Menyikapi Serangan Balik

Sebenarnya serangan balik itu tidak ada, karena kita sudah ada dalam kancah peperangan sejak dulu. Jadi konsepnya bukan menyikapi serangan balik tapi bagaimana keluar dari area konfrontasi dan segera membangun benteng yang kokoh sebagai pertahanan dari serangan musuh.

Bagaimana caranya?
Yang pertama, lakukan blokade secara sepihak dengan menghentikan seluruh makanan haram dan subhat agar tubuh kita bersih. Hentikan seluruh kemaksiatan baik yang berhubungan dengan Allah atau dengan manusia. Lalu bertaubatlah dari seluruh dosa-dosa besar terutama terkait dengan ritual kesyirikan.

Yang kedua, mulai menegapkan tauhid yang murni didalam niat dan keseharian. Tinggalkan seluruh hal yang bersifat dunia dari qalbu dan mulai hadapkan wajah ke hari yang kekal. Tegapkan shalat lima waktu tepat waktu, tunaikan seluruh kewajiban sebagai hamba Allah!

Yang ketiga, mulai bangun ritual sunnah!
Mulai dari shalat malam (maksimal 11 rakaat), shalat rawatib, dzikir pagi dan petang, bersahabat dengan al Qur’an, sedekah, tanggalkan baju jahiliyyahnya, tinggalkan rokok-musik-tv, tinggalkan riba, tinggalkan obat-obat kimia, ucapkan selamat tinggal pada masalalunya dan mulailah Ikuti kajian-kajian islam dan berkumpullah bersama orang-orang salih.

Yang ke empat, hijrahlah secara totalitas.
Buang galaunya kelaut dan sibukkan dirimu untuk mengenai ketertinggalan diri dari kacamata sunnah! Jangan sampai, ingin sembuh dengan sunnah namun benci kepada sunnah atau awam darinya. Semua ummat manusia berhaq merasakan indahnya sunnah dan berkesempatan mereguk sejuknya telaga al Kautsar!

Lalu berjalanlah menuju Allah baik ringan atau berat, baik lapang atau sempit, berlari atau tertatih-tatih hingga kita menemui ujung dalam keadaan syahid ditangan musuh atau mati dalam keridho’an Allah.