Menu Close

Menuju Taubatan Nasuha

Bismillahirahmanirrahiim, dengan segala kerendahan hati, hamba Mu yang lemah ini memohon semoga dengan kekuasaan Mu akan menajamkan mata pena ini, menanamkan keinginan yang kuat kepada sahabat Pena semua untuk menelusuri catatan ini hingga selesai dan memahami sebuah “pesan indah” yang sangat ingin kusampaikan dari suasana fajar kota Riyadh ini.

Ikhwahfillah, keseluruhan materi dalam catatan ini adalah kutifan kutifan dari karya indah Dr. Yusuf AlQardawi dari bukunya yang berjudul “Tuntunan Bertaubat Kepada Allah SWT”, yang ana ringkas dan dipadukan dalam bentuk sebuah catatan agar mudah dipahami..

Semoga beliau meridhainya, bukunya bisa di Download di akhir Catatan.

URGENSI TAUBAT.

Pada dasarnya manusia harus bersama Allah SWT dan selalu berhubungan dengan-Nya, dan tidak menjauhi-Nya. Manusia tidak dapat membebaskan diri dari Allah SWT untuk memikirkan kehidupan fisiknya saja, juga tidak dapat membebaskan dirinya dari Allah SWT karena memikirkan kebutuhan hidup ruhaninya saja.

Bahkan kebutuhannya kepada Allah SWT di akhirat akan lebih besar dari kebutuhannya di dunia. Karena kehidupan dan kebutuhan fisik itu secara bersamaan juga dilakukan oleh binatang yang tidak dapat berpikir, sementara kebutuhnan ruhani adalah sisi yang menjadi ciri pembeda manusia dari hewan dan binatang

Manusia ini terdiri dari dua unsur yaitu Tanah dan Ruh.

Ketika manusia ta’at kepada Rabbnya berarti tiupan ruh itu mengalahkan sisi tanahnya. Atau dengan kata lain, sisi ruhani mengalahkan sisi materi. Dan sisi Rabbani mengalahkan sisi tanah yang rendah. Maka manusia meningkat dan mendekat kepada Rabbnya.

Ketika manusia berbuat maksiat terhadap Rabbnya, maka posisi itu terbalik;
Sisi tanah mengalahkan sisi ruh, dan sisi materi yang rendah mengalahkan sisi Rabbani yang tinggi. Maka manusia merendah dan menjadi lebih hina, serta menjauh dari Allah SWT sesuai dengan seberapa jauh dosa dan kemaksiatan yang ia lakukan.

Imam Ghazali dalam kitab “Ihya Ulumuddin” menjelaskan bahwa taubat adalah sebuah makna yang terdiri dari tiga unsur: ilmu, hal dan amal:

“Ilmu adalah, mengetahui besarnya bahaya dosa, dan ia adalah penghalang antara hamba dan seluruh yang ia senangi. Jika ia telah mengetahui itu dengan yakin dan sepenuh hati, pengetahuannya itu akan berpengaruh dalam hatinya dan ia merasakan kepedihan karena kehilangan yang dia cintai.

Karena hati, ketika ia merasakan hilangnya yang dia cintai, ia akan merasakan kepedihan, dan jika kehilangan itu diakibatkan oleh perbuatannya, niscaya ia akan menyesali perbuatannya itu.

Dan perasaan pedih kehilangan yang dia cintai itu dinamakan penyesalan.
Jika perasaan pedih itu demikian kuat berpengaruh dalam hatinya dan menguasai hatinya, maka perasaan itu akan mendorong timbulnya perasaan lain, yaitu tekad dan kemauan untuk mengerjakan apa yang seharusnya pada saat ini, kemarin dan akan datang.

Tindakan yang ia lakukan saat ini adalah meninggalkan dosa yang menyelimutinya, dan terhadap masa depannya adalah dengan bertekad untuk meninggalkan dosa yang mengakibatkannya kehilangan yang dia cintai hingga sepanjang masa. Sedangkan masa lalunya adalah dengan menebus apa yang ia lakukan sebelumnya, jika dapat ditebus, atau menggantinya.

Ilmu yang dimaksudkan adalah keimanan dan keyakinan.
Karena iman bermakna pembenaran bahwa dosa adalah racun yang menghancurkan. Sedangkan yakin adalah penegasan pembenaran ini, tidak meragukannya serta memenuhi hatinya. Maka cahaya iman dalam hati ini ketika bersinar akan membuahkan api penyesalan, sehingga hati merasakan kepedihan.

