kiamat nanti maut akan didatangkan seperti seekor biri biri yang berwarna keputih putihan, lalu dihentikan diantara syurga dan neraka. Kemudian penghuni syurga dan neraka ditanya; apakah kalian mengenai ini ? Lalu maut itu diperintahkan untuk disembelih… dan diserukan; wahai ahli syurga, keabadian dan tak ada kematian lagi! wahai Ahli neraka, keabadian dan tak ada kematian lagi. Lalu Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi wa Sallam menunjuk dunia dengan tanggannya”. (Kutifan Sahih Bukhari 4361, Muslim 5087)

Disanalah Manusia teringat kepada Rasulullah Sholallahu Alaihi Wassalam. Disanalah orang orang beriman teringat tentang sebuah harapan Syafaat dari Rasullnya. Disanalah orang orang kafir menangis darah atas perbuatannya mencela dan menghina Rasulullah yang mulia. 

Disana ummat Muhammad Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam berjumpa dengan kekasihnya, meminta agar diri mereka diberi syafaat. Disanalah Nabi Sholallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan syafaatnya sebagaimana yang pernah dijanjikan kepada orang-orang tertentu yang pernah mengikat perjanjian dengan Allah dengan keimanan yang tinggi dan amal soleh.

Nabi Muhammad Sholallahu ‘Alaihi wa Sallam diizinkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk memberi syafaat.

“Pada hari itu tidak berguna syafaat, kecuali (syafaat) orang yang Allah Maha Pemurah telah memberi izin kepadanya, dan Dia telah meridai perkataannya”. (QS Thaha 109)

Annas bin Malik ra meriwayatkan, bahwa Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

“Setiap Nabi mempunyai do’a yang digunakan untuk kebaikan umatnya. Sesungguhnya aku menyimpan do’aku sebagai syafaat bagi ummatku pada hari kiamat” (Bukhari 5830, Muslim 299)

Masha Allah..
Jazakallah ya Rasulallah Sholallahu ‘Alaihi wa Sallam.. 

Inilah sebentuk cinta Rasulullah kepada ummatnya. Dialah yang paling tahu atas peristiwa peristiwa dahsyat setelah kehidupan ini. Begitu mulianya, dalam hidupnya beliau menyimpan do’a untuk kita sebagai ummatnya. Do’a, sebuah Syafaat dan harapan dihari yang tiada naungan.  

Imam Al-Ghazali mengatakan bahwa sesiapa yang berumur panjang dan ia bersabar dalam susah payah menanggung ujian karena keimanannya terhadap Allah, sabar dari segala hawa nafsu, sabar menghadapi ancaman musuh musuh Allah, maka bagi mereka hari mahsyar itu akan terasa singkat. 

Di dunia ini, orang-orang yang beriman dan patuh kepada perintah perintah Allah – dan tetap menghindari segala pantangan dan larangan dari perkara perkara yang haram – mereka sering dihadapkan kepada masalah masalah, kesukaran dan berbagai ujian karena menjaga ketaatan terhadap perintah Allah. Manusia beriman merasakan waktu yang terlalu lama hidup di dunia dengan berbagai cobaan dan penderitaan. Tapi mereka tetap sabar menempuh segala halangan dan cobaan, maka wajarlah ia menerima Rahmat dari Allah dengan menjadikan masa yang singkat sewaktu berada di Mashyar. 

Inilah hal yang seharusnya kita jadikan energy dan semangat dalam berjihad mendukung perjuangan di harakah harakah Islam digolongan manapun. Berada dijalan dakwah, front front jihad dan semua gerakan gerakan Islam itu pasti akan menempuh berbagai ujian, dimusuhi, diludahi, dicaci, dipenjara, dibenci oleh orang-orang yang tidak senang karena mendukung perjuangan. Namun, kesemua itu akan menjadi suatu yang mendatangkan rahmat kepadanya di mashyar kelak, apabila kita sabar diatas segala rintangan itu.

Ketika penghuni mahsyar tenggelam lautan keringat dan airmata dihari Mashyar, maka Allah kurniakan Rahmat terhadap mereka dengan menjadikan masa yang singkat di bumi Mashyar.

Orang-orang yang beriman sering memikirkan kesengsaraan hari mashyar yang akan dideritanya, dia sadar bahwa mereka tidak mampu menanggung azab yang begitu lama di bumi mashyar. Orang yang beriman seharusnya tangguh dan mampu menanggung kesusahan yang sebentar didunia ini, terus berdiri mentaati segala perintah Allah dan menjauhi apa jua larangan-Nya, serta memperjuangkan agama-Nya. 

Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
“Kepada orang Mukmin yang menanggung sengsara kerana beriman dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka ia akan diringankan seperti lebih ringannya dia melakukan solat fardhu semasa di dunia”. 

