Menu Close

MENGAKSES CAHAYA LANGIT | Chapter 1

Memusnahkan Kekecewaan di Alam Bawah Sadar Manusia.

Kecewa adalah tamu yang sering mampir alam sadar kita, seperti berdatagannya gelombang masalah disamudera kehidupan yang kita arungi. Jika masalah adalah tamu yang sering berkunjung dihati kita, maka kekecewaan adalah buah dari pohon harapan yang pernah kita tanam di tanah yang salah.

Baiklah, sebelum kita mengakses cahaya dan memusnahkan berbagai kekecewaan di hati kita. Mari kita kenali sebab-sebab kecewa yang sering menyelimuti sekaligus membelenggu dan menjerat masa depan bahagia kita.

Kecewa adalah peristiwa tidak terpenuhinya sebuah harapan. Sebuah harapan yang lebih sering kita fikirkan dalam otak sadar kita, hingga ia terekam di alam bawah sadar. Dan hal-hal yang terekam di alam bawah sadar inilah yang kemudian sering melumpuhkan kita tanpa sadar.

Nah, sekarang kita bayangkan bagaimana jika informasi yang terekam itu adalah sebuah tenaga atau energy yang sangat besar pengaruhnya terhadap keberlangsungan fitrah manusia. Bagaimana jika informasi itu adalah sekumpulan simpul-simpul abstrak sejenis perasaan yang tidak kita sadari telah bertahta dengan gagahnya.

Baik, katakanlah informasi yang dimaksud itu adalah sebuah kecendrungan manusia yang berbentuk Cinta. Tentu saja cinta ini adalah energi yang sangat dahsyat yang akan menggerakan kelestarian dan keindahan dunia. Namun..

Namun sudahkah kita mengenali cinta yang saat ini bertahta di alam bawah sadar kita?

Sebagai muslimin muslimah sejati, kita bisa mengatakan cinta tertinggi kita adalah cinta kepada Allah dan Rasull-Nya meskipun itu dirasa teralalu awal untuk diungkapkan. Namun, betulkan dua hal tersebut adalah sesuatu yang sering bermain dihati kita?

Bukankah hal yang paling sering kita fikirkan adalah sebuah masa depan yang ideal, rumah, istri, suami, anak, pendidikan, status sosial atau bahkan sebuah passive income yang stabil di masa senja nanti?

Biarkan saja hati kita mengangguk mengakuinya, karena buku ini bukan jaksa penuntut umum yang akan menjerumuskan ke penjara. Atau ini bukan pertanyaan dihari hisab yang akan menentukan masa depan kita di syurga atau neraka, ini hanya simulasi berfikir tentang sebab-sebab kekecewaan.

Tepat sekali. Sekarang antum bisa menyimpulkan, bahwa sebab kekecewaan itu adalah ulah hati kita yang terpaut kepada dunia atau terlalu cinta kepada dunia.

Sesak rasanya jika kita dituduh demikian bukan?
Namun sekali lagi, coba dekati hati kita dan tanyakan kepadanya. Manakah yang lebih sering kita fikirkan, dunia atau kehidupan setelah kematian.

Jika jawabannya adalah kekasih-kekasih kita di dunia, maka tidak dipungkiri bahwa kita memang cinta dunia. Karena hal yang sering kita fikirkan adalah hal yang kita cintai.

Lalu apa solusinya?
Sebenarnya ini adalah solusi dari seluruh permasalahan yang dihadapi semua muslim di dunia yang tidak sehat. Baik jiwa atau raganya. Karena seorang muslim itu selayaknya sehat dan bahagia jika ia memenuhi kriteria sebagai muslim yang ideal.

Sebelum dilanjutkan, mari kita bersama-sama untuk mengistirahatkan otak kita sejenak. Tarik nafas untuk mengisi oksigen, tarik melalui hidung…. tahan 3 detik, dan. Hembuskan lewat mulut. Lakukan 3 hingga 7 kali hingga terasa lebih nyaman.

Setelah itu regangkan saraf-saraf di ujung indra kita, regangkan semua pembuluh darah dan otot-ototnya dimulai dari jari-jari kaki hingga ibu jarinya. Tarik nafas… tahan 3 detik dan hembuskan selama 10 detik.

Sekarang lakukan hal yang sama untuk jari-jari kita yang tak lelah bekerja. Jika baca draft buku ini di Hanphone maka lakukan untuk jari-jari di tangan kiri dulu sambil tangan kanan memegangi Handphonenya. Tatap dalam-dalam jari-jari di tangan kirinya dimulai dari jari kelingking hingga ibu jari. Sarankan melalui bisikan dari pusat fikiran kita agar setiap pembuluh darahnya menenang. Tarik nafas 3 detik dan hembuskan…perlahan. Ingat hembuskan selama 10 ketukan.

Lakukan untuk jari jari sebelah kanan.
Setelah itu lanjutkan dengan pergelangan kaki bawah, betis, paha kanan dan kiri. Perut dan lambungnya, pergelangan tangan dan lakukan dengan tenang.

Setelah itu lakukan hal yang sama untuk dada, tenggorokan, tulang punggung dan syaraf-syaraf diwajah kita. Jika kita tidak bisa menatapnya, maka lakukan seolah-olah kita menatapnya.

Anda hanya butuh waktu 5 menit untuk semuanya.
Sekarang terakhir lakukan untuk matanya, hisap udara segar lewat hidung dan keluarkan di mata. Jika tidak bisa maka cukup rasakan saja ketenangan yang saat ini mulai menyelimuti hati, rasakan cahaya yang merasuk dan menebar keseluruh tubuh anda. Rasakan ketenangan dan kebahagiaan dalam waktu 5 menit yang saya minta tadi. Jika merasa nyaman, maka lanjutkan dan jaga perasaan itu tetap disana.

Ingat, tak ada yang mampu mencuri kebahagiaan di dada kita bukan?

Yap, baru saja anda telah melakukan Rehab Hati selama 5 menit. Terasa lebih segar bukan? Alhamdulillah. Sekarang mari kita lanjutkan.

Bahasanya masih tentang “Mengakses Cahaya Langit”, buku ini agak tebal namun saya yakin anda menikmatinya.

Ya, tadi selanjutnya adalah. Bagaimana kita mengubah tenaga spektakuler dialam bawah sadar yang bernama cinta itu agar ia menjadikan kita produktif tanpa keseringan di cegat kekecewaan yang berlarut.

Hal yang harus kita lakukan adalah bukan mengubahnya, namun mengarahkannya.

Namun, sebuah kapal di tengah lautan tentu tidak akan berubah haluan begitu saja tanpa kesadaran nahkodanya tentang bahaya di depan atau alasan logis lainnya hingga kapal itu dirasa penting untuk belok kearah lain.

Kita akan sulit mengubah cinta kita kepada dunia, padahal Allah telah mengancam ruh kita dengan firman-Nya dalam surah At Taubah:

Katakanlah: “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.

قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

Kita hanya akan bisa mengubah cinta itu saat kita menyadari sebuah kebutuhan dan keterlibatan langsung tentang apa yang kita cintai terhadap keberlangsungan hidup kita.

Misalnya ketika kita menyadari ibu kita telah mengandung kita, melahirkan, menjaga kita, membesarkan, melindungi, mendidik hingga kita remaja dan dewasa.. Maka disana timbulah cinta yang tertanam kuat. Kita akan menangis ketika kehilangannya.

Begitupun di fase kehidupan selanjutnya, ketika kita mulai sedikit mengabaikan cinta kita kepada orang tua kita. Cukup beralasan, saat mulai remaja kita memiliki kebutuhan lain yang disebut syahwat atau perasaan suka terhadap sesama lawan jenis yang dituntut untuk terpenuhi.

Kita butuh seseorang yang menjaga hati kita, menyahuti dan menemani hampir disepanjang waktu. Kita teramat menyadari hal ini hingga kita lebih mencintai kekasih kita dibanding ibu kita. Dan kemudian cinta ini berlanjut, kita akan lebih mencintai istri atau suami kita ketimbang orang tua kita.

Alasannya?
Benar, karena istri atau suami kita nanti sering memenuhi kebutuhan kita baik ruhaniah atau jasmaniyyah. Jujur saja siapa yang lebih sering fikirkan saat kita di luar kota, ibu atau istri kita?

Nah ini dia yang saya tunggu-tunggu dari tadi.
Kita lebih mencintai dunia, hingga kita sering memikirkannya karena kesadaran kita akan kebutuhan. Kesadaran bahwa dia atau sesuatu itu senantiasa memenuhi kebutuhan kita hingga secara otomatis kita mementingkannya dan kecewa ketika kehilangannya.

KITA KECEWA KARENA KITA TERLALU MENGHARAPKANNYA.
KITA KECEWA KARENA KITA TERLALU MENCINTAINYA DIALAM BAWAH SADAR KITA HINGGA RASA ITU MELUMPUHKAN OTAK KITA DAN SELURUH SISTEM BERFIKIR DAN AKAL KITA.

Begitulah, mencitai dunia ini tentu sebuah kesalahan karena dunia ini ada penciptanya. Seperti ketika kita mecintai raga kekasih kita tanpa mencintai hatinya yang merupakan kesalahan besar dalam konsepsi cinta.

Ketika kita menyadari bahwa Allah lah yang sebenarnya selalu memenuhi kebutuhan kita dengan dunia dan segala isinya ini, tentu kita akan lebih butuh Allah azza wa jalla. Ketika kita butuh, maka kita akan patuh.

Patuh menjalankan setiap kewajibannya, dan menghindari segala hal yang membuat-Nya Cemburu.

Rasulullah Sholallahu Alaiyhi wa Sallam pernah berdiri didepan mimbar dengan mata memerah seperti panglima perang yang sedang mengomando pasukannya dimedan perang, beliau bersabda:

“…Hai umat Muhammad, tidak seorang pun lebih cemburu daripada Allah, bila hambanya, lelaki maupun perempuan, berbuat zina. Hai umat Muhammad, demi Allah, seandainya kalian tahu apa yang kuketahui, tentu kalian banyak menangis dan sedikit tertawa. Ingatlah!”

Begitulah seruan hamba Allah yang paling mulia itu yang diabadikan dalam ��Shahih Muslim No.1499 dan Bukhari 8/217. (Syarh Muslim li an-Nawawi (9/28)�

Lantas sekarang, mari kita lihat diri kita.
Apakah hal yang membuat kita kecewa itu?
Bagaimana cara memusnahkan kangker-kanger akut kekecewaan itu? Bagaimana cara memperbaiki sel-sel yang telah rusak itu?

Jawabannya adalah satu paket dalam 2 buku “Sinergi Rehab Hati & Quranic Healing”, yang insya Allah akan segera direalise di musim awal pertengahan 2013 ini.

Insya Allah,
Salam bahagia,
SALAM TAUHID!

Nuruddin Al Indunissy.
www.NAI-foundation.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.