Kajian 7 | Membangun Benteng Ghaib

Bismillah asholatu wassalamu ‘ala Rosulillah, wa’ala alihi wa shohbihi ajma’in wa man tabi’ahum bi ihsani ila yaumiddin.
Alhamdulillah, segala puji hanya milik Allah yang maha luas dan kekal kasih sayangnya. Semoga sholawat dan salam senantiasa tercurah limpah kepada Rasulullah beserta orang tercinta didekatnya, keluarga, keturunan dan seluruh pengikutnya hingga Akhir jaman.

Selamat menunaikan ibadah shaum di romadhan hari yang pertama ini, untuk segenap keluarga besar RehabHati Indonesia dan seluruh mukminin-mukminat yang berbahagia terutama di group Trainer Rehab ini.

Dikajian ke 7 ini, saya mencoba mengurai salah satu pertanyaan dari Akh Hafidz Al Tsakofiy dari Rehab Hati Kalbar.
“Bagaimana menangani pasien yang sudah berkali kali diruqyah, namun jin nya keluar masuk dan tetap bandel?”

Sebagaimana kita ketahui bahwa manusia ini terdiri dari Jasad, Ruh dan Jiwa.
Atau lebih disederhanakan lagi terdiri dari dua hal yang saling melengkapi dan berkebutuhan, yaitu ruh dan jasad. Materi dan Imateri, dimana jasad ini sifatnya materi atau terlihat dan imateri ini yang tidak terlihat atau bersifat ghoib.
Seorang mukmin, sejak awal memasuki agama islam dikondisikan untuk mengimani alam yang ghoib ini sebagai ‘dunia lain’ dari dunia yang kita lihat dan raba.

Alhamdulillah, Allah dan Rasullnya telah membimbing dan menunjuki alam yang tidak kita lihat ini. Allah mengatur bahkan memaksa manusia untuk beriman ini dengan penjelasan nyata tentang rukun iman selepas rukun islam disebabkan manusia butuh ini.

Iman kepada perkara ghoib ini akan mengantar manusia untuk memperjuangkan kebutuhan ruhaninya yang sering terabaikan.
Adalah hal yang mengagumkan, ketika manusia melalaikan hal ini [sisi ghaib] maka Allah akan segera memberikan peringatan kepada jasad. Allah memberi alarm yang nyata berupa sakitnya jasad ketika qalbu manusia sakit. Atau ketika jiwa itu lapar, butuh energi untuk menguatkan pertahanan dari musuh-musuhnya yaitu syaitan dikalangan bangsa jin.

Jiwa seperti jasad, ia butuh makanan. Ketika suply energi untuk jiwa ini melemah, maka tentu kinerjanya sebagai cahaya yang menjadi pusat pengaruh kehidupan yang Allah titipkan berupa fitrah itu akan melemah dan padam. Ketika ia padam, maka seluruh kejahatan akan meliputinya. Dan mengagumkan, bahwa kerusakan dalam qalbu itu Allah beritahukan dengan tanda-tanda mulai adanya kerusakan pada salah satu organ tubuh manusia.
Sakit yang tidak ada obatnya dalam bentuk materi sehingga tidak bisa didapat dirumah sakit.

“Saat praktisi medis berkata bahwa suatu penyakit tidak ada obatnya, maka sesungguhnya Al Qur’an adalah obatnya”

Berawal dari perjalanan spiritual mencari pengobatan, biasanya manusia akan berhenti di ruqyah syariyyah atau teraphy al Qur’an. Dengan satu kali ruqyah biasanya ada perubahan hingga 60% dan manusia akan mendatangi peruqyah itu lagi di keesokan harinya, 2, 3, 4, 5 hingga 7 kali biasanya ia akan bosan dan mencari peruqyah lain. Atau jika ia tidak bosan, maka peruqyah itu akan merekomendasikan untuk meruqyah diri sendiri atau angkat tangan.