Subhanallah..
Sahabat pena, ini bukan dongeng. Lima puluh ribu tahun adalah bukan masa yang sebentar. Menunggu adalah hal yang tidak mengenakan. Betapa sengsaranya kita disana, menanti hari hisab. 

Abu Hurairah Ra meriwayatkan, bahwa Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: 

“Setiap pemilik emas atau perak yang tidak mau memenuhi haknya (tidak membayar zakat), pada hari kiamat pasti ia akan diratakan dengan lempengan lempengan bagaikan api, kemudian lempengan lempengan itu dipanaskan di neraka jahanam, kemudian lambungnya diseterika dengan lempengan itu. Setiap kali lempengan itu mendingin, akan dipanaskan kembali. Hal itu terjadi dalam sehari yang lamanya sama dengan lima puluh ribu tahun. Hal ini berlangsung tersu sampai selesai keputusan untuk tiap hamba….” (Shahih Al Bukhari dalam Bab Zakat Hadits No. 1314, Muslim No.1647, At Tirmidzi No.1560, An Nasai No. 2405, Abu Daud No. 1414, Ibn Majah No.1766, Imam Malik No. 530 dan juga diriwayatkan Imam Ahmad)

Inilah salah satu hadits shahih yang meriwayatkan bahwa di Alam Mahsyar itu akan berlangsung satu hari yang kadarnya sama dengan lima puluh ribu tahun di Dunia. Hadits ini tidak berdiri sendirian, jangka waktu yang panjang itu adalah benar. Hari itu bukan hitungan hari di dunia, namun hitungan waktu langit. Hitungan waktu yang ditetapkan oleh Allah yang Maha Menghitung dan Maha Cermat dengan Hitungan Nya.

Allah Ta’ala berfirman:
“Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun” (QS Al Ma’arij 4).

Bukankah usia manusia di dunia ini kurang dari 100 tahun saja? 
Jika katakanlah, usia kita di dunia ini 70 Tahun. Maka kita bisa membayangkan perbandingannya dengan “satu hari” di yaumil mahsyar. 

Apa yang telah kita persiapkan untuk masa yang panjang itu? Sedangkan hari akhirat itu bukan bukan 2 juta atau 20 juta tahun. Tapi abadi..

Dari dasar pemikiran inilah, kita sudah selayaknya memahami kembali tentang pesan mulia Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam tentang kesederhanaan atau zuhud terhadap dunia ini.

Abdullah bin Mas’ud Radiyallahu Anhu pernah meriwayatkan, bahwa Rasulullah Sholallahu Alaihi wa Sallam tidur hanya beralaskan tikar, hingga ketika beliau bangun tikar itu membekas di tubuhnya. Lalu beliau menawarkan kasur untuk Rasulullah, dan Rasulullah menolaknya dengan berkata: 

“Apakah untukku ini dan apa pula untuk dunia (maksudnya bagaimana aku akan senang pada dunia ini). Aku di dunia ini tidaklah lain kecuali seperti seorang yang mengendarai kendaraan yang bernaung di bawah pohon, kemudian tentu akan pergi dan meninggalkan pohon itu.” (HR Tirmidzi)

Sebentar saja, dunia ini sebentar…
Hari yang sebentar untuk masa yang abadi.
Dari itulah, Rasulullah Solallahu Alaihi wa Sallam berpesan kepada ummatnya agar senantiasa berada dalam kebenaran dan berbuat yang benar:

“Tidak seorang pun di antara kalian yang akan diselamatkan oleh amal perbuatannya. Seorang lelaki bertanya: Engkau pun tidak, wahai Rasulullah? Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi wa Sallam. menjawab: “Aku juga tidak, hanya saja Allah melimpahkan rahmat-Nya kepadaku akan tetapi tetaplah kalian berusaha berbuat dan berkata yang benar”. (Shahih Muslim No.5036)

Berbahagialah kita, saat ini kita masih berdiri bebas melangkah di dunia ini. Saat ini, adalah saat yang paling tepat untuk meraih ampunan Allah. Saat yang tepat untuk meninggalkan hal hal yang tidak penting, hal hal yang memberatkan kita di akhirat kelak. Ini adalah saat saat terpenting untuk melipatgandakan bekal kita dihari yang panjang kelak. 

Taka da gunanya menyibukan diri dengan berbagai perdebatan tiada akhir, merasa paling benar dan menghukumi semua salah. Kebenaran hanyalah milik Nya, dan semua akan bermuara kesana. Bukankah kesia siaan saja, jika masa masa yang berharga ini kita isi dengan permusuhan?
  
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barang siapa yang membuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi”. (QS Al Munafiquun: 9)

NURUDDIN AL INDUNISSY 
RIYADH 2011

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *