Menu Close

Urgensi Management Kematian

Allah Berfirman: “Dan (alangkah ngerinya), jika sekiranya kamu melihat ketika orang-orang yang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Tuhannya, (mereka berkata): “Ya Tuhan kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami (ke dunia), kami akan mengerjakan amal saleh, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang yakin”.. (Qs As Sajdah : 12)

ღبِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيღ
Izinkan saya memulainya dengan sapaan salam dari syurga,
Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh. Semoga kesejahtraan, Shalawat serta salam selalu tercurah kepada kekasih Alam ✿ܓMuhammad Rasulullah Shalallahu ‘Alahi wassalam beserta keluarga, sahabat, tabiin tabiat dan pengikut yang setia dengan Assunahnya hinga akhir jaman.

Sahabat Renungkanlah…
Allah Subhana Huwwataala telah meletakan dua kelopak mata kita didepan sebagai pembelajaran yang menakjubkan, laksana sebuah isyarat agar kita senantiasa melihat kedepan, bukan kebelakang.

Muslim yang cerdas tidak hanya melihat kedepan dengan segala keindahan dan rintangannya, muslim yang cerdas mampu menggunakan penglihatan mata dan hatinya untuk fokus kepada satu titik yang pasti ia dilalui, yaitu sebuah jembatan yang akan menghubungkan kehidupan Dunia dengan Akhiratnya..

Jembatan Kematian,
Sebuah jembatan rahasia yang pasti akan dilalui semua Ruh Manusia..

Seorang muslim yang cerdas hatinya tidak gentar saat ujian dan musibah itu menerpanya.
Aktifitas berfikirnya akan terus terarah dan fokus pada jembatan yang harus ia ingat dan persiapkan, ia harus melewatinya dengan target “Khusnul Khatimah”. Ia sangat menyadari bahwa dunia ini kesemuanya hanyalah nuansa yang melalaikan. Sehingga ia tidak sempat risau ketika Dunia ini belum sempat ia genggam, karena ia sangat tahu dan sadar bahwa Dunia itu akan ia campakan selepas penguburan jasadnya.

Seorang muslim yang cerdas, hatinya tidak tergerak untuk memikirkan masalalu atau menyesalinya. Ia dapat dengan mudah memaafkan masalalu dan merelakannya menjadi kenangan berharga yang ia simpan di archive masalalunya. Ia sangat paham bahwa rangkaian kejadian yang ia temui adalah peristiwa peristiwa yang saling berkaitan yang membawanya kepada hari ini.

Ia memahami bahwa hari ini adalah hari terbaik yang sangat akan menentukan hari esoknya di Akhirat. Akhirat yang kekal dan teramat panjang. Baginya, hari ini pun terlalu singkat untuk sebuah persiapan hari yang Abadi. Sehingga ia menghargai hari harinya, memulai paginya dengan senyuman penuh harapan serta menutup malamnya dengan syukur.

Ia tidak ingin mencemari nuansa iman dihatinya dengan keluhan..
Ia tidak menangis saat kehidupan memaksanya untuk menangis, ia berusaha agar hari hari yang singkat ini tidak ditukar dengan tangisan Abadi di Akhirat..

Ia tidak patah ketika badai kehidupan menyeretnya..
Ia tidak melawan saat gelombang ujian itu datang, ia bangkit dan berselancar bersamanya..
Hingga gelombang demi gelombang ujian yang datang tanpa henti tidak membuatnya lelah, prahara ujian itu semakin memperkokoh dirinya dalam mengarungi samudra kehidupan..
Berlayar menuju pelabuhan terindahnya..

Subhanallah..
Hidup itu mudah, jika kita siap.

“Salah satu buah manis dari Iman adalah tumbuhnya Keberanian dan Anthusiasme Hidup dalam Jiwa seorang Muslim.

Ia pahami bahwa hidup ini adalah kehidupan untuk hidup yang Maha Hidup. Hingga ia akan segera meninggalkan hal hal yang tidak penting dan samasekali tidak berhubungan dengan masa depan Akhiratnya..
Ia tidak pernah merasa terancam atas sesuatu yang tidak akan membahayakan dirinya diakhirat, hingga hidupnya Bahagia.”

Dari pemikiran ini, kita akan memulai terbang kedalam sebuah nuansa, sebuah masa yang harus segera kita sikapi dengan kedewasaan, karena itulah masa depan yang sesungguhnya; Akhirat.

Sebelum melihat management kematian, mari kita sentuh nurani kita terlebih dahulu dengan sebuah berita menggetarkan dari Rasulullah saw yang dikemas dalam redaksi hadits Bukhari Muslim yang menggetarkan.

Abu Said Al-Khudri ra berkata bahwa Rasulullah saw bersabda;
“Pada hari kiamat nanti maut akan didatangkan seperti seekor biri biri yang berwarna keputih putihan, lalu dihentikan diantara Syurga dan Neraka. Lalu diserukan kepada Ahli syurga: Apakah kalian mengenal ini? Penghuni syurga membalikan lehernya kearah penyeru dan menjawab: Ya, Itu maut! Kemudian diserukan kepada Ahli Neraka: Apakah kalian mengenal ini? Kemudian merekapun membalikan lehernya kepada penyeru dan menjawab; Ya itu Maut! Kemudian diperintahkan agar maut itu disembelih… dan diserukan; Wahai ahli Syurga, keabadian dan tak ada kematian lagi! Wahai ahli Neraka, keabadian dan tak ada kematian lagi!

Lalu Rasulullah saw membacakan Surat Maryam ayat 39:

وَأَنْذِرْهُمْ يَوْمَ الْحَسْرَةِ إِذْ قُضِيَ الأمْرُ وَهُمْ فِي غَفْلَةٍ وَهُمْ لا يُؤْمِنُونَ

“Dan berilah mereka peringatan tentang hari penyesalan, (yaitu) ketika segala perkara telah diputus. Dan mereka dalam kelalaian dan mereka tidak (pula) beriman”.

Kemudian beliau menunjuk dunia dengan tangan beliau.

(Hadits Shahih Al Bukhari 4361, Muslim 5087, At Tirmidzi 2481 dan 3081)

Shadaqta Ya Rasulallah Sholallahu Alaihi wa Salam..
Inilah sebuah gambaran kengerian yang harus setiap saat terekam dalam ingatan..
Kepedihan kita di Dunia ini akan berakhir dengan maut, maut yang akan kita temui hanya satu kali, Rasulullah saw memperjelasnya dengan kisah penyembelihan sang maut…

Secara terang benderang beliau saw, ingin menggambarkan bahwa maut itu akan benar benar berakhir dan tidak ada kematian lagi, sepedih apapun azab yang akan menerpa kita di Neraka.

Rasulullah bersabda;
“Maut adalah perkara yang paling sulit, dan setelahnya akan lebih sulit lagi!”

Wahai saudaraku!
Apakah gerangan yang membuatmu mengeluh di Dunia yang akan engkau campakan ini? Seberapa pentingkah nilai dunia yang terus kita kejar kejar hingga tubuh ini begitu lelah..

Apakah gerangan yang mematahkan hatimu dalam permainan Dunia ini?
Pantaskah hatimu yang menagis itu terus bersedih untuk sesuatu yang tidak kekal..
Pantaskah kemiskinan itu terus mengkhawatirkanmu?
Pantaskah kekayaan itu terus menerbangkanmu dalam kemewahan dan kesombongan?
Haruskah beban yang kita pikul ini membuat kita lupa kepada siapa semuanya akan dipertanggungjawabkan?

Tentang Dunia ini tidak ada kekhawatiran sedikitpun..
Semuanya akan berakhir dalam maut, dan kehidupan sesungguhnya akan dimulai..

Maut adalah mimpi buruk yang akan mengahiri kisah kisah semua manusia di Dunia ini. Maut laksana sebuah peluru yang setiap saat mengintai kita..

Lalu Maut yang ditakuti itu akan ditampakan laksana sekor biri biri…
Lalu disembelih dan diakhiri…

Maut telah mati dan tidak ada kematian lagi..
Inilah akhirat yang kekal.. Inilah neraka yang juga kekal!

KEKAL…

Di lautan Neraka kelak tidak ada langit yang indah.
Tidak ada udara yang bisa kita hirup seperti saat ini. Disana tidak ada nelayan yang kita harapkan saat kita timbul tenggelam dipermukaannya yang mendidih..

Tidak ada pantai yang mungkin akan mendamparkan tubuh kita sesaat saja untuk beristirahat dari pedihnya..
Gelombang neraka tidak akan menyeret tubuh kita ketepian pantai, karena lautan itu berupa sekam yang tertutup..

Disana tidak ada maut yang akan mengakhiri penderitaan satu jiwa..

Cerita maut telah berakhir, tidak ada kematian lagi.

Tidak ada kekhawatiran tentang dunia ini.
Bersegeralah memulai rencana dan management kematian yang akan kita temui,
Sebelum semuanya terlambat..

Maha suci Allah..
Sungguh hati kita adalah dinding yang lalai..
Yang terus berpaling setelah seruan itu menyentuhnya..
Mengeras setelah Allah melembutkannya..

Sahabatku yang cerdas..
Dari ilustrasi diatas, selayaknya jiwa jiwa yang sadar segera memahami sebuah urgensi management yang harus didahulukan dari management management lainnya.

MANAGEMENT KEHIDUPAN yang baik memang akan membantu optimalisasi dalam mempersiapkan management kematian, tapi kemudian, urgensi MANAGEMENT KEMATIAN akan menjadi lebih penting – dari management kehidupan dan management apapun – karena kita benar benar tidak tahu kapan peluru kematian itu menghentikan semua rencana kita”.

Pertanyaan yang harus kita renungkan adalah,
Dalam usia berapakah kita akan menemui kematian dan kesan apakah yang sekiranya akan Allah Subhana Huwwa Ta’ala temukan dalam kematian kita?

Betapa ngerinya kata kematian ini..
Sebuah peluru yang sedang menuju kita, terus mendekat dalam detik demi detik yang kita lalui.
Peluru itu bernama “kematian”, peluru yang telah dilepas dari taqdir Allah Azza wajala 50 ribu tahun sebelum diciptakan bumi dan langit, peluru itu saat ini sedang menuju kita.

Sekali lagi, peluru itu saat ini berada dalam jarak rahasia tapi nyata, melesat dan akan mencapai mu di sebuah tempat dan waktu yang telah ditentukan oleh Perencanaan Allah yang tidak pernah meleset.

Kematian adalah bukan sesuatu yang harus ditakuti, tapi sesuatu yang harus kita persiapkan dengan terus mengoptimalkan profesionalisme dalam beramal untuk mendekatkan diri kepada ridha Nya..

Kita tidak bisa mengabaikan persiapan akhirat ini,
Disana kelak kita akan menemui sebuah Negri yang asing, Negeri yang dahsyat…
Betapa ngerinya jika saat itu kita tidak punya bekal, atau bekal kita hanya sedikit. Sedangkan kita akan berada di Negeri itu bukan 10 atau 20 juta tahun, tapi selama lamanya…

Betapa terlantarnya kita, saat kita tersesat disebuah kota besar dan asing lalu disana kita menyadari bahwa saku kita kosong. Tersesat di kota besar sama susahnya seperti tersesat di hutan rimba jika kita tidak punya uang. Akan lebih celaka lagi jika tersesat di kota Akhirat tanpa memiliki amal, karena dari kota akhirat kita tidak bisa kembali kedunia untuk mencarinya.

Inilah sebuah renungan yang saya ingin tuangkan melalui pena sederhana ini.,
Bahwasannya seluruh cerita kita – kesuksesan, kegagalan, kesedihan, kebahagian, tawa duka, bencana, kemelaratan, kekayaan, kesenangan – itu akan berakhir dalam 2 kemungkinan saja; Khusnul Khatimah (Akhir yang Biak) atau Suul Khatimah (Akhir / Kematian yang Buruk)..

Khusnul Khatimah dan Suul Khatimah bukanlah undian Tuhan untuk Hamba Nya, tapi sebuah konsequensi dari keseluruhan rangkaian diberbagai persimpangan yang telah kita lewati di Dunia ini.

Bayangkanlah seorang pilot yang sedang menerbangkan pesawat.
Katakanlah pesawat itu terbang dari Jakarta menuju Riyadh menempuh 10 jam perjalanan diruang udara.
Katakanlah kemudian pesawat itu berhasil lepas landas dengan sempurna dari Jakarta dan kini terbang di atas samudra Hindia.

Setelah menempuh perjalanan 8 jam, pesawat telah berada di Teluk Oman.
Hanya 2 jam lagi pesawat dijadwalkan mendarat di Kota Riyadh. Disana angin kencang dan udara basah dengan hujan, tapi badan pesawat tetap stabil karena sang pilot professional hingga pesawat kemudian bisa melewatinya..

Setelah badai berlalu, tubuh pesawat itu stabil dan perjalanan begitu mulus….
Hanya 30 menit lagi mendarat di Bandara. Tapi setelah hampir 10 jam di udara pilotpun lelah, tapi ia sadar perjalanan masih belum selesai, mendaratkan pesawat dari ketinggian 20 kilometer di udara bukan hal yang mudah bagi yang tidak tahu ilmunya.

Sang pilot sadar, jika 5 menit saja dia lengah atau terlelap maka pesawat akan celaka!
Sang pilot tetap tegar dan fokus kepada bandara yang akan ia singgahi. Hingga akhirnya pesawat landing dengan sempurna!

Pesawat yang landing dengan sempurna itu laksana sebuah “Khusnul Khatimah”.
Khusnul Khatimah, kematian yang baik itu akan kita miliki dengan perjuangan panjang melintasi berbagai tantangan melelahkan, disertai dengan ketelitian, fokus, ilmu dan KESADARAN PENUH bahwa kita akan mendarat di negeri lain dengan selamat!

Kesadaran inilah yang akan membuat ruh dalam raga kita tetap menjaga fokus secara kontinuitas untuk mengarahkan semua aktifitas berfikir dan aktifitas keseluruhan tubuh agar bisa berlabuh dengan selamat di negeri Akhirat.

Tentu seorang pilot yang professional tidak akan pernah berfikir; “Ah wajar.. saya tidur hanya lima menit, toh saya telah bekerja selam lima Jam..”. Ia akan memikirkan tentang effect lima menit dari kelalaian itu bagi nasib pesawat.

Bayangkan saja, jika diakhir dari 10 jam perjalanan tadi, si pilot tidur sebelum pesawat mendarat. Meskipun ia sukses terbang dari Jakarta dan mampu melewati samudra hindia, tetap saja media akan memberitakan atau menilai bahwa sang pilot tidak professional atau ceroboh hingga pesawat jatuh atau mendarat dengan tidak sempurna hingga badan pesawat terbakar dan semua penumpang menderita.

Tubuh kita ini adalah badan pesawat, dan pilotnya adalah fikiran dan hati kita. Fikiran dan Hati kita harus tetap fokus agar tubuh ini SELAMAT. Agar tubuh ini tidak terjatuh di jurang Neraka.

Naudzubillahimindalik..

Sahabat, lalu bagaimana agar sang pilot dan pesawatnya berhasil mendarat dengan mulus?
Dalam logika ilmiah kita, jawabannya terbaik adalah bahwa sipilot tadi harus meminta petunjuk dan berkomunikasi dengan sumber signal dan informasi yang akan membantunya mendarat di bandara disertai professionalisme keilmuannya untuk menerbangkan pesawat.

Analogi yang sama dengan Manusia yang harus senantiasa menjaga Komunikasi dengan Tuhannnya. Ilmunya adalah Al Islam yang telah digariskan dalam Al Qur’an dan Dijelaskan dengan terang benderang dengan Sunnah Sunnah Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam.

Islam ini memang sedang dipersimpang jalan.
Tetap berpegang teguhlah, jangan jadikan berbagai merk pesawat dengan tujuan yang sama itu sebagai bahan gosip akidah yang tiada ujung hingga menimbulkan permusuhan dan menjadikan celah celah bagi pembajak pesawat yang ingin menjatuhkannya.

Jangan biarkan gelombang kehidupan membawamu kepada satu tujuan yang tidak kamu ingini.

Kata sesal memang selalu datang di waktu yang tidak tepat, keberadaannya tidak kita sadari dan sulit dihindari. Usia makin berkurang, dosa semakin bertambah dan waktu semakin sulit di kendalikan. Jangan membuarkan hari demi hari lewat begitu saja, hingga tidak terasa usia terus beranjak remaja, dewasa, tua dan pikun…

Jangan menunggu hingga usia senja,
Tuntutan karir hanya akan terus membiusmu dan melupakan perencanaan hari Akhirat yang seharusnya dipersiapkan sedari awal. Kebutuhan semakin mendesak dan meningkat, tanggung jawab pun bertambah. Sementara keinginan untuk serius beribadah terus tertunda dan ditunda lagi, hingga nanti..

Akankah kita masih berencana setelah bahu kita tidak kuat lagi, setelah kaki mulai gemetar..suara mulai parau.. mata mulai butuh bantuan kaca pembesar… dan fikiran mulai fikun?

Satu satunya teman kita nanti adalah penyesalan..
Kata sesal yang selalu datang tak pernah tepat waktu, selalu telat dan tidak punya solusi.

Waktu yang tepat untuk “serius ibadah” adalah saat ini.
Saat nafsu didada kita masih berkobar.. saat optimisme hampir saja membuat kita lupa bahwa kita akan kembali.

Waktu yang tepat itu saat ini, saat hatmu melembut oleh sentuhan yang menyentuhmu. Itu tidak lain adalah hidayah Nya yang mengingatkanmu lagi.

Management Kematian adalah thema yang kusuguhkan sebagai nasihat kepada diriku sendiri dan sesiapa saja yang di izinkan Allah untuk mendengarnya, agar kita tidak melulu terpacu untuk mensukseskan management Hidup tapi juga mengingat sebuah Management yang Urgensinya lebih Urgent.

Jangan menunggu masa tenang untuk memulai…
Lautan itu tidak akan pernah tenang. Lautan obsesi akan terus mengombang ambing kita, badai ujian akan terus berdatangan, seperti ombak yang tidak jemu mengunjungi pantai.

Ketenangan itu tidak akan pernah kita temui jika tidak kita ciptakan sendiri. Masa tenang itu tidak akan pernah ada di dunia fana ini, ketenangan yang hakiqi hanya akan kita temukan di Syurga kelak.

Keseriusan mutlak harus kita bubuhkan disetiap persimpangan persimpangan yang kita lalui saat ini, bukan nanti disaat saat tertentu yang kita rencanakan.

Yang kita butuhkan adalah sebuah kontruksi kesungguhan dengan Iman yang kuat. Sebuah keseriusan dalam setiap hal hal kecil hingga hal hal besar yang telah menjadi kewajiban kita sebagai hamba Allah yang diciptakan untuk Ibadah kepada Nya.

Jika kita tidak segera memposisikan diri kita sebagai Hamba Allah maka opsi lain adalah menjadi hamba Syaitan yang hina. Sebentuk tubuh yang diperbudah Hawa nafsu, hawa Dunia dan segala keindahan termasuk idealisme idealisme yang bercampur baur dengan obsesi obsesi jangka pendek. Dunia.

Melembutlah wahai hati..
Mari rubah fokus kita kepada Akhirat. Karena kita memang akan pulang kesana.
Pilihan terbaik saat kita tersesat adalah kembali, sebelum kita menemukan diri ini semakin tersesat dan benar benar lupa untuk kembali.

Simpanlah obsesi obsesi itu dalam prioritas ke sekian, karena hari demi hari yang kita lewati, jam demi jam, menit demi menit telah dan akan tertulis rapi dalam catatan yang akan dihamparkan didepan kita dihari hisab kelak.

Jika kita mengimani bahwa Syurga itu Abadi.
Maka Neraka pun Abadi. Dan tidak ada kematian lagi disana.

Mari kita memulai untuk merekontruksi niat, merubah fokus dan menyeimbangkan Management Kehidupan kita dengan Management Kematian. Sehingga tolak ukur kesuksesan kita tidak hanya dilihat dari kacamata Dunia, tetapi juga sisi lain tentang keselamatan kita di Akhirat nanti.

Hingga setidaknya, kita akan merasa puas dan tidak patah dengan kegagalan – dalam bentuk apapun – ketika kita masih mampu melaksanakan kewajiban kita sebagai Hamba Allah, bukan hamba syaitan yang selalu menawarkan keserakahan Dunia yang menipu.

Ketika kita mampu mengaitkan seluruh kejadian di Dunia ini dengan pertimbangan Akhirat kita, disertai dengan kekokohan kontruksi pilar pilar iman yang kita miliki lalu kita Realisasikan dengan jalanan Al Islam dengan segala konsequensinya maka Insha Allah.. kita berdo’a semoga Allah Subhanahuwwataala menggolongkan kita menjadi Hamba Hamba Nya yang Selamat hingga Akhirat dan menetap disana dalam keridha’an Nya.

Rasulullah bersabda:
“Tidak seorang pun di antara kalian yang akan diselamatkan oleh amal perbuatannya. Seorang lelaki bertanya: Engkau pun tidak, wahai Rasulullah? Rasulullah saw. menjawab: “Aku juga tidak, hanya saja Allah melimpahkan rahmat-Nya kepadaku akan tetapi tetaplah kalian berusaha berbuat dan berkata yang benar”. (Shahih Muslim No.5036)

Alhamdulillah..
All praise to Allah..
All praise for Allah..

Ahukumfillah,
NURUDDIN AL INDUNISSY – RIYADH 2011
04.52am. 10 Ramadhan 1432 Hijriyyah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *