Bismillah asholatu wassalamu ‘ala Rosulullah. Kisah nyata ini dikutif dari rekaman catatan perjalanan RoadShow RehabHati Global 2016. Kisah perjalanan kesembuhan dari sihir yang menakjubkan dari seorang ibu keturunan Melayu Pakistan yang usia 49 di Singapore yang menderita sakit menahun pada Jantung, Lambung, Tenggorokan dan Kepala. Semoga menjadi hikmah bagi yang sedang mencari kesembuhan sejati.

11.45 September 4, 2016. Kami baru saja melewati kantor imigrasi singapura, agak sedikit rumit namun Alhamdulillah bisa masuk ke negeri ini. Ikhwan berjanggut tebal berwajah timur tengah, terlihat dengan handphone-nya menjemput kami.

Saya menjabat erat tangannya dan memperkenalkan teman saya kepadanya. Bahagia rasanya bertemu saudara seaqidah, seakan lebih bahagia daripada bertemu saudara kandung sendiri. Sepertinya, beliau pun merasakan getaran yang sama. Terlihat dari senyum yang mekar diwajahnya, meski sudah lewat tengah malam.

“Sulit ya. Meski akhi ini tidak berjenggot, namun mereka mengenali dari celana itu” Kata beliau sambil menunjuk kecelana yang dipakai teman saya malam itu. Saya baru sadar jika celana atau gamis yang dipotong diatas mata kaki merupakan sunnah yang dibenci kaum munafiqin dan orang-orang kafir.

“Ini kunjungan saya kedua kenegeri ini, dan saya pernah juga ke beberapa negara di Asia lain, juga Eropa, Afrika dan Australia. Namun, disingapore ini saya baru tahu bahwa orang-orang kafir disini mencampuri masalah Aqidah masyarakatnya ya?” Ungkap saya, sambil bertanya.

“Iya, disini orang sunah diperhatikan. Mereka sangat takut kami berkembang. Padahal disini hanya ada sekitar 3500 muslim sunnah saja, dari 3,5 juta populasi”. Jawab beliau yakin.

“Ini pelajaran pertama akhi. Kita hanya mendapatkan pelajaran ini diluar negeri. Dinegeri-negeri dimana Islam menjadi minoritas. Lihat, betapa aqidah itu sangat ditakuti musuh-musuh Islam. Karena hal inilah yang  menjadi kekuatan kita”. Kata saya, sambil melirik ke Akh Ancha yang duduk dibelakang.

Beliau mengangguk-ngangguk, dengan hape ditangannya. Mobil berwarna merah itu melaju cepat menuju sebuah apartement di daerah Bedok Reservoir, Singapore.

Sepertinya hanya 10 menit dari bandara, karena tidak ada kamus macet dinegeri ini. Kami pun turun dari mobil dan naik lift menuju lantai 15. Apartement yang cukup luas dan nyaman itu terlihat sepi, sudah lewat tengah malam. Dan, kami pun dipersilahkan untuk istirahat.

Selepas syuruq, dipagi hari. Kami tertidur lagi hingga hampir tengah hari. Beramah-tamah, teh pagi, mandi dan mulai berstrategi. Beliau mengundang kami ke Singapore untuk meruqyah adik perempuannya. Selain tentunya, mengadakan public training sebagai syarat mutlak jika ingin menghadirkan Tim Inti RehabHati disebuah wilayah tertentu diluar event training yang formal. Kami, meluncur ke arah utara dari tempat itu sekitar 12 menit. Dan memasuki sebuah Apartement, dilantai 10…

Terlihat seorang pemuda dengan celana cingkrang dan janggut menyambut kami dengan senyum, dari dalam terlihat laki-laki lain dengan celana pendek dan kaus. Juga 3 ahwat belasan berwajah pakistani bersama 1 wanita berusia. Kami pun masuk kedalam dan dipersilahkan duduk.

Saya mulai menganalisa keluarga itu, ditiap kata dan kalimat yang mereka ucapkan. Cara berpakaian, pernak-pernik rumah, adab, dan kedalaman ilmu yang mereka miliki dan bagaimana mereka bicara. Dari obrolan ringan hingga berat. Saya menyimpulkan, ada dua warna dirumah ini. Si ibu dengna jilbab lebar dan sang suami yang kental dengan pemahaman sufi. Sementara anak-anak mereka dalam perahu kecil, terombang ambing dalam kebingungan.

Sifat asli mereka mulai muncul ketika saya coba untuk menggali akar masalah dan sejarah penyakit sihir yang menimpa ibu 5 anak itu. Sakit Perut [endometriosis], tumor dileher, gondok dan pembengkakan tenggorokan, sesak nafas dan jantung, sakit pinggang, punggung, vertigo dan setumpuk keluhan lainnya. Tenggorokan, Jantung, Lambung dan Kepala. Tiga titik yang sangat vital itu mulai terasa tidak normal sejak awal pernikahan hingga usianya saat ini mendekati 50 tahun. Ibu ini menuduh pihak keluarga suami yang bermain sihir, sementara suaminya melihat bahwa istrinya ini hanya terkena gangguan psikis saja.

Ibu dengan 5 anak ini sudah hijrah sejak 4 tahun lalu, sebagaimana tuturnya Alhamdulillah shalat lima waktu, dzikir pagi-petang, qiyamulail, puasa sunnah, tilawah, dhuha dan hijab juga hal-hal vital lain sudah mulai dilaksanakan dengan istiqomah. Pengalaman ruqyah syariyyah pun ia kejar hingga ke Maroko [Afrika utara] berbulan-bulan, racikan herbal, bekam dan teraphy di kedokteran medis sudah selesai. Namun, penyakit tetap bersarang. Dan, ruqyah pun dimulai setelah shalat Ashar berjama’ah dirumah itu.

Sebagaimana standard operating procedure yang saya pegang teguh, sebelum ruqyah dimulai tentunya semua sudah difahamkan terlebih dahulu tentang kedahsyatan teraphy Al Qur’an jika disinergikan dengan Tazkiyyah an Nafs. Meski hari itu hanya sempat menyampaikan Tazkiyyah kurang dari 2 jam, namun alhamdulillah seluruh anggota keluarga sudah melunak qalbunya dan semua bersedia untuk duduk dilantai dengan khusyuk mendengarkan ayat-ayat ruqyah yang akan dibacakan. Dan, ruqyah pun dimulai..

15 menit pertama berlalu indah, meski suara agak serak-serak basah. Sepulang dari Gorontalo, suara belum kembali normal namun harus terbang lagi ke singapore. Namun, Allah bantu saya sore itu. Si ibu mulai batuk-batuk, dan putra-putri mereka mulai buka mata dan bergeser ketakutan. Namun, semua tetap diruangan mendengarkan hingga menit ke 30an.

Dimenit ke 45, ruqyah diakhiri dengan usapan 3 Qul sebagai closing. Saya identifikasi satu persatu, anak pertama si ibu merasakan sesuatu ditangan dan kakinya. Sementara putri-putrinya hanya merasa debaran ketakutan dan suami si ibu merasakan ketenangan. Akh Husain yang menemani kami, juga menyimak khusyuk. Ibu merasakan sakit disekujur tubuhnya, dari mulai pusing dikepala, sakit di tenggorokan, dada, lambung hingga kaki dan tangan. Akhirnya saya memanggil ibu ini untuk duduk membelakangi saya, dan saya mulai bacakan khusus untuk ibu ini.

Belum 5 menit ayat-ayat khusus dilancarkan, ibu ini menggeram dan membalikan tubuh dan wajahnya sekaligus. Seperti harimau yang menerkam keledai yang kaget, saya terjatuh kebelakang agak samping. Punggung membentur sofa, dan berupaya menahan si Ibu agar tidak benar-benar menerkam. Namun sepertinya syaitan harimau itu sudah lama menunggu saat ini, kedua tangan ibu ini mencakar-cakar tangan saya yang berupaya lepas dari terkaman. Hadirin dirumah itu kebingungan dan panik, berupaya menghentikan.

Alhamdulillah, beberapa saat kemudian keaadaan terkendali. Jin kafir itu berhasil dilumpuhkan, meski saya yakin mahluk itu masih bertahan didalam dan berstrategi untuk menyerang balik. Ada dua catatan untuk syaitan ini; pertama kata-kata yang keluar sangat kotor, sumpah serapah dan sombong. Yang kedua, matanya terpejam. Menandakan tidak mampu menahan cahaya al Qur’an, namun kesombongannya membuat ia berupaya menunjukan kekuatan.

