Biarkan teori teori kebenaran itu besebrangan.
Islam ini bukan milik mereka saja, Islam ini bukan hanya milik mereka yang memegang senjata saja, atau mereka yang bangga dengan logo dakwah, khilafah, salafushalih, atau majlis majlis pengatasnamaan ahlussunnah lainnya, Islam ini bukan hanya milik kaum Intelek yang sibuk dengan perdebatan! Islam ini juga milik mereka yang hatinya tenang di surau surau kecilnya, mereka yang terasing ditengah belantara kota. Islam ini Rahmatan Lil’alamiin saudaraku. Mari berjalan berdampingan menuju keabadian, berpegang tangan erat erat agar tidak tersesat dijalanan menuju Ridha Nya.


ღبِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيღ
Kugoreskan pena ini dengan menyebut Asma Nya,
Kuawali dengan salam dari Syurga; “Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh”, semoga kesejahtraan Shalawat serta Salam senantiasa dicurahkan kepada Rasulullah sholallahu ‘alaihi wa Salam, para Sahabat, tabiin tabiat dan generasi salafushalih, Ulama pewaris Nabi hingga kita sebagai Ummatnya di akhir jaman.

Semoga Allah meridhai, menyayangi, mencintai dan Merahmati para pejihad yang meninggikan kalimat Allah dengan tetasan darahnya digaris depan. Semoga Allah meridhai, menyayangi, mencintai dan Merahmati para Ulama pejihad Dakwah yang mewarisi Ilmu Nabi yang dishalawati Allah dan semua mahluk Nya, hingga semut disarangnya dan Ikan ikan dilautan.

Semoga Allah meridhai, menyayangi, mencintai dan Merahmatimu wahai saudara saudariku yang tengah menyingsingkan lengannya, meneguhkan hati dan berbaur dengan jemaah pecinta Ilmu. Semoga Allah menajamkan hatimu dalam menangkap Hikmah Hikmah Nya, memberkati jalanmu sebagai Jihad untuk memberantas fikiran fikiran batil – mengubah – dan menyinari bumi Allah ini dengan Cahaya Al Islam. Agar semesta Ramai Bertasbih Memuji Nya.

Saudaraku, jika engkau melihat goresan ini adalah sebuah Nasihat.
Maka resapiah isinya dan lupakanlah siapa penulisnya, sesungguhnya telah kutulis catatan sederhana ini dari hatiku untuk hati hati yang merendah dan hina dihadapan Nya.

Lihatlah air yang bahagia dengan Fitrahnya..
Jika sesekali ia harus meninggi, ia tak sabar ingin kembali turun.
Awan awan berlarian dan bergabung menjadi hujan, Lihatlah hujan..
Mereka berlomba lomba menuruni lembah, bebukitan dan hutan lalu bergabung dilautan atau diam ditempat yang rendah mencipta keindahan dan manfaat bagi Manusia dan mahluk Nya.

Merendahlah, karena kebenaran akan mengalir kelembah hatimu yang rendah.
Hanya tanah yang lembutlah yang mampu menyerap air dan menumbuhkan tunas tunas kebahagiaan. Semoga kebahagiaan senantiasa meneduhkan lembah dihatimu ya Ikhwatal Iman.

“Sesungguhnya berbagai Keluhan Hati dan Keresahan Jiwa adalah Cerminan kemiskinan perbendaharaan Hikmah Nya didalam diri kita, Hingga Cahaya Nya dihati kita meredup, mata hati yang tumpul, jiwa yang jenuh lalu tubuh menanggung deritanya. Kualitas kebahagiaan di Dunia sebading dengan kualitas kezuhudanmu terhadapnya.
Karena kebahagiaan itu bukan disini, tapi disana. Disebuah tempat dimana jiwa seorang muslim muslimah beristirahat dari lelahnya Dunia”.

Saudaraku, Islam ini sedang dipersimpang jalan..
Peliharalah hatimu, jangan biarkan ia menoleh mengikuti berbagai seruan laksana dedaunan yang mengikuti kemana arah angin berhembus. Perbedaan ini tak ubahnya hembusan angin yang tak akan pernah mereda sepanjang masa, dan menentangnya adalah kesia siaan..

