SUNNAH FI’ILIYYAH

Sunnah fi’illiyah merupakan landasan hukum yang berdasarkan atas pekerjaan nabi ﷺ. Ada beberapa hadits tentang ruqyah yang dilakukan nabi;

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ نَفَثَ فِي كَفَّيْهِ بِقُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ وَبِالْمُعَوِّذَتَيْنِ جَمِيعًا ثُمَّ يَمْسَحُ بِهِمَا وَجْهَهُ وَمَا بَلَغَتْ يَدَاهُ مِنْ جَسَدِهِ قَالَتْ عَائِشَةُ فَلَمَّا اشْتَكَى كَانَ يَأْمُرُنِي أَنْ أَفْعَلَ ذَلِكَ بِهِ

Dari ‘Aisyah ra dia berkata; “Apabila Rasulullah  hendak tidur, maka beliau akan meniupkan ke telapak tangannya sambil membaca QUL HUWALLAHU AHAD (QS Al Ikhlas 1-4) dan Mu’awidzatain (An Nas dan Al Falaq), kemudian beliau mengusapkan ke wajahnya dan seluruh tubuhnya. Aisyah berkata; Ketika beliau sakit, beliau menyuruhku melakukan hal itu.”[1]

Hadits berikutnya adalah sebuah kisah sahih saat Rasulullah ﷺ menjenguk Abu Hurairah.

Dari Abu Hurairah dia berkata, “Nabi  datang menjengukku, beliau lalu bersabda kepadaku: “Apakah kamu mau aku ruqyah dengan ruqyah yang telah di ajarkan Jibril kepadaku?” aku lalu menjawab, “Demi ayah dan Ibuku, tentu ya Rasulullah.” Beliau lantas membaca:

مِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ بِسْمِ اللَّهِ أَرْقِيكَ وَاللَّهُ يَشْفِيكَ مِنْ كُلِّ دَاءٍ فِيكَ

‘Bismillahi urqiika wallahu yasyfiika min kulli da`in yu`dziika wa min syarrinnaffatsati fil ‘uqadi wa min syarri haasidin idza hasad (Dengan nama Allah aku meruqyahmu, dan Allah-lah yang menyembuhkanmu dari setiap penyakit yang menimpamu, dari setiap kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul, dan dari kejahatan pendengki bila ia dengki).’ Beliau mengucapkannya hingga tiga kali.”[2]

Adapun riwayat yang mengisahkan bahwa Rasulullah ﷺ kena sihir adalah sahih juga, ada beberapa riwayat diantaranya adalah dari Abu Sa’id bahwa Jibril mendatangi Nabi ﷺ  kemudian berkata;

“Hai Muhammad, apakah kamu sakit? Rasulullah  menjawab: ‘Ya. Aku sakit. Lalu Jibril meruqyah beliau dengan mengucapkan;

بِاسْمِ اللَّهِ أَرْقِيكَ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ يُؤْذِيكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ نَفْسٍ أَوْ عَيْنِ حَاسِدٍ اللَّهُ يَشْفِيكَ بِاسْمِ اللَّهِ أَرْقِيكَ

‘Dengan nama Allah aku meruqyahmu dari segala sesuatu yang menyakitimu dan dari kejahatan segala makhluk atau kejahatan mata yang dengki. Allah lah yang menyembuhkanmu. Dengan nama Allah aku meruqyahmu.[3]

Hadits lain adalah dari Aisyah ra, ia berkata: “Rasulullah saw apabila ada orang sakit diantara kami, beliau menyentuhnya dengan tangan kanannya, kemudian beliau berkata:

اَللَّهُمَّ أَذْهِبِ اْلبَأْسَ رَبَّ النَّاسِ، اِشْفِ وَ أَنْتَ ا لشَّا فِيْ لاَ شِفَاءَ إِلاَّشِفَا ؤُكَ شِفَاءَإِلاَّ شِفَاؤُكَ شِفَاءًلاَ يُغَادِرُسَقَمًا(3×)

Artinya: “Ya allah, hilangkan penyakit ini, wahai penguasa seluruh  manusia, sembuhkanlah ! engkaulah yang menyembuhkan, tidak ada kesembuhan  kecuali kesembuhan dari-mu,  sembuhkanlah dengan kesembuhan  sempurna tanpa meninggalkan  rasa sakit.”

Dari Ibnu Abbas ia berkata; Dahulu Rasulullah ﷺ  sering mendo’akan Hasan dan Husain dengan mengucapkan:

أُعِيذُكُمَا بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لَامَّةٍ

“U’iidzukumaa bikalimaatillaahitaammah min kulli syaithaanin wa hammah, wa min kulli ‘ainin laammah (Aku melindungi kalian dengan kalimat Allah -Al quran atau asma’ dan sifat-Nya- yang sempurna dari setiap syetan dan binatang berbisa serta ‘Ain yang dengki).”

Beliau juga bersabda: “Demikianlah dahulu Ibrahim melindungi Ishaq dan Isma’il ‘Alaihimus salaam.”[4]

Hadits lain yang termasuk sunnah yang Rasulullah ﷺ lakukan sendiri adalah ketika beliau saw meruqyah anak-anak:

Riwayat pertama, dari Yalla bin Murah ﷺ, saat melakukan safar bersama Rasulullah ﷺ beliau melihat seorang ibu yang sedang duduk bersama anak bayinya. Perempuan itu memohon kepada rasul untuk mengobati penyakit anaknya yang sering kumat, dan Rasul bersabda; “Berikanlah anak itu kepadaku”, kemudian perempuan itu meletakan anak itu dan Rasulullah ﷺ membuka mulut anak itu dan membuka mulut anak itu, lalu meniup kedalamnya sebanyak tiga kali dan mengucapkan “Bismillah, aku adalah hamba Allah, enyahlah engkau wahai musuh Allah!” Kemudian Rasulullah ﷺ menyerahkan kembali bayi itu kepada ibunya sambil berkata; “Temuilah kami disini ketika kami kembali nanti dan beritahukan apa yang terjadi dengan anak ini”. Sekembalinya dari perjalanan, si ibu tadi berada disana dengan tiga ekor kambing dan memberitahukan bahwa tidak ada gangguan lagi dan Rasul ﷺ mengambil 1 ekor kambing tersebut.[5]

Riwayat kedua dari Yalla Bin Murah dari ayahnya, tentang seorang perempuan yang datang kehadapan Rasulullah ﷺ membawa bayinya yang kesurupan, dan nabi Muhammad bersabda; “Keluarlah wahai musuh Allah! Aku adalah utusan Allah!” maka bayi itu sembuh seketika. Dan ibu tadi memberikan 2 ekor domba, keju dan minyak samin dan Rasulullah hanya mengambil keju dan minyak samin serta 1 domba.[6]

Riwayat ketiga, dari Jabir bin Abdullah, ia mengisahkan peristiwa pada Perang Dzatur Riqa’ tentang seorang perempuan yang membawa anaknya yang kesurupan kehadapan Rasulullah ﷺ. Dan Rasul menyuruh sang ibu untuk membuka mulutnya lalu diludahi oleh Rasulullah ﷺ sambil bersabda; “Enyahlah engkau wahai musuh Allah! Aku adalah utusan Allah!” sebanyak tiga kali. Setelah itu Rasulullah ﷺ bersabda, “Anakmu sudah baik, tidak ada lagi yang akan mengganggunya”. [Majma’uz Zawa’id (9/9)]

Dari Aisyah binti Sa’d dari Ayahnya, bahwa ia berkata; “Aku pernah menderita rasa sakit yang amat berat ketika di Makkah, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam datang menjenguk dan beliau mengusap wajah dan perutku sambil berdo’a:

اللَّهُمَّ اشْفِ سَعْدًا وَأَتْمِمْ لَهُ هِجْرَتَهُ

“Ya Allah, sembuhkanlah penyakit Sa’d dan sempurnakanlah hijrahnya.” Maka aku masih merasakan rasa sejuk di hatiku hingga saat ini.” [1]

 

SUNNAH TAQRIYYAH

Sunnah taqriyyah merupakan landasan hukum yang berdasarkan atas pembenaran atau diamnya nabi ﷺ dalam menyikapi sesuatu. Ada beberapa hadits tentang ruqyah yang di ‘benarkan’ nabi;