Secepat kilat, saya melihat celah untuk mendakwahi keluarga itu. Terutama sang suami. Agar mereka menaruh perhatian lebih kepada wanita ini, terutama sekali pada sifat dan karakter saat ia marah. Karena jelas, syaitan menguasainya. Keluarga itu mulai serius dan menaruh perhatian lebih. Saya menyuruh ibu untuk membetulkan hijabnya dan kembali duduk membelakangi saya. Setelah ia rileks, saya izin kepada suaminya untuk menyentuh punggung/belikat bagian bawah ibu ini dengan alas bantal sofa yang ada disana. Kemudian saya membacakan surah Al Hasyr ayat 21 hingga 24, dan setelah menepuknya tiga kali saya bertanya kepada ibu tentang sakit diperutnya. Ibu menjawab, masih sama. Tidak ada perubahan. Saya geser bantal kearah punggung/belikat atas dan melakukan hal yang sama. Saya menambah surah Al Mulk ayat 5 dan 6, al An Faal ayat 50, Al Mukmin 114-115, Fushilat 28-29, dan ayat-ayat adzab lainnya. Menepuk, meniupnya dan kemudian menanyakan kondisinya. Ternyata masih sama. Tidak ada perubahan. Kemudian saya beralih dikepalanya, kali ini tanpa sentuhan apapun namun mendekatkan suara 30 cm dari kepala dan diarahkan ke telinga. Saya bacakan deretan ayat-ayat yang keras diatas, ditambah ayat kursi dan Al Baqarah 284-286 untuk membongkar persembunyiannya. Ternyata, ibu masih diam. Kesakitan, tidak ada perubahan.

Berat, sihir ini sudah bekerja puluhan tahun. Dan saya baru saja masuk dikehidupannya. Baru saja buka pintu gerbang dan dihadang musuh yang sudah siap dengan benteng kokohnya untuk menahan ayat demi ayat yang dilancarkan agar tidak masuk di Qalbunya. Saya menunda peperangan itu, karena waktu sudah mendekati jam 17.30. Makan sore sudah siap, dan semua laki-laki menyantap makan siang itu dengan lahap. Terutama saya. Sangat menikmati hidangan sore itu, sambil bincang-bincang dengan suami dan keluarganya. Disana terungkap lagi banyak peristiwa tentang kejahilan mereka dimasalalu, termasuk memanggil dukun dari pakistan kerumah ini. Berat..

Setelah closing sementara, karena akan dilanjut besok pagi. Kami putar-putar singapore, banyak bangunan baru yang mempesona. Jam 18.00 disingapore, artinya jam 17.00 di Jakarta. Aneh memang, karena singapore itu salah satu pulau kecil di zona WIB. Namun begitulah adanya, dan alhamdulillah dari selisih satu jam ini kami bisa menikmati senja di Negeri ini.

Senin 5 September 2016, jam 9.30 pagi saya sudah memulai lecture. Semacam training singkat tentang Ruqyah Syariyyah yang dikombinasikan dengan Penyucian Jiwa, saya menyebutnya “Rehab For Family”, program ruqyah door to door yang saya mulai 4 atau 5 tahun lalu di Indonesia. Sekarang sudah tidak sempat lagi, namun singapore dan beberapa negeri jiran dan luar negeri pada umumnya adalah pengecualian.  Saya terkadang masih melakukan hal ini. Rehab For Family, program intensif yang sangat bermanfaat untuk penetrasi berkah pada keluarga yang awam dengan sunah ruqyah ini.

Si ibu hadir, dari pagi. Keluarga lain, sekitar 15 sampai 20 orang dengan usia beragam. Dari balita hingga lansia berdatangan di waktu masing-masing. Apa boleh buat, meski Singapore adalah negara maju dan disiplin, namun untuk ruqyah adalah beda. Syaitan ikut mengendalikan dan merusak punctuality mereka. Sebelum dzuhur ruqyah sudah dilancarkan, alhamdulillah satu 30 hingga 45 menit al Qur’an meresap kejiwa mereka. Ibu, terlihat muntah hebat dan wajahnya pucat. Selepas dzuhur jama’ah, dan makan siang Private Ruqyah dimulai. Satu persatu mereka mendapat konsultasi dan ruqyah dikamar terpisah, melelahkan memang namun bahagia rasanya bisa memberikan harapan yang pasti tentang berbagai gejolak masalah yang tidak mereka fahami sebelumnya. Apakabar si ibu?

Ibu, dapat kesempatan agak panjang untuk konsultasi. 1 putranya yang sudah hijrah ke sunnah dan 2 putrinya hadir, mencoba menguak tabir yang menghalang al Qur’an untuk masuk dan meluluhlantakan masalah ibu ini. 1 jam terlalu singkat rasanya untuk menggali berbagai rahasia. Akhirnya ibu ini saya ruqyah diruang private, bersama anak-anak tercinta yang mensuportnya. Sang suami, tidak hadir dengan alasan klasiknya. Dan, sepertinya lebih dari 1 jam total proses ruqyah hari itu. Namun, mengejutkan jin dalam tubuhnya seperti diselimuti baja yang tidak bergeming sedikitpun saat digedor besi yang rapuh.

