Menu Close

Menghadirkan “RUH” Dalam Ibadah

Aisyah Radiyallahu Anha menuturkan, “Jika Rasulullah saw. melaksanakan salat, beliau berdiri (lama sekali) sampai kedua kaki (telapak) beliau pecah-pecah. Aisyah ra. bertanya: Wahai Rasulullah, kenapa engkau berbuat seperti ini padahal dosamu yang terdahulu dan yang akan datang telah diampuni?”

Rasulullah saw menjawab dengan indah:
“Wahai Aisyah, apakah aku tidak ingin menjadi seorang hamba yang bersyukur”. (Shahih Muslim No.5046)

SUBHANALLAH…
Bahasa sederhananya, Rasulullah saw ingin menyampaikan pesan:
“Apakah tidak sepantasnya jika kalian menjadi hamba yang pandai berterimakasih?”

SUBHANALLAH…
Inilah sebuah cerminan tingkatan LILLAHI TA’ALA yang sebenar benarnya,
Bahwasannya peletakan dasar niat semua aktivitas ibadah itu tidak hanya menggugurkan kewajiban atau menginginkan syurga atau takut neraka tapi karena bentuk ungkapan terimakasih kepada RABBnya atas anugerah dan KEMURAHANNYA yang tidak terhitung.

Inilah yang menjadikan ‘nilai’ kualitas pembeda ibadahnya orang alim dan awam.
Inilah hal yang menjadikan seorang muslim semakin berkualitas dimata Allah dari hari kehari,
Yang membuat hari harinya dipenuhi nikmat nikmat dalam ibadah..
Karena seluruh waktu yang ia lewatkan ia arahkan untuk ibadah..
Untuk mencari keridha’an Nya semata mata..

Hatinya basah dengan mengingat NYA,
Ia malu untuk berbuat dosa apalagi melakukan pembangkangan terhadap iradah Allah..
Ia tidak pernah mengeluh karena begitu tahu bahwa RABBnya tidak akan pernah merugikannya..

Inilah hal yang membuat seorang Muslim terus menunduk..
Dan meninggalkah hal hal yang tidak ia butuhkan untuk masa depannya diakhirat… Apalagi hal yang membahayakan dirinya diakhirat.

Adik adiku,
Saudaraku dan saudariku dalam naungan indahnya al Islam.
Dengan perpspective inilah, kewajiban kewajiban itu akan terasa r i n g a n. . .
Dengan pemahaman inilah seorang shalih terus termotivasi untuk membasahi hatinya dengan dzikir, mengabaikan dunia dan menuju RABBnya..

Ia tidak melakukan dosa bukan takut neraka,
Itu semata karena ia merasa ‘malu’ atas semua pemberian Allah untuknya..
INILAH KUALITAS ‘PEMBEDA’ SEORANG MUSLIM..
Ia dimana aktifitas ibadah jasmaninya disertai ruh yang membuatnya mendekat kepada RABBnya..
Ia hanya mengharapkan pujian dari Allah..

Ia merasa ‘malu’ karena tidak akan pernah bisa bisa membalas pemberian dari Allah hingga ia terus berterimakasih dengan meningkatkan kualitas ibadahnya.
Subhanallah..

Tidakah kita malu..
Setiap hari kita menumpang di bumi Allah ini..
Tapi kita membangkang, mengabaikan dan melalaikan perintah NYA?

Selayaknyalah kita berterimakasih..
Banyak sudah hal hal gratis yang telah Allah anugerahkan kepada kita setiap hari,
Mata yang melihat mungkin tidak akan kita syukuri sebelum ia buta.
Telinga yang mendengar mungkin tidak terasa nikmatnya sebelum ia tuli..

Sungguh atas kemurahan NYA lah..
Mata penuh dosa itu tetap sempurna dan terbuka kembali disetiap pagi saat kita terbangun untuk memulai hidup..
Itu adalah kesempatan, kesempatan untuk memperbaiki diri..
Untuk segera serius dan memperbaiki kualitas diri..

Dunia ini bukan panggung komedi..
Management kematian harus segera disiapkan!
Setinggi apapun rencana dan obsesimu terhadap dunya ini…
Peluru kematian tidak pernah terhenti sedetikpun..
Ia sedang melesat menujumu, menujuku dan menuju kita semua..
Menemui orang yang menyadari atau yang lalai..

Menjemput orang yang siap ataupun tidak siap..
Peluru itu akan mengenai kita tepat sesuia perhitungan Allah yang tidak pernah salah…
Ia terus melesat dan tidak akan pernah meleset..

Inilah yang membuat orang beriman bergetar hatinya..
Inilah yang membuat mereka terbangun dimalam hari saat semua terlelap..
Inilah yang membuat mereka bersegera untuk menemui RABBnya, tersungkur dalam sujudnya ditengah buaian dunia yang menggodanya disiang atau malam hari.

Inilah yang membuat Rasulullah Sholallahu Alaihi wa Salam menolak saat Allah Subhana Huwwata’ala menawarinya untuk menjadikan lembah makkah itu keseluruhannya emas..

Inilah yang membuat beliau tetap zuhud dengan dunia ini..
Karena beliau mengetahui..
Bahwasannya kehidupan ini adalah hidup untuk kehidupan yang maha hidup.

Brothers and Sisters in Islam..
Islam ini tidak sekedar Halal dan Haram.
Ada garansi kebahagiaan dalam hati hati yang beriman.
Ada percikan ketenangan didalam jiwa jiwa yang tawadhu, ada keteduhan dibalik hati hati yang teguh dan bersungguh sungguh.

Brothers and Sisters in Islam..
There is a milions reasson to say it ‘Alhamdulillah…’
Even more!

NURUDDIN AL INDUNISSY
RIYADH 2011 | 5 RAMADHAN 1432 HIJRIYYAH

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.