Bismillah, Asholatu Wassalamu ‘ala Rasulillah.
Alhamdulillah, ini adalah ramadhan ketiga bersama rehab hati dan ruqyah syar’iyyah. Banyak berkah yang meresap kedalam jiwa siapa saja yang menyelami kedahsyatan teraphy al Qur’an, termasuk kesembuhan-kesembuhan menakjubkan untuk berbagai penyakit yang selama ini dianggap penyakit medis dan tidak ada obatnya.

Tubercolosis atau TBC dan Cancer adalah dua penyakit yang membuat shock manusia yang mendengarnya ketika vonis dokter telah jatuh, terasa dunia menyempit dan menghimpit dari waktu ke waktu. Selama tiga tahun ini, saya mendapati 4 kesembuhan kangker dengan teraphy Al Qur’an. 2 kangker darah dan 2 kangker tulang, terakhir di Singapore beberapa hari kemarin. Alhamdulillah seorang ibu yang telah bertahun menderita kangker tulang ganas hingga bagian pundak dan punggungnya berlubang, 40% menuju kesembuhan dalam 1 kali teraphy. Angka kesembuhan ini menurut cek lab dan keputusan dokter pribadinya di Singapore.

Begitupun 2 kesembuhan menakjubkan dari 2 penderita kangker darah akut di Makkah dan Gorontalo beberapa waktu lalu. Seorang ibu guru SD di Gorontalo shock ketika mendengar muridnya meninggal karena kangker darah, ia semakin shock ketika penyakit itu menjangkiti anaknya. Saat itu ada rekannya yang menghubungi saya melalui facebook dan meminta resep untuk kangker. Dan saya memberinya resep sederhana seperti resep yang saya berikan kepada penderita kangker darah akut sebelumnya di Makkah 2 tahun lalu; Zamzam dan Madu + Ayat Ayat Syfa. Kemudian resep kali ini ditambah zaitun dan habbatusauda. Menakjubkan, kangker si anak sembuh dalam 4 hari dan kesembuhan ini dinyatakan dokter di Makasar. Video testimonial terekam sempurna dan bisa disaksikan di website RehabHati.com

Dan terakhir kemarin sore di RumahRehab saat “Private Training RehabHati” berlangsung. Dihari kedua ada praktikal ruqyah, dimana peserta pelatihan ruqyah dilatih untuk mempraktikan langsung tatacara meruqyah. Mereka disuruh mencari pasangan untuk meruqyah temannya dengan 5 tehnik dasar Qur’anicHealing. Setelah mereka mendapatkan pasangan, mereka dipersilahkan untuk berdiskusi untuk memutuskan siapa dokter dan siapa pasiennya. Kemudian pasien dipersilahkan untuk berkonsultasi tentang penyakitnya kepada “pa dokter baru” dihadapannya.

Pagi, 1 Ramadhan itu ada salah satu peserta yang tidak dapat pasangan, ia terlihat sangat kaku dan malu. Satu hari sebelumnya, peserta ini datang dengan memakai masker dan duduk dipojok. Ketika itu, saya menyapanya dan menyuruhnya untuk duduk ditengah agar bisa menikmati sajian materi rehab hati. Dan sang bapa berusia kisaran 45an itu menolak dengan pasti.

“Saya sering bolak-balik ke kamar mandi dan muntah” katanya. “Saya khawatir TBC saya menular” katanya lagi.

“Astaghfirullah..bapa, disini kita abaikan sejenak diagnosa dan keputusan dokter bapa di rumah sakit. Rasulullah sholallahu alaiyhi wassalam yang telah bersabda bahwasannya ‘tidak ada penyakit yang menular dengan sendirinya’ pa.” jawab saya tegas mulai mempengaruhi mindset sang bapa.

“Buka saja pa maskernya” kata salah seorang peserta.

“Tapi dokter sudah positive mengatakan saya mengidap TBC akut” kata si bapa ikut-ikutan tegas. Entah apa yang melatarbelakanginya bicara seperti setengah marah. Namun Iya terlihat membuka maskernya dan pindah ke tengah..

Dan ini hari kedua, si bapa betul-betul menemukan kekhawatirannya. Ia dikucilkan peserta lain, dan saya ambil sikap.

“Biar saya jadi pasangan bapa!” ujar saya mengakhiri gundah sibapa saat itu. Dan pelatihanpun berlangsung kemabi. Tangan kiri saya memegang mic dan telapak tangan kanan saya memegang bahu bapa tadi.

“Sentuhkan telapak tangannya di tempat yang sakit sambil baca ayat-ayat ruqyahnya” seru saya sambil memulai baca al Fatihah, Al Baqarah 1-4 dan 163-164. Tanpa saya duga, kepala sibapa mulai goyang-goyang dan tangannya bergerak-gerak.

“Stop. Hentika dulu. Hentikan.. analisa dan tanyakan apa yang terjadi pada pasiennya” saya menyeru di mic dan kemudian menatap pasien saya sendiri

“Bagaimana pa rasanya ketika saya sentuh di pundak dan punggung tadi” tanya saya

“Panas” kata si bapa.

“Dimana panasnya?” tanya saya lagi.

“Di seluruh rongga dada”. Kata si bapa sambil melingkari seluruh bagian rusuk yang melindungi jantungnya dengan kedua telapak tangannya.

“Bagaimana rasanya sekarang?” tanya saya lagi.

“Lega dan Enteng” kata si bapa.

Hingga siang dan sore itu si bapa tidak terdengar batuk lagi, dan malam hari setelah buka puasa bersama dia menyalami tangan saya dengan jabat erat sambil berujar “Makasih”.

Bapa ini sebenarnya datang menemani ayahnya yang memiliki penyakit pembengkakan pada Jantung, ayahnya memiliki historical yang tragis. Tercatat dari 1973 dia aktif mempelajari berbagai ilmu karomah dan kesakitan, dan mulai 2009 dia mempelajari Reiki dan variannya hingga Qirak dll. Dia baru bertaubat setelah menyaksikan 6 seri video pelatihan Ruqyah Syar’iyyah di Sukabumi yang saya upload di Youtube.

Terlahir dari ayah yang rajin belajar ini, maka sang anak pun ikut aktif belajar Reiki, SLI dan Mahatma dan berakhir dengan TBC yang kemudian dikenali sebagai bagian dari gangguan jin atau anarkisme syaitan terhadap jasad manusia.

Bapa ini belum sembuh, namun ia telah menemukan harapan dan jalan kesembuhannya melalui al Qur’an.

Wallahu’alam
Sampai bertemu di Semarak Rehab Hati Sumbar 1-14 July 2014

Nuruddin Al Indunissy