Menu Close

SENJA DITEPIAN LAUT MERAH

Tak ada hati yang meragukannya, menatap baitullah sepenuh kelembutan diantara gemuruh istighfar lautan tawaf, memeluknya, menciumnya dan berdo’a bersimpuh malu dihadapan multazam adalah kenikmatan tiada tara dan tanpa batas descrifsi, anugerah terbesar di dunia setelah Iman dan Islam yang di anugerahkan Nya kepada jiwa jiwa yang dikehendaki Nya sahaja..

Kemustajaban do’a disana tidak diragukan siapapun!

Sehingga Rasulullah Sholallahu Alaihi wa Salam pun menitipkan do’anya kepada Ummar bin al Khatab ketika mendengar Umar ra meminta izin kepada beliau untuk ber Umrah!

Ummar bin al-Khatab berkata: “Aku meminta izin (berpamitan) untuk ber-umrah dan Rasulullah saw mengizinkan seraya bersabda: “Wahai saudaraku ummar! Sertakanlah kami dalam do’amu” (HR At Tirmidzi dan Abu Dawud, dalam kitab Riyadhussalihin bab Wadaais-shahib hadits No.3 )

Dalam dinding hati Mereka yang pernah mencapai tanah ini akan tertanam kerinduan abadi yang membuatnya ingin berkunjung kembali..

Itulah alasan kenapa Masjidil haram ini tidak pernah sepi dikunjungi jutaan manusia dari penjuru dunia yang mengetahui keutamaannya serta mampu melaksanakannya..

Keberkahan di Masjidil Haram pun terlihat dari sabda Rasulullah Sholallahu Alaihi wa Salam:

“Shalat di masjidku ini lebih afdol (utama) dari 1000 shalat di masjid-masjid lainnya, kecuali masjidil Haram, dan shalat di masjidil Haram lebih afdol (utama) dari 100 shalat di masjidku ini”. (HR. Ahmad)

Masjidku yang dimaksud Rasulullah saw adalah Masjid Nabawi, Madinah.

Dan shalat di masjidil Haram adalah 100 kali lebih Afdhal dari pada masjid Nabawi, artinya juga bahwa shalat di masjidil Haram adalah 100.000 kali lebih Afdhal daripada shalat di Mesjid biasa, sedangkan dimasjid dengan berjamaah adalah 27 kali lebih utama dari pada shalat di rumah.

Allahuakbar..

Hitung sendiri perbedaan antara shalat di rumah sendiri dengan berjamaah dimasjidil haram bersama lautan manusia yang tunduk patuh diserttai mata berkaca kaca ketakutan dihadapan multazam…

Tentu, hitungan pahala ini tidak lantas membuat orang shalih sombong atas tumpukan pahala yang ia kumpulkan di al Haram karena sejumlah apapun pahala itu tidak akan mampu menolak api Neraka kecuali karena Ridha dan Rahmat Nya semata:

Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra :

Rasulullah Saw pernah bersabda, “Perbuatan yang engkau lakukan tidak akan menyelamatkan engkau dari api neraka”. Mereka berkata,“Bahkan engkau sendiri ya Rasulullah?” Nabi Muhammad Saw bersabda, “Bahkan aku sendiri, kecuali Allah melindungiku dengan kasih dan rahmatNya. Oleh karena itu lakukanlah perbuatan baik sepatut mungkin, setulus mungkin, sedapat mungkin dan beribadahlah kepada Allah pada pagi dan sore hari, pada sebagian dari malam hari dan bersikaplah al-qashd (mengambil pertengahan dan melaksanakannnya secara tetap) karena dengan cara itulah kamu akan mencapai (surga)”.

Bagi seorang salih, dunia yang sebentar ini akan ia gunakan untuk terus memperbaiki diri dan berinvestasi untuk Akhiratnya.

Ummat Islam yang benar dengan keislamannya akan tertanam kerinduan untuk menyempurnakan Islamnya dengan mengunjungi baitullah dalam Hajj..

Mereka akan senantiasa mencari cara untuk berziarah kemasjid indah nan suci ini..

Rasulullah saw bersabda:

“Tidak dibenarkan ziarah (kunjungan) ke masjid-masjid kecuali pada ketiga masjid, yaitu masjidil Haram (Mekah), masjidil Aqsha (Baitul Maqdis), dan masjidku ini (Nabawi-Madinah)”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Subhanallah..

Tapi dengan limpahan berkah dan pahala itulah, kesulitan mencapai tanah inipun menjadi sulit. Kadang bagi yang telah bernisabpun tertanam rasa enggan..

Iah, tidak mudah mencapai tanah ini.

Hampir 2 tahun ini saya bekerja di kota Riyadh, tepatnya di InterContinental Hotel.

Kesibukan saya bekerja membuat saya iri dengan mereka yang bekerja di Makkah yang bisa setiap hari berumrah dan shalat di al Haram. Tempat saya bekerja memang sibuk hingga pernah saya bekerja 8 bulan tanpa ada hari libur, liburan mingguan dihitung sebagai lembur. Kesibukan ini membuat saya tidak bisa mengunjungi Makkah yang ada diseberang kota Riyadh.

05 Agustus 2010

Persisnya satu tahun lalu, saya berbicara secara pribadi dengan Head Departement Manager hotel untuk mengajukan Cuti selama 10 Hari di Ramadhan tahun depan, yaitu Ramadhan 1432 Hijriyah ini.

Alhamdulillah..

Ramadhan telah tiba, pucuk pucuk iman kembali tumbuh subur.. pohon kurma seperti bahagia menyambut Ramadhan di kota ini..

Dan saya menagih janji untuk Cuty di Ramadhan ini..

Cuti kerja itupun di Confirmed.

10 Agustus 2011

Mimpi saya untuk beritikaf di al Haram hampir saja menjadi nyata.

Tapi tanpa saya duga, peristiwa menggetarkan menampar jiwaku. Di detik detik menuju al Haram itu terjadi kasus kesalahan kerja yang membuat saya harus diterminasi atau dipulangkan ke Indonesia.

Saya bekerja sebagai Cashier dan ada kelebihan uang 59 Real di Cash Drawer ketika Accounting mengeceknya. Uang itu adalah uang saya, karena sibuk saya memakai uang di saku sebagai kembalian lalu saya lupa memisahkan uang tersebut sehingga uang di Housebank bertambah.

Accounting mengira uang itu adalah uang penjualan yang tidak di posting.

Ini adalah kasus pencurian, terdakwa harus diberikan kepada polisi kerajaan dan potong tangan. Tapi karena kebijakan dari hotel, biasanya terdakwa hanya dipulangkan saja ke Indonesia.

Saya terkejut..

Cuti saya sudah confirmed, tiket untuk kemasjidil Haram sudah digenggam..

Tapi peristiwa tidak terduga menghampiri membuat saya bertekuk lutut tidak berdaya.

Saya hanya berdo’a…

Wahai Allah yang maha perkasa..

Engkau lah yang mengatur semuanya, izinkanlah diri yang kotor ini menginjakan kembali kaki di Masjid suci Mu Al Haram…

Dan..

Seperti keajaiban..

Doa itu terkabul, sepertinya Accounting terlupa atau memang belum membuat laporan tentang kasus saya.

19 Agustus 2011

Saya bertolak dari Riyadh menuju Madinah..

Bis melaju cepat menempuh jarak kurang lebih 1.300 kilometer keluar dari kota Riyadh menelusuri gurun tandus Saudia menuju kota Rasulullah…

Al Madinah

Fajar menyingsing di kota madinah ketika bis itu memasuki area mesjid Nabawi..

Pilar pilar mesjid Nabawi mulai terlihat..

Subhanallah..

Seperti ada kerinduan abadi untuk kembali singgah di kota ini, kota dimana jasad mulia Rasulullah saw terbaring kaku di dalam mesjid Nabawi yang mempesona..

Assalamu’alaika ya Rasulallah..

19 Agustus 2011

Adalah kunjungan ke dua saya di madinah.

Subuh itu mesjid nabawi mulai dipenuhi pengunjung,..

Ini adalah 10 Hari terakhir Ramadhan, semua orang yang berkesempatan rasanya pasti ingin ikut serta dalam perjalanan ruhani yang indah ini.

Kerinduan itu cukup terobati, meski hanya 3 jam singgah di Nabawi. Shalat fajar dan mengucap salam dan berjiarah ke maqom Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Salam.

Selanjutnya bis melaju menuju Jabal Uhud..

Mengenang peristiwa perang Uhud dan berziarah kepada makam syuhada para pahlawan uhud seperti yang Rasulullah saw dulu lakukan..

30 menit kemudian bis berjalan ke Masjid Quba..

Mesjid pertama yang dibangun Rasulullah saw di Madinah.

Seraya sibuk juprat jepret kamera, benak saya terus berbisik bisik “Dimana saya harus wudhu untuk shalat dhuha…?”. Tempat wudhu itu tidak ketemu hingga waktu singgah di Masjid berkubah putih itu hampir habis.

Salah satu object camera yang mencuri perhatian saya adalah sebuah lukisan hadits yang terpampang di dinding mesjid ini. Di lukisan itu ada 4 hadits dan satu Ayat Qur’an yang bercerita tentang masjid ini (At Taubah 108).

Hadits itu ditulis dalam bahasa ingris dan arab, kurang lebih bunyinya: “Barang siapa shalat 2 rakaat di masjid ini, pahalanya sama dengan 1 kali Umrah..”

Mata saya terbelalak, ini hadits shahih At Tirmidzi yang baru saya temukan.

Saya tergesa memasuki masjid, mengucap salam ke mutawa dan langsung menerobos kedalam yang sesak oleh jemaah yang shalat masing masing.

Ketika saya mulai takbir tiba tiba saya teringat lagi.. saya tidak punya wudhu..

Sayapun kembali kebelakang dan bertanya kepada mutawa tadi: “when hada wudhu?” mutawa itu berdiri dan mengantar saya ketempat wudhu. Disana antri.. tapi Alhamdulillah saya berhasil wudhu dan shalat disana meski harus menanggung malu karena saya dimarahi sopir.. karena sangat telat. 🙂

Selanjutnya bis melaju ke tanah Haram Makkah..

Sebelum memasuki wilayah tanah haram bis berhenti lagi, mempersilahkan jemaah untuk mengambil Miqat. (Miqat adalah rukun umrah, dimana kita mulai berniat untuk Ikhram dengan terlebih dahulu mandi dan shalat 2 rakaat lalu berniat Umrah dan melanjutkan perjalanan ke al Masjid al Haram)

1 jam dari saat itu bis melaju lurus ke tanah Haram Makkah al Mukaramah..

Perjalanan dari madinah ke Makkah adalah 460 Kilometer, cukup melelahkan karena kemarin kita telah menempuh perjalanan 1300 Kilometer dari Riyadh ke Madinah..

Selepas Ashar saya tiba di Makkah dan langsung menuju Hotel.

Saya melepaskan 2 tas yang saya bawa di kamar, Hotel ini berjarak kurang lebih 1,5 kilometer dari Masjidil Haram.

SUBHANALLAH..

Kakiku menginjak tanah di kota Makkah lagi, kerinduan akan mesjid ini segera terobati.

Saya berjalan memasuki Masjidil Haram dari belakang bangunan megah berukuran raksasa The Royal Clock Mecca, terlihat jamnya sudah sempurna..

Saya menerobos pejalan kaki tergesa gesa karena ingin berbuka di Al Haram, keinginan itu sama dirasakan oleh ribuan jemaah lain yang juga satu arah menuju sana.

Adzan iftar berkumandang persis setelah saya berhasil menerobos masuk dan berjumpa kembali dengan baitullah..

Indah..

Menatapmu adalah keindahan ya Baitullah…

Saya memakan beberapa kurma dan air zam zam disana sambil memandangi baitullah yang masih berdiri kokoh dan Megah!

Selanjutnya saya menyelesaikan prosesi umrah di Masjidil Haram hingga tengah malam lewat, Umrah yang biasanya selesai dalam waktu kurang dari 1 Jam itu saya tempuh lebih dari 6 jam karena masjid memang sangat penuh dan sibuk.

Tidak ada yang istimewa di dalam proses umrah itu, semuanya berlalu dengan indah. Hanya saja peristiwa hilang sendal terulang lagi, hingga kakiku sedikit menderita. Selain itu hati saya sedikit gondok karena harus 4 kali bolak balik berwudhu karena beberapa ahwat yang tidak memakai kaus kaki di masjidil Haram..

Dalam sesak seperti itu peristiwa injak-menginjak kaki tidak terhindari.

Terinjak ahwat mungkin seru seru saja jika diluar sana, tapi di al Haram… malu rasanya tak punya wudhu, apalagi dalam proses umrah itu ada 2 shalat sunnah. Yaitu di Maqom Ibrahim dan Hijr Ismail.

Tempat wudhu dimasjid ini hanya ada satu, yaitu dibagian depan Masjid (lokasinya dibawah tanah dan harus menuruni tangga). Saat sesak seperti ini, untuk berwudhu satu kali saja menghabiskan waktu kurang lebih 1 jam!

Setelah umrah selesai saya kembali ke hotel, berbincang bincang dengan teman sekamar dari mesir dan lalu beristirahat (saya ketiduran karena lelah).

Entah berapa lama saya terlelap, kemudian saya terperanjat dan langsung melihat jam di laptop. 04.00am, saya tergesa memakan satu buah Aplle dan beberapa gelas air zam zam yang ada disana. Saya mandi dan wudhu terburu buru karena ingin shalat fajar di Masjidil Haram.

Saya keluar hotel menelusuri jalanan menuju Masjidil Haram yang terletak 1 kilometer lebih dihadapan..

SUBHANALLAH..

ini seperti peristiwa dalam mimpi..