Abu Sa’id al Khudry ra menceritakan sebuah rombongan dari sahabat Nabi ﷺ  [2] yang bepergian dalam suatu perjalanan hingga ketika mereka sampai di salah satu perkampungan Arab dan penduduk setempat menolak mereka untuk singgah. Kemudian kepala suku kampung tersebut terkena sengatan binatang dan tidak ada satupun tabib disana yang bisa menyembuhkannya. Lalu mereka meminta rombongan sahabat barangkali ada yang bisa mengobati. Salah satu sahabat berkata: “Ya, demi Allah aku akan mengobati namun demi Allah kemarin kami meminta untuk menjadi tamu kalian namun kalian tidak berkenan maka aku tidak akan menjadi orang yang mengobati kecuali bila kalian memberi upah”. Akhirnya mereka sepakat dengan imbalan puluhan ekor kambing. Maka dia berangkat dan membaca Alhamdulillah rabbil ‘alamiin[3]  seakan penyakit lepas dari ikatan tali padahal dia pergi tidak membawa obat apapun. Dia berkata: “Maka mereka membayar upah yang telah mereka sepakati kepadanya. Seorang dari mereka berkata: “Bagilah kambing-kambing itu!” Maka orang yang mengobati berkata: “Jangan kalain bagikan hingga kita temui Nabi ﷺ  lalu kita ceritakan kejadian tersebut kepada Beliau ﷺ  dan kita tunggu apa yang akan Beliau perintahkan kepada kita”. Akhirnya rombongan menghadap Rasulullah ﷺ  [di madinah] lalu mereka menceritakan peristiwa tersebut. Beliau berkata:

مَا يُدْرِيكَ أَنَّهَا رُقْيَةٌ

“Kamu tahu dari mana kalau Al Fatihah itu bisa sebagai ruqyah (obat)?”. Kemudian Beliau melanjutkan: “Kalian telah melakukan perbuatan yang benar, maka bagilah upah kambing-kambing tersebut dan masukkanlah aku dalam sebagai orang yangmenerima upah tersebut”. [4]

 

Hadits berikutnya, seperti dikisahkan sebelumnya, dari Kharijah bin Ash Shalt At Tamimi dari Pamannya bahwa ia datang kepada Rasulullah ﷺ  lalu masuk Islam, kemudian kembali dari sisinya dan melewati sebuah kaum yang pada mereka terdapat orang gila yang diikat dengan sebuah besi. Keluarganya lalu berkata, “Telah sampai kabar kepada kami bahwa sahabat kalian ini datang dengan membawa kebaikan, apakah kalian memiliki sesuatu yang dapat engkau gunakan untuk mengobati? ‘ Lalu aku menjampinya menggunakan Surat Al Fatihah sehingga orang itu pun sembuh. Kemudian mereka memberiku seratus ekor kambing. Setelah itu aku datang kepada Rasulullah ﷺ  dan mengabarkan hal tersebut, beliau lantas bertanya: “Apakah engkau hanya mengucapkan ini?” Beliau lalu bersabda:

خُذْهَا فَلَعَمْرِي لَمَنْ أَكَلَ بِرُقْيَةِ بَاطِلٍ لَقَدْ أَكَلْتَ بِرُقْيَةِ حَقٍّ

Artinya: “Demi Dzat yang memanjangkan umurku, ambillah! Sungguh, orang makan dengan jampi batil sedangkan engkau makan dengan jampi yang benar.” [5]

 

قَالَتْ أَسْمَاءُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ بَنِي جَعْفَرٍ تُصِيبُهُمْ الْعَيْنُ فَأَسْتَرْقِي لَهُمْ قَالَ نَعَمْ فَلَوْ كَانَ شَيْءٌ سَابَقَ الْقَدَرَ سَبَقَتْهُ الْعَيْنُ

Artinya: Asma berkata, “Wahai Rasulullah, anak-anak Ja’far tertimpa penyakit ‘ain, maka ruqyahlah mereka! ” Beliau menjawab: “Ya. Jika ada sesuatu yang mendahului takdir, maka ‘ain lah yang mendahuluinya.” [6]

 

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَوْ كَانَ شَيْءٌ سَابَقَ الْقَدَرَ لَسَبَقَتْهُ الْعَيْنُ وَإِذَا اسْتُغْسِلْتُمْ فَاغْسِلُوا

Artinya: Dari Ibnu Abbas ia berkata; Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi wasallam bersabda: “Jikalau ada sesuatu yang dapat mendahului taqdir maka itu adalah penyakit ‘Ain (namun tidak ada yang dapat mendahuluinya) dan jika kalian diminta (oleh orang yang terkena ‘ain) untuk mandi, maka mandilah.” [7]

