Menu Close

“Hikmah dalam Megah-nya Masalah”

Istimewa, semua manusia itu unik dan istimewa dengan berbagai tingkah dan ciri khasnya yang menggoda untuk kita selami. Semua dari mereka adalah mahluk luarbiasa yang nanti akan mendewasakan kita dengan cara-Nya.

Jika engkau belum menemukan orang luarbiasa disekitarmu, maka periksa kembali tentang caramu memandang mereka. Karena semua orang adalah luarbiasa dengan keistimewaannya. Lihatlah lagi! Selami dan pahami karena engkau tidak akan pernah menjadi istimewa jika tidak pernah mengisitimewakannya”.

Jika engkau lihat masalah yang engkau hadapi begitu besar sehingga engkau melihat dirimu begitu kecilnya, maka terbanglah tinggi. Atau terbangkanlah ruhmu, bayangkan ruhmu sedang terbang dan melihat jasadmu dari ketinggian… terus terbang dan fokus pada titik dimana dirimu terduduk dan merenung.

Maka lihatlah dengan ruhmu, semakin tinggi engkau terbang maka jasadmu dan semua dimensi disekitarmu semakin kecil. Katakanlah kursi tempatmu duduk, ruangan dirumahmu , kota tempat rumahmu, negara dimana kotamu dan planet dimana negerimu terletak, tatasurya dimana planet bumi terletak, galaksi dimana matahari terletak, dan semesta raya dimana gugusan bintang galaksi bima sakti terletak!

Maka lihatlah, lihatlah lagi..
Dari ketinggian, dari luar semesta raya dimana saat ruhmu berada saat itu engkau akan lihat betapa dirimu, rumahmu, kotamu, negaramu, planetmu, tatasuryamu, galaksimu itu kecil dan ia hanyalah gugusan cahaya berupa titik-titik kecil dari ribuan atau milyaran cahaya lain. Engkau akan melihat diri dan masalahmu teramat kecil.

Bahkan disana engkau tidak sempat untuk mengingat lagi masalah itu, disana engkau akan bertasbih mengakui kebesaran Allah yang maha besar diatas segalanya.

Dari sana pula engkau akan menyadari bahwa disana ternyata masih ada tempat tertinggi, yaitu Al Aliy Allah yang maha tinggi. Namun ketinggian itu hanya akan dicapai dengan menyelesaikan ujian-ujian diberbagai level penerbanganmu dalam rangka meninggi tadi.

Jika engkau hanya mampu terbang ke atap rumahmu, maka sama saja, disana engkau masih melihat diri dan wajahmu yang berkeluh kesah. Karena usahamu meninggi belum mencapai tahapan apa-apa. Mungkin engkau hanya naik dengan tangga, engkau belum menyadari akan keberadaan sayapmu.

Baiklah, kita coba berfikir lebih keras dan cerdas.
Kita tidak punya sayap, atau kita belum menyadarinya. Tidak usah risau, kita punya kaki untuk mendaki bukan?

Iyah, kita bisa mendaki sebuah bukit tertinggi di tempat itu, mendakilah dan lihatlah hamparan kota tempatmu tinggal. Dan engkau akan lihat rumah tempatmu duduk tadi mulai mengecil. Jika tidak puas, maka teruskan pendakian ketempat yang lebih tinggi. Katakanlah puncak gunung tertinggi di negerimu dengan sabar, tabah, dan bersungguh-sungguh hingga engkau mencapai puncak tertingginya. Lalu lihatlah…

Lihatlah hamparan permadani bumi yang Allah hamparkan, lihatlah para pendaki yang sedang menuju puncak, rasakanlah udara segar yang engkau hirup, lihatlah dan rasakanlah awan-awan yang menyentuhmu. Lalu berfikirlah apa yang harus engkau lakukan?

Disana engkau bahkan tidak sempat melihat masalah dimasalalumu tadi, engkau akan berfikir bagaimana terbang lebih tinggi lagi bukan bagaimana cara turun gunung bukan? Jika engkau masih ingin kembali ke masa lalu maka seperti itulah orang kebanyakan berfikir, mereka turun kembali setelah mencapai puncak karena tidak kuat akan dingin yang menusuki kulitnya, mereka tidak punya bekal untuk tinggal lama-lama dipuncak, mereka tidak memiliki sayap untuk terbang ke puncak-puncak lain yang lebih tinggi…

Bahkan mereka tidak sadar bahwa di ketinggian itu ia lebih dekat dengan Yang Maha Tinggi. Allah-lah tuhan yang telah memperjalankan ia ke maqom atau level derajat yang lebih tinggi itu lengkap dengan kesempurnaan ujian-ujiannya.

Sekarang lihat, dimana engkau berada saudaraku..
Jika engkau melihat dirimu masih terduduk malas, maka bangunlah tentukan langkah dan melangkahlah. Jangan hanya diam dan tersenyum bingung. Tentukan puncak yang ingin engkau capai.

Jika engkau tengah merasakan sulitnya pendakian, maka ingatlah berbagai keterbatasan itu adalah cara Allah yang maha gagah perkasa menunjukan kepadamu bahwa engkau itu hanyalah hamba yang butuh. Agar engkau ingat dan meminta kepada-Nya.

Jika engkau merasakan angin itu semakin kuat, dan ujian pendakian itu semakin hebat…maka yakinlah, setelah engkau meloncati rintangan hebat itu engkau akan menjadi orang hebat. Karena ujian hebat hanya diperuntukan untuk orang-orang hebat!

Jangan melihat sisi kanan dan kiri yang gelap, tapi lihatlah cahaya didepan sana. Cahaya yang akan menuntunmu ditempat yang tinggi. Cahaya yang nanti akan mendekap ruhmu dalam ketenangan jiwa.

Dan disana engkau akan melihat masalah-masalah itu dengan satu senyuman. Engkau akan membalas kedzaliman manusia dengan sebuah do’a, meleburnya dengan maaf sementara engkau sibuk memperbaiki sayapmu, engkau sibuk menjaga hubungan baik dengan cahaya penuntunmu.

Engkau tidak akan sibuk dengan orang lain saudaraku.
Tidak, tidak akan pernah. Ingat hanya orang berhikmah yang mampu melihat himah dalam diri saudaramu. Jika engkau hanya mampu melihat kejelekan dalam diri orang lain maka tuduhlah dan jangan pungkiri bahwa engkaulah si jelek itu ^_^

Didiklah dirimu dan jangan salahkan siapapun.
Nasihati dirimu pelan-pelan, jangan berisik dan membuat semestanya gaduh. Karena itu akan menjadi ciri khas dan nilai-mu dimata saudara dekatmu. Bahkan di mata tuhanmu, Allah Azza wa Jalla yang menatapmu dengan kerahmatan-Nya sehingga engkau masih diberi kesempatan berkeliaran di bumi ini.

Dan usia adalah nasihat yang diam.

Salam Bahagia,
NAI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.