04.15am

21 Agustus 2011

Semua koridor menuju al Haram telah bergemuruh berdesakan dengan jemaah yang ingin shalat disana. Mereka berlomba menuju al Haram..

Cahaya dari pilar pilar Masjidil Haram kembali menyentuh wajahku..

Menembus relung relung hati yang basah bertasbih memuji Nya.. Subhanallah wal Hamdulillah wa Laa Ilaha Ilallah HuwAllahu Akbar..

Halaman masjidil haram telah penuh sesak!

Terlihat para polisi masjid mengarahkan jemaah yang tak berhenti mengalir itu ke lantai 2, 3 dan 4 masjid ini.

Alhamdulillah..

Saya bisa berhasil menjaga wudhu saya dari bersentuhan dengan Ahwat yang bercampur disan. Terus terang saya sebal dengan Ahwat yang tidak memakai kaus kaki di masjid ini.

“Tidak tahukah bahwa tumit tumit telanjang itu diancam api Neraka? Lupakanlah api neraka.. tapi tahukah jika tak sengaja tumit itu menyentuh tumitku, wudhu ku batal..” Itu bisikan dihatiku.

Akhirnya aku mencapai lantai dua.

Alhamdulillah masih kebagian satu tempat disana, dibarisan paling belakang dekat escalator pintu gerbang no 72 Masjidil Haram Lantai 2. Aku memulai takbir, imam telah selesai membaca al Fatihah dan dilanjut dengan surah yasin….

Semua mengalir indah..

Semua mata tidak terlepas dari Baitullah,..

Imam lalu bertakbir memulai rukuk..

Dan sujud..

Aku pun sujud selembut hati..

Tiba tiba saja disamping kiri terdengar suara tangisan bayi..

Aku berharap bayi itu cepat diam.

Tapi bayi itu terus menangis..

Dan mulai terdengar satu langkah kaki mendekatiku..

Aku berharap itu bukan ahwat yang tidak berkaus kaki..

Srrrr…

Satu kulit lembut menyentuh kakiku, wajahku masih terbenam dalam sujudku.

Akh… Aku tidak berani melirik.

Aku harap kulit yang menyentuh tumit kakiku itu bukan tumit wanita!

Aku berdiri lagi penuh keraguan..

Batalkah wudhuku.. Batalkah shalatku?

Ini Shalat fajarku di masjidil Haram tahun ini..

Satu waktu yang kutunggu tunggu sepanjang tahun ini..

Aku mengucap salam..

Lalu berdiri melihat kesekitaran..

Disebelah kiri terdapat satu kotak persegi panjang tempat untuk ahwat salat..

Aku melirik ke beberapa darinya..

Iyah disana banyak gadis indonesia..

Tapi aku tak peduli..

Dihatuku berbisik bisik…

Tumit!..Tumit…!

Kenapa tidak kau jaga tumitmu…!

Tumit itu berbahaya disini. Makanya Rasulullah saw menganjurkan dirimu untuk shalat dirumah saja.

Tumit…

Jaga tumitmu..

Hatiku terus saja berbisik bisik..

Dari lantai 2 masjidil haram ketempat wudhu itu bisa menghabiskan waktu satu jam karena Masjid ini luas dan penuh sesak, dan satu jam dari saat ini matahari sudah menyingsing.. subuh udah lewat..

Aku tidak bisa wudhu lagi..

Tumit itu telah membuatku bolak balik 4 kali untuk berwudhu lagi saat umrah kemarin. Hari ini, tumit itu mungkin telah membatalkan shalat fajarku.

Hatiku terus saja berbisik..

1 Jam kemudian aku sudah berada dilantai 3, membidik beberapa scene dari ketinggian yang cukup sebagai hadiah untuk teman teman di jemaah ilmu di fb-ku. Dibawah peristiwa tawaf tidak terhenti, aku disana hingga Adzan Iftar berikutnya berkumandang..

Malamnya aku kembali ke Hotel, dan mengambil tas karena Hotel itu disediakan hanya 2 malam saja selama Umrah selebihnya (9 hari kedepan) saya harus cari hotel sendiri.

Saya keluar dari hotel dengan 2 tas dikanan dan kiri. 1 tas baju satu tas laptop, hardisk, kamera dan perlengkapan lain. Saya berjalan menelusuri koridor yang sama menuju Al Haram lagi. Sesampainya disana saya titipkan tas itu di loker penitipan, karena tas dilarang masuk masjid.

“Isrin real, hamsa saah…”

Kata penjaga locker di al Haram itu.

Saya terkejut, kok harus bayar?