 

SUNNAH QAULIYAH

 

Sunnah qauliyyah merupakan landasan hukum yang berdasarkan atas perkataan atau anjuran langsung nabi ﷺ terhadap sebuah amal. Ada beberapa hadits tentang ruqyah yang dianjurkan nabi;

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ رَخَّصَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الرُّقْيَةِ مِنْ الْحَيَّةِ وَالْعَقْرَبِ

Dari Aisyah dia berkata, “Rasulullah ﷺ  memberi keringanan dalam ruqyah karena sengatan ular dan kalajengking.” [8]

Dari Abu Hurairah dia berkata, “Seorang laki-laki di sengat kalajengking hingga ia tidak dapat tidur pada malam harinya, lantas dikatakan kepada Nabi ﷺ , “Fulan telah di sengat kalajengking hingga ia tidak dapat tidur di malam harinya! “Maka Nabi ﷺ  bersabda: “Sekiranya menjelang sore harinya ia mengucapkan: ‘A’uudzu bika bikalimaatilahittaammti min syarri maa khalaqa (Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan makhluk-Nya) ‘, niscaya sengatan kalajengking tersebut tidak akan membahayakannya sampai pagi.” [9]

Dari hadits diatas kita mengetahui bahwa ruqyah itu tidak hanya dibacakan al Qur’an atau pun tidak hanya pada gangguan syaitan dikalangan jin saja, melainkan ruqyah juga do’a perlindungan untuk gangguan hewan bahkan dari seluruh kejahatan mahluk-Nya, bahkan dari luka yang bersifat fisik semisal pecahnya pembuluh darah sebagaimana berikut:

يَزِيدُ بْنُ أَبِي عُبَيْدٍ قَالَ رَأَيْتُ أَثَرَ ضَرْبَةٍ فِي سَاقِ سَلَمَةَ فَقُلْتُ مَا هَذِهِ قَالَ أَصَابَتْنِي يَوْمَ خَيْبَرَ فَقَالَ النَّاسُ أُصِيبَ سَلَمَةُ فَأُتِيَ بِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنَفَثَ فِيَّ ثَلَاثَ نَفَثَاتٍ فَمَا اشْتَكَيْتُهَا حَتَّى السَّاعَةِ

Yazid bin ‘Ubaid berkata, “Aku melihat pengaruh pukulan pada betis Salamah, lalu aku katakan, ‘Apakah ini? ‘ Ia menjawab, ‘Aku mendapatkan luka ini saat perang Khaibar. ‘ Kemudian orang-orang berkata, ‘Salamah telah terkena musibah’. Kemudian aku dibawa ke hadapkan Rasulullah ﷺ . Lalu beliau meludah padaku sebanyak tiga kali, kemudian aku tidak mengeluhkannya hingga saat ini.” [10]

 

Bersambung ke Bagian 3

 

Referensi:

[1] Shahih Bukhari 5227.

[2] Dalam Musnad Imam Ahmad 10648 dikatakan ekspedisi dengan 30 penunggang kuda.

[3] Atau QS Al Fatihah, dalam Sahih Bukhari 5308 diriwayatkan lalu meludahinya, dalam Sunan diriwayatkan sebanyak tujuh kali.

[4] Shahih Bukhari 2115, Juga dalam Shahih Bukhari 5308, 4623, Musnad Ahmad 11361 dan 10648], Sunan Ibnu Majah 2147.

[5] [Sunan Abu Daud 3398] Juga terdapat dalam Musnad Ahmad 20833]

[6] [Sunan Ibnu Majah 3501] Juga dalam Musnad Ahmad 26198

[7] [Sunan Tirmidzi 1988] [Shahih Muslim 4058] Begitupun riwayat dari Abu Hurairah Ra dalam sahih muslim 4057

[8] [Sunan Ibnu Majah 3508]

[9] [Sunan Ibnu Majah 3509]

[10] Sunan Abu Daud 3396

 

Referensi:

[1] Shahih Bukhari 5307

[2] Sunan Ibnu Majah 3515

[3] Shahih Muslim 4056] Juga dlm Musnad Ahmad 10793, 11131

[4] Kutipan Sunan Tirmidzi 1986

[5] Hadits ini tercatat dalam Majma’uz Zawwa’id (9/4) dan diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Thabrani

[6] HR Imam Ahmad