Bismillah asholatu wassalamu ala Rosulillah wa’ala aliyhi wa shohbihi ajma’iin. Amma ba’du. Alhamdulillah, segala puji hanya bagi Allah Rabb yang maha luas dan kekal kasih sayang-Nya. Sholawat salam semoga senantiasa Allah curahkan kepada Nabi kita, Muhammad Sholallahu Alaiyhi wa Sallam, para istrinya, keluarganya, keturunannya, sahabat-sahabiahnya, tabiin dan tabi-tabiin, para ulama serta seluruh ummat-Nya yang tetap sabar dan memegang teguh manhaj yang sahihah..

?Definisi Tazkiyyah An Nafs.

Tazkiyyah An Nafs, dibagun dari dua suku kata. Yaitu tazkiyyah dan nafs, tazkiyyah berasal dari kata “zakah” artinya suci, tumbuh.

slide048

Perhatikan dua suku kata dalam bahasa arab diatas kata “Tazkiyyah an Nafs”.

Kata Tazkiyyah artinya menyucikan, menumbuhkan, penghijauan, merehabilitasi, to rehabilitate, “me-rehab”. Rehab Hati..

Sedangkan kata “An Nafs”, dalam al Qur’an bermakna lima hal; kadang dia bermakna Jiwa, Ruh, Jiwa dan Jasad, Qalbu kadang juga bermakna Akal. Namun yang dominan bermakna Jiwa, sebagaimana kita temukan dalam ayat “Kullun nafsin daa iqotul mauut”, artinya; “Seluruh jiwa akan merasakan mati”.

Tazkiyyah an Nafs atau tazkiyatunnafs secara sederhana berarti penyucian jiwa dari kotorannya untuk mengembalikan hati pada fitrahnya – sebuah kondisi awal pada hati manusia saat ia diciptakan – dimana ia memiliki kekuatan untuk berjalan dan mengadakan persiapan-persiapan, bertemu dan menuju rabbnya disana. Disyurga..

Sebagaimana halnya jasad, jiwa pun membutuhkan makanan agar ia bertahan. Jiwa perlu dibersihkan dan dimaintain dari waktu kewaktu, diberi perhatian dan dipenuhi seluruh kebutuhannya. Jika hal ini diabaikan maka jiwa akan lapar dan kehausan, lemah, sakit dan mati fungsinya.

Jika di analogikan, fungsi jiwa mirip dengan sistem operasi pada sebuah perangkat komputer atau handphone. Sebuah handphone terdiri dari 3 komponen; hardware atau perangkat keras, software atau perangkat lunak, dan operating system atau sistem operasi. Untuk menyalakan ketiga komponen diatas maka kita membutuhkan listrik atau baterai agar ia menyala (hidup). Sistem operasi hanya akan berfungsi jika ada listrik. Sistem operasi akan bekerja lamban jika terlalu banyak program aplikasi. Sistem operasi perlu refresh, resset, atau bahkan reinstalling jika kinerjanya lamban.

Jika kita perhatikan maka jiwa manusia pun demikian. Jiwa ini laksana nyalaan semangat yang tersimpan dalam dada. Semangat kehidupan itu akan menyala jika ada ruh yang tersimpan pada jasad. Jika ruh dan jasad itu dipisahkan maka nyalaan kehidupan itu akan mati. Sebagaimana hilangnya nyalaan sistem operasi saat baterai dan prosessor dipisah atau tidak terkoneksi lagi. Ruh manusia Allah titipkan pada jasad untuk massa waktu tertentu, sama dengan listrik yang tersimpan dalam baterai yang akan menghidupkan handphone dalam masa waktu tertentu.

Jiwa beda dengan jasad, maka dari itu kebutuhan dan perawatannya pun jelas berbeda. Tubuh butuh makanan, dan butuh air untuk perawatannya (pembersihan) sementara jiwa perlu al Qur’an sebagai makanannya dan perlu Dzikir sebagai pembersih dan penjaganya.

Jiwa perlu sebuah metode penyucian agar kinerjanya tetap statis dan kuat sebagai mana fungsi awalnya. Jiwa perlu disucikan sebelum al Qur’an masuk dan tinggal disana. Jadi tazkiyyatunnafs merupakan upaya penyucian jiwa dari berbagai kotorannya, agar cahaya-Nya kembali berfungsi dan menjadi energi kehidupan.

Lalu, apa korelasi atau hubungannya Tazkiyatunn Nafs dengan ruqyah atau penyakit saya ini?

Ruqyah ini, adalah metode pengobatan umum. Sama dengan rumahsakit, kalau kita sakit kerumahsakit. Tapi kemudian dokter memisahkannya, ada yang disuntik, dioperasi atau diminumkan obat saja. Tidak semua penyakit itu disuntik.

Catat, tidak semua penyakit disuntik. Kenapa, karena rumah sakit atau pengobatan itu sifatnya umum. Sementara penyakit itu sifatnya ‘personal’.

Sekali lagi, ruqyah itu adalah pengobatan umum sementara penyakit itu adalah sesuatu yang sifatnya personal atau pribadi. Pri-ba-di. Saat kita maksiat, itu adalah dosa yang pribadi. pri-ba-di. PRIBADI! Maka tidak bisa, seluruh maksiat kita digabung saja dan ditebus dengan istighfar plus beberapa ruqyah. Apalagi hanya ruqyah massal saja. Akankah semua sihir itu berlalu dengan santai dan malas, seolah-olah Allah itu jauh diatas langit sana itu tidak mendengar dan tidak melihat?

Sebelum saya melanjutkan izinkan saya berkisah.

Puncak Bogor, 2013 atau 2014. Waktu itu sessi demontrasi ruqyah, ada seorang kakek muda. Semangat. Mengajukan dirinya untuk jadi sample, diruqyah langsung di panggung.

Beliau adalah peruqyah, pengalamannya 12 tahun!

Keluhan beliau adalah, setiap kali habis meruqyah selalu merasa kenyang. Padahal, saya kalau habis meruqyah itu rasanya laparrrrr….

Setelah disentuh diperutnya dan dibacakan ayat, beliau mengeliat dan kesakitan. Dia merasakan perutnya sangat kenyang. Apa yang terjadi ikhwah?

Beliau saat itu memberikan testimoni langsung, tentang keadaan perutnya (setelah konfirmed bahwa disana ada syaitan!) bahwa dahulu, sebelum 12 tahun jadi peruqyah beliau 20 tahun jadi dukun.

Jadi hitungan matematisnya 20-12=8, masih ada 8 tahun perjalanan panjang yang harus dibayar lunas. Sementara usianya, saat itu sudah masuk kepala 6 atau 7.

Maka disini, kita harus mencari “shorcut” atau jalan pintas untuk melipat waktu itu, mengintip rahmat yang ditebarkan malaikat suruhan Arrahmaan…

Adakah cara untuk membayar tuntas semuanya?

Tazkiyatunnafs adalah solusinya, kita harus mengkoneksikan kekuatan-kekuatan dihati kita dengan al Qur’an. Agar tenaganya bersinergi dan mengusir mahluk-mahluk terkutuk yang telah lama bersembunyi itu.

Karena al Qur’an tidak bisa sendirian, ia butuh pendamping. Semacam poligami, yang ia adalah sunah yang tidak tertolak. Ia butuh kematangan aqidah, ilmu syariah dan istiqomah dalam sunah-sunah lainnya.

Al Qur’an itu laksana parfume, kata Nabi [sholallahu aliyhi wa sallam] jika ia dibaca. Namun jika ia disimpan dalam dada, dalam mushaf, tidak dibaca, tidak dipakai maka seperti parfume didalam botolnya.

Maka, al Qur’an dalam ruqyah saya katakan juga sama seperti fungsi parfume. Ia hanya akan bekerja [mewangikan tubuh kita] setelah kita mandi dan memakaikan baju baru.

Jadi, jika ingin mendapati fungsi maksimal dari parfume itu minimal langkahnya ada 3 hal. Lepas baju lama. Mandi, keringkan. Pakai baju baru [bukan baju dulu yang kotor]. Barulah menggunakan parfum. Jika kita memaksakan diri memakai parfume, tanpa mandi atau terus bergelimang dalam kotoran. Maka akankah parfume itu bekerja?

Tidak, sekali-kali tidak!

Siang diruqyah, keraksukan. Agak enakan. Malam durhaka sama suami…

Siang diruqyah, keraksukan. Agak enakan. Besoknya berzina lagi sebagaimana biasanya. Seakan tidak membekas!

Bangun tidur, ambil sepatu, semprot parfume, lari ke kantor. Berharap bau tubuhnya hilang ditelan parfume yang setitik?

Akankah bisa?

Tidak, karena ada dua bau yang saling berlawanan. Maka al Qur’an enggan menyentuh qalbu yang kotor. Ia adalah suci, tidak mau diam ditempat-tempat yang kotor. Haram baginya kesembuhan.

Oleh sebab itu, sebelum al Qur’an itu dibacakan kita harus persiapkan qalbu. Untuk menyambutnya dengan suka cita. Agar al Qur’an itu diam dan membekas. Stay in our heart

Baik, kembali keatas. Ruqyah itu pengobatan yang universal, sementara penyakit itu adalah something personal. Sesuatu yang sangat pribadi. Sementara kesakitan yang nampak dipermukaan [jasad] ini adalah buah dari akar masalah didalam sana. Maka kita harus menggali penyakit dari akarnya; akar semua masalah adalah kesalahan… atau dosa. Dosa yang mana?

Jiwa, Jasad dan Ruh..

Nabi sholallahu alaiyhi wa sallam, suatu ketika sedang berjalan bersama sahabatnya.. dan melewati pekuburan. Beliau melihat ruh dalam kuburnya itu sendang disiksa, dan beliau ambil pelepah kurma lalu diletakan diatasnya dan bersabda; “Berdo’alah wahai para sahabatku!”

Para sahabat terdiam seakan ada burung dikepalanya, nabi mengulang-ngulang perkataan itu hingga 3 kali tanda sebuah keseriusan.

“Berdo’alah wahai para sahabatku, berdo’alah kalian dari azab kubur… ”

“Sesungguhnya saat seorang mukmin itu sudah sampai pada kematiannya, maka malakul maut itu turun dari langit dan membawa wewangian dari syurga dan kain kafan yang putih…

Lalu sesampainya diwajah orang mukmin itu ia letakan tangan didahinya dan ruh itu naik kekerongkongannya, laksana airrrrrr mengalir dari kendi. Mudah.. indah..

Lalu malakul maut membawa ruh itu kelangit, dan para malaikat dilangit pertama membukakan gerbang sambil bertanya; aduhai! ruh siapakah yang wangi ini?

Maka, malaikat itu menjawab dengan bahagia; “ini adalah ruh-nya A bin B, dahulu nama baiknya adalah anu… ”

Maka terkenallah ruh itu diseluruh penghuni langit, ayahnya pun terkenal. Seorang hamba sedang menuju hamba-Nya yang ridho kepadanya.

Begitupun langit yang ke dua, ke tiga, empat hingga langit yang ke 6, dan di sidratul muntaha itu dia diberikan catatan amal baiknya yang bernama kitab illiyyin dan ruhnya dikembalikan ke jasadnya dikuburan. .

Lalu, sebelum masuk ke alam barzakh..

“Marrobuka! siapakah robb kamu… ?”

Maka ruh ini menjawab Allah..

Kemudian ia didatangi oleh laki-laki yang baik, dan ruh itu bertanya; siapakah anda wahai fulan?

Maka laki-laki itu menjawab, ‘aku adalah amal baik kamu, dan aku akan temani kamu hingga hari kiamat’. Maka dikisahkan dalam hadits lain kubur itu meluas, berubah menjadi taman-taman syurga, ia tertidur hingga hari kebangkitan nanti.

