Kesedihan adalah Jiwa yang Terpenjara

Sedih, itu bagian dari warna warni yang meramaikan kisah dan jutaan cerita di dunia yang tidak kekal ini. Ia cerminan kerapuhan jiwa saat menyikapi sesuatu, namun disisi lain kesedihan adalah sutra lembut yang membelai raga kita saat kesendirian menyelimuti siapa saja. Baik dikamar yang sepi atau keramaian kota. Sedih adalah jelmaan fitrah manusia yang berkeinginan…

Ingin dekat kepada Allah, ingin memiliki buah hati sebagai keturunan yang menjadi warisan kita kepada Allah yang akan beribadah sepeninggal kita dan keinginan untuk tetap hidup dengan baik di persinggahan ini. Tiga fitrah yang tidak mungkin diubah, dimodif ataupun dimusnahkan. Tiga sumber fitrah yang dititipkan kepada qalbu manusia agar menjadi sumber kehidupan, keterhalangannya akan membekaskan berbagai noda di jiwa saat ubun-ubun sipendusta itu mulai berfikir dan membangkang kepada rabb-Nya.

Kesedihan adalah selendang sutra kejujuran yang menghiasi berbagai rasa berkecamuk, cerminan kerapuhan jiwa yang butuh kekuatan. Kekuatan yang menguatkan ia untuk kembali bangkit, seperti cahaya bulan yang melawan malam berharap siang tidak akan pernah datang.

Kesedihan adalah nuansa jiwa yang terpenjara disebuah tempat yang salah, dimana ia bersandar pada suatu dinding yang salah. Dinding rapuh yang suatu ketika akan runtuh ketika semua keinginan dan harapan mati dalam kematian. Ketika jiwa itu berlepas diri dari raga dan menemui kematiannya, ketika jiwa itu meminta maaf kepada ruh yang suci. Ketika jiwa itu merangkak menelusuri setiap syaraf-syaraf dan pembuluh darah, keluar dari setiap sel dan meninggalkan kesakitan terhebat yang membuat jasad itu mati!

Kesedihan adalah pengakuan jiwa kepada raga yang lemah, signal jujur yang menyeruak meneriakan sebuah bisikan yang berulang-ulang, sebuah pengakuan bahwa manusia ini adalah mahluk yang butuh sesuatu untuk bersandar ketika semuanya diam.

Kesedihan…
Kesedihan adalah sebuah kejujuran, yang membawa lutut itu bertekuk lutuk dihadapan dzat yang maha gagah. Mengiyakan bahwa tak ada sesuatupun lepas dari jeratan dan rantai ujian yang mengikat setiap jiwa-raga dan ruh didalamnya.

Ruh adalah sesuatu yang mulia, raga adalah sesuatu yang hina dan keduanya bertemu membentuk sebuah kedahsyatan penciptaan yang disebut jiwa atau nafs.

An Nafs atau jiwa adalah pengembara, ia berlari kesana kemari saat jasad itu terduduk diam disebuah peristiwa. Kadang ia lelah dan kehausan, butuh makanan dan pengakuan.. atau sandaran ditempat yang agung, di sebuah tempat dimana tak ada kata atau prasangka sia sia.

Nafs yang kehausan, butuh makanan. .
Nafs adalah syarat kesempurnaan manusia yang membuatnya lebih mulia dari para malaikat, nafs yang bekerjasama atau dipekerjakan dan berlomba menjadikan raga terlunta atau bahagia.

Ruh kita tersenyum suatu ketika, saat nafs itu berjalan bersama liku-liku terjalnya kehidupan dalam perjalanan raga menuju rabb-Nya. Disisi lain ia menangis saat raga itu terpengaruhi hingga menuruni dan terperosok jatuh dilembah yang hina memperturutkan keinginan jasadi.

Nafs kemudian menjadi mahluk yang paling munafik, atau menjadi sebuah kata yang mendekati makna tersebut. Ia rapuh dan dicuri mahluk lain yang tersembunyi, di ikat dan tidak berdaya menanti sesuatu yang hampir tidak pasti. Kekuatannya runtuh dan hampir saja mati, lalu ragapun mulai tak tentu arah karena ruh pun diam, jeritan tanginsannya tidak terdengar, terlalu jauh untuk saling bertanya kabar.

Nafs terikat tali rahasia yang jahat, ia terkulai lesu bertahun-tahun hingga cahaya dari cahaya diatas cahaya menjemputnya melalui sosok terpilih yang diutus sebagai jelmaan rahmat dari yang maha tinggi.

Kemudian ia lepas…
Lepas, dan kembali berdiri menelusuri tebing terjal menuju sebuah bukit dimana dulu ia berjalan. Jalan setapak dipuncak bukit, dan sedikit cahaya bulan dimana kiri dan kanannya adalah jurang dalam dan kegelapan memenuhi udara.

Nafs yang sombong ini tertatih letih, berjalan menuju cahaya yang abadi. Namun kemudian mahluk lain menggodanya, dan jatuh lagi. Lalu cahaya itu mendekat dan membangkitkannya.

Jangan berkata ini melelahkan, karena dunia ini memang tempat berlelah-lelahan. Cahaya sunnah itu telah kita abaikan, maka tidak usahlah menyalahkan siapapun.

Kita terlanjur salah dan menjadi terdakwa, dan syaitan-syaitan berpesta dengan tiga ikatan. Kita tak sanggup lagi bangun dan melepaskannya, padahal ikatan pertama akan lepas saat kita bangun dan berdzikir, mudah sekali. Ikatan kedua lepas saat kita berwudhu, dan yang ketiga lepas saat kita memasuki wilayah ekclusive antara hamba dan rabb-Nya dalam shalat.

Namun, dua rakaat itu begitu beratnya.
Qalbu itu tidak lagi memiliki kekuatan untuk berjalan menuju rabbnya, hingga ia kaku dan lelap sepanjang malam.

Bahkan semua harinya seperti malam, ia terpenjara di sebuah persinggahan. Bernama dunia. Ia tidak tahu atau tidak mau tahu bahwa dibalik tirai dunia ini, ada sesuatu yang lebih indah dari semua mimpi yang ia bayangkan. Lebih indah dari semua kisah yang telah ia lalui, lebih agung dari semua lukisan yang ia lihat. Lebih besar dari semua kemenangan yang pernah ia cita-citakan…

Ia menangis dan terpenjara menunggu cahaya yang semakin menjauh. Dan hilang, atau ia hilangkan sendiri. Padahal cahaya itu ada dan tetap ada. Ia mengira semua telah berakhir atau tanpa akhir, padahal semua akan berakhir dan ini belum berakhir.

Lalu ia memilih dikesendirian, padahal ia tidak sendiri. Ia disibukan dengan sesuatu yang tidak penting baginya, menyedihkan sesuatu yang menyedihkan untuk disedihkan.

see more…
@RehabHati Session 2 (RehabHati Qur’ani)

Nuruddin Al Indunissy