Perdebatan demi perdebatan hanya akan menciptakan dinding pemisah dihati kita. Menanamkan kebencian tak beraturan yang disenangi Syaitan Syaitan dikalangan Manusia dan Mahluk Nya yang terlaknat.

Perkokohlah pohon iman dihatimu dengan Ilmu, kuatkan akarnya dengan cengkraman Tauhid yang kuat, dan bersihkan ranting rantingnya dari parasit keraguan dan was was. Relakan daun daun yang telah menguning berguguran, dan biarkan tunas tunas baru tumbuh rimbun meneduhkan. Agar buah manisnya iman segera engkau petik didunia ini, atau lanjutkan pelayaran biduk sabar itu hingga diperadilan Nya diakhirat kelak.

Biarkan teori teori kebenaran itu besebrangan.
Islam ini bukan milik mereka saja. Islam ini bukan hanya milik mereka yang memegang senjata saja, atau mereka yang bangga dengan logo dakwah, khilafah, salafushalih, atau majlis majlis pengatasnamaan ahlussunnah lainnya..

Islam ini bukan hanya milik kaum Intelek yang sibuk dengan perdebatan!
Islam ini juga milik mereka yang hatinya tenang di surau surau kecilnya, Islam ini juga adalah milik mereka yang terasing dipedesaan.. anak muda yang matanya memerah menelaah Hikmah dan Ilmu Nya dari kitab kitab tua warisan Ulama yang mereka hormati. Islam ini juga milik ayah ayah mereka yang bersusah payah menanam diladangnya demi Anak yang akan mewarisinya.

Islam ini juga milik ibu mereka yang terbangun ditengah malam, berdoa untuk anaknya di kota. Islam ini juga milik mereka yang terasing ditengah belantara kota, melangkah dari desa untuk kembali kedesanya dan melenyapkan kebodohan disana.

Islam ini Rahmatan Lil’alamiin saudaraku.
Mari berjalan berdampingan menuju keabadian, berpegang tangan erat erat agar tidak tersesat dijalanan menuju Ridha Nya. Kebenaran ini adalah milik Nya yang Al Haq. Kita hanya bisa mencoba mengintip sebagian kecil saja.

Apa hak kita menghina saudara kita yang dihatinya bergetar senandung Iman?
Apakah gerangan yang membuat kita begitu mudah menggibah, mencerca tanpa pengetahuan saudara kita yang hatinya basah dengan Dzikrullah. Apalagi merendahkan para ulama lalu berdiri dan menganggap diri paling benar.

Saudaraku, menyenangkan memang mengumbar kata kata, tertawa tawa..
Hingga diri yang angkuh itu terlupa, bahwa Jahanam dibelakang kita sedang menyala nyala. Ketahuilah peluru kematian tidak pernah berhenti, ia sedang mengintai dan terus mendekat.

Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya, ada manusia mengucapkan kalimat yang dianggapnya biasa, namun dia terjun ke neraka sejauh tujuh puluh tahun karenanya.” (HR. at Tirmidzi)

Ibn Qayim al Jawziyah menegaskan hadits ini dengan tulisannya “Ada kata-kata yang dianggap remeh ketika mengucapkannya padahal bisa menyebabkan dia tersungkur ke neraka lebih jauh dari jarak antara timur dan barat.” (Miftah dar Assa’adah IV/462)

Saudaraku yang santun.
Mari kita belajar dari hamba hamba Nya yang tawadhu dan berilmu, mereka pandai menjaga hati dari lidahnya. Karena mereka begitu tahu bahwasannya tawa tawa itu adalah penyebab kematian hati. Didalam dada kita rumah taqwa bertahta, didalam lembah hati Iman bersemayam, biarkan ia berdzikir jangan mengusiknya dengan kegaduhan.

Betapa menyedihkan sebentuk tubuh sempurna dengan akalnya..
Jika hari harinya hanya dipergunakan untuk membuat kegaduhan di Dunia ini.. Hingga tepian hatinya ditumbuhi bulir kebencian, ketakutan, keresahan dan banyang bayang yang merisaukan aktifitas fikirannya. Mata hatinya samasekali tidak bisa melihat Hikmah Nya dari perbedaan ini, mulutnya terbuka lebar meneriakan egoisme dan permusuhan. Itulah penyebab kematian hati sebelum kematian yang sesungguhnya..

Saudaraku,
Kemampuan bicara adalah anugerah yang dilebihkan Allah ta’ala untuk Manusia, untuk bertanya dan menyampaikan Syariah-Nya. Mencari Ilmu dijalan Nya, untuk bekal diakhirat yang kekal. Mempersiapkan diri, memperbaiki diri dan menyingsingkan lengan tangan, membuka telinga dan mata agar bisa menyerap kebenaran dan bersungguh sungguh mempelajari Hikmah dan Ilmu Nya disemesta ini, lalu mengamalkan untuk dirinya dan menyeru saudaranya.

Hamba hamba inilah yang dishalawati Allah dan Mahluk Nya, hingga ikan ikan dilautan yang diam dan semut disarangnya bershalawat kepada mereka sebagai penghargaan.

Rasulullah saw bersabda:
“Keutamaan seorang alim atas seorang ahli ibadah seperti keutamaanku atas orang yang paling rendah di antara kalian. Sesungguhnya Allah SWT, para malaikat, seluruh makhluk yang di langit dan di bumi, hingga semut di lubangnya dan ikan paus di dalam laut bersalawat kepada para pengajar kebaikan.” (HR Tirmidzi dalam kitab Sunan Tirmidzi, sanadnya adalah Muhammad bin Abdullah al-A’la dari Salamah bin Raja’ dari al-Walid bin Hamid dari al-Qasim dari Abu Umamah al-Bahili)

Jangan seperti cucu cucu Khawarij yang senang menghina dan mengkafirkan para Ulama tanpa Ilmu. Mereka tersesat dijalanan ini, dan Allah telah menimpakan kesengsaraan di dunia ini dengan pedangnya sendiri. Mereka terpisah dari jemaah Ahlusunnah dan mengaku paling benar, membunuh saudaranya yang tidak satu ideologi dan menciptakan kegaduhan dimana mana.

Ketahuiah, Pohon Iman dihatimu tidak akan tegap berdiri tanpa Ilmu.
Penafsiran penafsiran Al Qur’an dengan kerendahan pengetahuan pendampingnya hanya membuat mereka menjadi Ujung tombak fitnah terhadap keseluruhan ummat Muslimin di dunia ini. Lemahnya Iman yang disebabkan miskinnya Ilmu itu telah memadamkan nur-Illahi dihatinya, hingga mata hati itu buta, telinganya tuli dari kebenaran dan fikirannya bisu. Lalu berdiri mengkafirkan saudaranya.

Itulah manusia merugi, ia tidak memberi manfaat bahkan menyesatkan manusia lain dengan akal dan kemampuan bicaranya. Bahkan binatang lebih baik, karena binatang masih memberi manfaat kepada Manusia.

“Sesungguhnya binatang (makhluk) yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah orang-orang yang pekak dan tuli yang tidak mengerti apa-apa pun.” (al-Anfaal: 22)

Mereka terus menghina dan menyakiti saudaranya,
Mereka benar benar terlupa dan melupakan pesan Rasulullah saw yang telah menyerukan Ummatnya dalam satu seruan dalam satu ukhuwwah didalam naungan keindahan cahaya Islam:

“…Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara. Muslim adalah saudara muslim lainnya, ia tidak menganiaya, tidak mengecewakannya, dan tidak menghinanya. Takwa itu ada disini -beliau menunjuk ke dadanya tiga kali- Sudah termasuk kejahatan seseorang bila ia menghina saudaranya yang muslim. Setiap muslim bagi muslim lainnya adalah haram baik darahnya, hartanya dan kehormatannya.” (HR Muslim, dari Abu Hurairah ra)

Saudaraku, jangan berjibaku dan terjebak dalam fenomena yang menggemparkan Dunia Islam saat ini, jangan menjadi bagian sekelompok umat yang aktif mengkafirkan kelompok lainnya. Yang memandang bahwa Musim yang berdiri di luar kelompoknya, atau yang tidak berbaiat kepada imam mereka sebagai kafir, murtad dan keluar dari Islam.

Sesungguhnya Islam tidak begitu, segala sesuatu harus ditanggapi dengan pemahaman mendalam dan berdasar dalil dalil yang benar dan saling membenarkan. Bukan melakukan pembenaran pembenaran terhadap egoisme pemikirannya.

Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma., berkata:
Nabi saw. bersabda: “Apabila seseorang mengafirkan temannya, maka ucapan (yang mengafirkan) itu benar-benar kembali kepada salah seorang di antara keduanya (yang mengatakan atau yang dikatakan)”. (Shahih Muslim No.91)

Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, berkata:
Rasulullah s.a.w. bersabda: “Apabila ada seseorang berkata kepada saudaranya -sesama Muslimnya-: “Hai orang kafir,” maka salah seorang dari keduanya -yakni yang berkata atau dikatakan- kembali dengan membawa kekafiran itu. Jikalau yang dikatakan itu benar-benar sebagaimana yang orang itu mengucapkan, maka dalam orang itulah adanya kekafiran, tetapi jikalau tidak, maka kekafiran itu kembali kepada orang yang mengucapkannya sendiri.” (Muttafaq ‘alaih, Sumber Riyadhussalihin 36/1729)

Anas bin Malik berkata,
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:
“Tinggalkan perbantahan kerana sesunguhnya Bani Isra’il telah berpecah menjadi 71 golongan dan orang-orang Nasrani berpecah menjadi 72 golongan, semuanya sesat kecuali as Sawadul A’zhom. Para sahabat bertanya: Wahai RasuluLlah siapakah sawadhul a’zhom itu? Nabi menjawab: mereka adalah orang-orang yang mengikuti aku dan para sahabatku, tidak berbantah-bantah dalam agama Allah dan tidak mengkafirkan salah seorang di antara ahli tauhid sebab dosa yang sudah diampuni oleh Allah. Kemudian Nabi bersabda : Sesungguhnya Islam itu datang dalam keadaan asing dan nanti akan kembali asing. Para sahabat bertanya : Wahai RasuluLlah siapakah orang-orang asing itu? Nabi menjawab : Mereka adalah orang-orang yang berbuat kebaikan dikala orang-orang berbuat kerusakan, tidak berbantah-bantahan dalam agama Allah dan tidak mengkafirkan salah seorang di antara ahli Tauhid dengan sebab dosa yang telah dia lakukan”. (HR Imam Tabrani dlm al Mu’jam al Kabir 8/152)

Lihatlah saudaraku,
Akankah seseorang akan diakui Ummatnya jika mereka mengabaikan pesan pesannya?

Abdullah bin Amru bin Ash ra., berkata:
Seseorang bertanya kepada Rasulullah saw: “Orang Islam manakah yang paling baik?” Rasulullah menjawab: “Orang yang kaum muslimin selamat dari lisan dan tangannya”. (Shahih Muslim No.57, juga Riwayat Abu Musa ra Sahih Muslim no.59)

Mari kita renungkan kembali dipenghujung malam kita.
Sebenarnya banyak, terlalu banyak yang harus kita benahi dari diri kita sendiri. Diri kita ini adalah setumpuk daging yang menjadi rumah bagi jiwa manusia yang saat ini sesaat singgah di dunia ini, kita ini laksana singgah dipelabuhan dunia dan akan pergi lagi. Waktu kita sangat sedikit.

Jangan hiraukan celaan mereka..
Bagi yang mampu maka berangkatlah, hadapi Musuh Musuh Islam hingga tetes darah penghabisan. Bagi yang tidak mampu berangkat kemedan perang, maka do’akanlah dari mimbar mimbar Dzikir dan Ilmu dinegeri yang aman. Karena medan Jihad itu meliputi seluruh permukaan bumi ini, musuh musuh Islam telah menyerang dari berbagai sudut kultur dan sosial..