Sebelum ia mendapat kenikmatan kubur, ia berdo’a; “ya Rabb, percepatlah hari kiamat hingga aku segera bertemu dengang orang-orang yang aku cintai di dunia. .

Nabi, melanjutkan..

Saat orang jahat itu mati!!

Saat tiba kematian kepada orang-orang mungkar!

Saat Allah menghentikan dosa-kemaksiatan dan kedzaliman dan kekufuran seseorang

Saat batas waktu kehidupan dunia itu tiba kepada orang-orang fasik..

Saat menjelang sakaratul maut bagi orang jahat, maka malaikat itu turun.. dengan tubuh hitam mencekam…

Malaikat maut itu duduk di samping kepalanya. dia menghardik ruh itu dengan kalimat, ‘Wahai ruh yang busuk, keluarlah menuju murka Allah.’

Ruhnya ketakutan, dan terpencar ke suluruh ujung tubuhnya. Lalu malaikat maut menariknya, sebagaimana gancu bercabang banyak ditarik dari wol yang basah. Sehingga membuat putus pembuluh darah dan ruang tulang. Dan langsung dipegang malaikat maut.

Dalam ayat lain diriwayatkan lebih mengerikan lagi, malaikat maut itu turun…..

وَلَوْ تَرَىٰ إِذْ يَتَوَفَّى الَّذِينَ كَفَرُوا ۙ الْمَلَائِكَةُ يَضْرِبُونَ وُجُوهَهُمْ وَأَدْبَارَهُمْ وَذُوقُوا عَذَابَ الْحَرِيقِ

Kalau sekiranya mereka melihat ketika para malaikat maut itu mencabut ruh orang-orang yang kafir, [mereka turun] seraya memukul muka dan belakang mereka (dan berkata): “Rasakanlah olehmu siksa neraka yang membakar”, (tentulah kamu akan merasa ngeri). [Al An Faal ayat 50]

Lalu setelah ruh itu lepas secara paksa dan keluar dengan bau busuk, malaikat mengambilnya. Memegangnya dan membawanya kelangit..

Setiap kali mereka melewati malaikat, malaikat itupun bertanya, ‘Ruh siapah yang buruk ini?’ Mereka menjawab, ‘C bin D.’ dan ini nama buruknya ketika di dunia – hingga mereka sampai di langit dunia. Kemudian mereka minta dibukakan, namun tidak dibukakan. Ketika itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca firman Allah,

لَا تُفَتَّحُ لَهُمْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَلَا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى يَلِجَ الْجَمَلُ فِي سَمِّ الْخِيَاطِ

(Orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya), tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lubang jarum. (QS. Al-A’raf: 40)

Kemudian Allah berfirman, ‘Tulis catatan amal hamba-Ku di Sijjin, di bumi yang paling dasar.’ Kemudian dikatakan, ‘Kembalikan hamba-Ku ke bumi, karena Aku telah menjanjikan bahwa dari bumi Aku ciptakan mereka, ke bumi Aku kembalikan mereka, dan dari bumi Aku bangkitkan mereka untuk kedua kalinya.’ Kemudian ruhnya dilempar hingga jatuh di jasadnya. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca firman Allah,

وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَكَأَنَّمَا خَرَّ مِنَ السَّمَاءِ فَتَخْطَفُهُ الطَّيْرُ أَوْ تَهْوِي بِهِ الرِّيحُ فِي مَكَانٍ سَحِيقٍ

Barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, Maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh. (QS. Al-Haj: 31)

Kemudian ruhnya dikembalikan ke jasadnya, sehingga dia mendengar suara sandal orang mengiringi jenazahnya ketika pulang meninggalkan kuburan. Kemudian datanglah dua malaikat, gertakannya keras. Merekapun menggertak si mayit dan mendudukkannya. Mereka bertanya: ‘Siapa Rabmu?’ Si kafir menjawab, ‘bb..bbb aku tidak tahu.’ ‘Apa agamamu?’, tanya malaikat. ‘hah..hah.. saya gak tahu,’ jawab si kafir. ‘Siapakah orang yang diutus di tengah kalian?’ Si kafir tidak kuasa menyebut namannya. Lalu dia digertak: “Namanya Muhammad!!”, si kafir hanya bisa mengatakan, ‘hah..hah.. saya gak tahu. Saya cuma mendengar orang-orang bilang seperti itu.’ Diapun digertak lagi: “Kamu tidak tahu dan tidak mau tahu.” Tiba-tiba ada suara dari atas, “Hambaku dusta, bentangkan untuknya neraka, bukakan pintu neraka untuknya.”

Diriwayatkan dalam hadits lain, setelah ruh itu masuk kedalam jasadnya dikuburan, maka ia didatangi lelaki buruk rupa dan menakutkan dan ia bertanya kepadanya; “siapakah kamu, aku tidak pernah mengenalmu?”

Maka laki-laki itu menjawab; “Aku adalah amal buruk kamu, dan aku akan siksa kamu hingga hari kiamat”. Maka ruh manusia itu berdo’a, ya Rabb.. perlambatlah adzab kubur ini agar aku tidak bertemu hari kiamat..

Hadits diatas diriwayatkan imam Ahmad 18543, Abu Daud 4753, juga Sahih Muslim.. dll

Dari hadits diatas, kita mengambil banyak kesimpulan. Terutama sekali tentang ruh yang tidak bisa gentayangan begitu saja setelah kematian tiba..

Dan, yang terpenting dalam kajian kita adalah tentang keterpisahan Ruh, Jiwa dan Jassad.

Ruh itu adalah sesuatu yang hidup, dan jasad adalah sesuatu yang mati. Ketika ruh itu ditiupkan kepada jasad, maka lahirlah JIWA. Jiwa ini yang kemudian nanti merasakan MATI saat dipisahkan jasad dengan ruh tadi.

Jiwa ini laksana nyalaan kehidupan, jika jiwa ini menyala maka berfungsilah ruh dan jasadnya. Namun jika jiwa kita terbelenggu ‘sesuatu’ maka ruh ini diam dan jasad kaku tidak berfungsi, atau ‘difungsikan’ oleh sesuatu tadi.

Kita belum bicara syaitan disini, karena belum masuk bahasan itu. Namun yang jelas, jiwa itulah yang selama ini merasakan sakit, takut, sedih, layu, senang, terbelenggu, terpenjara dan lain-lain.

Baiklah sedikit gambaran. Kondisi manusia yang normal, jiwanya menyala ia bebas tidak terpenjara. Kondisi keraksukan syaitan, tersihir, gangguan syaiatan maka jiwa itu dibelenggu ‘ruh’ jahat, dikuasai dan diambil fungsinya.

Sehingga ‘out put’-nya adalah seperti syaitan. .

Jiwa, sebagai mana jasad memerlukan makanan. Recharge. Dimandikan. Dibersihkan. Dipelihara…

Jika tubuh kita mandi 2 kali sehari, maka jiwa, setidak-tidaknya butuh mandi 5kali sehari [sholat 5x sehari, bukan 5h se-kali ]

Jika jiwa manusia shalat 5x sehari, berjamaah dimasjid bagi laki-laki, dan tepat waktu bagi wanita. Maka catat, jiwanya sehat. Jika bangun subuh saja susah maka pastikan jiwanya sakit, atau ia sakit jiwa.

Tubuh kita perlu makan sehari 2 kali, atau seminggu 12 kali. Kalau makannya seminggu hanya sekali. Maka hasilnya pasti lemas. Jiwa kita pun demikian, ia butuh makanan berupa Dzikrullah. Ibnu Taimiyah Jauziyyah rahimahullah mengatakan bahwa Dzikir pagi itu sarapan bagi jiwa.

Jika seminggu tidak dzikir pagi bagaimana kabar jiwanya?

Jangankan satu minggu tidak sarapan, seharian saja tidak sarapan tunggu sampai jam 2 lutut sudah gemetaran.

Makanya, begitu mudahnya hati bergetar ketika melihat kemaksiatan karena memang tidak diberi sarapan.

Begitu lemahnya jiwa, begitu mudahnya dibisiki syaitannnnnnn! karena memang tidak diberi makan bertahun-tahun. Kita bersyukur qalbu itu masih hidup. Meski getarannya sangat lemah.

 

Coba bayangkan, orang paling kekar di dunia ini. Siapa saja yang anda ketahui. Beliau jangan dikasih makan lima hari.

Maka sehebat apapun ketahanan fisik beliau, ia akan merasa lemas. Maka jiwa kita pun demikian lemasnya dalam menyambut seruan karena memang jarang dimandikan, jarang diberi makanan.

Sebagaimana jasad, hidup kita tidak berimbang, lebim mementingkan jasad/tubuh/materi daripada ruhani/spiritual/imateri. Makanya lebih rame mall  daripada masjid. Hingga detik ini diseluruh tempat yang saya kunjungi di dunia.

Maka, secara global islam kalah dan jumlah orang sakit karena syaitan 900% lebih banyak daripada orang yang mengobatinya.

Kondisi semakin sulit, saat manusia tidak percaya bahwa syaitan itu ada dan merusak manusia. Lengkaplah penderitaan ibu, suaminya tidak percaya bahwa ibunya keraksukan syaitan. Hingga suami ramai-ramai menikah lagi. Dan istri beramai-ramai minta cerai. Mengira bahwa hidup sendiri itu bebas [apa bedanya dengan kata liberalism]

Jadi, tazkiyyah an nafs itu intinya adalah menyucikan jiwa itu dari belenggu-belenggu dan kotorannya sehingga ia kembali kepada fitrahnya yang kuat. Kuat bangun subuh. Kuat dalam ibadah. Kuat saat diuji. Kuat untuk tidak minta cerai

Kuat untuk menafkahi. Kuat untuk terus berjalan menuju rabbnya.

Penting tidak hal ini?

Penting. Bahkan yang terpenting. Karena tujuan diciptakan kita ini bukan untuk jadi pedagang, pekerja pabrik atau kerja di Hongkong. Tetapi jadi ahli ibadah. Menjadi pedagang yang taat kepada Allah, menjadi pekerja pabrik yang tidak menyekutukan Allah, bekerja di Hongkong sambil meningkatkan kualitas penghambaan kepada Allah..

Kalau kita lemah dalam ibadah, lemah dalam sedekah, lemah dalam merespon seruan kebaikan, maka sebabnya adalah karena jiwa yang lemah, karena tidak pernah diperhatikan kesehatan dan makanannya.

 

Baiklah, agar rileks…

Saya ingin bercerita tentang Prof. Haryadi Said, beliau tinggal di Gorontalo (mantan dosen di Universitas Gorontalo). Beliau ber-title professor sejak 1986 dan meminpin [menjadi rektor] untuk 8000 lebih mahasiswa-mahasiswi selama 8 tahun. Akhirnya beliau mengundurkan diri di usia 70. Saat bertemu, usia beliau 74an.

Beliau sakit jantung, ironisnya beliau ini profesor dibidang olahraga. Dan, dari hasil sakit jantungnya 2 tahun terakhir itu beliau turun berat badannya sebanyak 15 kilogram. Ini angka yang unik, saya punya berat badan 154 kg, dan akan sangat bahagia kalau dikilo jadi 155. Tapi itu jarang terjadi sejak SMA hingga 15 tahun kemudian, namun setelah aktif meruqyah, rehab dll. juga menikah, dan punya anak sekarang berat badan sudah 70an.

Proffessor Haryadi Said, beliau berat badannya turun hingga 15kg. Di Citi Scann, MRI, dan lain-lain di makassar dn jakarta tidak menghasilkan apa-apa. Sehat. Secara jasmani. Akhirnya beliau googling ruqyah, bertemu rehab hati, datang ke jakarta, saya tidak ada, Ummi Wanti, saat itu yang tunggu rumah rehab, merujuk beliau ke ust. Laode Sahara di Gorontalo. Beliau pulang betemu Laode, duta rehab hati di Gorontalo … ternyata pa Laode ini dosen beliau. Ngobrol, ruqyah, muntah-muntah, silat-silat. Baikan, mengajak untuk mengadakan event rehab hati. Event 2 hari di UIN Gorontalo, beliau duduk paling depan. Mencatat. Menangis. Rujuk.

Beliau mengatakan; “Ustadz. 28 tahun perjalanan saya menjadi professor ahli dibidang kesehatan dan memegang teguh filosopy “mensana el korporesano” bahwa dalam tubuh yang sehat ada jiwa yang kuat, itu hancur dalam 2 hari. Hancur, dan yang benar itu sebaliknya; dalam jiwa yang kuat ada tubuh yang kuat. Karena kalau kita lihat, orang gila dijalan tubuhnya kuat dan sehat namun jiwanya sakit.

Sekarang mari kita lihat diri sendiri. Baju kita ini baik, syar’ie. Menawan. Tubuh dimandikan. Rumah. Mobil. Cantik. Giliran sholat ,yang merupakan object vital tugas manusia kenapa masih menguap? Mengantuk, lemah, susah…

Kenapa ibadah ini susah, kenapa jiwa lemah? Karena porsi usaha kita selama ini menitik beratkan pada ja-sad. Dan melupakan ji-wa. Kemudian direbutlah jiwanya oleh syaitan, dan kita komplain, berharap ayat kursi yang dipajang di pintu bisa jadi supersecurity-sistem. Kita komplain, sedekah kita yang 5ribu rupiah itu berharap menolak 70 puluh bencana.

Kita marah kepada Allah, karena sudah sholat namun do’a belum diterima. Seakan-akan kalau sudah sholat, pakai jilbab, pakai kaus kaki, do’a harus diterima. padahal nabi Adam alaiyhi sallam itu 300tahun bertaubat, —terpisah dari istrinya, dibumi, yang saat itu memang belum ada siapa-siapa—  lalu rahmat-Nya turun..

Kita benar-benar lupa kelalaian, terutama hak jiwa yang selama ini terabaikan.. kita lupa, yang seandainya saja tidak ada syaitan barang kali tubuh kita ini sudah terjungkal keneraka karena jiwa sudah lama mati.

Baik, penjelasan panjang diatas berupaya memahamkan kepada akal kita tentang definisi secara logis melalui berbagai analogi dan kisah baik yang terdapat dalam Al Qur’an dan hadits ataupun kisah yang saya alamai. Intinya Tazkiyah An Nafs adalah penyucian jiwa dari kotorannya agar ia kembali kepada fitrahnya yang kuat, tenang dan hebat. Memiliki cahaya untuk terus berjalan, menuju sebuah pertemuan yang dijanjikan.

Selanjutnya, mari kita gali lebih dalam lagi tentang hujjah atau dalil yang mendasari kajian ini. Agar keyakinan dan pemahaman kita kokoh dan mendasar, sebagai langkah awal untuk melakukan perubahan besar-besaran dalam perbaikan pondasi ruhani kita.

Dalam al Qur’an kita akan menemukan banyak isyarat tentang betapa pentingnya tazkiyyah an Nafs, misalnya dalam surah as Syam ayat 8-10:

وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا -٧- فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا -٨- قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّاهَا -٩- وَقَدْ خَابَ مَن دَسَّاهَا -١٠-

“Dalam penciptaan jiwa dan penyempurnaannya. Allah ilhamkan sifat ingkar dan taqwa. Beruntunglah orang yang menyucikannya. Dan merugilah orang yang mengotorinya” [As Syam 7-10].

