KITA AKAN PULANG, Adikku✿ܓ

Mereka sebenarnya memiliki mimpi yang sama..
Sedikit saja, pembeda diantara keduanya. Ketika selembut pagi menyapanya, hamba Allah terbangun – bersegera dan berencana–berlari mengejar mimpinya sementara hamba-hamba dunia terlelap lagi, lalu syaitan membisiki ditelinganya; tidurlah..hai anak Adam! Tidurlah malam masih panjang..

Dan di dua persimpangan itu, mereka berjalan saling menjauh. Jauh dan semakin menjauh lagi. Sangat jauh !

Ketika hamba Allah sibuk bersungguh-sungguh bekerja –membangun dan mempersiapkan properties abadi, untuk istananya di syurga– hamba-hamba dunia sibuk, teramat sibuk bertindih-tindih. Mereka sibuk membayar cicilan yang terus mencekiknya, meresahkan jiwannya, dan mencuri kebahagiaanya.

Lalu senja menyapa..
Dan hamba Allah beristirahat dari lelahnya –menikmati secangkir kebahagiaan di sorenya– sementara hamba dunia, baru saja terbangun dengan segunung penyesalannya..

Iyah, hari telah senja dan sebentar lagi malam. Kelam.

Begitulah kita berfikir Adikku✿ܓ
Di depan sana, terlihat jalanan masih panjang –membentang harapan– terlihat masih banyak waktu, dan jalan itu semakin bercabang-cabang. Semakin banyak hal yang harus dituntaskan, menunda hingga tiba masanya usia itu senja

Padahal selepas senja adalah malam, malam yang mencekam! dalam sekam. Ia adalah malam tak berpenghujung. Akankah disana kita temukan cahaya? Sementara kerlip lilin yang kita bawa teramat kecil, dan melemah. Disanalah kita, mungkin, mulai tersadarkan tentang bekal..

Tentang hari~hari yang abadi

Adikku✿ܓ
Kukatakan kepadamu lembut
Inilah arti kedewasaan yang sesungguhnya
Saat engkau mengenal bahwa hidup ini tidaklah mudah. Lalu engkau tahu dan memahami, bahwa kesukaran ini adalah mahar untuk kita tukar dengan kemudahan dihari yang tidak ada kemudahan selain syafaat-Nya nanti.

Sungguh keterbatas ini tidak mengenakan
Namun, dengan apakah lagi hati itu akan tunduk merunduk…
Sungguh segala bentuk keterbatasan itu adalah cara-Nya yang indah untuk kembali mengingatkanmu tentang Dzahirnya Al Aziz Yang Maha Perkasa, Al Jabbar Yang Maha Gagah! Al Qadir Al Muqtadir Yang Maha Menentukan dan semua penjelmaan Al Asmaaul Husna-Nya. Agar kita tidak angkuh dan sombong dengan kehendak kita..

Dan tentu saja, kita tidak akan pernah menang melawan Ketentuan dan Kehendak Rabb Yang Maha Gagah, dari itulah kita diajarkan sang rasul untuk bersabar.

Karena cerita cinta, luka, kepedihan, kesenangan, ketenangan, kegaduhan dan semua hal yang menyapa kita adalah rangkaian peristiwa yang saling berkaitan – bersymphony dengan perencanaan-Nya – untuk sempurnanya kebahagiaan para hamba yang bersabar!

Sungguh kesuksesan seorang hamba Allah itu bisa dilihat dari jejak-jejak ilmu dan amaliahnya, dari persembahannya untuk addienul islam ini, dari bekas-bekas ahlaqnya dan dari kemampuannya dalam merunduk tunduk dan bersahabat dengan takdir-Nya.

Sungguh cahaya santun Al Islam telah meneduhinya, sehingga kemilau bahagia senantiasa memancar dari senyum dihatinya.

“Keterbatasan adalah guru yang gagah perkasa, ia akan memaksa dan memperlihatkanmu cara untuk tunduk merunduk dan menyadari sepenuhnya bahwa dirimu hanyalah hamba yang butuh. Adikku”

Tak usahlah bersusah payah menuntut tuhanmu untuk merubah takdir-Nya, tapi berdo’alah agar hatimu ridha, agar hatimu senang dengan takdir-Nya, dan bersahabatlah dengannya dalam setiap helaan nafasmu agar DIA ridha kepadamu.

“Saat hati itu melembut, geletar jiwa itu perlahan menenang. Jika hati itu tetap keras, maka dunia ini memang keras. Adikku..”

Seandainya masalah itu adalah tamu yang sering datang dihari hari kita, apakah gerangan yang membuat kita tidak pernah ingin sesekali saja mengenalinya?.

Padahal ia sering datang menghampiri kita dalam hening atau desingan diam. Mungkin kita tidak pernah menyambutnya dengan baik, hingga ia bertamu lagi.

Lautan itu senantiasa gelisah seperti fitrahnya
Jadi perkokoh saja kayuhnya, agar perahu itu tetap melaju
Terus melangkah meski susah, tersenyum dalam dalam futur
Mendidik diri, meningkatkan kualitas kedisiplinan iman.

Karena, sungguh
Kebahagiaan itu bukan usia yang panjang,
Tapi ketenangan jiwa dari hati yang ridha. apapun itu.
Dimanapun kakimu berpijak dan jadi apapun dirimu.

Tentang mimpimu
Kejarlah, genggamlah
Berjalanlah hingga kakimu lelah
Namun segera, campakanlah ia
Sebelum ia mencampakanmu

Berlarilah, buktikanlah!
Namun ketahuliah adikku, engkau belum layak disebut dewasa Jika mimpimu masih terpaut di dunia ini

Dan kemenangan itu bernama akhirat, adikku
Itulah kesuksesan terbesar bagi seorang beriman

“…Barang siapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar” [QS. Annisa: 13]

Katakanlah: “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya…” [QS At Taubah 24]

“Aku melihat hampir semua anak-anak senang saat dapat bonus ‘life’ dalam games yang ia mainkan. Hingga ia bisa memperbaiki strategi dan mengokohkan niatnya untuk melewati rintangan tepat dimana ia terperosok. Tapi, jujur aku tidak melihat semua manusia dewasa senang mendapat hadiah kehidupan disetiap paginya”.

Dan kita bukan anak-anak lagi, kita akan pulang Adikku✿ܓ

“Jika saja engkau berubah menjadi baik, saat mengenalku maka jagalah dan genggamlah erat-erat kebaikan itu hingga akhir hayatmu. Semoga Allah merahmatimu dengan hadiah terindah, Khusnul Khatimah. Dan tolong, jangan pernah berubah lagi saat engkau tidak mengenaliku lagi saat perpisahan menyapa”.

Karena, rasul kita yang mulia pernah bersabda:
“Tidak ada satu perpisahan diantara dua hamba yang saling mencintai, kecuali disebabkan oleh dosa salah satu dari keduanya”.

Tentu kesalahankulah yang paling banyak, mohon maaf jika hingga detik ini, saudaramu ini belum bisa memberi kesan yang terbaik untuk pertemuan kita diakhirat kelak.

Overall, nasihat dalam buku “Rehab Hati” ini..
Kutulis saat hatiku melembut, semoga melembutkanmu saat hati itu tiba-tiba mengeras. Bacalah, resapilah, dengarkanlah dan lupakanlah penulisnya.

Demi Allah..
Peluru kematian itu terus mendekat, mendekati kita,..
Dan ia akan mengenai, menjemput ruh kita dan memaksanya, mengantar kita kepada hari yang Abadi.

SALAM BAHAGIA
Nuruddin Al Indunissy
Sentul Bogor – Indonesia.