Disini jiwa yang lemah itu terus terlunta, kadang ia kembali ke pengobatan instan dari wali-wali syaitan. Inilah yang menjadi kekhawatiran kami, makanya RehabHati Foundation terus bergerak mengadakan pelatihan ruqyah bahkan mengkader trainer-trainer ruqyah yang berakidah salaful ummah.
Dimana salah satu metode yang ditekankan dalam konsep awal adalah tazkiyyah an nafs yang nanti akan berbuah jiwa yang istiqamah.

Buah dari tazkiyyah adalah jiwa yang istiqamah.
Jiwa yang istiqamah akan mengalahkan berbagai rintangan, ia akan menopang jasad untuk berjalan menuju cahaya yang ia temui hingga bertemu Rabbnya di Jannah.
Inilah tugas para nabi, bahkan seluruh nabi dan Rasul. Allah azza wa jalla menyinggung tentang pentingnya tazkiyyah an nafs ini dalam surah Asy Syam ayat 7-8 dan 9 yang pada intinya seluruh manusia itu diciptakan dengan dua potensi; yaitu potensi “fujur” dan “taqwa”. Allah mengilhamkan pada jiwa manusia kefasikan dan ketaqwaan. Diayat 10 surah Asy Syam Allah menyatakan “Merugilah orang yang mengotori jiwanya”.

Qalbu yang sesuai dengan fitrahnya akan membuat jasad dan ruh itu selamat di dunia dan akhirat. Sementara qalbu yang kotor dipenuhi kegelapan;
satu dosa satu titik gelap. Bagaikan segelas air yang diisi satu titik tinta hitam, ia akan menyebar dan membuat air bening itu keruh dan demikian seterusnya. Jika kita ingin mengembalikan air itu, maka yang harus dilakukan adalah memasukan tetes demi tetes air yang bening sehinga ia kembali bening

Tazkiyyah an Nafs pun demikian, ia menyucikan jiwa hingga ia menemukan kekuatannya. Sayang para raqi hanya menyuruh pasien bertaubat [istighfar] tanpa menjelaskan dosa apa sajakah yang harus ditaubati, apa saja dampak negatif dari dosa dan bagaimana gambaran penguasaan syaitan pada qalbu yang kotor tersebut?

Syaitan adalah mahluk yang kotor, ia menyukai sesuatu yang kotor-kotor. Semakin banyak dosa semakin besar dan megah rumah syaitan dalam jiwa manusia; Syirik, Riba dan dosa besar lain, Hasad, Maksiat, Bid’ah, Hubuddunya.

Ketika manusia syirik maka Allah meninggalkannya, ketika sumber cahaya itu pergi maka pengaruh yang muncul jelas kegelapan.

Maksiat dan dosa besar adalah pengundang murka Allah, sebuah kejahatan yang dilakukan jiwa-raga manusia yang berimbas langsung pada keyakinan seorang hamba pada Rabbnya.

Hasad adalah sebab dilaknatnya iblis dari syurga dan dengan sifat inilah dia menggelincirkah hampir keseluruhan manusia.

Bid’ah adalah hal yang disukai iblis melebih dosa besar, ritual sia-sia yang pelakunya merasa sedang beribadah padahal ia bermaksiat kepada Rasul sholallahu alaiyhi wassalam [menganggap rasul tidak selesai dalam menyampaikan risalahnya].

Dan ambisi pada dunia membuat manusia teggelam di lembah sihir dunia, setiap hari semakin menjauh kepada Rabbnya. Dan, Allah tidak menjadikan al Qur’an ini manfaat kepada mereka yang belum beriman pada kehidupan akhirat..

Ketika manusia melakukan dosa, maka satu langkah ia menjauh dari Allah dan Allah pun menjauhinya. Dengan demikian jiwanya mulai gelap dan tidak terarah. Ada satu sudut ruangan di hatinya yang gelap, ketika dosa kedua dilakukan maka sudut kedua menjadi gelap [tanpa lampu] dan begitu seterusnya sesuai kadar-kadar dosa yang ia lakukan. Dan malapetaka lah jika ia mengerjakan kesyirikan, karena Allah meninggalkannya dan seluruh ruangan itu gelap gulita. Dan syaitan berlomba-lomba mengambil jiwanya..

