Menu Close

Mengenal Manhaj Salafy

ღبِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيღ
Kugoreskan pena ini dengan menyebut Asma Nya,
Kuawali dengan salam dari Syurga; “Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh”, semoga kesejahtraan Shalawat serta Salam senantiasa dicurahkan kepada Rasulullah sholallahu ‘alaihi wa Salam, para Sahabat, tabiin tabiat dan generasi As-salafu Ash-shalih, para Ulama pewaris Nabi hingga kita sebagai Ummatnya di akhir jaman ini.

Sahabat pena,
Adalah tidak mungkin kita berlari dan pura pura tidak mendengar lalu menutup mata dan telinga bersembunyi didalam gejolak perbedaan Ummat ini. Tentu semuanya tidak akan terjadi tanpa Izin, Rencana dan Kemaha Sempurnaan Kehendak dari Rabb yang Maha Berkehendak dan menginginkan kebaikan yang sempurna kepada Hamba Hamba yang mencintai Nya.

Yang harus kita lakukan adalah bukan berlari, atau bersembunyi. Bukan juga ikut ikutan tanpa pengetahuan yang akan menjerumuskan kita kepada Taqlid buta dan kesia siaan. Dunia ini keseluruhannya adalah medan pembelajaran, sungguh kita telah diberi kesempurnaan dan kemudahan untuk terus menerus belajar dan memperbaiki diri.

Sengaja saya mengistirahatkan jari jari di malam Nya ini untuk mengajak sahabat semua memahami sebuah Manhaj yang saat ini mulai menunjukan jati dirinya memurnikan kembali Al Islam ini. Tentu, tulisan ini tidak bertujuan subjective kepada siapapun. Semua Mahzab pada dasarnya telah didirikan oleh Ulama Ulama Salih yang mencintai Islam dan melestarikan Sunnah Sunnahnya namun kemudian oknum oknum Ummat mencemarinya hingga para Imam itu dijadikan rujukan satu satunya dan mencela Imam lain lalu terlahirlah jalan jalan baru yang membingungkan mereka yang baru saja melangkahkan kakinya untuk mengenali diri dan Rabbnya.

Hingga terciptalah jalan jalan yang bercabang..
Ummat bingung dan terombang ambing, lalu mereka kembali kedunia liberal dengan kebebasan kebabasan. Sebagian mereka mencukupkan diri dengan label moderat, berada dalam pertengahan. Inilah yang berbahaya, mereka memposisikan diri sebagai dipertengahan saja. Ibadah setengah setengah, solat setengah setengah, puasa setengah setengah lalu diam dan berhenti belajar.

Disanalah kebodohan mengikatnya, senyumnya sinis dan hatinya mencela semua jemaah dan memisahkan diri darinya. Mereka mencukupkan diri dengan rutinitas biasa biasa, tenggelam dalam bid’ah bid’ah dan taklid tanpa ada usaha untuk mulai mempelajari Ilmu Ilmu Nya. Padahal hari sudah siang..

Sahabat, izinkan sifaqir ini mengutipkan sebuah tulisan karya Dr. Yusuf Al Qardawi, dalam buku “Aulawiyaat Al Harokah Al Islamiyah fil Marhalah Al Qodimah”, disana ada bahasan menarik yang bertajuk “Pemikiran Salafi”. Mari kita mengenalnya agar menambah khasanah keilmuan kita, semoga menjadi bekal dalam jalanan singkat menuju keabadian di dunia fana ini.

Beliau menulis yang dimaksud “Pemikiran Salafi” ialah kerangka berpikir (manhaj fikri) yang tercermin dalam pemahaman generasi terbaik dari ummat ini. Yakni para Sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan setia, dengan mempedomani hidayah Al-Qur’an dan tuntunan Nabi SAW.

Kriteria Manhaj Salafi yang Benar
Yaitu suatu manhaj yang secara global berpijak pada prinsip berikut :
Berpegang pada nash-nash yang ma’shum (suci), bukan kepada pendapat para ahli atau tokoh.

Mengembalikan masalah-masalah “mutasyabihat” (yang kurang jelas) kepada masalah “muhkamat” (yang pasti dan tegas). Dan mengembalikan masalah yang zhanni kepada yang qath’i.

