Menu Close

Hikmah Ruqyah #4

Istilah Serangan Balik

Serangan balik itu tidak pernah ada, karena sesungguhnya kita sudah ada dalam arena pertempuran sejak lama, hanya saja tidak semua orang menyadarinya.

Istilah ini muncul dari seorang awam yang merasa diri atau keluarganya diserang syaitan dari bangsa jin selepas teraphy kepada seorang pesakit yang diganggu jin. Padahal syaitan-syaitan itu telah lama menyerang bahkan mendeklarasikan dirinya untuk menjadikan manusia sebagai musuh abadinya.

Kebanyakan manusia mengira bahwa dirinya terbebas dari gangguan syaitan dari bangsa jin ketika jasad dan psikisnya sehat. Padahal iblis dengan seluruh balatentaranya punya project besar untuk melancarkan tipudayanya setiap saat.

Iblis bekerja siang dan malam sementara manusia tidur dimalam hari, mereka bersungguh-sungguh dan kita bahkan tidak mengimani adanya campurtangan ghaib ini. Lalu bagaimana pertarungan akan seimbang?

Imam Hasan al Bashri, ketika ditanya; “Apakah iblis tidur?” Beliau menjawab; “Seandainya ia tidur, maka manusia bisa hidup dengan tenang”. Hal ini merupakan penjelasan dari sebuah sabda dari Rasulullah sholallahu alaiyhi wa sallam bahwasannya; “Syaitan akan mendatangi umatku dalam setiap urusannya”. Artinya yang kaya dari pintu kekayaan yang miskin dari pintu kefaqiran, yang bodoh dari pintu kebodohannya yang berilmu dari pintu kesombongan dan ria atas ilmunya, yang sakit dari pintu kesakitan (putus asa, berobat ketempat syirik) yang sehat dari pintu kesehatannya (lalai dengan waktu) dll.

Dalam menangani pasien, seorang praktisi ruqyah biasanya mempertaruhkan jiwa raga dan kesungguhan, keringat, fokus, waktu dan seluruh hal yang mampu atau yang memungkinkan untuk dilakukan. Begitupun syaitan dari bangsa jin, ia bersungguh-sungguh dalam bertahan ataupun balik menyerang dengan cara-cara licik dan tipu muslihat dari tempat yang tersembunyi dari akal dan mata manusia. Sehingga Allah akan tunjukan dengan nyata dihadapannya bahwasannya syaitan itu musuh yang nyata dan merekaaaa lebih bersungguh-sungguh dari manusia.

Syaitan-syaitan itu senang main dibelakang!
Jika ia tidak mampu menyerang peruqyah maka ia menyerang orang terdekatnya dan mencurinya. Mereka menyakiti keluarganya, menebar fitnah sehingga ia mulai melihat panah-panah kebencian yang menancap diwajahnya dan berbagai resiko kehancuran lain yang menyakitkan.

Jika bukan serangan balik, kenapa mereka baru menyakiti keluargaku sekarang?

Dari dulu mereka mengintai dan bahkan sudah membuat kekacauan dikeluarga kita hanya kita tidak sadar. Dan sekarang setelah kita proklamirkan untuk menyerang mereka, Allah menampakan kejahatan mereka dengan diizinkannya syaitan menyakiti ‘jasad’ kita atau keluarga kita. Sehingga memudahkan kita untuk mengenali dan lalu melakukan pembersihan..

Lalu bagaimana menyikapi serangan balik ini?
Sederhana saja, mau melanjutkan pertempuran atau lari tunggang langgang bersama para pecundang? Mau sekedar mengobati sakit bekas-bekas syaitan dipermukaan atau mau menyerang syaitan hingga ke markasnya?

Ketika manusia sakit, sebenarnya Allah ingin memberitahunya bahwa ada titik di qalbunya yang melemah. Sakit laksana alarm bagi jasad, ia adalah alert (peringatan) bahwasannya ada sesuatu yang sakit di qalbu kita. Ada pintu pertahanan yang terbuka atau masih terbuka sehingga musuh masuk. Ada kelalaian, kemaksiatan sehingga ruh kita menjauh dari rabbnya dan ruh jahat itu masuk menguasai satu sektor dikehidupan kita.

Ketika syaitan masih berani menyentuh atau bahkan mampu menyakiti keluarga kita, artinya kita belum memiliki benteng pertahanan yang kuat. Atau barangkali terlupa mengajari keluarga bagaimana membangun dan menjaga benteng pertahanan dari syaitan!

Ajarkanlah mereka bagaimana membangun akidah atau keyakinan yang kokoh. Singkirkanlah dari rumah tuhan-tuhan lain selain Allah. Ajarkan kepada mereka sunnah-sunnah yang menentramkan. Ajari mereka bagaimana caranya mendekati Allah sehingga musuh menjauh. Ajarkan kepada mereka ibadah-ibadah yang menguatkan hati. Ajarkan kepada mereka proteksi diri atau dzikir dan ayat yang melindungi jiwa dan raga beserta rumah tempat kita tinggal.

Jadi sikap terbaik saat menyadari hal ini adalah dengan berupaya keras sekuat tenaga untuk kembali dan mendekati Allah sedekat-dekatnya hingga musuh menjauh sejauh-jauhnya. Mendekati Allah bukan terbang kelangit, melainkan mencari bantuan balatentara langit dengan cara-cara yang telah disunnahkan sang rasul. Dan tinggalkanlah dunia selangkah demi selangkah..

“Jika engkau melihat peluru kematian itu semakin mendekat, maka bersegeralah untuk meninggalkan seluruh hal yang tidak berguna atau bahkan membebanimu di kehidupan yang lain nanti”.

Salam Bahagia

1 thought on “Hikmah Ruqyah #4

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *