Tangkainya sederhana, daunnya pun biasa saja. Tumbuhnya pun dilumpur kotor nan basah, bersahabat dengan rerumputan.


Tapi mereka hidup rukun, saling menguatkan dan berpegangan tangan, hingga mereka beranjak dewasa – berbunga menebarkan serbuk sari kebahagiaan diusia mudanya – mempersiapkan dirinya hingga matang, seiring berisi semakin merunduk, lalu menguning mengukirkan senyum diwajah petani yang setia menengoknya disetiap pagi.

Usianya tidak lama, tapi sungguh ia telah dewasa.
Cerita hidupnya singkat, tapi berkesan dan syarat manfaat.
Tak peduli bagi siapa saja, ikan ikan yang bermain sambil berteduh atau serangga pencuri dan ulat ulat nakal. Dari sosoknya banyak lukisan keteladanan untuk kita, Manusia.

Akarnya tidaklah kokoh..
Tapi cukup menunjang batangnya yang sederhana.
Karena hidupnya memang tidak lama, tugas utamanya hanya memberi manfaat kepada Manusia dan mahluk Nya yang lain. Selebihnya mereka berstasbih memuji Nya, lalu khusyuk mempersiapkan benih benih berkualitas untuk keturunannya, agar kelak terlahir tunas baru berkualitas pula sebagai warisannya..

Mereka memiliki intuisi dan berdisiplin tinggi, hingga berpredikat pencetak benih benih unggul.
Mereka sibuk mempersiapkan buahnya, dikeseluruhan hidupnya pun mereka memberi ketenangan.. kepada petani yang menatapnya. Ketika ia mulai menguning, petani bahagia memandanginya, dari surau kecilnya selepas ashar atau di antara embun embun gemericik di subuh harinya.

Akarnya tidak kokoh, tapi kuat mencengkram!
Mereka tidak ingin terpisah dari kelompoknya, mereka ingin tubuhnya yang rapuh tetap teguh!

Mereka berdiri dalam shaf shaf yang rapi..
Merekapun bergabung dengan kelompok kelompok lain menjaga silaturahim.
Lihatlah!

Lihatlah padi yang bisa berdiri kokoh di atas lumpur basah!
Mereka kuat karena saling berpegangan bersama saudaranya, hidup rukun, saling melengkapi dan menguatkan.

Hingga saatnya angin berhembus..
Mereka berpelukan, mereka berserikat dalam satu kesatuan..
Sungguh mereka kuat bukan karena sepohon nan kokoh, batangnya pun rapuh.
Mereka hanya berdiri bersamaan, tidak menghiraukan lagi perbedaan kualitas atau jenis.

Lihat saja satu padi yang berdiri sendiri, atau terpisah dari jemaahnya..
Ia lemah, ketika buahnya mulai matang, tubuhnya patah dan tumbang, ia terjatuh, ia butuh sandaran..

Begitupun Manusia yang butuh seseorang dalam hidupnya.
Kita butuh saudara untuk sekedar bersandar, meneguhkan jiwa yang rapuh, melengkapi satu sama lain, menjalin silaturahim, mendekapkan ukhuwwah dan berserikat agar menjadi kuat.

Begitulah padi padi yang telah dewasa, semakin berisi semakin menunduk.
Adalah cerminan tak terbantahkan bagi manusia yang berakal. Semakin berilmu seharusnya semakin menunduk. Semakin banyak yang ia ketahui, semakin ia sadar bahwa banyak hal yang belum ia ketahui di Dunia ini.

Hingga ia menunduk dengan sempurna.
Lihatlah lagi, sang padi tak pernah riya atas kebaikannya..
Bahkan ia tetap diam. Tidak sekalipun gaduh atau mengaduh saat dipangkas pak petani, daun daunnya hanya gemerisik sebagai isyarat tasbihnya..

Ia tidak sombong..
Padalah mereka adalah superstar hebat yang dikenal diseluruh Dunia.

Lihatlah ketawadhuan mereka,
Mereka berzuhud dan mempersiapkan dirinya.
Merekapun tahu, tak lama dunia itu..
Hingga kesemua dari mereka diam dan menunduk dimasa kematangannya.

Adapun kerabat padi yang congkak berdiri, dan enggan menunduk..
Dapat dipastikan ia tidak berisi, seperti manusia yang merasa pandai dan benar sendiri, padahal laksana padi yang gagal. Hanya padi yang tak berisi, atau mungkin mati.

Laksana hati manusia yang mati sebelum kematian!
Semoga itu bukan padi yang mati, semoga itu hanyalah padi muda yang belum berisi.

Jikapun itu benar benar tanda kematian hati..
Semoga itu bukan saudara kita, atau kita sendiri.
Menunduklah..

Merunduk seperti padi.

Rasulullah saw. bersabda:
“Hindarilah oleh kamu sekalian berburuk sangka karena buruk sangka adalah ucapan yang paling dusta. Janganlah kamu sekalian saling memata-matai yang lain, janganlah saling mencari-cari aib yang lain, janganlah kamu saling bersaing (kemegahan dunia), janganlah kamu saling mendengki dan janganlah kamu saling membenci dan janganlah kamu saling bermusuhan tetapi jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara”. (Shahih Muslim No.4646, Riwayat Abu Hurairah ra.)

وَلا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلا تَمْشِ فِي الأرْضِ مَرَحًا إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri”. (TQS Lukman; 18)

Subhanallah..
Inilah sebagian kecil Hikmah Hikmah Nya yang bertebaran..
Hanya dari satu jenis rumput liar yang buahnya kita makan setiap hari.
Hikmah dari Penciptaan Padi yang habitatnya telah Allah hamparkan diseluruh permukaan bumi ini.
Sungguh di semesta yang luas ini terdapat Hikmah Hikmah Nya..
Tak ada sesuatupun ciptaan Nya yang sia sia.
Kesemuanya adalah Ayat Ayat Nya yang tersirat..

Saudaraku, mari berjalan berdampingan
Menuju keabadian..

Al faqir Ilallah
Nuruddin Al Indunissy
RIYADH 2011