“Hahaha.. do you think you can defeated me?” Kata jin itu, “Kamu fikir kamu bisa sentuh saya?” saat saya sedang khusyuk-khusyuknya membacakan ayat-ayat ruqyah dari belakangnya dengan oktaf 8. Jin itu ternyata memperhatikan, mendengarkan dan kemudian melecehkan al Qur’an yang saya bacakan. Ia aman didalam. Dan saya pun istighfar. Kalimat itulah memang yang pantas dilakukan saat menemukan kesulitan.

Ia tidak sedikit pun tersakiti dengan bacaan saya sore itu, bahkan tertawa. Sementara sakit yang ibu rasakan pun demikian; kepala, lambung, dada, tenggorokan masih sakit. Tidak berkurang. Dan, saya benar-benar merenung serius malam hari itu. Bahkan, dititik kesungguhan saya. Syaitan itu saya selipkan dalam do’a; “Ya Rahmaan… ya Azis, ya Jabbar, yaa Qohhar, ya Adzim, yaa Dzalzalaali wal Ikraam! Syaitan ini begitu sombongnya, dan hamba-Mu ini begitu lemah tidak berdaya. Hamba mohonkan kehancuran untuk syaitan ini ya Rabb. Jangan biarkan tukang sihir dan musuh-musuh Mu itu menang diatas kami ya Rabb…”

Selasa 6 September 2016, seharusnya jam 9 tepat semua peserta Private Training RehabHati sudah berkumpul. Namun ternyata, jam karet berlaku untuk masalah urusan ruqyah begini. Namun, Alhamdulillah. Pagi itu saya bahagia sekali, meski suara mulai parau namun 3 jam itu milik saya. Introduction to Ruqyah Syariyyah dan Tazkiyah an Nafs versi RehabHati sudah ditanamkan kepada sekitar 15an hingga 20 hadirin yang hadir diruangan itu. Saya merasakan bahwa materi ini mengena ketika ada 2 jin yang tidak tahan menyimak dan keraksukan, menjerit dan lari mencari jalan keluar. Seandainya jendela rumah itu tidak dilapis baja, barangkali ada dua peserta yang terbang bebas kelantai dasar karena berupaya escape dari rumah yang kami jadikan tempat untuk Private Training hari itu. Namun semua bisa dikendalikan, Alhamdulillah. Dalam kondisi ini, tehnik-tehnik sunnah yang penuh berkah itu sangat diperlukan. Dimana kita perlu membekali diri dengan senjata-senjata pamungkas untuk melumpuhkan musuh dalam kondisi darurat, apalagi hukum materialistis sangat dihormati. Fintah sangat besar dan ancamannya adalah penjara di negeri orang. Namun Allah lindungi kami siang itu, training berlalu sempurna meski saya bersusah payah meringkas materi yang tiga hari ini dalam 3 jam.

Setelah dzuhur, peserta sudah membara. Mereka tidak mengambil break, dan menyatakan kesiapannya untuk langsung menyimak Teraphy Al Qur’an. Dan, tentu saja. Ini adalah puncak qital yang sesungguhnya. Ruqyah dimulai, menit ke dua suasana sudah berubah. Jeritan histeris memenuhi flat di lantai 15 itu, jendela-jendela dan pintu ditutup rapat. Saya hanya bawa satu team, raqi sekaligus dokumenter. Akh Ancha Nuralamsyah, salah satu trainer terbaik RehabHati dari Indonesia Timur hari itu nampak membara dengan rompi resminya. Berjaga-jaga jika ada kemungkinan terburuk.

Alhamdulillah, dari sekian banyak maslah yang nampak hanya 3 manusia yang saat itu diraksuki syaitan. Ledakan amarah yang menguntap, diredam dengan gelora bacaan al Qur’an. Allah telah menghukum 2 syaitan yang merusak teraphy itu. Sangat special saya mengulang-ulang bacaan ruqyah sebanyak masing-masing 3 kali untuk memaksimalkan hukuman kepada musuh-musuh Allah yang menyelimuti jiwa mereka. Al Fatihah 1 putaran, al Baqarah 1-4 sebanyak 3 putaran, Al Baqarah 102, Al Baqarah 163-164, 255-257, 284-286 masing-masing sebanyak 3 putaran. Di al Baqarah 102 ibu mulai muntah-muntah, dan diayat kursi putaran ke 3 Ibu mulai meronta, menendang kesana kemari dan dipegangi kedua putra dan putrinya sebelum terpelanting kebelakang disambut takbir yang menggetarkan apartemen megah itu.

Allah telah benar-benar menghukum syaitan itu, hari itu. Kekutannya telah Allah angkat, kesombongannya telah hilang, hingga ia kembali kepada fitrahnya; lemah. Tinggallah tulang belulang yang rapuh, syaitan yang menguasai jasad ibu itu terkulai setelah terjungkal kebelakang dengan 3 tiupan. Selanjutnya berlalu seperti biasa. Sebelum closing, mendekati ashar saya menyampaikan tutorial Ruqyah Mandiri baik untuk ruhani ataupun jasmani, dan juga beberapa demontrasi untuk meracik herbal sebgai ramuan untuk obat bagi jasmani manusia dan racun bagi syaitan dalam tubuhnya. Apa benar ibu itu sudah sembuh?

Selepas ashar, saya tarik nafas sekitar 15 menit dan mulai mempersilahkan hadirin yang ingin berkonsultasi secara langsung. Terutama 3 pasien utama yang reaksi, 2 pasien pertama berlalu seperti biasa. Meski ukuran biasa disini tentunya jauh berbeda dengan jin-jin di makasar, palopo ataupun papua sekalipun. Karena mereka memang satu custom, jin yang dihadapi ini dari timur tengah yang memang karakteristiknya lebih kasar.

Rabu 7 September 2016, selepas shubuh sebelum syuruq Ibu sudah datang bersama putranya. Dengan senyum lebar, dan wajah tenang bersinar. Tidak seperti biasanya. Dan, semua atas izin-Nya. Saya memberikan tausiyah yang dalam khusus untuk ibu ini, terutama tentang hubungan antara Ruhani dan Jasmani manusia yang saling berkaitan. Tentang koneksi yang tersembunyi antara Tazkiyatunnafs dan Teraphy Al Qur’an. Ibu menyimak dengan seksama, jika hari-hari sebelumnya saya sulit bicara karena ibu bicara terus hari itu ibu menyimak. Dan sesekali, saya pun mendengarkan isi hatinya melalui serangkaian kata yang terucap dibibirnya.

Ada hal yang menarik dan menggelitik hati saya pagi itu, dari ibu itu. Beliau berkata; “Ustadz. Saya merasa tenang, setelah suami saya mengakui bahwa dirinya bersalah” Jawabnya, ketika saya tanya kenapa hari ini ibu seperti berseri-seri. Ia menceritakan bahwa ketiga putri dan putranya mendesak suaminya agar mengakui kesalahannya dimasa lalu, agar tidak menyalahkan ibu terus. Agar mengakui bahwa ini masalah keluarga, bukan masalah ibu saja.

“Kenapa ibu baru merasa tenang setelah suami mengakui kesalahan, apa ibu tidak merasa bersalah selama ini? Perhatikan, seandainya ada orang yang melempar ibu kotoran. Lalu ibu dan dia terpisah selama 1o tahun, dan ibu terus membawa kotoran itu dibaju ibu kemanapun hingga kemudian bertemu lagi. Orang itu sudah lupa tentang kotoran yang dia lemparkan dan ibu masih meyimpannya rapi. Apa ibu tidak merasa rugi? Kenapa tidak memaafkan suami ibu sendiri sejak puluhan tahun lalu?” Lanjut saya. Ibu diam, menyimak.

“Ustadz tidak tau suami saya, dia dzolim. Keluarga dia yang sihirkan saya. …” Jawabnya.

“Tapi dia tetap suami ibu, ia yang akan jadi suami ibu disyurga nanti. Apa ibu ingin figur laki-laki lain?” Tanya saya. “Saya sering minta cerai, tapi dia tidak kasih. Dia jahat ustadz.. “ Kata ibu menyela. “Setiap manusia punya salah, ibu. Lihatlah, jika ibu benar-benar membencinya. Lalu bagaimana dengan 5 anak ibu yang sudah besar-besar ini, bukankah mereka ada karena dua cinta yang sudah lama terbina?” Jawab saya coba skak ster..

“Maafkan dia dengan sempurna. Dan doakanlah dia. Ibu sudah hijrah, hijab syar’ie, sunnah dan semua hal baik selama 4 tahun ini. Apakah ibu tidak ingin suami ibu mendapatkan hidayah, maafkan dan do’akan dia. Ini untuk kebaikan ibu. Dengarkan saya, “I am your spiritual doctor”. Saya guru spiritual ibu, ingin perbaiki ruhani ibu. Jika ibu dengarkan syaitan, maka syaitan itu membawa pada neraka jahannam!” Lanjut saya kemudian, dan serangkaian nasihat lainnya yang tidak saya ingat lagi.

Setelah melihat kesiapan dan keridho’an hati si Ibu yang terpancar dari wajahnya, saya mulai memasang strategi terakhir. Matahari dhuha mulai meninggi, saya ke kamar mandi untuk wudhu. Dan saya minta ibu juga wudhu dan shalat, memohon kepada Allah dengan do’a yang spesifik untuk memenangkan pertempuran terakhir ini.

Pertempuran terakhir pun dimulai. Saya, akh Husain, akh Zhar putra ibu dan Ancha yang mengabadikan moment penting itu. Ayat-ayat ruqyah dibacakan dengan tenang, dari nada terendah. Terus meninggi hingga pada titik panas, tiba-tiba…

“Jangan buat saya marah” suara ibu itu berubah.

Melihat gelagat itu, saya mengulang lagi ayat yang buat ia marah. Al Baqarah 102, kemudian lanjut al Baqarah 163. وَإِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ. Ketika mendengar ayat ini, ia mulai terdesak naik. Terlihat dari kondisi si ibu yang mulai merasa mual dan mau memuntahkan sesuatu. Melihat kondisi ini, saya mulai mengintimidasi jin dalam tubuhnya dengan berbicara kepada jiwa ibu itu; “Tahan ibu, tahan. Jangan izinkan dia keluar begitu saja dan lari. Tahan, biarkan ia mati didalam. Jangan seenaknya saja mahluk itu lari setelah puluhan tahun merusak ibu” Lanjut saya, kemudian lannjutkan ayat hingga akhir 165 sebaik mungkin yang saya bisa.

Saya mengulangnya sekali lagi, dan ibu itu mulai sendawa tidak tertahan dan memegangi dadanya [sesak], lehernya mulai geleng-geleng kekanan dan kiri. “Siksalah syaitan ini sepantasnya ya Rabb, siksa dan laknat syaitan ini dengan laknat yang setimpal ya Rabb. Al‘anuka bilaknatillah! Saya laknat kamu dengan laknat Allah!” Dan saya lanjutkan mengulang untuk ketiga kalinya.

“Selanjutnya ini adalah ayat kursi, terimalah ayat ini sebagai punishment. Sebagai hukuman. Bertahun-tahun kamu rusak, kamu nodai wanita ini. Maka ya Allah, ya Rahmaan, ya Dulzalaali wal ikraam. Ya Qohhar, ya Jabbar ya Adziiiim! ya Adzim.. ya Adziim. Izinkanlah ayat-ayat yang agung ini, menyiksa satu syaitan ini ya Allah. Agar terhenti tawa sombongnya, agar seluruh kesombongan itu kembali kepada Engkau wahai Rabb yang berhak sombong. Ya Qohhar..ya qohhar.. ya Adziim, ya Adziim, ya Adziiim….” lanjut saya, sambil menunjuk-nujuk dahi syaitan sihir yang ada dalam tubuh wanita ini. Dan, subhanallah syaitan ini berupaya menutup telinganya. Dan saya lanjutkan untuk intimidasi; “Terimalah ayat-ayat ini, dan kamu tidak bisa lari. Kamu tidak bisa lari karena kesombongan kamu. Karena kesombongan kamu. Seandainya kamu tidak sombong seperti Iblis itu, maka kamu tidak ada disini, kamu sudah pergi sejak peringatan awal wahai jin laknatullah!”. Bentak saya. Lalu saya mulai baca ayat kursi..

اللّهُ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لاَ تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلاَ نَوْمٌ لَّهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأَرْضِ…

Baru sampai ayat ini, jin ini seperti keracunan radioaktif yang memenuhi ruangan itu. Ia memegani lehernya seperti tercekik dan batuk berat seperti nenek-nenek…

“Kamu tidak bisa tutup telinga itu, karena yang kamu tutup itu telinga wanita ini”. Lanjut saya, kemudian bacakan lagi ayat kursi hingga 257 putaran kedua. Ibu itu sudah muntah yang tertahan.  Lepaskan perut wanita ini, dengarkan saya dan ikuti. Lepaskan perut wanita ini atau saya pukul kamu. Lepaskan perut wanita ini atau saya hantam kamu dengan ayat-ayat yang lebih keras. Hey! Lepaskan! Lepaskan! Release it! End it now. Are you listening. Hentikan kedzalimanmu sekarang. Apa kamu mendengar?!” hentak saya disela-sela baca ayat..

“Iyah-iyah. Aku kalah” Kata jin itu. Mengejutkan saya. Jarang sekali ada jin seperti ini. Apalagi jika ia jujur, saya pernah mendapati sekali di waktu Rehab Family di Finlandia, Eropa. Disana jinnya jujur karena custom atau kebiasaan masyarakatnya yang jujur, beda dengan masyarakat tanah air yang kita cintai ini. Ternyata karakter jin itu juga dipengaruhi kebudayaan setempat.

“Leave her now. Pergi sekarang. Sebelum kamu mati. Dengarkan, syaitan, jin, itu semuanya mati. Yang tidak mati hingga hari kiamat itu iblis. Kalian itu akan mati, bisa mati. Allah Subhanahu wa Ta’ala yang maha menciptakan akan mencabut nyawa kalian. Go now.. “ Saya lanjutkan baca ayat kursi lagi, untuk kesekian kali. Saya melihat dia batuk keras sambil mendongak keatas. Dan saya lanjut bacakan dan diakhiri tiupan di kakinya, tidak disangka ibu terpelanting kebelakang. Seperti melepaskan sesuatu.

Setelah selesai saya tanya ibu, tentang apa yang ia rasakan. Ia merasakan perutnya seperti ditusuk. Artinya, sihir itu masih disana. Sebagaimana kemarin.

“Audzubillahiminassayyitoonirrajim. Ya Allah, benarkanlah prasangka kami ya Allah. Seandainya syaitan ini munafiq ya Allah, maka itu adalah dosa yang bertambah-tambah bagi dia ya Allah. Sedangkan al Qur’an Mu ini adalah mukjizat, keajaiban, tidak terkalahkan oleh sihir. Hancurkan dan laknat jika berdusta ya Allah, namun jika syaitan ini ingin pergi maka sesungguhnya Engkau maha pemaaf dan menyukai kemaafan. Batulah kami ya Allah.. “ Do’a saya saat itu, depan ibu. Kemudian saya berdiri dan membacakan surah Al Baqarah 284-286 dari arah kepala atas. Subhanallah…

Subhanallah..

Setelah selesai ayat 284 dan mau mulai 285, 286. Ibu yang dari tadi memegangi bawah perut mulai merasa tidak nyaman dan sesak dan batuk seperti tadi, seperti banyak radio aktif yang mencekiknya. Subhanallah. Saya senang sekali dengan ayat yang dikenal sebagai pusaka Arsyi ini, ayat yang turun dari Arsyi-Nya Allah langsung diberikan kepada Nabi Sholallahu alaiyhi wa sallam. Sangat dahsyat untuk membongkar persembunyian syaitan. Biidznillah. Subhanallah..

Setelah selesai ayat 284 dan mau mulai 285, 286. Ibu yang dari tadi memegangi bawah perut mulai merasa tidak nyaman dan sesak dan batuk seperti tadi, seperti banyak radio aktif yang mencekiknya. Subhanallah. Saya senang sekali dengan ayat yang dikenal sebagai pusaka Arsyi ini, ayat yang turun dari Arsyi-Nya Allah langsung diberikan kepada Nabi Sholallahu alaiyhi wa sallam. Sangat dahsyat untuk membongkar persembunyian syaitan. Biidznillah.

Setelah itu, saya tiupkan dan tanya ibu. Dia berkata, sakit diperut dan tenggorokan. Saya konfirmasi. Dia tetap jawab, bahwa sakit diperut dan tenggorokan. Artinya sama seperti kemarin dan tidak ada perubahan sedikitpun. Temper saya mulai naik, saya minta ibu itu berbalik dan kemudian memberikan ultimatum kepada syaitan itu lagi; “Dengarkanlah wahai syaitan. Sekarang saya akan lakukan apa yang saya ingin lakukan. Dan tidak ada penghalang lagi antara saya dengan kamu”. Ibu batuk-batuk, berat, dahsyat, disertai muntah.

Kemudian saya arahkan telunjuk ke pinggang ibu, dari belakang. Searah perutnya. Dan ulangi al Baqarah 284-286 tiga hingga empat kali. Hingga batuk berhenti. Kemudian diarahkan ke punggung/belikat dengan dua jari. Diulangi lagi. Kemudian ia batuk ketika diarahkan kepundak. Dan batuk, kemudian saya tiup keras 7 kali di 7 titik. Lalu saya tanya. “Bagaimana rasanya?”

“Alhamdulillah hilang”. Jawabnya, masha Allah diujung harapan Allah kabulkan. “Really? Yakin bu? Coba cek lagi?” Tanya saya. “Iya, iya hilang. Tenggorokan, lambung, kepala, semua hilang” Jawabnya. “Coba cek lagi, sentuh” perintah saya. Dan saya diam dibelakangnya. Ibu itu kemudian sendawa. Dan saya tanya; “Dimana sakitnya?” Ibu jawab; “Disini”, ketika saya lihat kedepan ternyata ibu memegang ulu hatinya. Melihat syaitan yang serius kemunafikannya ini, saya ambil langkah serius juga. Karena itu diruang private dan disaksikan keluarganya.

Saya ambil bantal dan letakan dipunggungnya, dan saya sentuhkan tangan dibantal itu sedikit menekannya dan baca surah al Hasyr 21. Setelah selesai saya putarkan tangan diatas bantal itu, dengan sedikit menekan sambil berdoa “Kumpulkanlah ya Allah, himpunkanlah semua sihirnya diarea ini ya Allah..” lalu saya baca ayat lagi sampai selesai. Dan berdoa lagi. Ya Allah ini adalah hari ketiga ikhtiar kami, dan tidak terhitung hari ikhtiar wanita ini ya Allah. Sekarang hamba memohon kembalikanlah syaitan ini, syaitan yang tersisa ditubuhnya ini kepada kepenyihirnya dan orang yang meminta sihir untuk wanita ini. Kembalikanlah syaitan ini kepada penyihirnya sehingga ia merasakan betapa tersiksanya manusia dengan sihir, sehingga mereka merasakan akibat bermain dengan sihir” Selanjutnya saya bacakan 3 ayat pembatal sihir, surah Al A’raaf 117-122, Taha 69, dan Yunus 81-82…

Setelah ibu itu sadar kembali, saya tanya kondisi dia. Dia merasa tidak menentu, tidak merasakan sakit lagi. Namun merasa tidak nyaman entah dimana. Lalu saya letakan lagi bantal dipunggung/belikatnya, dan membacakan surah al Mulk 1-13 untuk mengembalikan sihirnya. Dan setelah selesai, dia merasakan getaran ditelinganya. Saya cek kembali ke ibu, tentang sakit di Jantung, Lambung, Tenggorokan, Kepala. Alhamdulillah sudah hilang. Allahuakbar!

Untuk meyakinkan kehancuran sihir itu, saya ajak ibu untuk closing. Saya suruh ibu untuk membelakangi saya, dan saya letakan bantal dipunggungnya. Dan saya bacakan surah Al Ikhlas 10x, al Falaq 3 kali dan An Nass 3x. Saat saya baca al Falaq, setiap baca 1 ayatnya, saya buat garis dipunggungnya untuk memutuskan tiap ikatan sihirnya, karena kata Nabi sholallahu alaiyhi wa sallam tiap ayat al Falaq itu saat dibacakan memutus satu ikatan/buhul sihir. Sebelum saya bacakan An Nas, saya ajak ibu untuk berjanji; 1. Berjanji untuk tidak buka aib suami depan orang lain. Selain dokter spiritualnya. 2. Berjanjilah kepada Allah seandainya Allah sembuhkan ibu dengan al Qur’an saat ini, janji untuk memperbaiki diri dan meninggalkan seluruh maksiat. Dan ibu setuju.

Pagi menuju siang itu ibu, benar-benar sembuh. Seluruh titik sakitnya hilang total. Jiwanya tenang, bahagia. Dan tidak ada kemarahan lagi kepada siapapun. Ini adalah salahsatu indikator kesembuhan. Kesembuhan setelah berpuluh tahun dicengkram sihir. Sementara sekeliling menuduhnya memiliki kelainan mental!

Jam sudah mendekati angka 11, masih ada satu job lagi. Yaitu meramukan ibu dan keluarga itu Ramuan Cuci Darah, sekaligus mentrainingnya untuk dikonsumsi selama 40 hari kedepan. Madu, Habbat dan Zaitun. Hanya ada tiga herbal itu disana, dan saya meramukannya untuk mereka. Dan kemudian meruqyahnya. Jam 11.45, kami makan siang. Dan jam 12.00 kami pamit, kemudian diantar ke Airport Changi dan terbang ke Jakarta.

Besok harinya, saya menerima 2 gambar dari ibu ini. Yang satu adalah bukti transfer uang, saya berfikir untuk wakaf tunai RehabHati Foundations. Ternyata tidak, beliau memberi hadiah dengan nilai yang mengejutkan. Saya bahagia karena mendengar ibu sembuh total, dan ada tangis bahagia dirumah itu. Hal lain adalah, uang itu adalah halal dan penuh berkah.

screen-shot-2016-09-11-at-5-17-55-pm

Gambar kedua yang si ibu itu kirim adalah benang yang keluar dari perutnya. Benang sihir yang selama puluhan tahun menyakiti dan menggelisahkan itu keluar tanpa operasi. Allahuakbar

muntah-benang-ruqyah-singapore

Semoga kisah ini menginspirasi banyak jiwa yang sedang mencari. Dan bahwasannya mukjizat kesembuhan itu benar-benar ada. Bersandarlah kepada Allah yang kekal kasih sayang -Nya, dan berikhtiarlah dengan jalan yang ma’ruf. Ruqyah Syariyyah itu bagian dari sunnah, maka jangan setengah-setengah dalam berhijrah. Ambillah sunnah secara kaffah agar berkahnya sempurna.

 

Oleh: Nuruddin Al Indunissy

Founder RehabHati