Menu Close

tentang Cinta | ch1

lihat dalam-dalam dengan hatimu,
wajah orang yang paling kita cintai saat ini. jika dia telah tiada maka coba ingat-ingat kenapa dulu kita mencintainya.

dalam beberapa menit saja kita akan menemui jawabannya,
benar kita mencintainya karena dia telah menggantikan banyak hal yang tidak bisa kita lakukan, atau dengan kata lain dia banyak memberi hal yang kita butuhkan.

kita sangat menyadari bahwa dia adalah si pemberi ‘kebutuhan’ hingga kita begitu bergantung kepadanya. kita merindukan kehadirannya dan merasa berat untuk ditinggalkan, bahkan kita mengenangnya saat dia tidak bersama kita.

jadi, kesadaran itulah yang membuat kita cinta kepadanya.
baik, sekarang saya bertanya; kenapa kita sangat mencintai dan terikat kepada dunia ini padahal kita akan segera meninggalkannya dalam beberapa puluh tahun kedepan?

jawabannya mudah, namun sebenarnya bukan jawaban itu yang menjadi inti renungan yang ingin saya ketengahkan malam ini.

mari kita sejenak ajak jiwa kita kembali kemasa lalu, saat kita masih sering tertawa daripada merenungi masalah-masalah. saat kita masih bebas dan tidak terikat banyak belenggu yang menjerat kaki kita. saat itu kita mencintai ayah atau ibu kita, bahkan hingga saat ini ada yang masih menjaga cinta itu.

kemudian ketika kita beranjak remaja,
cinta itu mulai berpindah, kita lebih mencintai seseorang yang mengerti perasaan kita. kita lebih mencintai seseorang yang benar-benar menjawab cinta kita.

kenapa?
karena saat itu kita mulai memiliki ‘kebutuhan’ yang tidak bisa dipenuhi orang tua kita. yaitu syahwat..

jadi kita lebih mencintai ‘pacar’ atau seseorang yang kita ‘kagumi’, meskipun hal itu salah.

ketika kita beranjak dewasa,
kita hampir benar-benar melupakan cinta kita kepada orang tua yang melahirkan kita, kenapa?

karena kita menemukan kebutuhan yang mencekik kita, istri, anak dan banyak obsesi yang tidak bisa dipenuhi oleh orang tua kita. dan memang, tugas orang tua kita disana selesai. kita telah bebas menentukan pilihan.

cinta kepada orang tua dulu muncul karena mereka selalu memenuhi kebutuhan kita, namun ketika mereka tidak lagi memenuhi kebutuhan mereka dan kita tidak bergantung kepada mereka kemudian hati kita berpaling. ini tentu dirasakan kebanyakan orang, dan saya sangat yakin.

padahal tanpa orang tua, kita tidak akan ada.
pertanyaannya adalah, siapakah yang menciptakan orang tua dari orang tua kita dari orang tuanya lagi?

siapakah yang memenuhi, menjaga dan menghidupkan orang tua dari orang tua kita dari orang tuanya lagi?

jawabannya adalah Allah.
lalu kenapa kita tidak mencintai Allah dalam hati kita?
karena kita tidak menyadari bahwa Allah lah yang memenuhi kebutuhan kita.

apakah benar demikian?
tidak perlu banyak energi untuk menjawabnya, baik itu menolak atau menerimanya.

ada saatnya kita jatuh sejatuh-jatuhnya, saat itu tak ada satu mata pun memandang kita haru. kita sangat sendiri dan banyak tamu yang berdatangan ke hati kita dan kita tidka bisa menolaknya; sedih, takut, putus asa bahkan kadang benci dengan kehidupan ini.

benci kepada kehidupan ini artinya benci kepada penciptanya.
padahal Allah azza wa jalla menatapi semua mahluk ciptaan-Nya dengan senyum kerahmatan.

namun kita bahkan lupa, bahwa diatas sana masih ada satu senyum?

sampai kepada kesimpulan pertama bahwa kita mengakui, bahwa kita tidak mencintai Allah saat kita mengeluhkan sesuatu tentang kehidupan ini.

kenapa?
karena kita tidak menyadari bahwa Allah telah memberi banyak hal untuk kita, padahal Allah lah penyebab kita masih hidup hingga saat ini untuk merasakan manisnya Iman dan lezatnya Islam.

wallahu ta’ala a’lam.
see you in the next beautiful momment, insya Allah.

sahabatmu,
Nururddin Al Indunissy

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.