Memahami kasus-kasus furu’ (kecil) dan juz’i (tidak prinsipil), dalam kerangka prinsip dan masalah fundamental.

Menyerukan “Ijtihad” dan pembaruan. Memerangi “Taqlid” dan kebekuan.

Mengajak untuk ber-iltizam (memegang teguh) akhlak Islamiah, bukan meniru trend.

Dalam masalah fiqh, berorientasi pada “kemudahan” bukan “mempersulit”.

Dalam hal bimbingan dan penyuluhan, lebih memberikan motivasi, bukan menakut-nakuti.

Dalam bidang aqidah, lebih menekankan penanaman keyakinan, bukan dengan perdebatan.

Dalam masalah Ibadah, lebih mementingkan jiwa ibadah, bukan formalitasnya.

Menekankan sikap “ittiba'” (mengikuti) dalam masalah agama. Dan menanamkan semangat “ikhtira'” (kreasi dan daya cipta) dalam masalah kehidupan duniawi.

Inilah inti “manhaj salafi” yang merupakan khas mereka.
Dengan manhaj inilah dibinanya generasi Islam terbaik, dari segi teori dan praktek. Sehingga mereka mendapat pujian langsung dari Allah di dalam Al-Qur’an dan Hadits-Hadits Nabi serta dibuktikan kebenarannya oleh sejarah.

Merekalah yang telah berhasil mentransfer Al-Qur’an kepada generasi sesudah mereka. Menghafal Sunnah. Mempelopori berbagai kemenangan (futuh). Menyebarluaskan keadilan dan keluhuran (ihsan). Mendirikan “negara ilmu dan Iman”. Membangun peradaban robbani yang manusiawi, bermoral dan mendunia. Sampai sekarang masih tercatat dalam sejarah.

Citra “Salafiah” Dirusak oleh Pihak yang Pro dan Kontra

Istilah “Salafiah” telah dirusak citranya oleh kalangan yang pro dan kontra terhadap “salafiah”.
Orang-orang yang pro-salafiah – baik yang sementara ini dianggap orang dan menamakan dirinya demikian, atau yang sebagian besar mereka benar-benar salafiyah – telah membatasinya dalam skop formalitas dan kontroversial saja, seperti masalah-masalah tertentu dalam Ilmu Kalam, Ilmu Fiqh atau Ilmu Tasawuf.

Mereka sangat keras dan garang terhadap orang lain yang berbeda pendapat dengan mereka dalam masalah-masalah kecil dan tidak prinsipil ini. Sehingga memberi kesan bagi sementara orang bahwa manhaj Salaf adalah metoda “debat” dan “polemik”, bukan manhaj konstruktif dan praktis. Dan juga mengesankan bahwa yang dimaksud dengan “Salafiah” ialah mempersoalkan yang kecil-kecil dengan mengorbankan hal-hal yang prinsipil. Mempermasalahkan khilafiah dengan mengabaikan masalah-masalah yang disepakati. Mementingkan formalitas dan kulit dengan melupakan inti dan jiwa.

Sedangkan pihak yang kontra-salafiah menuduh faham ini “terbelakang”, senantiasa menoleh ke belakang, tidak pernah menatap ke depan. Faham Salafiah, menurut mereka, tidak menaruh perhatian terhadap masa kini dan masa depan. Sangat fanatis terhadap pendapat sendiri, tidak mau mendengar suara orang lain. Salafiah identik dengan anti pembaruan, mematikan kreatifitas dan daya cipta. Serta tidak mengenal moderat dan pertengahan.

Sebenarnya tuduhan-tuduhan ini merusak citra salafiah yang hakiki dan penyeru-penyerunya yang asli. Barangkali tokoh yang paling menonjol dalam mendakwahkan “salafiah” dan membelanya mati-matian pda masa lampau ialah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah beserta muridnya Imam Ibnul-Qoyyim. Mereka inilah orang yang paling pantas mewakili gerakan”pembaruan Islam” pada masa mereka. Karena pembaruan yang mereka lakukan benar-benar mencakup seluruh disiplin ilmu Islam.

Mereka telah menumpas faham “taqlid”, “fanatisme madzhab” fiqh dan ilmu kalam yang sempat mendominasi dan mengekang pemikiran Islam selama beberapa abad. Namun, di samping kegarangan mereka dalam membasmi “ashobiyah madzhabiyah” ini, mereka tetap menghargai para Imam Madzhab dan memberikan hak-hak mereka untuk dihormati. Hal itu jelas terlihat dalam risalah “Raf’l – malaam ‘anil – A’immatil A’lam” karya Ibnu Taimiyah.

Demikian gencar serangan mereka terhadap “tasawuf” karena penyimpangan-penyimpangan pemikiran dan aqidah yang menyebar di dalamnya. Khususnya di tangan pendiri madzhab “Al-Hulul Wal-Ittihad” (penyatuan). Dan penyelewengan perilaku yang dilakukan para orang jahil dan yang menyalahgunakan “tasawuf” untuk kepentingan pribadinya. Namun, mereka menyadari tasawuf yang benar (shahih). Mereka memuji para pemuka tasawuf yang ikhlas dan robbani. Bahkan dalam bidang ini, mereka meninggalkan warisan yang sangat berharga, yang tertuang dalam dua jilid dari “Majmu’ Fatawa” karya besar Imam Ibnu Taimiyah. Demikian pula dalam beberapa karangan Ibnu-Qoyyim. Yang termasyhur ialah “Madarijus Salikin syarah Manazil As-Sairin ila Maqomaat Iyyaka Na’budu wa Iyyaka Nasta’in”, dalam tiga jilid.

Mengikut Manhaj Salaf Bukan Sekedar Ucapan

Yang pelu saya tekankan di sini, mengikut manhaj salaf, tidaklah berarti sekedar ucapan-ucapan mereka dalam masalah-masalah kecil tertentu.

Adalah suatu hal y ang mungkin terjadi, anda mengambil pendapat-pendapat salaf dalam masalah yang juz’i (kecil), namun pada hakikatnya anda meninggalkan manhaj mereka yang universal, integral dan seimbang. Sebagaimana juga mungkin, anda memegang teguh manhaj mereka yang kulli (universal), jiwa dan tujuan-tujuannya, walaupun anda menyalahi sebagian pendapat dan ijtihad mereka.

Inilah sikap saya pribadi terhadap kedua Imam tersebut, yakni Imam Ibnu Taimiyah dan Ibnul-Qoyyim. Saya sangat menghargai manhaj mereka secara global dan memahaminya. Namun, ini tidak berarti bahwa saya harus mengambil semua pendapat mereka. Jika saya melakukan hal itu berarti saya telah terperangkap dalam “taqlid” yang baru. Dan berarti telah melanggar manhaj yang mereka pegang dan perjuangkan sehingga mereka disiksa karenanya. Yaitu manhaj “nalar” dan “mengikuti dalil”. Melihat setiap pendapat secara obyektif, bukan memandang orangnya. Apa artinya anda protes orang lain mengikut (taqlid) Imam Abu Hanifah atau Imam Malik, jika anda sendiri taqlid kepada Ibnu Taimiyah atau Ibnul-Qoyyim

Juga termasuk menzalimi kedua Imam tersebut, hanya menyebutkan sisi ilmiah dan pemikiran dari hidup mereka dan mengabaikan segi-segi lain yang tidak kalah penting dengan sisi pertama. Sering terlupakan sisi Robbani dari kehidupan Ibnu Taimiyah yang pernah menuturkan kata-kata: “Aku melewati hari-hari dalam hidupku dimana suara hatiku berkata, kalaulah yang dinikmati ahli syurga itu seperti apa yang kurasakan, pastilah mereka dalam kehidupan yang bahagia”.

Di dalam sel penjara dan penyiksaannya, beliau pernah mengatakan:
“Apa yang hendak dilakukan musuh terhadapku? Kehidupan di dalam penjara bagiku merupakan khalwat (mengasingkan diri dari kebisingan dunia), pengasingan bagiku merupakan rekreasi, dan jika aku dibunuh adalah mati syahid”.

Beliau adalah seorang laki-laki robbani yang amat berperasaan.
Demikian pula muridnya Ibnul-Qoyyim. Ini dapat dirasakan oleh semua orang yang membaca kitab-kitabnya dengan hati yang terbuka.

Namun, orang seringkali melupakan, sisi “dakwah” dan “jihad” dalam kehidupan dua Imam tersebut. Imam Ibnu Taimiyah terlibat langsung dalam beberapa medan pertempuran dan sebagai penggerak. Kehidupan dua tokoh itu penuh diwarnai perjuangan dalam memperbarui Islam. Dijebloskan ke dalam penjara beberapa kali. Akhirnya Syaikhul Islam mengakhiri hidupnya di dalam penjara, pada tahun 728 H. Inilah makna “Salafiah” yang sesungguhnya.

Bila kita alihkan pandangan ke zaman sekarang, kita temukan tokoh yang paling menonjol mendakwahkan “salafiah”, dan paling gigih mempertahankannya lewat artikel, kitab karangan dan majalah pembawa missi “salafiah”, ialah Imam Muhammad Rasyid Ridha. Pem-red majalah “Al-Manar’ yang selama kurun waktu tiga puluh tahun lebih membawa “bendera” salafiah ini, menulis Tafsir “Al-Manar” dan dimuat dalam majalah yang sama, yang telah menyebar ke seluruh pelosok dunia.

Rasyid Ridha adalah seorang “pembaharu” (mujaddid) Islam pada masanya. Barangsiapa membaca “tafsir”nya, sperti : “Al-Wahyu Al-Muhammadi”, “Yusrul-Islam”, “Nida’ Lil-Jins Al-Lathief”, “Al-Khilafah”, “Muhawarat Al-Mushlih wal-Muqollid” dan sejumlah kitab dan makalah-makalahnya, akan melihat bahwa pemikiran tokoh yang satu ini benar-benar merupakan “Manar” (menara) yang memberi petunjuk dalam perjalanan Islam di masa modern. Kehidupan amalinya merupakan bukti bagi pemikiran “salafiah”nya.

Beliaulah yang merumuskan sebuah kaidah “emas” yang terkenal dan belakangan dilanjutkan Imam Hasan Al-Banna. Yaitu kaidah : “Mari kita saling bekerja sama dalam hal-hal yang kita sepakati. Dan mari kita saling memaafkan dalam masalah-masalah yang kita berbeda pendapat.”

Betapa indahnya kaidah ini jika dipahami dan diterapkan oleh mereka yang meng-klaim dirinya sebagai “pengikut Salaf”.

Oleh: Dr Yusuf Al Qardawi,
Dalam buku “Aulawiyaat Al Harokah Al Islamiyah fil Marhalah Al Qodimah” edisi terjemahan Penerbit Usamah Press dengan sedikit penambahan dan penyesuaian oleh saya sendiri.

^_^
Saudaraku yang santun.
Sekarang mari lihat diri kita, lalu lihat sekitaran.
Malulah sekiranya jika sekedar menjadi salafi facebook yang senangnya hanya mencela, membuat gaduh dan menyakiti saudaranya sendiri kemudian secara tidak sadar telah mencemari nama Salafi itu sendiri?. Semoga Allah menyayangi, mencintai dan Merahmati mereka yang telah memurnikan kembali cahaya Islam ini dengan mengikuti generasi Salaf yang memang Salih dan harus ditiru.

Dari Imran bin Hushain radhiyallahu ‘anhuma, bahwa dia mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sebaik-baik umatku adalah pada masaku. Kemudian orang-orang yang setelah mereka (generasi berikutnya), lalu orang-orang yang setelah mereka.” (Shahih Al-Bukhari, no. 3650)

Mereka adalah orang-orang yang paling baik, paling selamat dan paling mengetahui dalam memahami Islam. Mereka adalah para pendahulu yang memiliki keshalihan yang tertinggi (As-salafu Ash-shalih).

Mereka adalah orang-orang yang telah mendapat keridhaan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mereka pun ridha kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (At-Taubah: 100)

Silahkan dibaca ulang hingga benar benar memahaminya, Insya Allah.

NAI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.