Selimut malam datang lagi, bak jubah agung perlahan menyelubungi bumi mengganti siang demi malam agar jiwa jiwa beristirahat padanya dari lelahnya dunia. Senyap merayap menelusuri waktu yang halus, meninggalkan mereka yang lalai menari mengantar fajar Nya yang indah. Malaikat berbaris baris, bersiap siap menyaksikan Manusia yang nanti terbangun di subuh harinya.


nnggg….ngieng ngieng…
JEPLAK! sebuah tamparan memecah suasana hening, menampar pipi seorang manusia disebuah sudut malam, tamparan hebat yang mendarat tepat dipipi itu adalah tamparan dari tangannya sendiri. Tapi seongok tubuh gemuk itu terus mendengkur mengejek kesunyian malam.

Tamparan itu berulang disetiap malam..
Tapi sayang, nyamuk yang setia menyapa telinganya tidak mampu mengubah keadaan, manusia itu hanya bangun sesaat untuk mencaci sang nyamuk. “Nyamuk bodoh! Mahluk tak berguna!”…

Lalu tangannya menarik selimut kewajahnya.
Iblis berbisik mesra ditelinganya: “Tidurlah..malam masih panjang”.
Sang nyamuk beranjak pergi, menyelinap dibalik tirai jendela menahan lapar perutnya yang kosong tubuhnya kehausan. Ia tak mau mencuri darah manusia sebelum ia menyampaikan pesan..

Satu jam adalah lama bagi nyamuk yang menanti, bersabar meski lapar.
Sayapnya bergetar lagi, terbang menyelinap diantara selimut. “Sungguh aku mampu mereguk setetes darahmu dari tangan atau kakimu yang terlelap wahai manusia. Tapi..

Tidak, aku harus membangunkanmu malam ini..
Aku kasihan kepadamu wahai Manusia, Allah telah memberimu waktu malam yang panjang. Tapi dikeseluruhan malammu hanya engkau pergunakan untuk tidur. Tak berguna hidupmu wahai manusia..” Bisik sang nyamuk, berputar putar mencari telinga manusia yang tersembunyi dibalik selimut malam.

Semesta terus bertasbih.
Fajar Nya telah menyingsing, sebentar lagi Adzan subuh berkumandang. Sang Nyamuk dengan sigap menggerakan sayap tipisnya mendekati telinga manusia dihadapannya.

Ia mulai bernyanyi “Bangunlah wahai Mahluk Allah yang Mulia, 2 rakaah fajar menantimu, Tidakkah engkau tahu pahalanya seperti dunia dan seisinya untukmu disisi Nya?”

Tapi sayang, suaranya tidak pernah dimengerti manusia..
Yang terdengar hanyalah bunyi bising yang menyebalkan bagi manusia. Ngieung…ngieungg… JEPLAK! sekali lagi tangan manusia itu menampar pipinya sendiri. Lalu terdengar lagi celaan dari bibirnya: “Dasar nyamuk tak berguna…”

Nyamuk itu terbang lagi, dan hinggap ditirai jendela. Menahan lapar dan kesedihan hingga malam berikutnya. Menahan asap beracun yang dipasang manusia untuknya.. Sungguh Allah telah menyelamatkannya..

“Kenapa engkau begitu membenciku wahai manusia. Bukankah perusahaan Tiga Roda dan Domestos momos itu maju dan mengurangi pengangguran lantaran aku?

“Bukankah akulah yang menyebabkan televisi televis meraup uang milyaran dari Iklan Iklan untuk membasmi ku wahai manusia..

“Bukankah akulah yang telah menyemarakan program anti malaria hingga mentri lingkungan hidup dinegerimu mendapat pujian dan bonus…

“Bukankah kamar mandi dan halaman rumahmu itu bersih karena ketakutanmu yang Tuhan tanamkan terhadap aku wahai manusia..

“Bukankah aku berusaha setiap malam membangunkanmu agar engkau berdo’a untuk keselamatan akhiratmu wahai manusia…

Bangunlah wahai manusia..
Shalatlah dua rakaat sa……………………

JEPLAK…
Sebuah tamparan mengentikan nyanyiannya, meluluhlantakan tubuhnya..
Tangan itu menampar pipinya sendiri untuk kesekian kalinya, aneh manusia itu tidak merasa sakit. Hatinya puas telah membunuh nyamuk yang telah membuat kegaduhan dikamarnya beberapa malam terakhir.

Mahluk Allah itu mati tanpa kesan.
Sejahtralah engkau nyamuk, perjuanganmu berakhir sudah.

إِنَّ اللَّهَ لا يَسْتَحْيِي أَنْ يَضْرِبَ مَثَلا

“Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu…” (Al Baqarah: 26)

SUBHANALLAH..
Sahabatku, tidakkah engkau belajar dari nyamuk?
Tidakkah engkau lihat cicak cicak yang gemuk karena memakan nyamuk?
Tidakkah engkau belajar dari cicak.
Sungguh kita butuh belajar kesungguhan dari cicak.
Cicak adalah Mahluk Nya yang tidak dikaruniai sayap, tetapi kesabaran dan kesungguhannya mampu menghidupi dirinya dan keluarganya cicak, dengan nyamuk nyamuk yang memiliki sayap.

Marilah untuk tidak mengeluh atas dunia yang melalaikan ini.
Sungguh tak ada kekhawatiran untuk dunia, Akhiratlah yang harus kita khawatirkan. Rasulullah Shollallahu ‘alahi wa Salam menghargakan dunia ini tidak lebih dari sayap nyamuk.

Sahal bin Sa’ad as-Sa’idi r.a., meriwayatkan..
Bahwa Rasulullah s.a.w. bersabda: “Andaikata dunia ini di sisi Allah dianggap menyamai -nilainya- dengan selembar sayap nyamuk, sesungguhnya Allah tidak akan memberi minum seteguk airpun kepada orang kafir daripadanya.” (Diriwayatkan Imam Tirmidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah Hadis shahih).

“Allah berikan dunia kepada orang yang dicintai-Nya dan yang tidak dicintai-Nya, tapi agama hanya Allah beri kepada orang yang dicintai-Nya saja”. (HR Ahmad, Ibn Abi Syaibah & al-Hakim)

Dunia ini indah kawan..
Tidaklah engkau lihat Hikmah Hikmah Nya bertebaran?

Dunia ini indah kawan..
Sungguh gemerlapnya telah membutakan kita.
Membuat kita lupa jalan untuk kembali,
Padahal hati merindui..
Dalam fitrah hati ada kerinduan.
Kerinduan untuk kembali

Kembalilah kawan.

Dunia ini melalaikan sahaja..
Kita hanyalah nelayan pelayan Nya..
Kita hanya berlabuh sebentar di pantai dunia yang indah ini.
Kapal menuju keabadian telah disiapkan.
Bukankah seruan itu berulang diperdengarkan?
Peluit telah dibunyikan..
Kapal sebentar lagi berangkat.
Jangan lalai kawan..

Abu Hurairah ra. berkata:
Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya perumpamaan aku dan umatku adalah seperti seorang yang menyalakan api yang mengakibatkan binatang-binatang melata dan nyamuk terperangkap ke dalam api tersebut. Aku sudah berusaha memegang ikat pinggang kalian namun kalian malah menceburkan diri ke dalamnya”. (Shahih Muslim No.4234)

Semoga Allah menyayangi, mencintai dan Merahmatimu ya Ikhwatal Iman.

Al Faqir Ilallah.
Nuruddin Al Indunissy
RIYADH 2011

“Sesungguhnya salah satu hikmah penciptaan nyamuk adalah agar manusia menampar wajahnya sendiri” (A Quote by Chocolatos Page)