Jadi ketika manusia ingin kembali mendapat rahmat Allah [salah satunya adalah kesembuhan], atau dalam hal ini penjagaan Allah dari musuhnya yaitu syaitan dibangsa jin maka tidak lain tidak bukan harus menyalakan kembali ruangan-ruangan itu. Hingga setiap sudutnya menjadi terang dan nyaman sehingga rahmat Allah datang kembali dan syaitan pergi. Karena sudut-sudut gelap itu tidak lain adalah pintu masuk syaitan. Ketika syaitan sudah masuk, maka ia akan mengacak-ngacak dan memadamkan cahaya diruang lain [syaitan akan mengajak manusia melakukkan dosa lebih banyak dan sedikit beribadah]. Bagaimana Rahmat Allah ini dijemput setelah kita puas bermaksiat dan tubuh itu menjadi lelah?

Sederhana; hancurkan rumah itu, buat pondasi yang kokoh dan bangung rumah baru diatasnya.
Hancurkan pemahaman lama dengan aqidah yang murni dan tauhid yang benar agar energi iman itu kemudian muncul lagi, menyeruak, menguatkan jasad kita untuk mampu berdiri dan bersujud dalam rangka menunaikan ketaatan kepada Allah. Setelah itu barulah cari amalan-amalan sunnah sebagai tambahan untuk menenangkan jiwa yang baru tegap dan melangkah ini,
satu sunnah satu benteng ghaib untuk syaitan.

Bagaimana kalau sudah dzikir namun masih ada syaitan yang masuk dan menguasai jiwa bahkan menyakiti jasad?

Jawabannya ada tiga, catatlah dengan tinta emas karena ini akan menjadi bekal dalam perjalanan kedepan nanti:

1. Allah belum ridho kepadamu, hingga ia izinkan syaitan itu masuk dan menguasai.
Ingat, tidak ada upaya yang sia-sia apalagi dalam sebuah do’a namun butuh proses untuk menggapai rahmat Allah yang maha tinggi. Maka taatilah Allah dan Rasulnya, lalu musuhilah seluruh musuh-musuhnya dan bersabarlah! “Karena sabar adalah obat yang paling manjur, senjata yang tidak pernah tumpul dan pasukan yang tak pernah mundur!!!”

2. Perbaiki strategi dalam ruqyah mandiri.
Ingat bahwa ruqyah itu adalah metode pengobatan dengan dzikir yang salah satunya adalah dengan membacakan al Qur’an. Sementara dzikir ini adalah amalan sunnah, ia tidak akan bermanfaat saat yang wajib belum ditunaikan. Dan yang wajib itu tidak syah tanpa dilandasi aqidah dan tauhid yang murni.

3. Perisai langit.
Al Qur’an ini memiliki sunnatullah untuk menyembuhkan, sebagaimana air membasahi sebagaimana api membakar. Jika Al Qur’an tidak sesuai sunatullahnya maka lihatlah, barangkali qalbunya belum kembali pada fitrah atau ada penghalang yang membuat al qur’an itu tertambat ditelinga dan tidak sampai di qalbu. Atau, ada penghalang antara hamba dengan rabbnya sehingga doa itu tidak diangkat kelangit. Hancurkan perisainya…

Baca lagi point dua diatas karena itu adalah kesimpulannya. Jika syaitan itu masih datang dan pergi tanpa diundang, maka pastikanlah jiwa kita mengimani bahwa sunnatullah mereka diciptakan itu memang seperti itu. Hanya saja cari tahu sebabnya.
Sebabnya adalah 1; Runtuhnya Benteng Ghaib, atau memang tidak ada benteng sama sekali. Maka bangunlah benteng ghaib tersebut dengan membangun ritual sunnah, semakin banyak semakin kuat. Namun, ritual sunnah setelah menunaikan yang wajib sebagai bukti ketaatan berdasarkan aqidah salaful ummah.

Allahuakbar!


 

Original post by Ust NAI (Nuruddin Al Indunissy)