Jasad adalah sesuatu yang terlihat, sehingga tidak diperintahkan pun manusia sudah peduli terhadapnya. Namun jiwa adalah sesuatu yang abstrak, sehingga Allah memuji orang yang peduli dan membersihkannya. Ini juga mencerminkan betapa pentingnya pembersihan di sektor jiwa bagi manusia sihingga Rasulullah sholallahu alaiyhi wa sallam sendiri bersabda;

 ” أَلا وإِنَّ فِي الجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الجَسَدُ كُلُّهُ وإذَا فَسَدَت فَسَدَ الجَسَدُ كُلُّهُ أَلا وَهيَ القَلْبُ.“ رواه البخاري ومسلم.

“Ketahuilah, sesungguhnya dalam tubuh manusia ada segumpal daging, jika segumpal daging itu baik, maka akan baik seluruh tubuh manusia, dan jika segumpal daging itu buruk, maka akan buruk seluruh tubuh manusia, ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati manusia.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Setiap manusia wajib berdosa, dan kemudian kita diwajibkan untuk bertaubat. Tentu banyak hikmah didalamnya, diantaranya saja, hikmah dari dosa adalah agar kesombongan. Sekali lagi. Agar Kesombongan. KESOMBONGAN. Didada kita runtuh. Sehingga kita tidak merasa suci.

Setelah kita berdosa, maka kemudian kita merenungi bahwasannya kita ini sangat lemah. Lemaaaaaah sekali.

Kemudian bersujud lagi, dan terus begitu sehingga saat kematian kita kelak bersihlah kita dari dosa-dosa itu. Itulah yang diinginkan Rasulullah Sholallahu Alaiyhi wa Sallam. Beliau inginkan ummatnya, ringan langkahnya tanpa beban dosa saat dibangkitkan di Alam Mahsyaaarrrrrr dan berjalan menuju hari hisab tanpa rasa takut. .

Setiap manusia berpotensi berdosa, karena memang diberikan ujian berupa nafsu tadi. Tidak seperti malaikat yang tidak diberikan nafsu. Jin dan manusia diberikan nafsu. Hai jin, dengarkan. Semoga Allah ta’ala memberi rezeki yang sangat mahal berupa taufiq dan hidayah-Nya malam ini dikarenakan kalian menyimak dan tidak mengganggu hamba-hamba Allah ini.

Jadi, seluruh jin dan manusia memang berpotensi untuk berbuat dosa. Namun, yang terbaik diantara mereka adalah yang kemudian bertaubat. Tidak ada kata terlambat untuk bertaubat, karena selama kita masih hidup. Artinya kita masih diberi kesempatan untuk menjemput magfirah Allah tersebut.

Allah memuji-muji orang yang senantiasa menyucikan jiwanya. Bangga tidak, misalnya, anak kita jadi juara olimpiade fisika sedunia. Lalu beliau disalami pa Prof Habibie, dan diumumkan ditelevisi?

Ini dipuji Allah subhanahu wa ta’ala pencipta langit dan bumi. Kalau Allah memuji hamba-Nya dibumi, maka ia akan panggil Jibril alaiyhi sallam dan berkata; “Wahai jibril, aku mencitai si fulan dibumi, maka cintailah oleh kamu…”

Lalu jibril, akan memanggil seluruh malaikat di 7 lapis langit dan mengumumkannya bahwa ‘Allah mencitai si fulan bin fulan di bumi, maka cintailah oleh kalian!’ dan seluruh penghuni langit mencintainya.

Makaa, kata Nabi. Barangsiapa dicintai penduduk langit, maka ia akan dicintai penduduk bumi.

Kenapa?

Do’anya di aminkan para malaikaat. Cukup sekali do’a, jutaan, atau milyaran malaikat mengaminkan do’anya di 7 lapis langit dan malaikat-malaikat rahmat seisi dunia. Baiklah, itu review dan tambahan untuk materi sebelumnya tentang Definisi tazkiyatunnafs.

 

NURUDDIN AL INDUNISSY
Founder RehabHati