Menu Close

“BUKAN” MINAL AIZIN WAL FAIZIN…

ღبِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيღ

Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh.

Semoga Kesejahtraan, Shalawat serta salam selalu tercurah kepada kekasih Alam, Rasulillah ✿ܓMuhammad Shalallahu ‘Alahi wa Salam beserta Keluarga, Sahabat, Tabiin Tabiat dan Pengikut yang setia dengan Assunahnya hinga akhirul Jaman.



Sahabat..

Ucapapn minal aidzin ini tidak ragu lagi telah ikut memeriyahkan suasana Idulfitri disetiap tahunnya, tapi tahukah dari mana asalnya kata ini?

Sudahkah kita mengucapkannya dengan dengan Ilmu, atau hanya ikut ikutan? Mungkin pertanyaan ini yang ingin saya garis bawahi dicatatan terakhir sesi Ramadhan ini.

Mari kita lihat dengan seksama, dari mana kata ini berawal. Mari kita telaah bersama beberapa riwayat yang telah menyinggung tatacara ucapan selamat di hari raya ini.

Jubair bin Nufair berkata:

“Para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bila bertemu pada hari raya, maka berkata sebagian mereka kepada yang lainnya : Taqabbalallahu minnaa wa minka (Semoga Allah menerima dari kami dan darimu)”. (Al Hafidh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari [2/446] Dalam ‘Al Mahamiliyat’ dengan Isnad yang Hasan )

Muhammad bin Ziyad berkata:

“Aku pernah bersama Abu Umamah Al Bahili dan selainnya dari kalangan sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka bila kembali dari shalat Ied berkata sebagiannya kepada sebagian yang lain : ‘Taqabbalallahu minnaa wa minka” (Ibnu Qudamah dalam “Al-Mughni” (2/259)

Imam Ahmad menyatakan bahwa ini adalah “Isnad hadits Abu Umamah yang Jayyid/Baik.

Beliau menambahkan: “Aku tidak pernah memulai mengucapkan selamat kepada seorangpun, namun bila ada orang yang mendahuluiku mengucapkannya maka aku menjawabnya. Yang demikian itu karena menjawab ucapan selamat bukanlah sunnah yang diperintahkan dan tidak pula dilarang. Barangsiapa mengerjakannya maka baginya ada contoh dan siapa yang meninggalkannya baginya juga ada contoh, wallahu a’lam.” [Al Jauharun Naqi 3/320. Suyuthi dalam ‘Al-Hawi: (1/81) : Isnadnya hasan]

Nah, Sahabat..

Lalu kenapa Minal Aidzin Walfaidzin?

Pada perkembangannya, berjuta juta masyarakat Indonesia dan media media Televisi sering memperdengar kata ini digandengkan dengan kata ‘Mohon maaf lahir batin’..

Sehingga kurang lebih diucapkan seperti kalimat berikut:

“MINALAIDIN WAL FAIZIN – MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN”,

Sehingga lahirlah kesan bahwa “Minal Aidin Wal Faizin” itu berarti “Mohon Maaf Lahir dan Batin..”

Benarkah begitu?

Mari kita perhatikan dan analisa bersama.

Jika dua frase itu diartikan secara menyeluruh, dalam bahasa indonesia yang benar artinya adalah:

“Termasuk dari orang orang yang kembali sebagai orang yang menang – Mohon maaf lahir dan Batin”.

Sebuah kalimat yang tidak utuh.

Karena dengan demikian, artinya tidak jelas. Do’a bukan (karena tidak lengkap) dan salam juga bukan 🙂

Lucu bukan?

Mari kita perhatikan penerjemahan makna kalimat Minal Aidin Wal Faizin dalam bahasa Arab berikut:

Min, artinya “Termasuk”.

Al-aidin, artinya ”Orang-orang yang kembali”

Wa, artinya “Dan”

Al-faidzin, artinya “Menang”.

Jadi makna “Minal Aidin Wal Faizin” jika dipaksakan artinya, kedalam kaidah bahasa Arab – Indonesia yang benar adalah “Termasuk dari orang-orang yang kembali (dari perjuangan ramadhan) sebagai orang yang menang”.

Artinya mengambang bukan?

Nah lalu apa solusi dari kurangnya pemahaman bahasa diatas ?