Karena dengan cahaya iman itu ia dapat melihat bahwa saat ini, karena dosanya itu, ia terhalang dari yang dia cintai. Seperti orang yang diterangi cahaya matahari, ketika ia berada dalam kegelapan, maka cahaya itu menghilangkan penghalang penglihatannya sehingga ia dapat melihat yang dia cintai. Dan ketika ia menyadari ia hampir binasa, maka cahaya cinta dalam hatinya bergejolak, dan api ini membangkitkan kekuatannya untuk menyelamatkan dirinya serta mengejar yang dia cintai itu.

Ilmu dan penyesalan, serta tekad untuk meninggalkan perbuatan dosa saat ini dan masa akan datang, serta berusaha menutupi perbuatan masa lalu mempunyai tiga makna yang berkaitan dengan pencapaiannya itu. Secara keseluruhan dinamakan Taubat!

Subhanallah..
Seakan seluruh hatiku tergetar membaca rangkaian indah ini.
Inilah sebuah penjelasan spectacular yang menerangkan dengan terang benderang sebuah kata mutiara Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam yang di takhrij Ibnu Majah, Ibnu Hibban, dan al Hakim.

Rasulullah saw bersabda; “Penyesalan adalah taubat”

Penyesalan seperti inilah yang menjadi hakikat taubat, taubatannasuha.. Subhanallah. Tersimpan makna yang Indah dalam setiap kata katamu Ya Rasulallah..

TAUBATANNASUHA

Sahabat pena,
Alhamdulillah masih tidak beranjak dari catatan Ini. Selanjutnya mari kita pahami tentang makna Taubatannasuha.

Taubat Nasuha Ini bermakna sangat luas, dan diterjemahkan dengan berbagai perspective oleh Imam Imam. Tapi Dr. Yusuf Al Qardawi, maknanya sama meski Iman Al Qurthubi dalam tafsinrya menyebut ada dua puluh tiga pendapat!

Al-Hafizh Ibnu Katsir berkata dalam kitab tafsirnya, Taubat Nasuha “Artinya adalah, taubat yang sebenarnya dan sepenuh hati, akan menghapus keburukan-keburukan yang dilakukan sebelumnya, mengembalikan keaslian jiwa orang yang bertaubat, serta menghapus keburukan-keburukan yang dilakukannya.”

Ibnu Jarir, Ibnu Katsir dan Ibnu Qayyim menyebutkan dari Umar, Ibnu Mas’ud serta Ubay bin Ka’b r.a. bahwa pengertian Taubat Nasuha: “Adalah seseorang yang bertaubat dari dosanya dan ia tidak melakukan dosa itu lagi, seperti susu tidak kembali ke payudara hewan”

Siapakah mahluk dibumi ini yang tidak lepas dari berbuat dosa?
Aduhai betapa kotornya diri ini. Hanya hati yang keraslah yang membisikan kata tidak perlu untuk sebuah taubat? Hanya bisikan kesombongan dan kemunafikanlah yang mengatakan diri ini bersih?

Jika suatu saat orang terbebas dari maksiat yang dilakukan oleh tubuhnya, maka ia tidak dapat terlepas dari keinginan berbuat maksiat dalam hatinya. Dan jikapun tidak ada keinginan itu, dapat pula ia merasakan was-was yang ditiupkan oleh syaitan sehingga ia lupa dari dzikir kepada Allah SWT (Syarh Ainul Ilmi wa Zainul Hilm, juz 1 hal. 175)

Rasulullah Saw bersabda;
“Seluruh kalian adalah pembuat salah dan dosa, dan orang yang berdosa yang paling baik adalah mereka yang sering bertaubat”. (Hr Ahmad, dari Anas)

Taubat tidaklah mudah, tidak semudah memahami catatan Ini.

Sekadar bicara taubat dengan Lidah Bukan Taubat.
Taubat adalah perkara yang lebih besar dari itu, dan juga lebih dalam dan lebih sulit.
Ungkapan lisan itu dituntut setelah ia mewujudkannya dalam tindakannya. Untuk kemudian ia mengakui dosanya dan meminta ampunan kepada Allah SWT. Sedangkan sekadar istighfar atau mengungkapkan taubat dengan lisan –tanpa janji dalam hati– itu adalah taubat para pendusta, seperti dikatakan oleh Dzun Nun al Mishri.

Itulah makna yang dikatakan oleh Sayyidah Rabi’ah al ‘Adawiyah: “Istighfar kita membutuhkan Istighfar lagi!” Hingga sebagian mereka ada yang berkata: “Aku beristighfar kepada Allah SWT dari ucapanku: ‘Aku beristighfar kepada Allah SWT'”. Atau taubat yang hanya dengan lisan, tidak disertai dengan penyesalan dalam hati!

Muhammad bin Ka’b al Qurazhi berkata: taubat itu diungkapkan oleh empat hal: beristighfar dengan lidah, melepaskannya dari tubuh, berjanji dalam hati untuk tidak mengerjakannya kembali, serta meninggalkan rekan-rekan yang buruk.

Hakikat taubat adalah perbuatan akal, hati dan tubuh sekaligus.
Dimulai dengan perbuatan akal, diikuti oleh perbuatan hati, dan menghasilkan perbuatan tubuh. Oleh karena itu, al Hasan berkata: “ia adalah penyesalan dengan hati, istighfar dengan lisan, meninggalkan perbuatan dosa dengan tubuh, dan berjanji untuk tidak akan mengerjakan perbuatan dosa itu lagi.

Atas dasar inilah Abu Thalib Al Makki mengatakan; “Tidak ada yang lebih wajib bagi makhluk dari melakukan taubat, dan tidak ada hukuman yang lebih berat atas manusia selain ketidak tahuannya akan ilmu taubat, dan tidak menguasai ilmu taubat itu”

Sahabat pena,
Itulah sebagian penjelasan spektakuler tentang taubat.
Sungguh, kata taubat ini bukan kata spele. Taubat laksana sebuah sinaran Indah ketika kita terjebak dalam sebuah ruang gelap. Taubat adalah satu satunya jalan kembali menuju Rabb kita. Jalan kembali yang tersedia dimanapun kaki kita berpijak, ketika kita menyadari diri ini telah tersesat..

Bumi ini adalah bulat, ada awal dan akhir.
Jika kita tidak tahu lagi kemana arah kaki melangkah, dan ruangan yang kita diami terasa sesak dan gelap padahal diluar ada sinar matahari..disanalah sebuah pintu selalu terbuka.

Ketika senyum terasa hampa.
Ketika diri terasa berat dan kotor dengan dosa dosa.
Ketika mata tak bisa lagi terpejam diantara fajar fajar yang gelap gulita.
Ketika gelisah..
Resah..
Dan tak sesiapapun peduli..
Ketika tak ada sosok yang menepuk bahu untuk menguatkan.
Ketika tak ada satu senyumpun mau meraihmu..
Disanalah satu senyum penuh maaf, maha pengasih penyayang selalu ada. Tak pernah tidur, maha mendengar dan selalu ada untuk meraih hamba hamba Nya.

Dialah Allah..

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. az-Zumar: 53)

Bagaimana untuk memulai taubat?

Jika dalam kehidupan kita ini ada hal hal terpenting,
Maka taubat adalah hal paling penting. Jika ada yang bertanya kapan waktu untuk taubat? Jawabannya adalah saat ini juga, ketika hati kita lembut.

Dalam taubat, ada beberapa Unsur yang harus diperhatikan dan tanpa ada tawar menawar didalamnya. Dr. Al Qardawi mengatakan, setidaknya ada 4 Unsur Taubat.

UNSUR UNSUR TAUBAT

1. Meninggalkan Kemaksiatan Secepatnya

2. Istighfar

3. Mengubah Lingkungan dan Teman

4. Mengiringi Perbuatan Buruk dengan Perbuatan Baik

Rasulullah saw bersabda;
“Bertakwalah di manapun engkau berada, dan ikutilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik niscaya ia akan menghapusnya, dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik.” (HR Ahmad dan Tirmizi dari Abi Dzar)

– Jika kesalahannya itu adalah membicarakan keburukan orang lain di hadapan seesorang tertentu, maka kebaikan itu adalah memuji orang tadi dihadapan orang yang diajak berghibah sebelumnya, atau ia beristighfar kepada Allah SWT baginya.

– Jika keburukannya itu adalah mencela seseorang di hadapan manusia, maka kebaikannya itu adalah menghormatinya, memuliakannya serta menyebutnya dengan kebaikan.

– Jika orang yang kejahatannya adalah membaca buku-buku yang buruk, maka kebaikannya adalah membaca al Quran, kitab hadits serta ilmu-ilmu Islam. Orang yang keburukannya adalah menghardik kedua orang tua, maka kebaikannya itu adalah dengan berlaku sebaik-sebaiknya dengan keduanya dan memuliakannya serta berbuat baik kepadanya, terutama saat mereka dalam usia lanjut.

ika orang yang keburukannya adalah memutuskan silaturahmi, serta berbuat buruk kepada saudara, maka kebaikannya adalah berbuat baik kepada mereka serta berusaha menjaga persaudaraan, walaupun mereka memutuskannya, dan memberi mereka walaupun mereka belum pernah memberi.

– Jika keburukannya adalah duduk dalam tempat hiburan, main-main dan melakukan yang haram, maka kebaikannya itu adalah duduk di tempat kebaikan, dzikr dan ilmu yang bermanfaat.

– Jika keburukannya itu adalah bekerja di koran yang memusuhi Islam dan para da’inya, maka kebaikannya itu adalah bekerja di koran yang melawan musuh-musuh Islam itu, dengan menyebarkan berita yang jujur, serta pendapat yang lurus.

– Jika keburukannya adalah mengarang kitab yang menyesatkan, serta mengajak kepada kemungkaran dalam perkataan dan perbuatan, menyebarakan pemikiran yang menyesatkan serta mengajak kepada syahwat, maka kebaikannya itu adalah mengarang kitab yang melawan kecenderungan itu, mengajak kepada kebaikan, memerintahkan kepada yang ma’ruf, serta melarang dari kemunkaran.

– Jika orang yang keburukannya adalah menyebarkan nyanyian yang merangsang, serta mengundang nafsu yang rendah dengan segala cara, maka kebaikannya adalah menyebarkan kebaikan, serta mengajak kepada sifat malu dan menjaga kehormatan diri.

– Jika orang yang keburukannya adalah menzhalimi manusia, memusuhi orang-orang lemah, serta mengganggu kehormatan mereka dan hak-hak material atau immaterial mereka, maka kebaikan mereka itu adalah berusaha menegakkan keadilan, berlaku jujur kepada orang yang zhalim, membela orang-orang yang lemah, dan berusaha memperjuangkan hak-hak mereka.

– Jika keburukannya adalah bergabung dengan kelompok penguasa yang despotis dan mendukung kebohongan mereka, serta membantu mereka menjalankan kezaliman mereka terhadap rakyat, maka kebaikannya adalah membantah orang-orang yang zalim itu sedapat mungkin, serta membuka kebobrokan mereka di hadapan massa, membongkar kelakuan buruk mereka serta korupsi yang mereka lakukan, sehingga manusia menjauh dari mereka.

Inilah kebaikan yang dapat menghapuskan dosa orang yang melakukan keburukan semampu ia lakukan. Yaitu dengan melawannya, menghilangkan pengaruhnya, serta membersihkan diri dari pengaruhnya. Yaitu dengan meniti jalan yang berlawanan dari perbuatan buruk itu, seperti dijelaskan oleh imam Al Ghazali. Karena orang yang sakit diobati dengan lawannya penyakit itu.

“Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya”.(QS. az-Zumar: 53)

Shadaqallahul’ Adziim.

“Janganlah engkau menghina ketaatan sekecil apapun hingga membuat engkau tidak mengerjakannya, dan kemaksiatan sekecil apapun hingga membuat engkau tidak meninggalkannya”. (Al Ghazali)

Jika Islam ini adalah sebuah jalanan..
Maka adalah wajar ketika suatu ketika jiwa kita tersesat..
Jika Islam ini adalah jalanan Indah menuju Rabb Semesta.
Maka Taubatannasuha adalah satu satunya jalanan untuk kembali.
Kembali kepada Nya. Karena Kita Akan Kembali

KEMBALILAH..

Sahabat Pena,
Karna terbatasnya Ruang Catatan, Hanya itu yang dapat ana persembahkan saat ini.
Semoga catatan ini menjadi arah bagi hati hati yang sedang resah atau tak sengaja menjauh dari Naungan Allah untuk segera kembali..

Silahkan nikmati keseluruhan buku ini, dengan download sendiri di link yang ana sediakan.
Alhamdulillah, tidak ada muatan bisnis didalamnya. Hanya berbagi, semoga menjadi pahala bagi yang mengamalkannya. Semoga menjadi Amal Masing masing dalam rangka terus menguatkan hati kita dan berpegang teguh kepada tali tali Assunnah.

Allahuakbar!

DOWNLOAD

Silahkan Download buku digital (Format File .CHM) “Tuntunan Bertaubat Kepada Allah SWT” Karya Indah DR. Yusuf Qardhawi (200kb),. Alhamdulillah sangat gratis untuk sahabat tercinta di link berikut:

http://www.mediafire.com/?vsu91kcbsb4csfl

Demikian,

Semoga berkesan,
NAI- Riyadh 2011

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.