Tugas kita membenahinya, dimulai dari ketangguhan Tauhid kita, Iman dan Ilmu kita, diri kita, keluarga kita, lingkungan kita dan Negara kita hingga memasuki barisan Internasional tanpa batas batas mahzab. Bersatu padu dalam shaf yang rapi, disanalah kita kuat.

Allah berfirman:
“Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk mendalami pengetahuan mereka tentang agama dan untuk member! peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka dapat menjaga diri.” (at-Taubah: 122)

Ibn Qayim Menjelaskan:
Ayat ini merupakan motivasi untuk mendalami, mempelajari, dan mengajarkan agama Allah. Sesungguhnya nilai dari semua ini adalah menyamai nilai jihad, bahkan bisa jadi lebih baik dari jihad. Allah ta’ala mendorong orang-orang mukmin untuk memahami agama-Nya, yaitu mempelajarinya dan mengajarkannya kepada kaum mereka saat kembali. Banyak ulama menegaskan bahwa amal yang paling utama sesudah amalan wajib adalah menuntut ilmu. Asy-Syafi’i mengatakan bahwa tidak ada yang lebih utama sesudah ibadah wajib daripada menuntut ilmu.

Dari Abu Hurairah radhiallohu ‘anhu, Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,
“Barang siapa melepaskan seorang mukmin dari kesusahan hidup di dunia, niscaya Alloh akan melepaskan darinya kesusahan di hari kiamat, barang siapa memudahkan urusan (mukmin) yang sulit niscaya Alloh akan memudahkan urusannya di dunia dan akhirat. Barang siapa menutup aib seorang muslim, maka Alloh akan menutup aibnya di dunia dan akhirat. Alloh akan menolong seorang hamba, selama hamba itu senantiasa menolong saudaranya. Barang siapa menempuh perjalanan untuk mencari ilmu, maka Alloh akan memudahkan jalan baginya menuju surga. Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Alloh untuk membaca Kitabulloh dan mempelajarinya bersama-sama, melainkan akan turun kepada mereka ketenteraman, rahmat Alloh akan menyelimuti mereka, dan Alloh memuji mereka di hadapan (para malaikat) yang berada di sisi-Nya. Barang siapa amalnya lambat, maka tidak akan disempurnakan oleh kemuliaan nasabnya.” (Hadits Riwayat Muslim)

Mari kemari, jadilah Muslim yang bersaudara saling memperbaiki dan melengkapi.
Hidup kita di dunia ini laksana bagian dari perjalanan panjang Ruh kita, yaitu dari alam Ruh, alam Rahim, alam Dunia, alam Kubur, alam Mahsyar, hingga ke Hari Hisab dan disana kita nasib kita ditentukan; Syurga yang Abadi atau Neraka yang juga Abadi.

Saat ini, di Dunia ini kita laksana singgah di sebuah pelabuhan.
Kapal itu akan berangkat lagi, kita ditugasi untuk mencari bekal ditepian pantai kehidupan ini.
Banyak dari kita atau mungkin kita sendiri yang lalai dan terus lalai, membangun rumah rumah yang megah dipersinggahan itu padahal peluit kapal telah dibunyikan, seruan seruan telah diserukan. Kapal akan segera berangkat, dan kita tetap tuli.

Bukankah kita tahu, usia efective anak Adam di dunia ini hanyalah berada dalam kisaran 60 tahun saja, bahkan nikmat Dunia ini akan memudar dan hilang setelah kita mulai fikun. Subhanallah..

Ingatlah, kita semua hari ini sedang menuju sebuah jembatan yang akan menghubungkan kehidupan Dunia fana kepada Akhirat yang Abadi. Jembatan itu bernama kematian, setelah kita melewatinya kita akan mendiami rumah baru kita; alam Kubur yang gelap gulita menanti hari kiamat, setelah hari Kiamat tiba kita dikumpulkan dialam Mahsyar..

ALAM MAHSYAR…
Iyah, disana kita telanjang dan kita tidak peduli..
Disana jacket jacket yang kita banggakan itu dilepas!

“Kamu akan dibangkitkan pada hari kiamat tanpa sandal, telanjang bulat dan tidak dikhitan. Aisyah bertanya, “Ya Rasulullah, laki-laki dan perempuan saling melihat (aurat) yang lain?” Nabi Saw menjawab, “Pada saat itu segala urusan sangat dahsyat sehingga orang tidak memperhatikan (mengindahkan) hal itu.” (Mutafaq’alaih)

Disana tidak ditanyakan yang manakah Imam Imam kalian?
Semuga bergabung dalam satu seruan. Wajah wajah Umat Muhammad saw bercahaya dengan berkas berkas wudhunya.

Disanalah kita mungkin baru tersadar tentang kelalaian kelalaian..
Terus berjibaku dalam perdebatan, mengikuti jalan yang bercabang cabang..
Ini bukan syair saudaraku.

Para pendosa menggigil menanti Syafaat Rasulullah…
Bagi para pendosa dan pembangkang, hari Mahsyar itu tidak kurang dari 50.000 tahun, mereka dibiarkan sengsara disana, dilupakan Allah sebelum hari hisab dimulai,.

“Bagaimana keadaan kalian, jika Allah mengumpulkan kalian di suatu tempat seperti berkumpulnya anak-anak panah di dalam wadahnya selama 50.000 tahun dan Dia tidak menaruh kepedulian terhadap kalian?” (HR Hakim dan Thabrani)

Allah ta’ala berfirman
Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”. Berkatalah ia: “Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?” Berkatalah ia: “Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?” Allah berfirman: “Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamu pun dilupakan”. (Al Qur’an Surat Thaha 124-126)

Apa yang akan terjadi dengan diri kita yang dilupakan Allah, dibiarkan menunggu dengan bisu dan gelisah selama 50.000 tahun? Hitungan ini bukan informasi hoak yang menakut nakuti saudaraku.

Diriwayatkan Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah saw bersabda:
“Setiap pemilik emas atau perak yang tidak mau memenuhi haknya (tidak membayar zakat), pada hari kiamat pasti ia akan diratakan dengan lempengan lempengan bagaikan api, kemudian lempengan lempengan itu dipanaskan di neraka jahanam, kemudian lambungnya diseterika dengan lempengan itu. Setiap kali lempengan itu mendingin, akan dipanaskan kembali. Hal itu terjadi dalam sehari yang lamanya sama dengan lima puluh ribu tahun. Hal ini berlangsung tersu sampai selesai keputusan untuk tiap hamba….” (Shahih Al Bukhari dalam Bab Zakat Hadits No. 1314, Muslim No.1647, At Tirmidzi No.1560, An Nasai No. 2405, Abu Daud No. 1414, Ibn Majah No.1766, Imam Malik No. 530 dan juga diriwayatkan Imam Ahmad)

Dari itu mari kita singsingkan lengan tangan, memahami kembali Islam kita agar kita tahu dimana kita berdiri saat ini. Peliharalah hati kita dan hati saudara kita agar Allah memelihara kita, tutupilah aibnya agar Allah merahasiakan aib aib kita di hari mahsyar nanti.

Sikapilah dengan baik, saat celaan, hinaan dan tuduhan menghampirimu.
Tidak usah merasa sendiri dan terhina, malah kasihanilah mereka. Sesungguhnya mereka tidak sadar telah menginamu dari tempat yang lebih hina.

Dunia ini adalah medan pelatihan untuk melatih kesabaran. Sabar yang berkualitas itu bukan setelah tak ada pilihan. Bagi seorang Muslim sabar adalah jawaban khusus terhadap semua guncangan yang menimpannya.

Rasulullah saw bersabda:
“Sabar yang sebenarnya ialah sabar pada saat bermula (pertama kali) tertimpa musibah”. (HR. Bukhari)

Kita memang butuh stock sabar yang cukup untuk mengarungi perjalanan dan persimpangan persimpangannya yang sering tak terduga ini. Disepanjang jalan inilah kesabaran itu akan terus diuji seiring keimanan. Selama ia beriman, selama itu ia diuji. Agar kualitas Iman itu teruji dan membimbingnya kepada syukur.

Pribadi syukur adalah kebahagiaan, ia adalah buah dari kesabaran yang mencerminkan kesempurnaan Iman. Rasulullah saw bersabda: “Iman terbagi dua, separo dalam sabar dan separo dalam syukur”. (HR. Al-Baihaqi)

Cukuplah bisikan hati – yang mengatakan bahwa – sabar itu ada batasnya, adalah bentuk ketidaksabaranmu. Karena batas sabar itu bukan disini, tetapi disana… di Syurga Nya, Insya Allah.

Teguhkanlah jiwa ragamu di Jalan Nya.
Ketahuilah, Jika engkau memberi, maka Allah akan meberimu yang lebih baik lagi.
Jika engkau enggan memberi pun Allah tetap memberimu kehidupan dan kesempatan sebagai nikmat dan Rahmat Nya di Dunia ini.

“Allah berikan dunia kepada orang yang dicintai-Nya dan yang tidak dicintai-Nya, tapi agama hanya Allah beri kepada orang yang dicintai-Nya saja”. (HR Ahmad, Ibn Abi Syaibah & al-Hakim)

Tidakkah engkau ketahui harga Dunia ini ?
Abdullah bin Masud ra meriwayatkan dari Rasulullah saw bahwa penghuni neraka terakhir yang diangkat dan dimasukan kesyurga dihadiahi 10 kali lipat Dunia. (Lihat Sahih Muslim No.272)

Bersahabatlah dengan Dunia ini, carilah ia tapi jangan bernafsu menguasainya. Karena Dunia ini akan kita campakan seusai penguburan kita nanti, dunia ini remeh saudaraku. Tidak ada yang patut engkau khawatirkan, Akhiratlah yang harus kita risaukan. Dunia ini akan engkau dapatkan disana, bahkan seandainya engkau Muslim terhina sekalipun di dunia, 10 kali lipat dunia itu adalah jaminan untukmu.

Jika saat ini engkau sedang berlari mengejar Dunia untuk sebuah kebahagiaan, maka ketahuliah bahwa engkau sedang berlari kearah yang berlawanan dengannya. Maka, kembalilah..

Sikapi kerikil kehidupan ini dengan Senyum dan Ridha.
Seyum yang bernilai Ibadah adalah senyum yang Berkualitas.
Ia terlahir dari kekhuyukan hati dan dipancarkan keikhlasan wajah untuk membahagiakan saudaranya, sehingga wajah saudara kita segar dan menyegarkan wajah wajah lain yang ditemuinya. Spectrum senyum itu terus merambat dari wajah kewajah. Hingga tidak heran, satu senyum yang kita shadaqahkan dipagi hari kita yang disertai Ilmu dan Iman bisa menciptakan multilevel pahala bagi seorang beriman..

Itulah wajah pribadi Muslimin Muslimah yang tenang dan menenangkan siapa saja yang memandangnya. Bukan mereka yang kasar, yang tidak menghargai jiwa jiwa yang Allah perjalankan di Muka Bumi ini.

Indah Islam itu sahabat..
Janganlah sekali kali menunjukan kebodohan dan kelemahan dengan menjadi jemaah takfiri..

“Di antara tanda-tanda orang yang menyerahkan dirinya kepada Allah adalah tidak menghina orang-orang yang melakukan maksiat, namun justru mengkhawatirkan nasib mereka, disamping membuka pintu pengharapan dalam hati sehingga kamu berharap mendapat rahmat dan khawatir mereka mendapatkan siksa. Akan tetapi, sebaiknya kamu berharap mereka mendapatkan rahmat dan khawatir dirimu sendiri mendapat siksa”. (Imam Ibnul Qayyim)

“Seorang muslim ialah yang menyelamatkan kaum muslimin (lainnya) dari (kejahatan) lidah dan tangannya. Seorang mukmin ialah yang dipercaya oleh kaum beriman terhadap jiwa dan harta mereka, dan seorang muhajir ialah yang berhijrah meninggalkan dan menjauhi keburukan (kejahatan)”. (HR. Ahmad)

Salam Bahagia,

Al Faqir Ilallah
NURUDDIN AL INDUNISSY
RIYADH 2011