Menu Close

tentang Cinta | CH8

Agar tetap indah, mencintai dalam lelah..

Mencintai akan menjadi pekerjaan yang melelahkan jika kita tidak pernah tahu alasan kokoh tentang tujuan kita mencintai. Sehebat apapun kita berikrar melancarkan aksi dalam mencintai, semuanya akan berakhir sia-sia dan kekecewaan tanpa disertai pengetahuan dan seni dalam mencintai. Namun, sungguh dicintai itu adalah buah paling manis dari semua bunga yang pernah mekar di jalanan yang pernah kita lewati dalam masa pencarian dulu.

Lalu bagaimanakah kita agar dicintai?
Jawabannya adalah sebuah pertanyaan sederhana. Sederhana sekali. Adalah tentang kejujuran dihati kita, yang bisa kita jawab sendiri, yaitu peristiwa yang biasanya berkecamuk dalam dada kita tentang alasan-alasan kita saat kita mulai “mencintai”.

Tentu jawabannya adalah rasa butuh, tidak sekedar ingin. Rasa butuh yang membuat kita menjadi pengemis dan patuh terhadap apa yang kita cintai. Kita merasa butuh untuk diberi, sesuatu yang selama ini tidak ada dalam diri kita. Karena mencintai itu memberi.

Namun, ketahuilah..
Ada dua typical dalam memberi. Ada “memberi” yang membahagiakan ada “memberi” yang merugikan bahkan memulai penderitaan saat kita mulai memberi.

Memberi yang membahagiakan adalah tehnik memberi yang luhur. Dimana tertanam makna-makna keilahiah, dengan ruh ikhlas dan pengabaian dari hal hal yang bersifat duniawiyyah yang suram fatamorgana.

Baiklah, perkenankan saya mengambil waktu anda beberapa menit lagi untuk menyederhanakan analogi tentang tehnik “memberi yang membahagiakan” yang nanti akan menebarkan panah-panah cinta yang menancap disetiap hati yang nanti akan mencintai kita dengan sendirinya.

Mari kita belajar dari dua orang petani, petani ke-1 yang sederhana namun bahagia dengan istana keikhlasan dihatinya yang luas tanpa batas. Dan petani ke-2 yang ladangnya selalu kering dan merugi. Padahal mereka ada di desa dan musim penghujan yang sama.

Suatu ketika kedua petani itu menanam pohon yang sama, dan mereka sama-sama menjaganya bertahun-tahun hingga besar. Ketika pohon itu kecil, setiap pagi mereka menyiangi semak yang mengganggunya dan ketika pohon beranjak dewasa dan meninggi mereka berlomba mematahkan parasit di dahan-dahannya hingga daunnya tetap rimbun dan batang pohonnya kokoh kemudian berbunga dan berbuah.

Mereka sama-sama tersenyum dan bahagia, meski dalam “dimensi niat” yang berbeda. Nah, ini dia maksud saya..

Hingga disini mereka terlihat sama dan bahagia, namun beberapa saat kemudian ada waktunya kedua petani itu merasakan sensasi buah yang berbeda dari pohon yang mereka tanam.

Petani ke-2 marah dan kecewa saat ia mengetahui buah dari pohon yang ia tanam dicuri kelelawar hingga ia begadang semalaman menjaga pohohn itu. Sementara petani ke-1 tetap bahagia dan dia tidur nyenyak di rumah bambu miliknya ditempat biasa. Tanpa ada kekhawatiran dan ketakutan buahnya dicuri mahluk Allah lain. Kenapa?

Hayo kenapa?
Kenapa engkau kecewa saat kekasihmu yang belum halal itu diambil orang hanya karena engkau pernah menjaga hatinya padahal Allahlah yang menjaganya?

Hayo kenapa?
Kenapa engkau kecewa saat buah hatimu atau seseorang yang engkau cintai diambil Allah padahal dialah pemiliknya?

Sederhana juga jawabannya.
Petani ke2 menanam pohohn dengan harapan bahwa kelak ia akan memanen, memakannya bersama keluarga dan menjual sisanya kepasar untuk mendapat uang sebagai ikhtiar untuk istrinya dari satu pohon tersebut.

Ehm..
Petani ke1 menanam pohon sebagai bentuk kecintaannya kepada Allah sebagai salah satu amaliah ibadahnya yang kemudian digabung dengan ikhtiar. Bedanya adalah, ia menyadari bahwa pohon buah yang Allah miliki itu tidak hanya satu atau sepohon dari yang ia tanam karena Allah memilki pohon-pohon lain yang bisa mendatangkan buah kepadanya asalkan Allah berkehendak disebabkan kerdhoan-Nya kepada dia.

Hingga sensasi keyakinan itu meliputi hatinya dan memusnahkan berbagai kekhawatiran tentang kerugian dalam perniagaan yang ia ciptakan dalam berikhitiar. Karena ia sedang berniaga dengan Allah yang tidak akan pernah mengenal rugi. Allahuakbar!

“Keterbatasan boleh saja membatasinya, namun tidak hatinya”. (Salim A Fillah)

Lalu apa korelasinya dengan cinta?
Iya, cinta itu adalah memberi. Seperti pa petani yang mengabdi untuk pohon tadi atas pengabdiannya kepada Allah. Ia mengharapkan hal lebih tinggi dari sekedar buah-buah duniawi yang nanti akan membusuk dalam perut dan keluar menjadi kotoran hina.

Dia menanam cinta dan menebarnya melalui bunga yang ditebarkan pohon itu hingga burung-burung riang berkicau dipohonnya, menikmati buah-buah yang ia suguhkan. Dan ia tersenyum bahagia..karena ia bisa memberi lebih banyak dan banyak lagi.

“Karena, mencintai dan dicintai itu ada dalam tempat yang berbeda” (Hanin Az Zahraa)

Memberi adalah sensasi kebahagiaan tersendiri baginya, adapun hal yang ia dapatkan adalah keyakinan tentang Rabb yang maha kaya dan tidak membutuhkan ikhtiar hamba-Nya. Hingga ia berpedoman dalam tali suci bahwa dirinya harus bermanfaat untuk ummat bukan mengambil manfaat dari ummat.

Allahuakbar!
Terimakasih atas pagi-Mu yang indah ya Rabb.


… …
Salam Bahagia,
SALAM TAUHID
NAI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.