Serangan balik itu bukan pegal linu, pusing atau munculnya berbagai jelmaan syaitan. Tapi munculnya rasa malas untuk ibadah ataupun semangat dakwah namun ria, sombong, gila popularitas, angkuh, keras kepala dan kadang dengan semua modal itu ia berpisah dari jemaah dengan idealismenya.

Dengan cara itulah syaitan menghancurkannya pelan-pelan. Ia mendapatkan pengikut baru, wilayah baru, fans baru, nuansa baru, cash, fasilitas dan semua hal yang mengenyangkan hawa nafsunya. Namun semua sahabat menjauhinya.

Kelak ia akan sadar, bahwa semua itu tidak artinya. Jika dibandingkan sosok sahabat. Orang beriman yang dulu ia cintai dan mencintainya dalam kesederhanaan dijalanan yang dilalui bersama. Suka ataupun duka.

Ikhwah sekalian, ketahuilah bahwa semakin besar sebuah gangguan syaitan maka semakin halus dirasakan manusia. Semakin kasar semakin lemah, semakin halus gangguan semakin besar kekuatan atau daya hancur yang direncanakan.

Jika saja ujian itu bisa disadari manusia, niscaya manusia akan menyelesaikannya dengan penuh kehati-hatian. Karena itu akan meningkatkan qualitasnya dihadapan Allah.

Jika saja semua musibah itu dirasakan signal kedatangannya, niscaya manusia menolaknya. Segera menghindarinya. Tidak menikmatinya. Mendeklarasikannya. Atau bangga dengannya. Namun, bukan ujian namanya kalau kita mengetahui jawabannya.

Setiap step atau level kehidupan ada ujiannya. Dahulu kala Allah mengujinya dengan gangguan syaitan yang keras, hingga otot dan organ tubuhnya dikuasai. Dan mata kepalanya melihat dengan jelas..

Seiring waktu, dengan pertolongan Allah syaitan kasar itu melemah dan hancur dengan berbagai upaya. Ilmu yang ia pahami. Kesabaran. Ketaatan. Kesungguhan dan lingkungan baru yang mendukungnya. Dan kemudian ujian baru datang, menerpanya, menggoyahkannya dan kelak akan menghabisinya dilembah kesedihan yang sama.

Semua manusia sedang berjalan dengan tugasnya, mengumpulkan bekal yang banyak untuk akhiratnya. Sungguh tak akan ada cemburu, iri, dengki dan hasad jika melihat betapa lebatnya areal hutan untuk kita tebang.

Sungguh tak akan ada cemburu, iri, dengki dan hasad jika melihat betapa luasnya areal untuk kita tanami bersama. Dan memanennya bersama. Menikmati ranumnya buah dakwah berupa terlahirnya generasi-generasi penyembah ar Rahmaan.

Sungguh dunia ini Allah telah ciptakan cukup untuk memenuhi kebutuhan semua mahluk, namun ia tidak akan cukup untuk satu manusia yang serakah. Dan tidak ada ujung dari keserakahan melainkan kehancuran. Kerusakan dan kebinasaan.

Semoga Allah lindungi kita hamba-hamba Nya dari kegelapan dan kebinasaan. Sungguh kita semua tidak mengetahui akhir dari kehidupan ini. Namun, seluruh hal baik yang kita lakukan hari ini adalah modal untuk akhir yang baik kelak.

Semoga Allah satukan hati orang-orang beriman, demikian juga semoga Allah pisahkan orang-orang fasik dan munafik dari barisan dan keluarga kita. Aamiin

Nuruddin Al Indunissy
Cibubur 23 Jully 2019

 
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram