Menu Close

MEREGUK HIKMAH MANTAN TERINDAH

❝Sebuah therapy rehab hati, khusus dan efective untuk menyembuhkan zat adiktif “mantan kekasih” dunia yang pernah hadir dimasa lalu, bukan upaya menghapus atau melupakannya namun lebih memaknai kehadirannya sebagai cahaya”.

Baiklah, sebenarnya cara paling sederhana untuk menghapus nama mantan kekasihmu adalah dengan cara merenungkan usia dia

[atau usiamu] 40 tahun kedepan. Bayangkanlah dia [atau dirimu sendiri] sudah dipanggil-Nya lebih duluan..

Saat jiwa kita sehat, tentu kita akan menyadari bahwa “iyah, benar. that’s true” di usia itu beliau akan lebih merepotkanmu. Sekarang saja sudah membuatmu repot, apalagi nanti. Bayangkanlah sebuah masa dimana ia mulai berjalan tertatih-tatih dengan tongkat ditangannya gemetaran, dengan senyum keriput di wajahnya.

Benarkah sebagai mantannya yang beriman kita harus mendeletenya dari arsif masalalumu? Bukankah ia adalah salah satu penyebab kedewasaanmu hari ini?

Subhanallah…
Bukankah sosok itu selama ini terus menjerat langkah-langkahmu?
Membuatmu sering lebih senang duduk-duduk menghabiskan 5 atau 10 menit dikeseharian kita untuk mengenangnya? Akh..mungkin lebih lama dari itu.

Sekarang bangun dan dengarkan!
Bacalah dengan hatimu, tulisan ini tidak akan banyak mencuri waktumu, hanya beberapa menit saja. Namun baca dengan seksama, semoga ia membekas untuk selama-lamanya dan menjadi saksi perubahan untukmu dan harimu yang lain.

Dr. Aidh Al Qarni menulis bahwa “Dunia ini lebih sebentar daripada masa yang kita bayangkan, dan akhirat akan lebih lama lagi dari bentangan masa yang pernah kita bayangkan”.
 
Syaikh Athaillah Rahimahullah pun menulis; “Jika saja engkau melipat bentangan jarak dunia dihadapanmu, maka tentu engkau akan melihat akhirat itu lebih dekat dari dirimu sendiri”.

Rasulullah Sholallahu Alaiyhi wa Sallam, hamba Allah paling bijak sepanjang masa pun bersabda; “… Aku di dunia ini tidak lain kecuali seperti seorang pengendara yang berteduh dibawah pohon untuk beristirahat, kemudian meninggalkannya.”[hr Ahmad]

Bukankah Allah Subhannahu wa Ta’ala yang paling memahami dan mengetahui setiap gemericik di hati mu telah berfirman untuk menegaskan kepada jiwa-jiwa yang berimaaan, bahwasannya “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati!” [QS. Ali Imran [3] ; 19]

Ingatlah, beliau akan mati.
Dan malangnya, kita pun demikian.
Bayangkan hal itu berulang-ulang hingga engkau akan menyadari hal paling crussial yang sebenarnya harus engkau fikirkan. Yaitu tentang mati dan manajemennya. Management yang lebih penting dari sekedar “managemen kehidupan” yang sering menindih logika kita.

Jangan bosan dengan kata kematian, karena hidup ini bukan sekedar upaya untuk bertahan hidup bukan?

Jejak-jejak kaki kehidupan ini adalah serangkaian titik-titik yang akan membawa kita kepada sebuah akhir yang akan mempertemukan kita kesebuah jembatan. Jembatan bernama kematian, jembatan kematian yang akan menghubungkan kita kepada awal yang nantinya akan membuka pintu-pintu keabadian!

Ingatkan jiwamu, ceramahi ia dengan lembut, bahwa sebenarnya kita tidak usah menyesalinya. Tidak usah menyesali mantanmu, malah kita harus berbahagia karena demi Allah, dulu, kita pernah memberinya cahaya yang sekarang ia bawa untuk menerangi jalanannya.

Jangan menyimpan ia sebagai sosok yang dulu menyakitimu, anggap saja bahwa ..ia, dulu pernah meminjam cahayamu untuk menerangi jalannya, maka satu-satunya jalan adalah merelakannya pergi membawa cahayamu. Lalu lihatlah cahaya yang ia tinggalkan dihatimu, cahaya yang membekas! dan menerangi jalanmu tanpa hadirnya saat ini.

Jika engkau tidak mendapati cahaya itu, maka lihatlah lagi dengan hatimu. Jika engkau tidak juga melihatnya, maka yakinlah, engkau sedang berdusta untuk dirimu sendiri.

Jangan begitu, bangkitlah!
Kepakkan sayapmu dan terbanglah.
Biarkan sosok lain berbagi cahaya, denganmu.

Biarkan ia berjalan bebas tanpa kutukan kata-kata mesramu di kejauhan. Tentu dia pun sama sepertimu yang sekarang mengenangnya, dan itulah kejujuran. Karena kebaikan itu akan bertahta lebih lama, maka kenanglah kebaikannya dan lupakan selain darinya. Agar ia menjadi cahaya penerang dihari-harimu tanpanya?

“Seandainya cahaya keyakinan itu menerangimu, niscaya engkau dapat melihat akhirat itu lebih dekat padamu ketimbang engkau berjalan menujunya. Dan engkau pun melihat keindahan dunia itu ditutupi gerhana kefanaan yang suram..” [Syaikh Atha’illah]

Sungguh..
Jika kita mampu melipat jarak dunia ini, bentangan jarak melelahkan itu tidak pernah ada kita hanya sedang lupa, bahwasannya akhirat itu begitu dekatnya hingga kita tidak sempat untuk berlama-lama berdiam di sebuah lembah dimana kita terjatuh dan diam.

Jangan hanya melihat terbingnya terjal dihadapan, namun bayangkanlah keindahan dibalik bukitnya. Disana ada cahaya, cahaya pembimbing yang membawamu kembali jalanan panjang yang tidak mudah. Namun hari ini tidak ada pilihan karena masalalu itu telah berlalu jauh dibelakang, dan mengingatnya hanya akan membuatmu semakin jauh terbelakang.

Sementara perahumu sudah jauh ditengah lautan, tidak ada pilihan selain mengayuhnya, menari dengan ombak, berselancar di deru-derunya dan bersiap untuk singgah dipelabuhan di negeri lain. Sebuah negeri, dimana pintu-pintu keabadian dibuka dan pintu masalalu itu tertutup untuk selama-lamanya.

SELAMA-LAMANYA WAHAI HATI YANG MENDENGAR…

Allahuakbar!
Apa khabar hatimu ya ikhwatal Imaaan…
Perhatikanlah syair mengagumkan dari perkataan seorang alim yang kokoh imannya dalam kitabnya al Hikam; “Di dunia ini Allah mengisyaratkanmu untuk memperhatikan Ciptaan-Nya, dan diakhirat kelak Dia akan memperlihatkan kepadamu akan kesempurnaan Dzat-Nya”.

Ingatlah!
Ada sesuatu yang istimewa, hingga Allah Subhannahu wa ta’ala membangunkanmu lagi tadi pagi. Sangat istimewa, itu adalah sebuah hadiah. Satu paket kehidupan ini adalah anugerah kesempatan untuk kita berbenah diri, membersihkan hati dari hasad-dendam yang menghijabnya dari cahaya kebahagiaan.

“Seandainya saja kita tidak lalai, tentu dipagi hari kita tidak akan risau untuk memikirkan apa yang harus dilakukan hari itu. Karena sesungguhnya Allah telah merencanakan sesuatu tentang apa yang akan kita lakukan”. [Syaikh Athaillah]

Sungguh ujian dan musibah-keresahan itu akan menjadikanmu tenang jika engkau menyadari sepenuhnya, bahwa Allah-lah yang sedang mengujimu agar engkau menjadi pribadi teruji. Untuk menaikan derajatmu disisi-Nya. Dan seperti itulah jalan menuju pendakian dalam perbaikan, sulit, berkerikil dan menyesakkan.

Ingat, jika engkau benar seorang beriman dan sedang berjalan menuju-Nya tentu engkau akan sangat bersuka cita saat Allah menyambutmu dengan berbagai ujian bahkan musibah-musibah sebagai pertanda indah bahwa Allah yang maha indah sedang menyambut-mu dengan sentuhan tangan-Nya langsung.

Subhanallah!
Harga apakah lagi yang melebihi nilai dari sebuah ketenangan jiwa?

Dan jiwa-jiwa yang tenang itu tidak akan dianugerahkan kepada para pembangkang. Mereka tertawa hanya sesaat, menutupi hati yang gelap gulita tanpa arah. Seperti ceria, padahal kebingungan mencari jalan.

Cahaya…
Mari kita terangi gelapnya hati itu dengan cahaya indahnya prasangka. Karena sejatinya setiap pribadi tercipta dengan satu keistimewaan, namun tidak semua orang mampu melihatnya dengan jujur. Sejatinya setiap orang memiliki cahaya, dan dengannya ia mampu menerangi hati dan pribadi di dekatnya. Siapa saja.

Hanya saja, kita dan mereka kadang tidak menyadari hal menakjubkan ini. terkadang cahaya itu meredup atau bahkan tidak bisa kita sadari sama sekali.

Sombong dengan ketawadhuan, hingga diri merasa telah dipenuhi cahaya, berkilauan namun sebenarnya menyilaukan. Bahkan mata bathin itu tertutup rapat dan ruangan itu gelap. Berjalan tanpa arah dalam kesendirian yang menyiksanya, disanalah kegelapan itu menyelimuti dirinya dan ia butuh cahaya.

Saudaraku yang indah.
Ketika seorang hamba menyadari adanya sisi gelap dalam dirinya, maka disanalah ia mencari cahaya, ia mulai mendapati bintang-bintang kecil yang dan bulan di sore berawan, malu-malu menatapnya ragu. Dan saat kita dalam kegelapan itulah, justeru kitalah yang mencari.. cahaya itu. Hingga kita melihatnya dengan jelas, tanpa hijab. Disana kita melihat bulan itu putih bercahaya kita menemukannya lalu meminjamnya untuk menerangi langkah kita padahal seharian lalu, kita buta tentangnya?

Subhanallah!
Begitulah, saudara-saudariku
Mungkiin ada banyak sosok-sosok yang pernah ada dihadapan kita, kemarin ia yang tersenyum, perlahan mengenalinya dengan kesederhanaan tanpa rencana. Lalu tiba-tiba saja kita seperti benar mencintainya memiliki, sepenuh hati melukai, lalu pergi. Dan kita terluka saling menyalahkan..

Mudah memang, menyalahkan siapapun lalu menuduhnya sesuka hati. Kita bahkan lupa dan tidak mampu lagi sedikitpun.. melihat cahaya yang dulu ia pinjamkan. Cahaya yang mengantar kita kepada hari ini.

Kita bahkan lebih senang bertanya-tanya, kenapa ia harus datang melibatkan kita dalam cerita..kita ingin dipahami, tapi tidak pernah memahami.. Ingin dibenarkan tapi sulit membenarkan.

Mari dengarkan kembali, sebuah rekaman masa lalu tentang apa yang kita putuskan dulu. Saat ruang fikiran itu hanya mampu menyalahkan, tentu disana, semua orang bersalah kecuali dirimu. Dan pintu-pintu hikmah itu tertutup saat engkau menutup semua celah cahaya, saat engkau membatasi ruang fikiranmu dalam batas prasangka yang membutakan.

Prasangka hina itulah yang kelak akan menghinakanmu, dan kita akan terus terhina selama kita tidak mampu memaafkan. Maka musnahkanlah dengan maaf, agar kita melihat cahaya itu kebaikan darinya menerangi kita.

Sayang sekali, kita telah menyangka maaf itu hanya serakan sampah yang tak berguna.

Saudaraku, saudariku yang mendamba kebahagiaan. Tahukah, semakin kita sering bertemu dengan hamba-Nya yang salih semakin kita mengenal kehinaan kita, semakin kita merendah
merebah..

Sebaliknya, semakin kita melihat kehinaan mereka, semakin kita meninggi

Seandainya saja, jiwa itu sebening embun, maka alasan apakah lagi yang menyeret kita pada hinanya prasangka? Hanya sungai beninglah yang akan menunjukan kita ikan-ikan kecil diantara bebatuannya.

Jika logika tidak lagi mampu menembus tabir keagungan-Nya, maka setidaknya didiklah hati dan jiwaraga untuk meng-istimewakan prasangka kepada-Nya. Insya Allah akan engkau temui sebuah titik, bahwasannya semuanya hanyalah tentang Ujian.

Jika engkau telah menyadari bahwasannya semua itu “hanyalah” cara-Nya untuk menguji kita, maka kita akan segera melihat cahaya itu. Masalah adalah kawan lama yang dulu pernah mendewasakan kita, mengajarkan kepada kita kesabaran.

Jadi bersabarlah lagi, dan bersahabatlah dengan takdir-Nya..

Bukankah dulu kita mampu melewati masalah-masalah itu?

Sungguh kita telah melewati masa yang tidak mudah, pendakian untuk memetik satu bunga. Jika engkau temui bahwa edelweiss itu tidak harum maka, terimalah. Karena tidak semua bunga itu harum, mungkin dari ketidak sempurnaan itu kita bisa belajar… tentang penerimaan.

Kita tahu, bahwa pendakian ini menuju puncak, dan kita juga tahu bahwasannya tak ada pendakian yang meng-enakkan. Namun kita sering lupa, bahwasannya ketika kita telah berdiri di puncak tugas kita adalah terbang dengan sayap yang seharusnya kita persiapkan selama pendakian itu.

Jangan ikuti kebanyakan pendaki, yang akan kembali turun setelah berada dipuncak kemenangan. Terbanglah ke puncak lain dengan sayapmu. Karena kemenangan itu tidaklah disini, tapi dihari lain yang abadi. Terbanglah kepuncak-puncak lain, jangan terjun menukik atau turun menuruni lagi lembah hina dalam jerembab keluhan dan ikatan masalalu.

Lepaskanlah..
Maafkan, Relakan dan Ikhlaskan.

Salam Bahagia.
Nuruddin Al-Indunissy
REHAB HATI | www.nai-foundation.com

1 thought on “MEREGUK HIKMAH MANTAN TERINDAH

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.