Ini untuk menambah khasanah ilmu kita saja.

Agar nanti, jangan sampai terjadi ketika adik adik kita bertanya artinya lalu kita tidak tahu. Dalam keseharian orang orang Arab yang saya temui, salam yang mereka ucapkan dihari raya ini adalah “Kullu aam wa antum bikhair” (Semoga kebaikan menyertaimu sepanjang tahun) atau sesekali terdengar kalimat “Taqabbalallahu minna waminkum”.

Kalimat “Taqabbalallahu minna waminkum” ini memang kalimat terbaik yang dicontohkan oleh Sahabat Rasulullah saw. Kemudian ucapan ini ditambahkan oleh para sahabat dengan kata-kata “Shiyamana wa Shiyamakum”, yang artinya puasaku dan puasamu, sehingga kalimat lengkapnya menjadi: “Taqabbalallahuminna wa minkum, Shiyamana wa Shiyamakum”.

Semoga kalimat minal aidzin wal faidzin ini tidak termasuk bid’ah. Jika kita berniat ingin saling mendoakan sesama saudara seiman dengan motivasi mengucapkan kata tersebut untuk sebuah doa dan ucapan selamat maka tidak ada keharaman, Insya Allah.

Tapi selayaknyalah sebagai muslim yang terpelajar, kita seharusnya mengucapkan segala sesuatu itu dengan ilmunya. Agar ketika nanti ucapan itu ditiru akan menjadi kebaikan, bukan sesuatu yang tidak ada contohnya apalagi artinya mengambang.

Jikapun lidah kita telah latah dengan kalimat itu, dan ingin tetap mengucapkan “Minal Aidzin” maka lebih baik jika kalimatnya diserasikan.

“Taqabbalallahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum. Ja’alanallaahu minal aidin wal faizin”

Artinya: “Semoga Allah menerima amal-amal kami dan kamu, puasa kami dan kamu. Dan semoga Allah menjadikan kami dan kamu termasuk dari orang-orang yang kembali (dari perjuangan Ramadhan) sebagai orang yang menang.”

Ja’alanallaahu berarti “Semoga Allah menjadikan kita”.. sebagai tambahan untuk melengkapi, Minal aidin wal faizin yang mengambang tadi..

Sekedar tambahan, bagaimana jika kita ingin mengucapkan “mohon maaf lahir dan batin” dalam bahasa Arab yang benar?

Salah satunya adalah “Asalukal afwan zahiran wa bathinan”.

Sekali lagi bukan Minal Aidin wal Faizin, karena kata ini bukan berarti kalimat permintaan maaf. Mungkin hanya sebuah do’a yang tidak utuh.

Demikian, mohon koreksinya jika ana salah.

Akhir kata..

Dengan ini saya pribadi, atas nama pena Nuruddin Al-Indunissy ingin mengucapkan:

Selamat menyongsong hari raya Idul Fitri 1432 Hijriyah.

”Taqabbalallahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum. Ja’alanallahu minal aidin wal faizin”

“Semoga Allah menerima amal-amal kita, Dan semoga Allah menjadikan kita termasuk dari orang-orang yang kembali dari perjuangan Ramadhan sebagai orang yang menang.”

Mari kita memohon kepada Dzat Allah Aza wajala,

Semoga kita dianugerahi untuk menikmati Ramadhan tahun tahun berikutnya dengan rizki dan kebarokahannya. Amiin

Sengaja ucapan ini saya dahulukan karena mulai besok, tertanggal 19/08/2011 bertepatan dengan 19 Ramadhan 1432 Hijriyyah saya undur diri dari segala kegiatan di Facebook untuk menghormati 10 Hari Terakhir Ramadhan.

Semoga Allah memberi kekuatan.

Saya ingin menikmatinya di Mesjidil Haram-Makkah.

Bagi sahabat yang kebetulan membaca catatan terakhir di sesi ramadhan ini, dan ingin bergabung dengan ana disana, silahkan untuk menghubungi di mobile.

Insya Allah selepas jum’at besok bertolak dari Riyadh menuju Madinah, dan besoknya langsung ke Makkah.

Alhamdulillah..

All Praisess to Allah..

All Praisess for Allah..

NURUDDIN AL INDUNISSY

RIYADH 2011/ 18 RAMADHAN 1432 H

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *