Iman laksana sebuah spectrum cahaya didalam hati yang kehadirannya mampu membiaskan gelombang warna rasa didalam hati dan menerjemahkan berbagai suasana yang menyentuhnya, mengarahkan dan menerangi aktifitas berfikir hingga seorang manusia tetap berjalan dalam fitrahnya. Kekuatan frequensinya tidak pernah stabil dan senantiasa bergelombang mengikuti kuat atau lemahnya signal yang terbentuk dari proses komunikasi antara ruh manusia dengan RABBnya.
ღبِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيღ
Saya mulai dengan salam dari Syurga,
Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh.
Semoga Kesejahtraan, Shalawat serta salam selalu tercurah kepada kekasih Alam ✿ܓMuhammad Rasulullah Shalallahu ‘Alahi wassalam beserta keluarga, sahabat, dan pengikut yang setia dengan Assunahnya hinga akhir Jaman.
Besar harapan saya, tulisan ini tidak hanya terpajang sebagai catatan saja tetapi, semoga dengan se Izin Nya mampu menyentuh, menggetarkan hingga menyegarkan dan menyirami tunas tunas Iman di singgasana hati kita. Hingga ia tumbuh subur dan melahirkan kebahagiaan kebahagiaan dalam setiap persimpangan yang kita temui didunia ini.
Sahabat yang berbahagia,
Dalam dinding hati manusia terdapat berbagai rahasia, disana bertaburan warna warna yang tidak kesemuanya bisa tersentuh dengan logika ilmiah, tapi kita bisa mengenalinya dari berbagai reaksi saat jiwa kita terguncang dan tersentuh berbagai getaran rasa dalam berbagai suasana.
Hati akan mengalirkan berbagai getaran rasa itu kefikiran kita untuk diolah, warna rasa itu kemudian diterjemahkan kedalam berbagai reaksi yang disikapi dan terlihat dari bahasa tubuh. Bibir yang bergetar dan berkata kata, mata yang berkabut lalu menetaskan bahasa nurani atau berbagai reaksi lainnya yang tidak bisa tubuh kita tolak.
Penyikapan dari reaksi itu ada yang bersifat positif atau negatif, ada yang berbentuk penolakan atau penerimaan, ada yang meneguhkan iman ada yang meruntuhkan iman, ada yang membuahkan pahala bahkan menimbulkan murka…
Kesemuanya bermula dari suasana di istana hati kita, inilah hal yang harus segera kita pahami dan sikapi dengan serius. Karena Rasulullah saw berpesan bawasannya “jika hati itu baik maka seluruh tubuh akan baik, jika hati rusak maka seluruh tubuh kita akan rusak”. (Muttafaq Alaihi)
Keberadaan hati seperti dua dinding kaca yang berhadapan, berbagai sentuhan yang berhasil mencapainya akan dibiaskan membentuk berbagai spectrum atau gelombang warna rasa yang tidak konstan, getarannya mengubah suasana didalam hati kita untuk kemudian mempengaruhi cara berfikir kita.
Dari berbagai spectrum warna rasa itu terdapat sebuah gelombang halus yang getarannya lebih kuat dari spectrum warna lain, ia menyinari aktifitas berfikir kita, keberadaannya merupakan salah satu fitrah manusia dimana setiap jiwa akan memiliki kecendrungan untuk mendekat kepada tuhan Nya.
Biasan cahaya ini membentuk sebuah spectrum..
SPECTRUM IMAN!!
..ღ:Spectrum Iman adalah sebuah gelombang cahaya didalam hati yang kehadirannya mampu membiaskan berbagai warna rasa yang menyentuh hati dan kemudian menerjemahkannya, mengarahkan dan menerangi aktifitas berfikir hingga seorang manusia tetap berjalan dalam fitrahnya. Kekuatan frequensinya tidak pernah stabil dan senantiasa bergelombang mengikuti kuat atau lemahnya signal yang terbentuk dari proses komunikasi antara ruh manusia dengan RABBnya:ღ..
Dalam hati manusia beriman, spectrum ini menguat dan mengalahkan spectrum spectrum rasa lain sehingga kehadirannya mampu mampu mengalahkan berbagai nuansa negatif dalam hati manusia hingga seorang manusia tetap berbahagia dan berjalan di dalam fitrahnya.
Kekuatan frequensi spectrum ini tidak pernah stabil, ia senantiasa bergelombang mengikuti kuat atau lemahnya signal yang terbentuk dari proses komunikasi ruh manusia dengan RABBnya.
Kemampuan pembiasan atau penerjemahan berbagai situasi yang dihadapi hati itu berbeda beda, tergantung stabilitas dan kemampuan hati dalam menerima signal dari sumber yang menjadi segala sumber cahaya; Allah azza wajala.
Tak ubahnya sebuah handphone,
Saat signal itu lemah maka kemampuan komunikasi pun lemah bahkan putus.
Hati manusia pun demikian, ia adalah reciever hidayah dari Allah Azza wajala. Jika signal itu melemah, maka nurani tidak lagi mampu membisikan bimbingannya, spectrumnya melemah atau bahkan padam.
Jika spectrum iman ini padam, maka bisikan bisikan yang terdengar adalah bisikan bisikan iblis. Hati kita tidak lagi berfungsi, semua biasan negatif menguasainya.
Saat spectrum ini mati, kemampuan semua indra tubuh akan lumpuh total. Langkah terasa berat, harapan seperti hilang. Hari seperti gelap padahal matahari pagi itu datang menyinari. Dunia seperti sempit padahal kesempatan terhampar disetiap sudut sudut kehidupan. Terlintas ingin mati, padahal tidak ada bekal sedikitpun..
Kondisi itu menandari putusnya komunikasi ruh manusia dengan RABBnya.
Sejatinya manusia itu harus senantiasa berkomunikasi dengan RABBnya, karena dari sanalah sumber dari sumber kekuatan dipancarkan. Dalam kondisi normal kita akan menyadari sepenuhnya bahwa kita tidak bisa sedetikpun berdiri dengan tegak tanpa pertolongan Allah Subhanahuwwata’ala.
Bagi seorang manusia beriman yang bersungguh sungguh dengan keimananannya, spectrum cahaya dihatinya akan terus terpancar hingga hati itu terang, berbagai rasa itu mampu diredam dan bahkan mampu menyembuhkan berbagai penyakit secara ruhaniyah.
Kondisi hati yang sehat akan terlihat dari segarnya kondisi jasmaniyah; wajah penuh senyum, jiwa penuh antusiasme, percaya diri, luas dalam memandang, penuh motivasi dan jiwa yang bahagia dengan perspective-nya yang lurus.
Keberadaan spectrum itu tercipta sebagai kehadiran Nuur Illahi yang menjelma sebagai bagian dari fitrah manusia untuk beribadah kepada Nya.
Seperti yang telah kita ketahui, fitrah manusia itu meliputi tiga hal; kecendrungan atau fitrah manusia untuk mempertahankan dirinya, fitrah menginginkan keturunan dan fitrahnya untuk beribadah kepada Tuhan Nya.
Fitrah merupakan ketetapan Allah yang tertanam dihati manusia sejak awal penciptaannya, kecendrungan alami yang keberadaannya menyerupai sebuah kontrol lembut yang mengendalikan berbagai warna perasaan manusia – yang menjadi sumber utama dorongan untuk berfikir dan bertindak – agar ummat manusia ini lestari dari masa kemasa.
Fitrah atau kecendrungan hati manusia itu hanya ada tiga, yaitu kecendrungan untuk memiliki keturunan, kecendrungan mempertahankan diri dan kecendrungan untuk beribadah kepada RABBnya. Fitrah manusia tidak bisa ditahan, diubah atau dihapus. Tapi penjelmaan dari fitrah manusia yang berupa, cinta, sayang, sedih, dan keinginan lain bisa diubah atau dikendalikan.
Gelombang gelombang getaran itu bergabung membentuk suasana hati, suasana itu kemudian mengalir kefikiran kita. Didalam fikiran kita input itu diolah hingga mendorong indra tubuh untuk melakukan tindakan tindakan.
Dari sini kita memahami bahwa keberadaan hati itu sangat vital, dan kita harus benar benar memahaminya dengan intensif sebelum kita terjerat dalam lembah keluhan keluhan yang akan menyeret diri dalam kekufuran.
Sahabat yang berbahagia, jika kita senantiasa memperhatikan hati kita, menyiraminya dengan berbagai aktifitas yang bisa memperkuat tali komunikasi kita dengan Allah azza wajala maka spectrum ini akan menguat.

“Saat spectrum iman didalam hati manusia itu kuat dan stabil, maka kita akan merasakan energinya yang luarbiasa. Keberadaannya tidak hanya mampu meredam berbagai gejolak tapi mampu menundukan jiwa, ia mampu mengubah semua kecendrungan hati untuk mengeluh mengarahkannya kepada suasana suasana bahagia dalam perspective yang lurus dan diridhai”.
Saat Spectrum Iman ini menguat, maka kita akan merasakan pancaran energinya…!
..ღ:: ENERGI IMAN ::ღ…
Energi Iman adalah penentu kuat dan lemahnya Jiwa seseorang. Energi Iman adalah kekuatan yang tidak terkalahkan dengan energi apapun, karena keberadaannya terpancar dari Nur Illahi yang akan menerangi, mengilhami, mengarahkan dan mengubah semua bentuk keresahan, kekecewaan dan penyesalan menjadi kata kata bahagia dalam syukur.
Islam ini telah sempurna dan diridhai sebagai sebuah tatanan indah yang akan membimbing seluruh manusia yang beriman dan memahaminya, didalamnya mencakup keseluruhan hukum hukum dan tuntunan dalam membina hubungan sosial manusia dengan manusia dan hubungan manusia dengan Rabb-nya.
Sebagai satu satunya sumber, satu satunya jalan untuk mempelajari, meraih, menggenggam dan mendiami kebahagiaan sesungguhnya di Dunia dan Akhirat.
Didalam kata inilah rahasia rahasia kebahagiaan tersembunyi, banyak dari kita terus bertanya tanya tentang dimanakah sebenarnya ujung bernama kebahagiaan itu akan ditumui.. kenapa hantaman demi hantaman ujian itu malah membuat kita cengeng dan mengeluh.. kenapa seorang muslim tidak berbahagia… ?
Tentunya dalam hal ini kita harus benar benar bijak menyikapinya.
Menyatakan dan bersaksi beriman saja tidak cukup, karena itu hanyalah sebuah awal yang tentunya ada berbagai konsequensi yang mengikutinya.
Kita tidak akan pernah bahagia, jika tidak tahu seni atau cara untuk berbahagia.
Seorang mukmin selayaknya berbahagia dengan ke-Islamannya dengan mengarahkan dan mengubah pola fikir dan perspective kebahagiaan dalam Iman.
Abu Amrah Sufyan bin Abdillah ra, berkata:
“Wahai Rasulullah, ajarkanlah kepadaku dalam (agama) Islam ini ucapan yang mencakup semua perkara Islam sehingga aku tidak perlu lagi bertanya tentang hal itu kepada orang lain selain engkau. Rasulullah saw bersabda: “Ucapkanlah: “Aku beriman kepada Allah”, kemudian beristiqomahlah dalam ucapan itu” (Lihat Shahih Muslim, No. 38)
Dari pemahaman inilah kita akan terdorong untuk melangkah, tumbuhnya keberanian untuk hidup, dan lahirnya berbagai harapan yang mengilhami berbagai rencana rencana kehidupan.
Pemahaman tentang Iman yang membahana dalam singgasana hati kita ini sangat berpengaruh dan mencakup keseluruhan aspek aspek kehidupan Manusia.
Allah Berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: ”Robb kami ialah Allah” kemudian mereka beristiqomah (meneguhkan pendirian mereka), maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan):”Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu” (QS. Fushshilat: 30)
Kata Iman ini adalah jaminan kebahagiaan dari Allah,
Kita hanya tinggal menjemput dan mengenalinya dengan terus meningkatkan pemahaman dan ilmu kita dalam perspective yang lurus.
Untuk mendefinisikan kata Iman ini,
Mari sejenak kita ikuti sebuah peristiwa penting ketika Malaikat Jibril Alaihissalam turun ke bumi dan disaksikan para sahabat seperti yang diriwayatkan Ummar Radiyallahu Anhu:
Dari Umar ra, beliau berkata:
Pada suatu hari ketika kami duduk di dekat Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam, tiba-tiba muncul seorang laki-laki yang berpakaian sangat putih dan rambutnya sangat hitam. Pada dirinya tidak tampak bekas dari perjalanan jauh dan tidak ada seorangpun diantara kami yang mengenalnya. Kemudian ia duduk di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu mendempetkan kedua lututnya ke lutut Nabi, dan meletakkan kedua tangannya di atas kedua pahanya.
Kemudian berkata: ”Wahai Muhammad, terangkanlah kepadaku tentang Islam.”
Kemudian Rosululloh shollallohu’alaihi wasallam menjawab: ”Islam yaitu: hendaklah engkau bersaksi tiada sesembahan yang haq disembah kecuali Alloh dan sesungguhnya Muhammad adalah utusan Alloh. Hendaklah engkau mendirikan sholat, membayar zakat, berpuasa pada bulan Romadhon, dan mengerjakan haji ke rumah Alloh jika engkau mampu mengerjakannya.”
Orang itu berkata: ”Engkau benar.
Kami menjadi heran, karena dia yang bertanya dan dia pula yang membenarkannya.
Orang itu bertanya lagi: ”Lalu terangkanlah kepadaku tentang iman”.
Rasulullah saw menjawab: ”Hendaklah engkau beriman kepada Alloh, beriman kepada para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para utusan-Nya, hari akhir, dan hendaklah engkau beriman kepada taqdir yang baik dan yang buruk.”
Orang tadi berkata: ”Engkau benar.” Lalu orang itu bertanya lagi: ”Lalu terangkanlah kepadaku tentang ihsan.”
Rasulullah saw menjawab: “Hendaklah engkau beribadah kepada Alloh seolah-olah engkau melihat-Nya. Namun jika engkau tidak dapat (beribadah seolah-olah) melihat-Nya, sesungguhnya Ia melihat engkau.”
Orang itu berkata lagi: ”Beritahukanlah kepadaku tentang hari kiamat.”
Rasulullah saw menjawab: “Orang yang ditanya tidak lebih tahu daripada yang bertanya.”
Orang itu selanjutnya berkata: ”Beritahukanlah kepadaku tanda-tandanya.”
Rasulullah saw menjawab: ”Apabila budak melahirkan tuannya, dan engkau melihat orang-orang Badui yang bertelanjang kaki, yang miskin lagi penggembala domba berlomba-lomba dalam mendirikan bangunan.”
Kemudian orang itu pergi, sedangkan aku tetap tinggal beberapa saat lamanya.
Lalu Nabi shollallohu ’alaihi wasallam bersabda: ”Wahai Umar, tahukah engkau siapa orang yang bertanya itu ?”.
Aku menjawab: ”Alloh dan Rosul-Nya yang lebih mengetahui.”
Lalu beliau bersabda: ”Dia itu adalah malaikat Jibril yang datang kepada kalian untuk mengajarkan agama kalian.”
SUMBER HADITS
(Shahih Muslim No. 10, Riwayat Abu Hurairah Ra.)
Ikhwahfillah, Hadits inilah yang melalui ijtihad para ulama kemudian disimpulkan menjadi ‘Rukun Iman’ dan ‘Rukun Islam’. Dalam catatan Ini, saya tidak akan membahas secara definitif Rukun Rukun Iman tersebut, karena hal tersebut telah kita pahami bersama. Dalam sajian singkat ini, saya coba kembali memunculkansebuah sinergi antara iman dengan kebahagiaan.
Sehingga kita sebagai seorang muslim dan muslimah bisa menjemput kebahagiaan sebagai haq yang telah Allah janjikan sebagai milik Hamba Hamba Nya yang beriman.
Benarkah kita sudah memahami essensi dari Iman?
Jika seorang kafir, suatu hari dalam hidupnya dihinggapi kata kecewa, merasa patah dan putus asa kemudian terlintas ingin mengakhiri hidupnya..itu adalah sangat wajar dan bisa kita maklum. Karena tubuh mereka terdiri dari rangka dan pemikiran kosong mereka belaka tanpa adanya cahaya iman… mereka telah dengan sengaja mengabaikan dan mematikan tunas tunas iman yang telah Allah tanamkan dalam penciptaannya.
Tapi bagi seorang Muslim dan Muslimah,
Sudah tidak selayaknya lagi perasaan tersebut melalaikan kita dari rencana rencana kehidupan yang telah kita susun sedemikian rupa. Apalagi sampai membuat kita lupa terhadap managemen kematian kita. Sangat disayangkan jika kita mengizinkan tetesan air mata untuk sesuatu yang tidak berharga, hingga tanpa disadari Dunia telah tertawa menertawai kelemahan kita.
Mari kemari,..
Sudah selayaknya kita segera menyegarkan kembali jiwa kita, menata Hati kita dengan meneguhkan tatanan Iman didalamnya. Berfikir kembali tentang apa, dimana dan akan kemana diri kita sebenarnya..
Kita hanyalah singgah di Dunia ini, jangan persinggahan ini kita jadikan goa sunyi tanpa makna.
Jangan kesedihan, kekecewaan dan penyesalan melalaikan kita dari persiapan untuk mengumpulkan bekal yang sebanyak banyaknya untuk sebuah jalanan panjang diakhirat kelak.
Segera sadari bahwa dalam Hati kita ini ada Energi luarbiasa yang bisa kita hadirkan untuk meredam segala kekecewaan hidup, menyegarkan suasana kota hati kita dan berteduh didalamnya.
Energi Iman yang terpancar dari hati kita bisa merevolusi singgasana hati kita, menggerakkan syaraf syaraf kehidupan kita agar keberadaannya bisa mengarahkan dan mengubah segala bentuk reaksi yang tubuh kita respon kedalam realisasi syukur yang akan memancarkan kebahagiaan kebahagiaan yang berkualitas.
Dalam Shahih Muslim tersebut, Rasulullah Shalallahu’ Alaihi wassalam telah menggariskan bahwa Iman itu terbagi kedalam beberapa pokok utama;”Hendaklah engkau beriman kepada Alloh, beriman kepada para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para utusan-Nya, hari akhir, dan hendaklah engkau beriman kepada taqdir yang baik dan yang buruk..”.
Enam point tersebut keberadaannya laksana Pilar Pilar Iman,
Ketika keberadaan Pilar tersebut kita sinergikan dengan pondasi Rukun Islam dijiwa kita dengan meyakini sepenuhnya untuk beriman kepada Allah, kepada para Malaikat-Nya, kepada kitab-kitab-Nya, kepadapara Rasul- Nya, kepada hari Akhir serta takdir-Nya, yang baik dan yang buruk…maka tidak diragukan lagi kebahagiaan adalah milik kita…
..ღ:: SINERGI IMAN DENGAN KEBAHAGIAAN ::ღ…
……ღIman kepada Allahღ……
Rasulullah saw bersabda;”Iman paling afdol ialah apabila kamu mengetahui bahwa Allah selalu menyertaimu dimanapun kamu berada”. (HR. Ath Thobari)
Dalam hadits Qudsi yang ditakhrij At-Tirmidzi,
Rasulullah saw bersabda; bahwa Allah ta’ala berfirman; “Aku sesuai prasangka Hamba Ku kepada-Ku…”,
Hadits ini sering tak sengaja kita pahami dengan begitu sempit, bahwasannya ketika kita mendekat Allah mendekat dan serta merta mengartikan Allah jauh saat Hamba Nya jauh.?
Padahal disaat kita jauh’pun Allah selalu menaungi kita.
Apa yang akan terjadi jika satu menit saja Allah berlepas diri dari tubuh dan jiwa mu?
Bisakah kita berdiri? Mampukah kita mengendalikan sebuah kontraksi aksi reaksi yang membuat tubuh kita stabil dan berdiri sepersekian detik saja tanpa pertolongan Allah?
“…dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lohmahfuz)”. (QS 6:59)
“Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”. (QS 64: 11)
Dari dua ayat mulia ini, kita bisa menemukan sebuah keterkaitan yang merangsang jiwa kita untuk berfikir. Bahwa ketika kita mengimani, bahwasannya tak ada selembar daunpun yang jatuh dan tak ada satu musibahpun yang menghampiri kita tanpa seizin Allah..
Maka tak ada alasan yang akan dibenarkan fikiran sehat kita untuk khawatir atas sesuatu yang belum terjadi. Karena Bumi ini milik Allah, dan dari pemahaman sederhana inilah sudah selayaknya kita bisa benar benar menyandarkan jiwa raga kita kembali kepada Allah.
……ღIman kepada para Malaikat Allahღ……
Dengan mengimani keberadaan para Malaikat Malaikat Allah ini akan memberikan kita kesadaran, bahwa dalam diri kita setidaknya terdapat dua malaikat yang mencatat seluruh aktifitas hati dan tubuh kita. Malaikat yang tidak pernah lelah, tidak pernah tidur dan tidak pernah enggan atau kasihan untuk mencatat dan melaporkan catatan amal buruk seorang manusia kehadapan Rabb-nya.
Keberadaannya laksana sebuah kamera rahasia yang merekam semua aktifitas kita.
Jika kita menyadari, bahwa dalam ruangan kamar kita ada sebuah kamera yang menyayangkan semua aktifitas kita kepada orang yang kita cintai dan mencintai kita. Tentu kita akan sangat berhati hati untuk melakukan hal yang tidak disukai orang yang dicintai kita, apalagi hal hal yang menimbulkan kecemburuan kepadanya?
Kekasih macam apakah yang akan membiarkan orang yang ia cintai itu terbakar rasa cemburu.
Ketahuilah bahwa Allah yang Maha Mulia pun cemburu kepada Hamba Hamba Nya yang berbuat dosa.
Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw. bersabda:
“Sesungguhnya Allah itu cemburu dan orang yang beriman juga cemburu. Kecemburuan Allah, yaitu jika orang mukmin melakukan apa yang diharamkan”. (Shahih Muslim No.4959. Lihat juga Shahih Muslim No.2755, No.4955)
Betapa menyedihkan jika selama ini merasa diri beriman, tetapi membiarkan Dzat yang di imani itu Cemburu..
Dari kesadaran Iman kepada Malaikat inilah, kita akan menyadari sepenuhnya bahwa kita tidak sendiri dalam segala warna rasa hati ini. Ada malaikat malaikat Allah yang berbaris baris menyaksikan shalat malam kita. Ada malaikat malaikat yang mencatat segala Aktifitas kita.
……ღIman Kepada Kitab Allahღ……
Dalam kehidupan kita, Al Qur’an laksana sebuah Skenario Agung yang menuliskan garis garis besar yang harus dilakukan oleh Manusia di Dunia panggung sandiwara yang fatamorgana ini.
Kita adalah Aktor dan Aktris yang dipilih Allah untuk memerankan peranan peranan yang telah Allah pilihkan dalam Taqdir Nya di lahulmahfudz. Kita bisa mempelajari peranan peranan itu dalam draft skenario Al Qur’an, dan penjabarannya telah di jelaskan oleh berbagai kata kata mutiara Rasululah saw dalam riwayat riwayat Haditsnya.
Aktor yang sukses adalah Aktor yang memahami Skenario.
Bagaimana seorang Muslim akan sukses meraih bahagia dan Ridha Allah ta’ala jika Al Qur’an sebagai Skenario kehidupan ini tidak di Imani atau diabaikan?
Inilah urgensi bagwa Rasulullah Saw telah mewajibkan untuk mencari Ilmu, karena saat ini tafsir tafsir Al Qur’an dan buku buku pengetahuan sudah beralih menjadi llmu llmu digital yang bisa diakses dengan mudah dari Internet .
Dengan menekuni, mengimani dan mengambil intisari dan terus mempelajari setiap bait bait indah Al Qur’an, insha Allah kita akan menemukan kembali Energi Iman yang akan meneguhkan dan meneduhkan Jiwa kita.
……ღIman Kepada Rasull Allahღ……
Jika kita mencintai dan menjadikan beliau sebagai panutan dan tuntunan hidup yang hidup dalam hati kita, kita akan mendapati banyak hal berharga dari percikan percikan nasihatnya, kita akan senantiasa merasa dibimbingnya.
Jika kita telah berhasil menghidupkan Rasulullah dalam hati kita,
Kita akan senantiasa mengingat pesan pesannya untuk meneguhkan tali komunikasi dengan Allah, tali komunikasi dengan manusia dengan mewarnai kehidupan dengan berbagai kebaikan.
……ღIman Kepada Hari Kiamatღ……
Anas bin Malik ra meriwayatkan bahwa ada seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah saw.: “Kapankah kiamat akan tiba? Di sebelahnya terdapat seorang pemuda Ansar yang masih belia bernama Muhammad, maka Rasulullah saw.bersabda: “Ketika pemuda ini hidup lama, maka sebelum ia mencapai usia tua renta kiamat sudah tiba”. (Shahih Muslim No.5249)
Kiamat yang harus kita imani itu bukan hanya kiamat yang menandari berakhirnya segala aktifitas Bumi ini, tetapi juga kiamat kiamat kecil yang berupa kematian kematian.
Kesiapan kita untuk menerima kematian orang orang terdekat kita, saudara kita, ayah kita, ibu kita dan diri kita sendiri. Jika kita senantiasa mengimani dan mengingat kematian yang akan menjumpai kita.. Kita akan senantiasa bersiap siaga, dan bersegera menyiapkan bekal untuk akhirat kita dikehidupan kita yang sebentar ini.
Rasulullah saw bersabda;
“Aku dan dunia ibarat orang dalam perjalanan menunggang kendaraan, lalu berteduh di bawah pohon untuk beristirahat dan setelah itu meninggalkannya”. (HR. Ibnu Majah)
Kita di dunia ini bagaikan seorang musafir yang sedang berteduh dibawah pohon dalam perjalanan berhari hari menempuh ribuan kilometer menuju sebuah tujuan.
Betapa sebentarnya usia kita jika dibandingkan keabadian Akhirat.
Dari pemahaman ini, Energi Iman dalam diri kita akan terpancar dan menggerakan kita untuk bersegera bangkit dari kesedihan yang tidak penting dan kembali tegar. Insha Allah
……ღIman Kepada Takdir Allahღ……
Ini adalah Hal yang paling ingin saya tekankan dalam sinergi kebahagiaan dengan Iman ini,
Jika kita telah mengimani sepenuh Hati. Bahwasannya segala details yang terjadi disetiap detik detik dikehidupan kita, setiap luka, kesedihan, goresan goresan yang menyayat hati kita – semua telah tertulis dalam perencanaan dan ketentuan Takdir Allah Azza wajala yang sempurna, kita tidak akan berat melangkahkan kaki untuk urusan Dunia ini.
Hati kita akan dengan mudah memalingkan penolakan kepada penerimaan.
Hati kita akan dengan mudah mengikhlaskan dan menyandarkan segala sesuatunya kepada Allah Aza wajala yang menjadi Sutradara dan Raja Dunia dan Akhirat dengan 99 sifat dan nama Agung Nya.
Kita memang terikat takdir, karena kita adalah Hamba.
Meskipun demikian, sungguh Allah aza wajala adalah maha Adil. Didalam perencanaanya yang sempurna, Allah juga memberikan celah celah bagi Hamba Hambanya yang beriman untuk berdo’a.
Rasulullah saw bersabda;
“Tidak ada gunanya waspada menghadapi takdir, namun do’a bermanfaat menghadapi takdir, sebelum dan sesudah ia turun. Dan sesungguhnya setelah musibah itu ditakdirkan turun (dari Langit) maka ia segera disambut oleh Do’a (dari bumi) lalu keduanya bertarung sampai Hari Kiamat”. (HR AL HAKIM, AHMAD, BAZZAR, AT TABHRANI)
Ibnu Qayyim menjelaskan “Jika prisai do’amu lebih kuat dari musibah, ia akan menolaknya. Tetapi jika musibah lebih kuat dari prisai do’a mu Mmaka ia akan menimpamu. Namun sedikitnya tetap akan mengurangi efeknya. Adapun jika prisai doamu seimbang dengan kekuatan musibah. Maka keduanya akan bertarung”.
Betapa meruginya kita jika, optimisme kita yang menggebu gebu tidak disertai Do’a.
Doa laksana sebuah senjata paling ampuh yang akan menembus lapisan langit dalam sepersekian detik setelah dipanjatkan, senjata ampuh yang dianugerahkan Allah kepada seluruh umat Nya yang ingat kepada Nya. yang Allah kepada setiap jiwa yang Beriman ini.
Tidak ada kesia siaan didalam do’a.
Jika kita memohon maka akan Allah kabulkan, cepat atau lambat, di dunia atau di akhirat kelak.. dengan pertimbanganNya yang sempurna, untuk kebaikan kita. Itu adalah janji Nya
Jika kita merasa do’a kita tidak disambut oleh Allah’ pun, kita sudah mendapat satu point pahala. karena Do’a Kita dicatat sebagai nilai ibadah.
……ღ Kesimpulan
Spectrum Iman didada kita akan menguat dan menjadikannya sebuah Energi yang terpancar dari Hati kita, jika kita telah mengimani dengan bersungguh sungguh dengan memegang teguh Pilar Pilar Iman yang digariskan Rasulullah Shalallahu’ Alaihi wa Salam secara menyeluruh.
Iman tidak akan pernah menjadi energi jika tidak direalisasikan, karena Ridha Nya Allah adalah Rahasia Nya, tidak sesiapapun bisa menghadirkannya. Kita hanya berusaha mencarinya dengan mengikuti petunjuk dari nasihat nasihat RasullNya dengan merealisasikan satu persatu perintah demi perintah yang telah kita pahami.
Keimanan didada kita memang tidak pernah stabil, cendrung naik dan turun.
Iman bisa naik dengan ibadah ibadah kita dan saat kita berkumpul dengan orang orang salih, cahaya Iman meredup ketika kita terjerembab dalam kemaksiatan.
Setidaknya kita tetap berusaha dan terus berusaha untuk menumbuhkannya dihati kita.
Dari bahasan panjang yang melelahkan ini,
Saya sangat ingin menyampaikan sebuah pemahaman yang harus senantiasa kita ingat bahwa perjalanan singkat kita didunia ini akan berakhir di jembatan kematian yang akan menghubungkan kita ke alam Akhirat. Kehidupan yang sesungguhnya.
Sebuah kehidupan yang harus senantiasa kita persiapkan dalam keseluruhan hidup ini.
Senantiasa ingat, bahwa sebuah peluru kematian sedang mengintai kita. Peluru itu telah dilepas dari takdir Allah yang sesiapapun tidak bisa mengelaknya, peluru itu akan sampai kepada kita dalam waktu yang tepat.
Kehidupan dunia ini sangat singkat dan sederhana, tapi dari kesederhanaan warna warna yang kita lihat saat inilah kehidupan akhirat kita ditentukan.
Rasulullah saw telah menggambarkan, bahwa dunia ini hanyalah sebanding dengan setetes air dengan Lautan.
“Tidaklah kehidupan dunia dibandingkan dengan kehidupan akhirat, kecuali seperti saat salah seorang diantara kamu mencelupkan jari telunjuknya di samudra lautan, lalu lihatlah yang tersisa di jari telunjuknya itu (itulah dunia)” (HR Muslim, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad)
Itulah dunia. Dunia yang sering melalaikan kita.
Jangan sampai Ibadah rutinitas kita tidak mampu mencairkan segala problematika kita, semua dari kita punya masalah dan akan tetap begitu hingga hari akhir kita.
Mari kita senantiasa mengarahkan segala aktifitas kita, untuk bersama berlomba lomba mencari keridhaan Allah semata mata. Karena ibadah kita tidak akan pernah mampu menukar Syurga Nya Allah atau menahan Azab neraka.
Rahmat dan Keridaan Allah lah yang akan menyelamatkan kita.
Rasulullah bersabda;
“Tidak seorang pun di antara kalian yang akan diselamatkan oleh amal perbuatannya. Seorang lelaki bertanya: Engkau pun tidak, wahai Rasulullah? Rasulullah saw. menjawab: Aku juga tidak, hanya saja Allah melimpahkan rahmat-Nya kepadaku akan tetapi tetaplah kalian berusaha berbuat dan berkata yang benar”. (Shahih Muslim No.5036, riwayat Abu Hurairah ra)
Semoga Allah menguatkan spectrum iman didalam hati kita, memberi kita kekuatan untuk mampu menghadirkan “Energi Iman” didalamnya agar kehadirannya mampu mencerahkan cara berfikir kita untuk melepas segala jeratan kekecewaan, kesedihan, penolakan, penyesalan dan mengubahnya kedalam bentuk syukur; Alhamdulillah.
Karena dari Hatilah semuanya berawal.
Dan singgasana kebahagiaan berada di kota hati kita dan wajah yang memancarkan Energi kebahagiaan dari Iman yang akan membahagiakan hati seseorang berharga disekitar kita.
“Iman laksana sebuah pohon dihatimu, naungannya memberi kesejukan.
Dari pohonnya tunas tunas harapan akan terus terlahir, jika terus kita sirami ia akan berbunga bernama kebahagiaan yang harumnya menebari setiap jalanan yang kita lalui. Seiring keistiqamahan yang terjaga dari bunga itu akan lahir buah ranum nan indah yang bernama Ikhlas”
Insha Allah…
Salam Bahagia!