Menu Close

tentang Cinta | Chapter 9

ini adalah tentangku
dan tentangmu juga, jadi biarkan saja ia meresap
menaburi hatimu, atau izinkan aku menulisnya untukmu atau untuk siapa saja

dijalanan yang kita lalui ini, biasanya kita akan menemui selintasan rasa rahasia yang disebut kesedihan. rasa yang tidak bisa dirahasiakan dari hati manusia, meski sering kali wajah berupaya menutupinya dengan pancaran ketegaran

wahai dinding yang bergetar, ketahuilah.. 
setelah sukses merebakkan bisikan kesedihan dihati manusia, syaitan akan berupaya agar kesedihan itu menyeruak keluar menjadi bibit-bibit prasangka, fitnah dan bahkan kesedihan-kesedihan lain. 

tentang kesedihanmu, maka katakanlah. . 
dunia ini bukan milikku, begitupun raga ini, hati ini dan cinta dan rasa didalamnya. aku milik-Nya dan akan kembali kepada-Nya, maka biarkan aku titipkan rasa ini kepada yang mengetahui setiap gemeletar kehalusan simpony yang menari-mari saling memaki

tentang kekecewaanmu, telitilah kembali.. 
apakah benar rabb-mu yang maha halus, maha cermat dan mengetahui setiap pegerakan setiap benda-benda dan debu di semesta raya ini telah salah mengirimkanmu takdir-Nya yang megah? 

ataukah ini tentang sibebal tidak tahu diri, yang sehari-harinya meratap dan enggan bangun dan berlari mengejar hari untuk sebuah kehidupan yang kekal?

ataukah kini kamu sudah munafik?
ataukah inilah dirimu yang sebenarnya!
sungguh ujian itu tidak ada yang mudah, dan membuatmu merasa patah, bahkan merasa tidak berguna. melupakan setiap masa seakan berlalu tanpa arti. 

sudahilah..
jika rasa itu telah mati
jika semangat itu telah padam
jika cinta itu sudah pudar cahayanya
maka sesungguhnya kita masih punya satu harapan
satu lilin yang akan menyalakan kembali rasa, semangat dan cinta itu. kembali melangkah seperti biasa, seperti dulu

seperti saat kita tidak pernah mengenal sebelumnya

ketahuilah adikku, 
dulu aku pernah berkata ditelingamu dari kejauhan
bahwa aku tidaklah lama di dunia ini

masih ingatkah tentang satu riwayat hadits yang juga pernah aku pahatkan; bahwasannya, “tidak ada dua orang yang saling mencintai kemudian terpisahkan, kecuali karena dosa diantara keduanya”. 

dengarkanlah wahai pagi yang diam.. 
semoga engkau mendengarnya, lalu mencatatnya dengan tinta-tinta bening dan serpihan kayu-kayu ketegaran; 

masalalu itu samasekali tidak mengancamu, mengancam kita atau siapapun. ia juga tidak membahayakan, ia hanyalah mimpi yang sakitnya hilang saat kita terjaga.

seandainya sakit itu masih ada, mungkin engkau belum benar-benar tersadar bahwa kita tidak lagi hidup di masalalu. iyah, kita tidak lagi hidup dimasalalu namun kita bertanggungjawab atasnya, maka jangan kita mengulangi kesalahan dengan menciptakan masalalu yang salah dihari ini. karena hari inipun akan menjadi masalalu 

mari kita ciptakan masalalu yang indah yang akan kita kenang di syurga nanti. karena sebentar lagi aku akan mati

sebentar lagi, 
hanya beberapa tahun lagi usiaku menginjak 30 
dan sipendosa ini berkata; “30 tahun ini teramat singkat”. 
mungkinkah ada 30 tahun lagi usiaku?

mari kemari, duduklah bersamaku
tak apa kita bercengkrama tentang kisah kemarin
namun, kumohon lepaskanlah ia di keranjang masalalu kita
dan anggaplah ia si masalalu; sahabat kita. 

“Semoga bekas-bekas pertemuan itu, mengantarmu ke syurga dan keridho’an Allah subhannahu wa ta’ala dimana engkau beristirahat dari letihnya dunia, bencengkrama, menjadi bidadari yang tidak akan pernah merasakan kecewa dan kesedihan lagi setelah kesedihan ini untuk selama-lamanya”.

Nuruddin Al Indunissy

1 thought on “tentang Cinta | Chapter 9

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.