Locker penitipan itu menarik uang 20 real (sekitar Rp50.000/5jam) Aduh…

Saya mulai larak lirik mencari hotel disana, oh ya.. hotel disana semua penuh, lagian mahal jika tidak booking dulu. Saya memang menolak ketika pihak hotel (tempat saya kerja di riyadh) menawarkan penginapan selama cuty saya di makkah. Alasannya saya memang mau itikaf di mesjid bukan liburan…

Tapi ada cerita lain..

2 tas itu cukup berat, akhirnya saya putar puter kebingungan di lautan manusia di halaman masjid itu. Masjd itu benar benar sesak. Adzan isya mulai berkumandang, jemaah terus mengalir.. dan polisi mulai melarang jemaah masuk mesjid karena lantai 1-4 masjid itu sudah penuh..

Para mutawa mengarahkan jemaah untuk menggelar sejadah di sekitaran halaman hotel hotel yang ada disekitar masjid. Halaman masjd telah penuh…. jemaah mulai menggelar sejadah di Jalanan dekat Masjidil haram..

Saya masih muter muter kebingungan menaruh tas..

Hingga iqamat Isya terdengar, saya menggelar sejadah di tepi jalan paling belakang.. sekitar 300 atau 400meter dari baitullah… Lingkaran raksasa itu terbentuk tak sempurna mengitari masjidil Haram.. mungkin lebih dari 100.000 jemaah shalat tarawih malam itu.

Tarawiih telah selesai.

Saya masih kebingungan dengna dua tas itu.

Akhirnya saya teringat teman di jedah dan menelponnya.

Dia tidak menjawab, mungkin sibuk..

Akhirnya saya duduk duduk ditepian Al Haram yang penuh sesak.

Membuka Al Quran kecil ditangan dan membacanya.

Hati saya tetap gusar..

Handpon di saki saya bergetar, ternyata Salih ba Hifzalloh (teman saya di jedah) menelpon. 15 menit kemudian saya meluncur ke Jeddah dengan taksi.

1 jam kemudian saya tiba di jeddah.

Sebenarnya saya hanya ingin menitipkan tas saja dan kembali ke Al Haram. Tapi Salih sedang sibuk dan tidak bisa menemui, ia mengirim temannya Khaleed. Khaleed mengajak saya ke sebuah hotel, saya sebenarnya ingin menolak tapi ia memaksa untuk tinggal semalam di Jeddah.

Akhirnya saya masuk..

Salih ternyata telah menyiapkan satu Kamar Suites di hotel itu. “Khaleed.. what a surprise..?! (Khaled apa apaan ini?!) ujarku.

Khaled tersenyum.. dan menjawab :

“No no no.. ya Syaikh.. we love Indonesian. Just relax a nite.. I know you are tired..” (Engga ya syaikh.. kita senang dengan orang indonesia. releks lah semalam disini.. saya tau, antum pasti lelak kan?” Katanya sambil menepuk bahuku.

“Mao sate..? atau.. makan apa?”

Kata khaled membuatku terkejut, ia bisa bahasa indonesia..

“La ya syaikh…hahaha”

Jawabku sambil pura pura ga lapar.

Tapi dia tak peduli, dia keluar hotel dan 15 menit kemudian dia menelpon…

“Sate kambing apa ayam?”

Katanya di ujung telpon membuatku benar benar tertawa dengan bahasa Indonesianya yang lucu. Setelah itu pesta sate kambing dimulai. Khaled bercerita banyak tentang suasana Jeddah. (Obrolan saya dengna khaled telah saya tulis di note “A Letter to Embassy”)

Malam itu adalah satu anugerah lagi dari Allah Subhana Huwwa Taala.

Disini saya bisa mencuci pakaian yang kotor dan menikmati fasilitas Internet dari koneksi wifi dikamar itu. Kamar hotel mewah bukan hal aneh buat saya, saya juga bekerja di hotel. Tapi, hal tidak terduga seperti ini adalah luar biasa. Teman yang kukenal hanya dari FB itu menyambutku dengan luar biasa di Jeddah.

Saya tidak sempat bertemu dengan Salih karena dia sibuk, dia bisnisman di Jeddah.

Shaleh hanya teman saya di FB. Dia senang membaca tulisan saya, meski harus bersusah payah menerjemahkannya terlebih dahulu di Google Translate. ^_^ karena dia tidak pandai bahasa Indo.

Subhanallah..

Ternyata ukhuwwah di FB pun berbuah luar biasa, saya yang kebingungan di Makkah ia raih dan bahkan memberi kejutan sebuah hotel di Jeddah.

Hati saya terenyuh, apa boleh buat malam itu harus tinggal di jeddah untuk menghormatinya. Meski hati saya terpaut di Al Haram.

Sebagai ungkapan terimakasih, sorenya sebelum saya meninggalkan hotel itu saya buka laptop dikamar ini dan menyapa teman teman di group fb “catatan NAI”. Saya membuka No Hape saya jika ada teman teman yang ingin titip do’a.

Dari kamar itu kutulis pesan, untuk sahabat di Indonesia:

Sahabat yang kucintai dan mencintaiku karena Allah saja..

Aku berlindung kepada Allah dari kesombongan dan riya yang memakan pahala laksana lalapan api memakan kayu.

Saat ini, Alhamdulillah – Allah Subhana Huwwa Ta’ala telah memberiku anugerah dan nikmat terindah Nya hingga ana menjadi bagian dari lautan manusia yang berbahagia dalam nuansa 10 hari terakhir ramadhan ini.

Jika sekilas kita lihat Rasulullah saw yang mustajab dan paling dekat kedudukannya dengan Allah bertawasul kepada Ummar ra ketika beliau mau menemui baitullah, tentu ada pesan dibaliknya.

Maka, atas kecintaanku kepada kalian.

Dengan memohon Ridha Allah Subhana Huwwa Ta’ala saya mempersilahkan inbox di HP saya bagi yang ingin menitifkan DO’A TERISTIMEWANYA DIHADAPAN BAITULLAH untuk saya panjatkan kehadirat Allah Subhana Huwwa Ta’ala dengan perantara shalawat dan tawasul kepada Nabi Muhammad saw dan para salihin..

Silahkan ketik sms dengan format seperti berikut.

“Aku memohon kepada-Mu ya Allah dengan Nabi-Mu dan para salihin agar…….(tulis nama dan doa……… (isi do’a harus memakai nama Asli, sertai dengan nama ayah atau ibu/bin binti).

Insya Allah, sms titipan do’anya yang masuk akan saya panjatkan di arah pintu multazam-persis dihadapan baitullah dari lantai 3 masjidil haram.

Sahabat, jangan berkata “HANYA” untuk do’a. ..

Do’a adalah senjata milik muslimin muslimah yang tidak dimiliki orang orang kafir..

Rasulullah saw bersabda: “Allah berikan dunia kepada orang yang dicintai-Nya dan yang tidak dicintai-Nya, tapi agama hanya Allah beri kepada orang yang dicintai-Nya saja. (Riwayat Ahmad, Ibnu Abi Syaibah dan al-Hakim)

Luar biasa, di jam pertama sms masuk sudah lebih dari 73..

04.43Pm

22 Agustus 2011.

Sore itu saya berangkat lagi menuju Masjdil Haram.

1 jam kemudian bis berhenti sekitar 500 meter dari Al Haram karena macet total dan tidak ada celah untuk mobil, semua jalan dan koridor menuju Al Haram sudah penuh. Mereka mulai menggelar sejadah di jalanan untuk menyambut buka puasa.

Saya turun dan sopir mengambil uang dari penumpang,.

Saat itu adzan Maghrib menandai iftar berkumandang dari Al Haram, sementara saya sibuk mencari dompet di tas. Hingga adzan selesai uang saya tidak ketemu.

Subhanallah..

Maha perkasa Engkau dengan segala Kekuasaan Mu ya Rabb..

Dompet saya mungkin terjatuh di Jeddah.

Saat itu saya grogih apa yang harus saya katakan untuk sopir bis?

Percayakah mereka jika saya katakan dompet saya hilang?

Ditengah kekhawatiran itu, orang yaman yang sedari tadi ngobrol denganku dengan bahasa indonesianya yang fasih memberi uang 20 real untuk bantu saya bayar bis.

Saya turun dari bisa dan menarik nafas..

Ya RABBI.. Benarkah ini terjadi kepadaku?

Dompetku hilang, padahal disana kusimpan semua perbekalan uang dari Riyadh yang kusiapkan jauh jauh hari.. termasuk ATM untuk gajian bulan ini, juga Iqamaku dan semua berkas pengenalku sebagai warga saudi yang syah. Semuanya hilang dalam sekejap..

Diam ditempat ini tanpa sebuah identas iqama, sangat berbahaya..

Tanpa Iqama/KTP Arab, polisi bisa saja menangkak kita setiap saat dan menjebloskannya kepenjara tanpa basa basi. Dada saya mulai berdebar..

Sore itu saya hanya minum air dan kurma dari paket iftar yang dibagikan disana.

Selebihnya otakku terus berputar, kenapa dompet saya bisa yang hilang? Saya berusaha mengingat kapan terakhir memegang iqama tersebut.

Beberapa menit kemudian saya teringat lagi, terakhir kali menunjukan Iqama itu adalah ke sopir taksi di Jeddah. Sebelum naik bis saya naik taksi/mobil bebas yang narik penumpang ke makkah, karena ingin cepat ke makkah sebelum iftar. Tapi saat itu saya tidak jadi berangkat dengan mobil itu, saya yakin dompet itu tertinggal disana.

Ditengah hiruk pikuk iftar di halaman al Haram, saya bolak balik tas dan dompet itu benar benar tidak ada. Akhirnya saya cari uang yang terselip di saku. Dan masih ada 19 Real (Cukup untuk ongkos pulang lagi ke Jeddah).

Saya stop taksi dan naik menuju jedah, tetap bayangan tertangkap polisi dijalan masih dikepalaku. Saat itu saya telpon Saleh, dia meyakinkan saya bahwa tidak akan ada polisi yang menangkap selama makkah jedah. 1 jam kemudian saya sampai di jeddah.

Di dekat jembatan (yang pernah dipublikasikan TV diseluruh Indonesia bahwa disana banyak orang Indonesia yang terlantar) saya dan Khaled Asyiri (teman Salih) mutar muter cari mobil yang pertama saya tumpangi tadi. 2 jam kita cari tapi mobil itu sudah tidak ada..

Disinilah saya baru yakin, saat ini kondisi 0 rupiah menyapa lagi.

Tapi saat ini sungguh berbeda dengan saat saat sulit di Indonesia. Di negeri orang, hilang Iqama berarti berubah status, dari legal menjadi Ilegal. Status saya saat itu berubah menjadi TKI ilegal, padahal saya adalah bukan TKI karena direkrut oleh Hotel/User langsung tanpa biaya sedikitpun.

Salih meraih saya lagi, beliau memberi 1 kamar compliment lagi di Jeddah.

Mulai saat ini, saya tidak punya jaminan lagi untuk pulang ke Riyadh dengan selamat.

Saya tidak punya jaminan lagi untuk menyelesaikan i’tikaf hingga 30 Ramadhan…

Saya membuka hanphone jadul yang saya punya.

Saat itu sudah ada lebih dari 90 inbox dari sahabat di Indonesia yang menitifkan doa di baitullah..

Saya begitu terharu dan merasa sangat bersalah, itu adalah amanah..

Saya hanya berdo’a..

Semoga ada keajaiban lagi yang memungkinkan saya menginjak Masjidil Haram lagi dalam jangka 8 hari kedepan, sebelum cuti saya habis dan harus kembali ke Riyadh.

Saya tidak tahu, harus berbuat apa.

Tapi saya belum putus harap dan masih mencari cara untuk mencapai al Haram, meski tidak legal lagi meski saya saat ini berada di dalam ancaman penjara jika tertangkap polisi.

Saat itu saya hanya terduduk didepan laptop yang Alhamdulillah tidak ikut hilang.

Allah maha besar.

Segala puji bagi Nya.

Semua berjalan atas rencana Nya.

Abu Said Al-Khudri ra berkata, bahwa Rasulullah saw bersabda: “Tidak ada satu kepedihan pun atau keletihan atau penyakit atau kesedihan sampai perasaan keluh-kesah yang menimpa seorang muslim kecuali akan dihapuskan dengan penderitaannya itu sebagian dari dosa kesalahannya”. (Shahih Muslim)

Musibah ini adalah untukku..

Betapa banyak dosa dosaku, sehingga tak pantaslah diri ini mengeluh..

Aku berdiam dikamar itu hingga siang menyapa jeddah yang berdebu.

Hingga siang itu saya belum bisa memejamkan mata.

Khaled menitipkan uang 50 real untuk sahurku. Tapi tidak kupakai untuk makan sahur, 50 real itu cukup menjadi ongkos mencapai Al Haram.

“Aku masih punya amanah yang harus kuperjuangkan.. ”

Itu bisiku sambil meraih hape yang tergeletak dikamar itu, kulihat inboxnya ada lebih dari 100 pesan baru.

Hotel sudah khaled bayar.

Tapi seharian itu dia tidak datang lagi, mungkin mereka sangat sibuk.

Aku duduk lemas di kamar hotel itu, seperti terperangkap dalam sebuah penjara.

10.30am saya baru ada ideu untuk menelpon Hotel tempat saya bekerja di Riyadh.

Disanalah baru seperti ada cahaya harapan. Pihak Human Resources menanyakan alamat emailku dan dia akan mengirim Scann Iqama ku lengkap dengan Stamp resmi dari Hotel.

Ternyata laptop yang 2 hari ini membuatku susah hingga hampir ku jual itu, hari ini membantuku. Sikecil ini bisa menerima Email dari Hotel tempat kerjaku di Riyadh yang dikirim secara resmi dari InterContinental Riyadh sebagai iqama sementara.

Artinya, setelah saya mencetak Email tersebut saya bisa pergi keluar kota lagi, termasuk al Haram. Di ujung telephone Mr. Mario Jose (HRD InterContinental Riyadh) menyakinkanku..

“Mr. Nuruddin, do you have any idea to open your email and print it as well?”

(Pak nuruddin, disana bapak punya sarana untuk membuka email dan mencetaknya?)

“Yes, I bring my laptop”

(Ya, saya bawa laptop koq..) jawabku..

Saya sedikit lega,.

Saya bergegas membawa laptop ke loby hotel, sayang printer disana rusak dan saya tidak bisa mencetak email itu. Saya naik lagi ke atas dan ambil hape untuk menelpon Salih.

Sayang hape itu tak ada pulsanya.

Tangan saya refleks masuk kesaku celana, bermaksud mau beli pulsa..

Saya terlupa bahwa dompet dan semua uangnya kan hilang..

Sayapun tidak bisa keluar untuk cetak email…

Seorang diri terasing di kota asing dilarang berkeliaran tanpa tanda pengenal..

Polisi disini akan menangkap tanpa basa basi.

Akhirnya saya terduduk lagi hingga malam..

Saya mulai merasakan laparnya kaum dhuafa..

Disaku hanya ada 50 real..

Itu hanya cukup untuk ongkos mencapai Al Haram jika saja tidak bertemu lagi dengan Saleh..

17.50 PM

24 Agustus 2011

Akhirnya saya memutuskan untuk keluar mencari printer agar email dari hotel di riyadh bisa dicetak untuk kemudian melapor ke polisi bahwa Iqama saya hilang..

Sore itu kakiku menelusuri trotoar dijalanan kota jeddah..

Matahari seperti mengerti, kekhawatiran dibalik bajuku yang mulai lusuh..

Perlahan cahaya langit jeddah meredup, mentari perlahan terbenam disebelah timur pantai laut merah.

Iyah..

Saat ini aku berdiri disebuah kota yang hanya beberapa kilometer lagi menuju pantai laut merah. Laut yang menghubungkan benua Asia dengan benua Afrika.

Laut yang menjadi batas antara Saudi Arabia dan Mesir..

Subhanallah..

Tentunya ini bukan kebetulan, gumamku sambil terus melirik satu persatu bangunan dikota itu. Jika saja ada yang menawariku jasa percetakan.

Matahari telah terbenam dilaut merah.

Adzan maghrib sebentar lagi berkumandang, aku sudah berjalan dengan laptop ditangan kananku 3 kilometer kearah selatan kota Jedah..

Tapi malang disana tidak ada satupun yang menawarkan jasa percetakan.

Entahlah..

Mungkin aku yang tidak cermat, kota ini memang asing untukku.

Akhirnya aku memutuskan untuk kembali.

Adzan maghrib berkumandang, aku melangkah lemas menuju sebuah masjid didekat daerah Cornishe. Aku langsung masuk kedalam dan mencari tempat wudhu. Seorang arab menawariku paketan iftar, berupa segelas air dingin botolan dan 3 biji kurma.

Setelah selesai wudhu aku masuk kedalam dan shalat bersama jemaah lain.

Laptop kecilku kuletakan di samping kiriku.

Entahlah..

Dalam shalat itu mataku seperti berkabut..

Tuhan..

Masjidil Haram disamping kota ini..

Tetapi kenapa saat ini aku hanya bisa shalat di masjid ini?

Ya Rabb..

Kupastikan ini bagian dari rencana Mu.

09.12pm

Aku keluar dari masjid dan terduduk di trotoar jalanan jedah.

Disana terlihat sebuah restoran bertuliskan “Indonesian Food”, tulisan itu menggodaku. Tapi.. tak mungkin jika laptop ini ku jual..

Sisa uang disaku ku hanya cukup untuk mencapai Masjidil Haram..

Uang itu akan kupakai juga untuk mencetak email di Laptop ini agar aku segera mencapai Al Haram dan mengikrarkan do’a titipan teman temanku. Itu adalah amanah dari sahabatku di Indonesia..

Iftar ramadhan ke 24 ini saya menelan 3 biji kurma dan segelas air putih.

Maha Suci Engkau yang telah melukiskan kepadaku suasana lapar saudaraku disomalia..

Mudah bagi Mu jika Engkau menghendaki..

19.35pm

24 Agustus 2011

Aku kembali ke hotel membuka laptop itu dan menulis hikmah ini.

to be continue..insha Allah.

Warm Regard..

nai✿ܓ

Northen Jeddah – Saudi Arabia.

23.01pm 24/08/2011

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *