Menu Close

Biografi Korban Santet [1]

Biography NaiSebagian orang menilai tulisan tidak lebih dari sampah-sampah dunia maya, sebagian orang menilai hanyalah curahan hati dari jiwa yang terabaikan atau barangkali bahasa marketer yang mencuri perhatian mangsanya. Namun sebenarnya diantara jutaan kata tersebut ada untaian yang mengalir dari telaga tenang yang ingin menyejukan jiwa-jiwa yang bergemuruh dalam kecamuk kehidupan. Karena diantara hati-hati yang gersang kekeringan dan kesakitan itu ada diantaranya pembaca yang dahaga, ingin segera menghanyutkan jiwanya kedalam bait-bait penuh penjiwaan, menelusuri menjadikan setiap baris buah jemari itu sebagai lautan hikmah yang menarik untuk ia selami.

Hari ini saya ingin mengajak anda berwisata ke selatan pulau jawa bersama pasir putih dan gelombang kasarnya dimana wisatawan dapat menikmati sajian langsung gelegaran bahkan menyentuh ombaknya. Sekedar melepas penat atau menghempaskan nafas kelautan, bersama gemerisik rerumputan kering ditepian pantai sambil menyaksikan penyu-penyu lugu menelurkan warisan kehidupan di pantainya yang bening bak telaga al kautsar yang dirindukan.

Tiga puluh lima kilometer kearah utara udara sudah berubah, meski tetap panas namun sudah banyak pohon-pohon kering dan bebukitan juga rumah-rumah bambu yang tinggi. Biasanya kemarau sangat panjang, hingga penduduk kampungnya mengangkut air pagi dan sore dari titik terendah tanah

dilembah daerah itu. Jampangkulon, begitu nama daerah tersebut ramah ditelinga para pendekar jaman dahulukala saat fir’aon masih lelengohan. Hhh kumaha atuda abdimah dan urang sunda pisan..

Jampangkulon adalah sebuah peta mudik yang menyeramkan, dari pusat kota sukabumi saja masih harus menempuh sekitar 4 jam ke selatan melewati bebukitan terjal dan pemandangan kebun teh yang gak habis-habis. Sulit menggambarkan keindahan daerah ini karena memang tidak menarik dari segi apapun. Namun demikian, dahulu disanalah salahsatu kisah cucu Adam alaihi sallam lahir dan dibesarkan.

1986, bertepatan dengan adzan dihari jum’at seorang bayi mungil terlahir. Rumah bambu 4 x 7 meter itu menjadi saksi bahwa satu lagi Umat Nabi Muhammad sholallahu alaiyhi wa sallam terlahir, ikut menghangatkan suasana desa yang gelisah itu.

Anak itu kemudian tumbuh sakit-sakitan hingga ia beranjak remaja, batuk kering yang khas dan eksim disekujur tubuhnya membuat ia malu saat teman-temannya disekolah dasar mengajak untuk berolahraga atau upacara bendera. Tubuhnya kecil dan kering, pernah ia batuk dari jam 3 pagi sampai jam 4 disore hari. Saat ia batuk ayam-ayam berhenti berkokok, biasanya batuk itu tidak berhenti sampai hidung anak itu mencium lantai dari bilik bambu dan nafasnya tersenggal-senggal. Orang-orang berkata anak ini ‘karuhun’, atau sebagian dukun mendiagnosa ini korban dukun yang menyihirnya dengan ayam pelung. Ayam pelung merupakan ayam terbaik, dimana saat ia ‘kongkorongok’ atau berkokok dengan suara lengkingannya disubuh hari ia tidak akan berhenti hingga patuknya menyentuh tanah.

Meski demikian anak itu lulus sekolah dasar dengan nilai ujian nasional yang memuaskan, menyempurnakan dirinya sebagai juara kelas 6 tahun berturut-turut dan peraih nilai UN tertinggi di sekolah itu yang memudahkan ia untuk melaju ke jenjang sekolah berikutnya, yaitu Sekolah Menengah Pertama atau SMP. Disana ia belum bebas gunjingan, disore hari dalam ekstrakurikuler PMR yang ia ikuti biasanya ia jadi bahan rebutan cewe-cewe kakak kelasnya karena sangat pas untuk dijadikan bahan praktik sebagai “pasien” karena mudah dibawa-bawa dalam tandu, karena bobot tubuhnya yang sangat kecil. Hingga munculah julukan si pasien, meski dendam dihatinya terbalaskan saat ia kelas 3 dan menjadi ketua PMR disekolah itu.

Selepas itu ia mulai masuk ke jenjang ‘high school’ atau SMA, dan adiknya yang terpaut usia 2 tahun tidak melanjutkan sekolah dasarnya dan mulai bekerja di Bekasi sebagai tukang jahit demi membantu ayahnya yang bekerja sebagai kuli bangunan untuk membiayai kakaknya. Jika kakaknya kurus kering, maka si adek ini gemuk dan sehat. Hanya saja pendiam dan sabar, sehingga sekolah pun ia korbankan demi kakaknya.

SMA seharusnya masa yang penuh kisah, tapi tidak dengan si anak kerdil yang sekarang beranjak dewasa ini. Meskipun eksim yang memalukan dan batuk ‘mengi’ nya itu sekarang sembuh dengan wasilah kyai dukun setempat, dibahunya ada banyak beban. Di tahun-tahun itu lahir adik keduanya yang juga mulai sakit-sakitan, anak itu suka menangis dimalam hari dan tidak berhenti kecuali setelah dipangku keluar rumah dan berjalan jauh darinya.

Tidak ada banyak kisah di SMA itu, jangankan punya modal untuk pacaran baju seragam aja hanya satu. Jika hujan, maka pagi hari harus dikeringkan dengan setrika dari arang kayu atau dijemur depan tungku sementara jarak yang harus ditempuh tidak kurang dari 7 kilometer jalan kaki melewati perkampungan dan sawah basah. Namun di sekolah itu ia menemukan jatidirinya yang hilang, setelah ia putus pesantren nahdiyyin di kampungnya karena malas belajar arab kuning yang gundul itu ia ikut gabung jadi tentara Ikhwanul Muslimin dan belajar islam dengan metode yang lain. Itupun tidak kurang dari 3 bulan karena masa pendidikannya berakhir di sekolah itu. Sebelum meninggalkan sekolah, setahun terakhir ia mulai diakui guru-guru disana karena kesungguhan anak tersebut untuk ‘menghafal kamus’ kosa kata bahasa ingris, hingga ia di juluki ‘si mister’. Bahkan ia mendirikan dan sekaligus menjadi ketua ekstrakurikuler English Club di sekolah itu dan dibanjiri banyak siswa baru, sampai-sampai ia mengajar 5 kelas sekaligus di sore harinya.

Setelah itu ia hijrah ke kota bandung, mulai mengenyam dunia pendidikan yang disebut kuliah. Ayahnya dan Ari – dengan diamnya – menyanggupi untuk membiayai si kakak selama kuliah meskipun ia bekerja hanya sebagai tukang jahit dan ayah bekerja di proyek bangunan. Di semester 2 saya mulai menempuh ‘On Job Training’ atau PKL di Holiday Inn Resort Batam di kota Batam, disana saya mulai mendapatkan uang saku jadi mulai berani untuk menyetop seluruh transferan rutin dari rumah. Itu berlangsung sampai ia lulus dan wisuda.

2006, dan saya lupa tanggal persisnya. Si kakak itu loncat-loncat kegirangan menerima kabar dari ‘Human Resource Management’ hotel Kota Bukit Indah di Purwakarta karena ia diterima bekerja disana. Dan saat itu adiknya dari bekasi datang mengucapkan selamat kepada kakaknya, dan disitu pula Ari mendadak sakit aneh. Ia tiba-tiba menangis di sebuah kotsan di Gang Angrek, sebuah kampung perbatasan antara karawang dan purwakarta.

Ari tiba-tiba menangis dan tidak bisa dihentikan hingga subuh hari, akhirnya jam 6 pagi sang kakak yang harus mulai bekerja membelikannya ‘nasi uduk’ dan disimpan dikotsan itu. Jam 3 sore si kakak pulang dan adiknya hilang, dan dapat kabar dari ibu kotsan bahwa Ari pergi dan lupa menutup pintu ketika ditanya ia jawab; “Saya mau pulang ke rumah”. Dua hari kemudian si kakak di telephone dari rumah dengan irama marah yang meledak-ledak…

“Kenapa adikmu pulang sendirian malam-malam, kakinya berdarah-darah dan sendalnya tinggal sebelah. Ada apa?” kata ayahnya di telephone.

“Ada apa?” si kakak tidak paham, adiknya pulang ke Jampangkulon. Dalam waktu tempuh normal, dari Purwakarta menuju Jampangkulon itu bisa ditempuh sekitar 12 jam melewati karawang – cikarang – bekasi – jakarta – depok – bogor – sukabumi hingga Jampangkulon. Namun dalam kondisi linglung bisa saja jarak itu membingungkan, hingga uang 2 juta di tas ari yang ia kumpul-kumpul itu habis tercecer.

Ari gila, sebuah penyakit memalukan yang membuat hati si kakak ciut setiap kali mengingatnya. Konon katanya ada tetangga yang iri, karena saat itu ada tiga orang yang bekerja di keluarga saya. Jika tiga orang bekerja maka keluarga itu akan maju. Begitulah mitos yang berkembang di kampung itu, sehingga salah satunya harus di santet! Haaa…

Barangkali anda mulai meninggalkan tulisan ini, tapi sesungguhnya mata saya mulai berkaca-kaca jika mengingatnya. Karena si kakak yang egois itu adalah saya sendiri. Sihir atau santet itu benar-benar menjadi penyakit menakutkan yang menyempurnakan kesengsaraan masyarakat disana. Dan kami saat itu hanya memposisikan diri sebagai korban santet. Dan leluhur kami, terbiasa atau memang tidak ada pilihan lain menggunakan jasa dukun untuk mengobatinya.

Begitulah nasib adik saya, dan kami saat itu 2007-2008-2009 tetap bekerja di Hotel hingga akhirnya di PHK di tahun ke 3. Sempurnalah kisah penuh derita itu. Kami semua menganggur tanpa sedikitpun tabungan, ibu sejak dulu sakit-sakitan, sementara sawah warisan sudah dijual untuk biaya kuliah dahulu. Saya pulang tanpa harap, malu dan lemas ke Jampangkulon.

Disana saya merasakan bahwa keluarga itu begitu berharga, mereka tetap ada dan bahagia menerima anaknya apa adanya. Saya diliputi perasaan bersalah dan terperangah, melihat rumah semi permanent itu berantakan. Adik saya semakin gemuk, hanya saja wajahnya menghitam memendam sesuatu dan makannya banyak. Ibu saya kusut dan kering, begitupun ayah. Senyum hanya tergaris diwajah adik saya yang ke-2, yaitu ira yang mulai remaja.

Singkat cerita, saya dapat tawaran bekerja di luar negeri. Saya mengejar mimpi dan mengantar nafsu untuk mencari uang, karena saat itu dibenak saya gaji 40 juta/bulan yang bisa membahagiakan ayah saya. Saya bekerja di Riyadh hingga dua tahun kemudian, dan 2012 saya pulang. Hanya membawa laptop dan baju kotor, gaji bulanan biasanya di transfer ke rumah dan entah kemana. Namun saat itu saya sudah jauh berubah.

Kalau dahulu seniman jadi-jadian, saat itu saya pulang bawa lebih dari 400 catatan dari kota Riyadh, Makkah, Madinah, Jedah dan sudut-sudut kota yang saya singgahi dinegeri itu. 10 june 2012 saya terbitkan buku pertama saya “RehabHati” dengan spectrum iman, jika anda baca itu anda akan melihat itu buku terkacau di Jamannya. Manhajnya tidak jelas, EYD berantakan, tidak ada intisari dan gak jelas awal akhirnya. Saya pun malu jika mengingatnya, meskipun saat itu banyak dapat pujian dari fansnya. Mereka banyak menangis sebelum selesai halaman 30. Saat itulah saya mulai bermimpi seperti Ippho Santosa, yang sukses dan menasional di usia 34. Namun sayang, ada kisah pahit disana. Sebuah kisah yang akan terus terpahat di jiwa saya. Uang royalti dan distribusi yang saya harapkan bisa membayar kekecewaan yang ayah itu ternyata lenyap, bahkan hingga kini utang ke penerbit masih menggantung. Akh..

Jika ingat hal ini, pasti saya ingat bait-demi-bait yang saya tulis dengan tinta air mata. Penghianatan adalah duri yang pasti ada dalam setiap kisah perjuangan seseorang.

“Daaarrrr!!” sore itu tiba-tiba,..

“Ridwan!!” teriak bapa sama adik saya. Ternyata itu adalah suara kursi yang menembus kaca depan kamar saya, kursi itu melayang dari tangan adik saya. Herannya adik saya menangis, memunguti butiran kaca itu satu persatu. Dan saya tertegun “Ya Rabb.. Ari masih sakit, kenapa ayah selalu bilang dia sudah baikan?”

Ternyata selama 3 tahun ini bapa dan ibu menyembunyikan cerita pahitnya, seluruh kaca (sembilan kaca rumah, kaca lemari, televisi, meja, komputer dan semua yang berbentuk kaca) ari pukul dengan tangannya saat dia marah. Dan benarlah, semua kaca itu sudah bapa ganti.

Tidak hanya itu, sambil menahan tangis bapa pernah bilang; “Adik kamu itu nai sampai telanjang, ngejar-ngejar anak sekolah! Dan bapa bingung, akhirnya bapa gali tanah dua meter di dapur. Si ari di pasung, dan tanah itu ditutup dengan papan. Tapi jam 10 malam si ari hilang. Ia membuat lubang dengan tangannya dan kabur ke sawah. Pagi-pagi tetangga menemukannya di sawah, sedang membajak sawah dengan tangannya” katanya sambil menahan butiran bening di kelopak matanya.

“Bapa bingung, semua dukun sudah didatangi. Tidak ada yang mampu menyembuhkannya, bapa hampir putus asa. Dan saat itu ada dukun yang sakti, bisa menemukan siapa yang menyantet anak bapa” katanya melanjutkan.

“Yang menyantet si ari itu kalau diludahi maka tidak akan sampai, kalau dilempar batu rumahnya terlewat jauh” kata ayah saya dengan bahasa  sunda meniru perkataan dukun yang memberi fatwa kepadanya. Artinya, yang menyihir adik saya ini adalah tetangga…

Jiwanya mulai bergemuruh, dan seluruh bisikan jahat menggelayutinya. “Siapa yang menyihir anak saya! Coba datangkan kerumah besok pagi mbah dukun!?” begitulah kira-kira yang beliau ucapkan dengan marahnya. Dan mbah dukun yang bijak dan baik hati itu berkata; “Jangan begitu, itu tidak baik dan melanggar hukum?”

“Berapa maharnya…?” begitu barangkali ayah saya dalam kepanikan. Entah kesyirikan apa yang telah beliau lakukan untuk memenuhi syarat dari wali syaitan ituhingga singkat cerita beliau pulang kerumah dan membawa laja. Sejenis tumbuhan jahe/gingger yang wajib di tanam di empat sudut rumah.

“Besok pagi tukang sihir itu akan datang dan minta maaf” pesan mbah dukun tersebut.

Subuh hari ayah saya sudah stand-by dan mengasah (mempertajam) golok dengan batu asahan di depan rumah. Dan manusi yang ditunggu itu datang tergopoh-gopoh, sedikit membungkuk karena sudah tua. Ayah saya terperangah, karena yang datang dan menundukan wajah itu orang paling sholeh di kampung itu…

Beliau adalah mantan wakil kepala sekolah saya, tokoh masyarakat dan dihormati. Barangkali beliau adalah guru ibu saya saat sekolah dulu. Ayah saya menangis dan menebaskan goloknya tepat di batang….

[bersambung]

 

2 thoughts on “Biografi Korban Santet [1]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.