Kebahagiaan tidak akan pernah tertukar, karena itu Anugerah Nya. Kebahagiaan seseorang dengan se-cangkir teh manisnya dipagi hari, belum tentu sebanding dengan kebahagiaan direktur perusahaan teh manis yang memiliki ribuan gudang teh manis..

Mungkin bapak direktur pemilik perusahaan teh itu pagi ini malah sedang bingung dengan penjualannya yang rugi tahun ini, atau sibuk memikirkan karyawannya yang turun kejalan minta naik gaji hingga ia terlupa menikmati se-cangkir teh manis yang ia buat di perusahaannya..


Seperti itulah kebahagiaan,..
Kita sering terobsesi dengan kebahagiaan besar yang belum kita capai dan terus berlari bersusah payah mengejarnya hingga melupakan kebahagiaan kebahagiaan kecil disekitar kita.

Rasulullah saw bersabda;
“Telah sukses orang yang beriman dan memperoleh rezeki yang kecil dan hatinya pun akan disenangkan Allah dengan pemberianNya itu”. (HR. Muslim)

Disenangkan maksudnya, bahwa orang beriman akan diberi rasa senang dengan rizki yang sedikit itu.,
Hingga mereka akan merasa bahagia dalam setiap suap nasi yang mereka terima dari Allah, mereka mensyukurinya dengan mengucap hamdalah hingga nikmat itu terasa berkualitas.

Sering kita mengira kebahagiaan akan terlahir saat kita terlepas dari ujian yang saat ini mengguncang kehidupan kita, hingga kita terjebak didalamnya dan terus menunggu gelombang ujian itu hilang. Semantara badai tak kunjung reda, silih berganti membungkam logika menerpa jiwa, menggetarkan kokohnya keimanan…

Hampir hampir manusia berkata, “Lelah… Apakah ini taqdir?”

Padahal jika kita memaknai tentang makna dibalik ujian ujian yang ditebarkan disetiap jalanan ini, kita tidak akan mengunggu terlalu lama untuk berbahagia. Kita tidak akan menunggu hingga dipuncak gunung yang kita daki untuk melihat keindahan yang kita bayangkan, mungkin saja dari puncak itu keindahan terhalang kabut tebal dengan udaranya yang beku?

Lihatlah sekitaran.
Dijalanan menuju puncak yang kita tuju, sebetulnya kita bisa menemukan keceriaan alam yang menyambut pagi, air yang berlomba berkejaran menuruni lembah, dedaunan yang melindungi kita, atau kicau burung yang menghibur kesedihan kita dengan ikhlas.

Jujur, belakangan ini inbox email saya sering diserang pertanyaan pertanyaan yang serupa. Bernada setengah curhat dan padahal isinya keluhan:

“Akhi… Kenapa ujian demi ujian, kepedihan demi kepedihan, dan penderitaan ini seperti tiadak akhir.
Padahal sebisa mungkin ana telah berusaha bersabar dan terus berjalan diatas syariah.. saya shalat, saya dzikir, saya puasa… baca Qur’an….tapi kenapa tetap saja nafas ini sesak, jalanan ini seperti sempit..??”

Saya biasanya hanya tersenyum ^_^
Apakah mereka kira saya ini orang penuh kebahagiaan dan tidak punya kesulitan hingga tulisan saya bertabur kebahagiaan?

Tidak, hingga detik ini beban dipundak saya masih teramat berat,
Namun saya tidak ingin mencemari tulisan ini dengan keluhan, karena nikmat bisa corat coret di facebook ini sendiri adalah atas kemurahan Nya yang seharusnya kita syukuri.

Akhi, ukhti..
Saudaraku, saudariku..

Rasulullah saw bersabda;
“Barangsiapa ridho dengan rezeki yang sedikit dari Allah maka Allah akan ridho dengan amal yang sedikit dari dia, dan menanti-nanti (mengharap-harap) kelapangan adalah suatu ibadah”. (HR. Bukhari)

Menanti nanti kelapangan dalam konteks diatas bisa kita terjemahkan;
Bahwasannya lama-nya rintihan kita dalam do’a meminta kelapangan, rintihan kita selama dalam lembah penderitaan, dan penantian kita untuk meminta kesembuhan itu dihitung sebagai sebuah ibadah.

Selama itu kita menanti…
Selama itu, selama masa sulit itu, sepanjang jalanan kita dalam rintihan berdo’a meminta kelapangan itu dihitung ibadah!

Banyangkanlah jika kesulitan itu terjadi sepanjang tahun atau bahkan bertahun tahun dalam keadaan sulit?
Maka perkataan Rasulallah saw adalah benar, selama itu selama kita dalam kedaan tidak lapang itu waktu kita dicatatkan sebagai nilai ibadah!

Namun ada satu hal yang perlu kita ketahui.
Musibah yang menimpa kita, tidak selamanya dikategorikan ujian..

Bencana atau kesulitan tanpa hujung itu bisa saja berupa Adzab yang disegerakan di dunia, agar hukuman atas dosa dosa dan kelalaian kita lebih ringan dihari akhir kelak.

Rasulullah saw bersabda;

“Tiada seorang mukmin ditimpa rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyakit atau kesedihan (kesusahan) sampai pun duri yang menusuk tubuhnya kecuali dengan itu Allah menghapus dosa-dosanya. (HR. Bukhari)

Jika kita telah berjalan dalam jalanan yang lurus dan berusaha untuk memenuhi kewajiban kita sebagai Hamba Nya, maka rangkaian musibah musibah itu adalah berupa Ujian .

Ujian adalah sebuah sequence, bagi mereka yang telah mengatakan “Aku beriman!”. Kadar ujian pun sebanding dengan seberapa kokohnya dinding iman kita. Hingga orang orang sholeh ujiannya lebih berat, ia akan diuji hinga benar benar teruji.

Jika kita tidak berjalan dalam jalanan yang lurus,
Masih lalai dalam memenuhi kewajiban, dosa terus bertumpuk tanpa ada keinginan untuk menghapusnya dengan taubat, maka musibah itu bukan lagi Ujian tapi keberadaannya adalah ADZAB atau peringatan dari Allah.

Musibah itu adalah sentuhan lembut dari Rabbmu, adanya adalah bentuk kasih sayang Nya untuk mengurangi beban dosa kita, karena Allah maha tahu kita tidak akan mampu menahan Adzab Nya di akhirat kelak.

Manusia memang cendrung pelupa, padahal mereka mengatakan dirinya ber-Iman.
Tentu saja keimanan didada kita yang telah di ikrarkan mulut itu tidak akan dibiarkan begitu saja, keimanan itu akan terus di uji, dikokohkan dan dinaikan derajatnya melalui ujian ujian.

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: ” Kamikami telah beriman” , sedang mereka tidak diuji lagi?” (QS Al Ankabut : 2)

Mari kita pahami lagi,
Bahwassannya ujian itu akan terus menerus menerpa setiap jiwa selama jiwa itu hidup, baik berupa kesenangan atau kemelaratan..baik dalam tawa atau kesedihan.. baik dalam kondisi luhurnya ilmu atau kemiskinan ilmu, baik itu adalam nikmat nikmat atau bencana.

Kesemuanya adalah rangkaian perencanaan Allah untuk menguatkan kita.
Bukankah setiap gesekan itu pedih?
Lalu dengan apalagi pisau itu akan tajam kalau tidak digesek?
Gesekan itu adalah untuk mempertajam mata hati kita agar peka terhadap kehidupan ini, agar ingat bahwa kita semua akan kembali.

Manusia memang cendrung ingat kepada RABBnya hanya ketika dalam keadaan terpojok, saat disana tidak ada kemungkinan untuk berlari. Seharusnya dari sini kita menyadari, mungkin saat kita sedang tenggelam dalam kesedihan dan terhimpit kesempitan itulah Allah sedang menyentuh kita untuk mengingat-Nya lagi..

Jangan iri dengan mereka yang hidup serba mudah dengan hartanya..
Karena itu tidak jaminan untuk kebahagiaan, yang kita butuhkan di dunia ini hanyalah tempat untuk berteduh dan sesuap makanan untuk menegakkan tulang punggung kita..

Kita kadang terus berlari sekuat tenaga mengejar sebuah titik yang kita bayangkan dengan berbagai target dan imaginasi, padahal apa yang kita cari setelah sukses itu adalah kebahagiaan dan ketenangan.

Secara tidak sadar kita terus berlari dan berlari kearah yang berlawanan dengan kebahagiaan – kadang bahkan tidak peduli lagi dengan ketentuan ketentuan syariah – hingga tubuh ini melemah dan lelah, sementara kebahagiaan tak juga didapat.

Tentu saja, sesuatu itu harus dengan ilmunya agar kita tidak tersesat.
Allah itu maha adil, cukup keyakinan itu akan menentramkan kita jika kita pahami secara mendalam, karena kebahagiaan tidak akan tertukar.

Jika kita beriman, dan bahagia dengan keimanan itu maka bersyukurlah dan beristiqamahlah..
Jika kita merasa telah beriman lalu tidak bahagia, maka jangan salahkan siapapun sebelum kita yakin kadar kesungguhan kita telah berada ditahap mana..

Karena Allah tidak membutuhkan keimanan kita,
Keimanan itu adalah untuk kita sendiri, sebagai sebuah energi yang akan menguatkan kita. Sebagai cahaya yang akan menerangi hati kita dan menuntun langkah kita menuju RABBnya.

Allah tidak membutuhkan iman kita,
Allahlah yang menciptakan dan kemudian menganugerahkan rasa keimanan itu untuk menjadi lentera hati kita dan menerangi jalanan yang kita lewati agar terang benderang hingga kita menemui jembatan yang akan menghubungkan kita kepada kehidupan yang abadi dengan selamat.

“Dan barang siapa yang berjihad, maka sesungguhnya jihadnya itu adalah untuk dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari Semesta Alam”. (QS Al Ankabut : 6)

Bangkitlah!
Jangan Diam..

Created on Tuesday, February 22, 2011 at 5:31pm
Revised Jully 10, 2012

Salam bahagia,
NURUDDIN AL INDUNISSY
RIYADH 2011